my current project. painting on bayongciaga bags for scholastic out there💙
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from South Africa
seen from United States
seen from Austria

seen from Chile
seen from China
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Russia
seen from Malaysia
seen from Romania

seen from Türkiye
my current project. painting on bayongciaga bags for scholastic out there💙
Re-living those stress free days in the corridors...a place full of greenery mixed w/ girls in their white and navy blue uniforms who has yet to see the world...this will always be home!😍😍😍 #SSA-B #Kolasa #nostalgic (at St. Scholastica's Academy-Bacolod) https://www.instagram.com/p/BmD-RUbhGuFuTKcLT_iya6ii59oixhND2x338E0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1kzotec2f3rm4
Throwback? #kolasa
KOLASA: Sebuah Catatan Sederhana
Selamat datang ke dalam sekumpulan kata. Kolase asa.
Tentang harapan, cita-cita, masa depan. Tentang kota, tentang kita, tentang kota kita. Tentang pemaknaan apa-apa yang tak teraba di permukaan.
Tentang rasa. * Tulisan ini lahir di kota Bandung. Sebuah kota utopia. Tempat di mana harapan dan implementasi ide-ide gila banyak terwujud. Rumah bagi pribadi-pribadi inspiratif yang mengklaim diri dapat melakukan hal-hal yang pemerintah (seharusnya lakukan, tapi) tak bisa lakukan. Kota anarki.
“Anarki itu 'leaderless'. Bergerak tanpa selalu ikut sistem. Direduksi maknanya (men)jadi negatif oleh media sebagai 'keonaran'.”
– Ridwan Kamil, pelaku sebenar-benarnya makna “anarki” di kota Bandung
Atas mereka, langkah-langkah kecil yang seringkali diragukan akan berumur panjang tercipta. Tapi penduduk sebuah kota yang diklaim sebagai kota yang memiliki banyak potensi SDM ideal dan paling siap dalam merespon gelombang ekonomi kreatif ini tak mudah goyah. Celetukan hanyalah kerikil. Cibiran hanya omong kosong. bagaimanapun, karyalah yang pada akhirnya (benar-benar) berbicara.
“Someone on the internet thinks what you’re doing is stupid, or evil, or it’s all been done before? Make good art.”
– Pidato Neil Gaiman pada upacara kelulusan University of the Arts in Philadelphia tahun 2012
Merekalah wajah kota Bandung, representasi masa depan yang tak lama lagi datang. Para optimis yang menyebabkan tulisan ini ada. * Menjadi optimis itu menyenangkan. Segala yang kita lakukan punya arti. Apa-apa yang kita putuskan adalah investasi untuk kemudian hari. Kemudian tahun. Kemudian dekade. Seperti ada tungku perapian di dalam ruang imajiner dalam dada: yang senantiasa menghangatkan, mendorong kita untuk terus bergerak dengan nyaman, untuk melakukan apapun yang kita percaya punya arti di masa depan. Satu hal yang pesimisme tak (pernah) bisa berikan.
“Some people believe the secret to happiness is low expectations. If we don’t expect greatness or find love or maintain health or achieve success, we will never be disappointed. If we are never disappointed when things don’t work out and are pleasantly surprised when things go well, we will be happy.
“It’s a good theory — but it’s wrong. Research shows that whatever the outcome, whether we succeed or we fail, people with high expectations tend to feel better. At the end of the day, how we feel when we get dumped or win an award depends mostly on how we interpret the event.”
– Tali Sharot dalam bukunya The Science of Optimism: Why We’re Hard-Wired for Hope
Menjadi optimis adalah tentang membuka diri bagi kemungkinan yang lebih luas. Pun siap jatuh ke dalam jurang keputusasaan yang lebih dalam. Irasional, namun menginspirasi: prasangka yang terjadi di antara keduanya mendorong kita untuk terus melangkah maju, bukannya berpuas diri akan apa yang tersedia.
Menjadi optimis adalah tentang mengimajinasikan sebuah realitas alternatif, bukan sekedar proyeksi dari realitas yang telah ada: yang tua, usang, berkarat, dan kadaluarsa. Serta percaya bahwa tangga mencapai realitas imajiner itu selalu ada, bahwa suatu saat kita akan sampai di sana. Keyakinan adalah bahan bakar motivasi.
Tapi bagaimana caranya kita dapat meninggikan harapan, mengambil manfaat dari bersikap optimistis dan dalam saat yang bersamaan menghindari diri dari lena?
Tali Sharot dalam buku yang sama berkata,
“We are not born with an innate understanding of our biases. The brain’s illusions have to be identified by careful scientific observation and controlled experiments, and then communicated to the rest of us. Once we are made aware of our optimistic illusions, we can act to protect ourselves. The good news is that awareness rarely shatters the illusion.
