Di bawah lampu jalan, di dalam perjalanan tanpa tujuan, di tengah kota.
Saat afeksi meronta-ronta untuk mengungkapkan kerinduan yang membeludak, namun kognisi menghalangi.
Alunan lagu yang menenangkan menemani kami menelan rasa ingin memiliki satu sama lain.
Lalu lintas yang sepi di malam yang dingin mengantarkan kami pada sebuah kesepakatan untuk saling menahan diri lebih kuat dari usaha sebelumnya untuk tidak menggoda satu sama lain.
Cerita ini memberikan kesempatan dan dorongan agar kami menjadi orang yang lebih baik.
Di bawah lampu jalan, di dalam mobil, di perjalanan menuju akhir sebuah cerita.
Atau mungkin awal sebuah cerita yang baru.
Sekali lagi, seperti biasa, aku menikmati kehadirannya. Perasaan aneh yang membekas, menciptakan tempat khusus untuknya di dalam hatiku.
------------------
Beberapa malam terakhir, aku merasakan kontradiksi antara afeksi dan kognisi.
Biasanya mereka selaras.
Biasanya aku dapat mengendalikannya.
Namun tidak malam ini.
Dan beberapa malam sebelumnya.
Afeksi membuatku ingin menyandarkan kepalaku ke pundaknya dan menerima belaian tangan lembutnya.
Namun kognisiku melarang.
Ingin ku lawan. Tapi aku takut luka.
Kasihan afeksiku, tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ia menangis, menderita kesakitan meratapi nasibnya. Namun kognisiku tidak memperdulikannya.
Sepertinya kognisiku tahu yang terbaik untuk afeksiku terhadap Vega. Yang dibutuhkannya, bukan yang diinginkannya.
Tapi afeksi tidak punya akal sehat, ia buta dan menutup dirinya dari segala rasionalisme. Jadi dia tetap menderita.
kognisimars
----------------
"Saat rindu tak bisa kau sampaikan."
"Dimana yang kamu inginkan tidak diciptakan untuk kau miliki."
"Hanya ada derita dan ketidakberdayaan."
"Hikmah apa yang bisa kau ambil?"
Ujar afeksi sambil menggerutu meratapi nasibnya.
Kognisi tidak bisa menjawab apa-apa untuk malam ini.
afeksimars
















