Bangunan Masjid Al-Aqsha Dalam Hati
Rasulullah bersabda bahwa shalat laksana mikraj bagi seorang mukmin untuk menemui Tuhannya. Laksana sebuah perjalanan spiritual menuju Allah. Dalam kata shalat, terkandung empat pengertian pokok. Pertama, rasa kehadiran (washala) di hadapan Allah. Untuk mengondisikan rasa kehadiran hati ini, dibangunlah masjid atau musala dan secara fisik badan ini juga disertakan. Lebih jauh, dalam Islam, melaksanakan shalat tidak cukup sekadar ingat atau eling di dalam hati. Kedua, rasa keterhubungan (shillah) dengan Allah, baik fisik maupun rohani, sebagaimana terkandung dalam kata silaturrahim dalam relasi sesama manusia, yaitu munculnya jalinan emosi dan kasih sayang kedua belah pihak. Ketiga, shalat juga bermakna menyampaikan salut, yaitu penghargaan, pujian, dan penghormatan pada Allah. Sejak takbir sampai bacaan Al-Fatihah, semuanya diawali dengan ucapan pujian atau salut pada Allah. Keempat, shalat juga mengandung makna doa atau permohonan. Ketika shalat, setelah seorang hamba menyampaikan syukur dan pujian, biasanya diikuti dengan permohonan (doa).
Dalam sebuah hadist disebutkan, Allah benci pada hamba-Nya yang sombong, tidak pernah berdoa pada-Nya. Namun, Allah juga tidak senang pada mereka yang selalu shalat dan berdoa sampai melupakan tugas-tugas duniawi. Melalui shalat, kita diajarkan untuk menjadi hamba yang pandai dalam menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas jasa-jasa orang lain. Allah tidak senang kalau hamba-Nya menghadap hanya mengajukan permohonan melulu dan tidak pernah mensyukuri anugerah-Nya yang begitu melimpah.
Sebelum mikraj, seorang hamba mesti melakukan isra lebih dahulu ke Masjid Al-Aqsha, masjid yang jauh dan perlu perjuangan berat untuk sampai ke sana. Isra adalah sebuah perjalanan malam, sendiri, dan di saat orang lain tidur lelap diselimuti kenikmatan fisik (duniawi). Allah berfirman dalam surah Al-Muddatstsir, “Hai orang yang tidur lelap diselimuti oleh kenikmatan duniawi, bangunkanlah kesadaran rohanimu. Lalu berikanlah peringatan teman-temanmu agar mereka tidak lalai seumur hidup. Ingatlah dan agungkanlah Tuhanmu. Bersihkan apa pun yang melekat pada dirimu dengan menjauhi berbagai bentuk kejahatan dan kezaliman. Berjuanglah dengan ikhlas. Buang jauh-jauh keinginan untuk mengharap balasan dan tepuk tangan. Dan untuk itu semua, kau mesti bersabar,” (QS Al-Muddatstsir [74]: 1-7).
Isra adalah sebuah perjalanan menuju Masjid Al-Aqsha. Sungguh tidak mudah melakukannya. Bahkan, orang-orang di sekeliling anda akan menganggap ada aneh dan tidak masuk akal. Ketika siang hari sudah lelah mengais-ngais harta, mengapa malam hari mesti bangun lagi? Masjid Al-Aqsha jauh bukan karena faktor tempat, tetapi karena sesungguhnya dalam hati kita terdapat masjid. Sungguh sulit menjangkaunya karena kita memiliki dorongan yang lebih kuat untuk melakukan perjalanan keluar (outward journey), bukannya ke dalam (inward journey) sehingga masjid itu disebut jauh (aqsha). Daya Tarik dunia – yang berarti pendek dan dekat – jauh lebih menggoda ketimbang kenikmatan rohani dan ukhrawi. Tidur lelap dengan selimut duniawi lebih menggoda ketimbang bangun dan melakukan isra.
Masyarakat modern menghabiskan hampir semua umurnya untuk sekolah agar memperoleh pekerjaan dengan gaji tinggi. Setelah bekerja dan terkumpul uang, agenda yang paling menarik adalah menjelajah dunia, mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat rekreasi bersama keluarga. Dalam peristiwa Isra Mikraj, terkandung pesan dari Allah, “Hai Muhammad, ajarkanlah isra dan mikraj pada umatmu, karena di sana mereka akan melihat kebesaran Tuhanmu dan menemukan keindahan alam yang jauh lebih memesona dan kenikmatan hidup yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan duniawi.”
Masjid Al-Aqsha artinya masjid yang jauh, meskipun sesungguhnya sangat dekat karena ada dalam hati kita. Sebagaimana Tuhan yang sesungguhnya lebih dekat dari urat nadi kita, selalu kita anggap jauh karena kita tidak mampu membuka tabir (cover) yang menutupi. Hal tersebut dapat membuat seseorang yang menutupi hatinya dari cahaya Illahi dinamakan kafir (one who covers his/her heart from the light of God).
Sebagaimana bangunan masjid dalam bentuk fisik, hati itu terbagi menjadi beberapa ruang. Salah satu pendapat mengatakan, ruang hati terbagi menjadi empat lapis, yaitu shadr, qalb, fuad dan lubb. Di dalam lubb yang merupakan ruang terdalam itulah seorang hamba bisa melanjutkan ke tahapan mikraj. Shadr merupakan bagian paling luar dari hati. Mungkin, nafs ibarat serambi yang menghubungkan hati dan dunia fisik serta sosial. Hal tersebut sama halnya dengan serambi masjid yang terhubung dengan halaman dan halaman tersambung dengan wilayah publik.
