Informasi Tanpa Konfirmasi
Langit kian redup dan gelap semakin mendekat, orang-orang sibuk lalu lalang untuk bergegas pulang. Lampu-lampu neon sudah dinyalakan sedari tadi. Di ujung bangku pajang, aku dan temanku berdikusi salah satunya tentang media saat ini. Kegelisahan yang kami rasakan mengenai informasi yang semakin membanjir. Sebagian orang merasa perlu memantau isu yang terbaru. Orang-orang diuntungkan pula dengan berbagai kemudahahan informasi. Tinggal mengetik kata kunci di mesin pencarian dan muncullah informasi yang diinginkan. Namun, aku mengalami dampak dari banjir informasi dan muak akan sajian informasi yang membludak. Dalam waktu dekat ini, aku benar-benar enggan membuka situs berita dan menonton televisi. Slogan ini cocok untuk menggambarkan kondisi saat ini “yang benar dan buruk sulit dibedakan”. Saat ini semua bisa jadi jurnalis, contohnya memberitakan dan menyebarkan informasi.
“Generasi saat ini memang lebih pintar daripada generasi sebelum-sebelumnya. Hanya saja adabnya semakin menipis” ujar temanku. Benar pula yang dikatakan temanku, adab yang kurang pas dapat ditemui banyaknya nyinyiran di berbagai akun sosial media. Media sangat bermain peran untuk mempengaruhui khalayak umum. Seolah-olah yang ditampakkan di media baik internet atau televisi adalah kebenaran yang hakiki. Informasi yang semakin banyak dan tak semua harus dianut.
Salah satu cara yang dilakukan temanku, untuk tidak terburu-buru informasi dengan menelaah terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa menyebarkan. Karena baginya, informasi yang semakin mudah diakses semakin besar pula kesempatan memalsukan informasi. Hal yang masih belum jelas kebenarannya, ia tak akan menyentuhnya. Hanya diamati tanpa harus ikut-ikutan membuat status cerita di sosial media. Dalam diksusi sore itu, ia menenkankan tigal hal yakni, berpikir positif, telaah, dan lapang dada.
Berpikir positif terhadap sesuatu isu yang tengah berkembang, meski belum tahu kebernarnya. Agar pikiran dan hati tak semakin sesak dengan pola pikir negatif dan tanpa ujung. Telaah merupakan salah satu cara untuk mengkritisi sesuatu informasi. Berpikir postif tanpa telaah hanya akan menumpuk informasi tanpa kebenaraan. Lapang dada adalah upaya untuk menerima hal-hal yang tak sesuai dengan kehendak kita. Ada saja hal yang di luar pemahaman kita, lapang dada jika pada akhirnya informasi yang dipercaya ternyata palsu. Lapang dada jika akhirnya tokoh yang dibela ternyata bukan yang terbaik. Lapang dada ketika semua tampak tidak berpihak pada kita.
Ujung diskusi ini mengantarkan ingatkanku pada ucapan Ranu Muda (wartawan muslim Solo), bahwa kaum muslim saat ini membutuhkan media dan dana. Media sebagai membranding Islam dan memuat isu-isu yang pro dengan Islam. Beberapa media hanya mermbuat kabur terhadap kabar-kabar kebaikan. Dana dibutuhkan kaum muslim untuk melaksanakan ibadah sosial dengan mudah seperti pembangunan masjid dan sedekah.
Ah, jika masih saja tampak abu-abu kegelisahku hanya berujung pada tulisan ini. Mungkin tak akan berubah banyak, setidaknya aku berpikir agar tidak dibodohi. Sudahlah sementara aku lebih banyak membenamkan diri pada buku, dengan demikian lebih tahu informasi secara detail.
Fitria R Zain | 28 Juni 2019