“The glass remains half full. “
Sangat mungkin untuk menyeimbangkan ekspektasi, percaya bahwa kita akan tetap sehat namun di sisi lain tetap menggunakan jasa asuransi jiwa; yakin bahwa matahari akan bersinar namun tetap membawa payung – kalau-kalau hujan datang berkunjung.
Karena menurut seorang Debbie Millman dalam tulisannya Look Both Ways: Illustrated Essays on the Intersection of Life and Design,
“If you imagine less, less will be what you undoubtedly deserve. Do what you love, and don’t stop until you get what you love. Work as hard as you can, imagine immensities, don’t compromise, and don’t waste time. Start now. Not 20 years from now, not two weeks from now. Now.”
* Akhir pekan di kota Bandung selalu menyenangkan. Bahkan jika hanya dihabiskan untuk bangun siang, lalu bertengger di kamar untuk melukis dinding seharian atau menulis cerita ringan hingga datang malam. Beranjak sedikit keluar rumah, saya bisa menyewa sepeda di kios Bike.Bdg untuk sarapan di jalan gempol, atau Kopi Purnama di jalan Alkateri, atau lebih jauh lagi menelusuri jalan Dago hingga jalan Braga demi mengurangi sedikit kalori.
Jogging di Saraga atau Saparua, membaca buku di Kineruku atau Reading Lights, melihat pameran di Selasar Sunaryo atau Lawang Wangi, sedikit menjauh dari kota dan menyambangi kebun teh di lembang lewat jalan sersan bajuri, ...
Tentu saja, ada alternatif pilihan lain yang lebih banyak lagi: Trans Studio, Ciwalk, PVJ, Festival Citilink, berderet-deret FO, serta belasan bahkan puluhan kafe yang lebih mengutamakan tema interior demi menjadi latar yang fotogenik ketimbang cita rasa dalam menu mereka.
Kita tinggal memilih. Karena Bandung begitu berwarna-warni. Dan kali ini saya tak ingin membandingkannya dengan kota besar yang berjarak seratus sekian kilometer ke barat, kota pemasok presentase debit turis terbanyak tiap akhir pekannya.
Kali ini saya ingin bercerita tentang teman-teman baru. Yang selama ini tinggal di kota yang sama, mempelajari ilmu yang hampir sama, memiliki semangat yang sama, namun baru beririsan ketika kami semua berkumpul dalam satu acara menselebrasikan ruang publik di Singapura. Mereka ini yang dalam dua tahun belakangan memberi warna baru bagi kota Bandung.
Mengklaim jalan penuh kendaraan, pojok-pojok kota yang sekian lama diabaikan, ruang-ruang publik yang kalah pamor dari gemerlap mal. Menghidupkannya kembali dengan merayakan kebutuhan utama manusia: makan,
Memberi akses terjangkau untuk bersepeda keliling kota, menjadi alternatif solusi kemacetan, bising, dan polusi. Menghadiahi Bandung predikat kota pertama di Asia Tenggara yang merealisasikannya,
Menghadirkan romansa masa lalu, kegiatan sesederhana menonton film di ruang terbuka, dengan layar berlatar sungai yang diharapkan kembali menjadi daya tarik kota Bunga, bukan sekedar ruang belakang permukiman padat yang mengapitnya,
Menghidupkan kembali bangunan heritage yang lama tak dihuni,
Menawarkan keceriaan di taman-taman kota dengan aktivitas biasa, yang menjadi tak biasa karena kita sudah terlalu lama lupa,
Menjadi sahabat anak-anak jalanan dan mengedukasi mereka dengan cara yang menyenangkan, ...
Mereka ini hanya sepersekian sampel dari sekian banyak orang-orang inspiratif di kota Bandung yang belum saya tahu. Orang-orang ini perlu ditemukan, diapresiasi, didorong dan diberi motivasi. Kita hanya perlu sedikit terbuka, dan mencoba bergeser sedikit dari zona nyaman, menengok bibit-bibit harapan yang siapa tahu merupakan jawaban di masa depan.
Siapa tahu bukan. Tapi tak pernah ada yang salah dari mencoba dan melakukan kesalahan.
* Saya teringat pada suatu waktu, dalam sebuah perjalanan singkat dari depan pintu studio Tugas Akhir menuju lift, seseorang menanggapi sapaan penghiburan saya kepada seorang teman yang baru saja divonis tidak lulus.
"Kamu tuh baik ya." "Kenapa?" "Iya, baik sama dia." "Loh, kenapa harus jahat?" "Kenapa harus baik?"
Saat itu, perdebatan hanya sampai disitu. Di dalam lift kami berbicara tentang hal yang lain. Tapi ide tentang memilih baik atau buruk, tentang berada pada titik netral di mana kita dapat memutuskan apapun tanpa variabel lain ikut campur, diam-diam bertengger dalam pikiran.
