November: 3 Alasan Utama yang Perlu Diingat
November baru masuk setengahnya, tapi energiku sudah mau habis saja. Entah mengapa lelah sekali November kali ini, mungkin karena lebih banyak hal yang dipikirkan, hati penuh dengan pengharapan, dan badan beberapa kali diajak berdamai dengan limitasi baru.
Sepanjang Oktober hingga pekan ini, segenap weekend terisi kegiatan di luar rumah. Aku yang biasanya hanya menghabiskan waktu tidur-tiduran atau berleha-leha di rumah, tentu butuh penyesuaian. Belum lagi season baru di pekerjaan yang cukup menantang dan tentunya proses mencari yang ke-12 yang masih terus berlanjut.
Update-nya, aku masih akan menunggu kabar atas keputusan di akhir November saat AMZT sudah kembali ke negaranya dan bisa lebih leluasa berdiskusi dengan keluarga. Jujur saja, mungkin aspek ini yang paling banyak menguras energiku satu bulan terakhir terhitung sejak 12 Oktober lalu.
Aku bahkan sudah beberapa kali mencoba untuk mundur, merasa kurang layak, butuh waktu lebih untuk memantaskan diri dan lain sebagainya. Sampai sesenggukan aku dibuatnya karena terlalu banyak ketakutan dan kekhawatiran yang muncul. Meski aku juga sadar bahwa semuanya hanya ada dalam kepalaku. Ketakutan itu bukanlah realitanya.
Saat aku bilang aku takut menikah karena merasa tidak cukup layak menjadi istri atau ibu yang baik, dia menjawab bahwa ketakutan itu lumrah, terlebih harus menyatukan dua kepala dengan budaya dan negara yang berbeda. Tetapi mundur dan memilih untuk tidak menikah karena alasan itu, bukanlah hal yang tepat. Saat seorang hamba ingin melakukan hal baik yang Allah suka, tentu saja setan tidak akan tinggal diam, mereka akan terus menggoda hingga seorang hamba itu mengikutinya.
Aku berlindung kepada Allah dari bisikan setan yang terkutuk, dari golongan jin dan manusia.
Aku kira perasaan takut dan khawatir itu selesai sampai di situ.
Nyatanya, beberapa hari setelahnya aku kembali kalut dengan penyebab yang berbeda. Kali ini, ibuk yang berbicara, mendengarkanku yang sibuk bercerita sambil menangis, lalu memberikan nasihat.
"Apapun yang terjadi nanti, yang penting niatnya diluruskan terus, liLlahita'ala. Sehingga jadi atau tidak jadi, hati akan terus lapang dan percaya bahwa itu ketetapan terbaik dari Allah. Pun, kalau takdirnya disatukan (jadi), namun dihadapkan dengan banyak persoalan hidup setelahnya, itu sudah satu paket dengan kebaikan atas ketetapan Allah itu sendiri. Kan memilihnya dengan nama Allah."
"Tapi kalau aku gagal melalui ujiannya dan malah terus-menerus berpikir atau menyesal (telah memilih untuk) menikah, bagaimana?"
"Menikah itu tidak selamanya buruk, banyak sisi baik dan bahagianya, dan satu hal yang pasti itu adalah kebaikan yang Allah sukai. Kalau mau hidup sendiri juga tidak masalah, tapi mau sampai kapan? Setiap duka dan kesulitan itu ada masanya, gak akan selamanya. Begitu juga dengan bahagia. Jadi, yang penting kita mau terus berusaha menjadi sebaik-baik hamba. Kalau menurut Bu Uyun (guru SMA-ku dulu yang sering diskusi sama ibuk), Abidah itu orangnya tangguh, jadi anggap saja pernikahan itu sebagai medan 'jihad' yang sesungguhnya."
Aku terdiam. Jika pernikahan adalah 'jihad' atau perjuangan, mundur dari jihad adalah salah satu kebiasaan orang munafik. Dan aku sangat benci sifat munafik. Bagaimana mungkin aku rela membiarkan sifat itu ada dalam diriku?
Tapi perasaan kalut masih tersisa sebagian. Lantas aku melanjutkan pertanyaan.
"Sebenarnya pernikahan itu ujungnya apa sih, Buk? Aku selalu bingung saat mendoakannya. Misalnya, kalau berdoa tentang sekolah kan (sudah) jelas, aku minta bantuan Allah agar bisa lulus dengan baik. Soal pekerjaan, aku bisa minta ke Allah agar dibantu menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan. Tapi kalau pernikahan, apakah penghujungnya hanya maut?"
"Keberkahan pernikahan yang sebenarnya itu malah tidak berhenti sampai maut saja, tetapi hingga berkumpul lagi di surga-Nya. Salah satu tujuan menikah adalah lulus dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup, tapi lebih dari itu, menikah berarti bertahan (dengan sabar dan syukur) membersamainya sampai surga. Lagipula, Da (ini cara ibuk memanggilku secara lebih dekat), sejauh usia manusia saat ini, mungkin kita tidak perlu 100 tahun untuk membuktikan cinta pada Allah lewat jihad bernama pernikahan. Tidak seperti usia Nabi Nuh yang sampai hampir 1000 tahun."
Aku kembali terdiam. Kalau dicerna ulang, aku sebenarnya sedang menangisi suatu hal yang belum tentu terjadi, pun jika itu terjadi, tentu atas izin Allah dan tidak akan selamanya. Kalau aku memilih mundur, tandanya aku mengabaikan kesempatan meraih balasan kehidupan akhirat yang jauh lebih baik dan lebih kekal.
Dari obrolan dengan AMZT dan ibuk, aku mulai kembali membangun tekad dalam hati bahwa 3 alasan utama menikah versiku adalah:
1. Menjalankan hal yang Allah suka, memilih yang halal dan meninggalkan yang haram. Menikah memang tidak mudah, tapi aku akan mampu menjalaninya karena dengan nama Allah aku memilih dan bersama Allah kehidupan pernikahan itu aku jalani.
2. Membalas cinta ibuk (yang meskipun tidak akan sanggup), aku tidak ingin melihat ibuk bersedih karena ibuk pernah bilang kalau ibuk akan sedih jika melihatku terus sendiri di saat nantinya adik-adikku memulai hidupnya yang baru. Aku akan selalu mendengar serta menjalankan nasihat yang pernah ibuk berikan dengan segenap cinta dan doa tulusnya.
Poin berikutnya memang cukup spesifik, tapi sebagai bentuk bersyukur atas karunia dari Allah berupa pertemuan.
3. Menikah itu ada banyak peluang bahagianya, aku dan AMZT punya banyak rencana kebaikan dan cita-cita dunia akhirat yang mau dicapai bersama seperti menghafal Quran, belajar, beribadah, hingga meraih surga.
Jadi, aku harus siap kalau kali ini Allah menjawab dengan kata 'ya' atas doa agar didekatkan, dimudahkan, dan diberkahi jika AMZT baik bagiku, agamaku, dunia dan akhiratku. Bukan malah kabur atau mundur seperti ubur-ubur. Hehe.
Meski tubuh dan pikiranku lelah, hatiku sudah jauh lebih tenang. Alhamdulillaahirabbil'alamiin...