Di halaman masjid besar, selalu ada gapura sebagai pintu masuk. Gapura berasal dari kata ghofuro, yaitu siapa pun masuk ke ruang masjid berarti memasuki wilayah ampunan Allah. Akan tetapi, pintu gapura itu terletak di Masjid Al-Aqsha yang ada di hati, gapura rohani yang menghubungkan ke ruang kalbu dan masuk lagi ke wilayah lubb. Karena tidak mudah memasuki ruang ini, ruang ini disebut Masjid Al-Aqsha. Sungguh tidak mudah menjangkau ruang ini. Seseorang harus melakukan isra untuk ke sana. Sebuah perjalanan jauh merasakan kesunyian di tengah keramaian dunia. Coba saja renungkan sendiri, selama durasi shalat, berapa persen dari waktu shalat itu kita benar-benar mencapai kekhusyukan? Adakah kita merasa tergetar dan sekaligus tersenyum ketika menghadap dan diterima Allah? Kalau tidak, mungkin kita masih berada di ruang serambi.
Masjid sendiri berarti tempat sujud. Rasulullah bersabda, setiap sudut bumi adalah masjid. Bahkan seluruh isi jagad raya semuanya bersujud pada Allah. Namun, masjid yang paling mulia adalah ruang lubb dalam hati. Di situlah titik penghubung Antara seorang hamba dengan Tuhan. Makanya, kita mesti membuang semua berhala di hati sebagaimana Rasulullah membersihkan Kabah dan Masjidil Haram dari semua berhala.
Jika kita renungkan, sungguh indah dan menarik semua adegan shalat dalam Islam. Berbagai bentuk salut atau penghormatan yang terdapat dalam beragam kebudayaan semuanya tertampung dalam shalat. Bentuk penghormatan dalam tradisi militer yang berdiri tegak sambil mengangkat tangan dapat ditemukan dalam shalat. Bahkan, dengan mengangkat dua tangan, bukan hanya satu. Ada lagi penghormatan dengan cara membungkuk, seperti dalam tradisi Jepang dan kerajaan pada umumnya. Dalam shalat, membungkuknya lebih total sampai mencium tanah. Dalam sebuah tradisi, terdapat penghormatan dengan cara berbaris, lalu melagukan pujian-pujian. Oleh karena itu, bentuk shaf dalam shalat sangat rapi. Lalu, imam pun memimpin kidung Al-Fatihah dan diamini secara serentak.
Demikianlah, masih banyak aspek indahnya shalat jika kita renungkan. Namun, adegan paling inti adalah sujudnya diri kita secara total yang dipimpin oleh hati. Bahkan pada waktu shalat, posisi kepala yang paling atas dan suka sombong harus sujud. Hal tersebut membuat posisi pantat lebih tinggi ketimbang kepala. Karena sujud merupakan inti penghormatan, jumlah sujud lebih banyak ketimbang jumlah rakaatnya. Minimal seorang muslim berujud 34 kali sehari. Belum lagi kalau ada yang melakukan shalat sunah.
Dalam sebuah pesantren diajarkan, janganlah kamu mengangkat kepalamu ketika sujud sebelum hatimu merasa yakin bahwa doamu dijawab oleh Allah. Hal tersebut mengakibatkan durasi sujud lebih panjang ketimbang bacaan Al-Fatihah. Allah berfirman, “Sujudlah dan sembahlah Tuhanmu sampai hatimu merasa yakin,” (QS Al-Hijr [15]: 98-99).
Subhanallah, ketika saya menulis kolom ini, serasa saya tengah menyaksikan seluruh planet tengah bertawaf dan bersujud pada Sang Penciptanya, seperti yang dituturkan Al-Qur’an. Akan tetapi, justru manusia yang sering kali sombong berjalan congkak di muka bumi. Manusia sering kali lupa bahwa udara yang dihirup setiap saat, sejengkal tanah yang diinjak, secercah cahaya matahari yang menghangatkan badan, dan kekayaan materi yang dibanggakan, semua itu milik Allah. Bahkan, diri dan nyawa ini semuanya berada dalam genggaman-Nya.
Sejauh-jauh manusia melakukan perjalanan di muka bumi, tak lebih bagaikan semut yang berjalan-jalan di permukaan bola kaki. Padahal ukuran bola dunia dan semesta alam besarnya tak sebanding Antara semut dan bola kaki. Bahkan, bumi ini tak lebih bagaikan sebuah kelereng yang mengapung di tengah angkasa tak bertepi. Fa biayyi alai rabbikuma tukadzziban? “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman [55]: 13). Kalau kita tidak mau sujud pada Allah dan menjadikan bumi ini sebagai masjid, fa aina tadzhabun? “Lalu mau ke mana kalian hendak pergi?” (QS At-Takwir [81]: 26), tegur Allah. “Kepada-Ku semua yang ada ini tempat kembalinya, dan Aku akan melakukan perhitungan di kemudian hari,” (QS Al-Ghasyiah [88]: 25-26).
[Komaruddin Hidayat – Psikologi Beragama, Hal 178-185, 2010]
Salah satu bab yang paling berkesan ketika membaca buku Prof Komar. :)