Jika kita bisa membuat satu orang tersenyum, yang membuatnya bangkit berdiri, mengisi bensin motivasinya walau hanya sepercik, sehingga menciptakan rantai kejadian paralel di mana dalam satu waktu di masa datang ia menjadi pribadi yang lebih baik,
Mengapa memilih untuk mendorong seseorang ke dalam jurang, bahkan jika ia sendiri yang meminta?
Terlalu terburu-buru jika optimisme dan pesimisme dianalogikan sebagai tindakan baik dan buruk. Tapi bisa jadi memang begitu. Jika optimisme memberikan perubahan positif sementara pesimisme akan menurunkan ekspektasi, yang menyebabkan berkurangnya dampak baik yang seharusnya bisa terjadi, maka menjadi pesimis adalah tindakan buruk. Logika matematika.
Memang, menjadi optimis kadang bisa menghasilkan delusi yang berujung kecewa apabila tak mencapai ekspektasi.
Tapi menjadi pesimis, kita tak bergerak kemanapun, jika bukan mundur.
...
“Go and make interesting mistakes, make amazing mistakes, make glorious and fantastic mistakes. Break rules. Leave the world more interesting for your being here.” – Neil Gaiman
Siapa tahu, itu kamu. * Tulisan ini ingin mengajak untuk berkaca: Bahwa kita selalu punya pilihan. Lakukan hal-hal baik, berikan yang terbaik. Berpikir visioner, bekerja keras, bersikap ramah dan rendah hati. Terbuka kepada diskusi, kompromi, dan kemungkinan-kemungkinan. Memilih ya dan memahami alasannya. Berkata tidak dan meyakini ketetapannya. Menyapa dan bukan mencibir. Bertanya dengan kritis, dan bukan nyinyir. (Iya, saya tahu nyinyir artinya cerewet.) Dan mengimani satu hal: Bahwa selama kita melakukan sesuatu, kita akan baik-baik saja.
“It does not matter how slow you go as long as you do not stop.” – Confucius
*
ko·la·se n 1 komposisi artistik yg dibuat dr berbagai bahan (dr kain, kertas, kayu) yg ditempelkan pd permukaan gambar; 2 Sas teknik penyusunan karya sastra dng cara menempelkan bahan-bahan, spt ungkapan asing dan kutipan, biasanya dianggap tidak berhubungan satu dng yg lain; 3 Sas cara menentukan naskah yg dianggap asli dng membanding-bandingkan naskah yg ada
1asa n harap(an); semangat: ia sudah putus — dl menghadapi persoalan itu; meng·a·sa·kan v mengharapkan; asa-asa·an a selalu berharap-harap atau mengharapkan: supaya orang tuamu jangan ~ lekaslah pulang sekarang
Kolasa adalah akronim yang mewakili sebuah frasa sederhana: Kolase-asa.
Sebuah catatan sederhana tentang harapan, optimisme, dan apa saja yang telah kita capai,
Demi masa depan yang selalu harus lebih baik. * Rofianisa Nurdin/Vidour/Untuk jongArsitek!magazine #23
Grab the mags on: http://jongarsitek.com/wp-content/uploads/magazine/jongArsitek_23.pdf
blablablabs #11: kolasa
ko·la·se n 1 komposisi artistik yg dibuat dr berbagai bahan (dr kain, kertas, kayu) yg ditempelkan pd permukaan gambar; 2 Sas teknik penyusunan karya sastra dng cara menempelkan bahan-bahan, spt ungkapan asing dan kutipan, biasanya dianggap tidak berhubungan satu dng yg lain; 3 Sas cara menentukan naskah yg dianggap asli dng membanding-bandingkan naskah yg ada
1asa n harap(an); semangat: ia sudah putus — dl menghadapi persoalan itu; meng·a·sa·kan v mengharapkan; asa-asa·an a selalu berharap-harap atau mengharapkan: supaya orang tuamu jangan ~ lekaslah pulang sekarang
* Mengawali sebuah tulisan dengan definisi baku dari kamus, bagi saya klise. pembenaran yang setengah-setengah. Tapi. Selalu ada tapi. Kemarin lusa saya diberi tugas sederhana untuk menuliskan tentang optimisme masa depan, tentang arsitektur, tentang kota, tentang kita. Namun ternyata tak mudah menemukan inspirasi positif dalam publikasi media tanah air. Kolasa adalah akronim yang mewakili sebuah frasa sederhana: Kolase asa. Sebuah catatan dan kutipan tentang harapan, optimisme, dan apa saja yang telah kita capai, demi masa depan yang selalu harus lebih baik. Saya beruntung tinggal di Bandung.