tentang teman yang mengingatkan bahwa mungkin saya telah teralienasi
Dia adalah seorang teman sejurusan. Karena jalur masuk kampus yang berbeda, semester awal saya tidak begitu mengenalnya. Namun beberapa kawan lain terdengar memiliki julukan untuknya. Morena. Alasannya karena dia kerap bergaya semacam Syahrini yang hari itu sedang mencoba membombastiskan goyang morena. Saya sih hanya menjadi pendengar pasif saja. Tanpa benar-benar mengetahui apa iya dia segaya itu.
Dia sering sendirian. Tak jarang terlambat masuk kelas. Gosip yang beredar, dia hobi berlama-lama nongkrongin laptop di depan BAAK. Di sana tempat berkumpulnya para dewa download dengan fasilitas wifi yang kadang kalau lagi dibutuhkan malah sering tak berguna. Dia suka drama korea. Entah sudah berapa puluh judul dia download. Sejak itu saya agak mencurigainya. Apa jangan-jangan dia daftar kuliah cuma untuk drama korea?
Akhir semester, organisasi yang saya ikuti kembali membuka pendaftaran anggota baru. Kebetulan saya menemani senior menempeli poster di segala penjuru mading kampus. Sampai di mading BAAK, bertemulah saya dengannya. Dia mulai bertanya-tanya apa yang saya lakukan. Senior saya nampak tertarik. Ia langsung mengundang dia untuk mendatangi sekretariat kami sorenya.
Di luar prediksi saya, dia datang. Sendiri. Dan untuk pertama kali baginya datang ke gedung tersebut. Ia banyak-banyak bertanya pada senior. Sejak itu, dia menjadi yang paling betah di sekretariat. Bahkan menjadikannya rumah kedua. Loyalitas keberadaannya lebih tinggi dari saya yang kadang masih mengalahkan organisasi demi main dengan teman lain.
Saya mencoba mengakrabkan diri dengannya. Apalagi bila dilihat-lihat, dia tak dibersamai siapapun di jurusan. Sesekali saya cerita tentang diri. Namun kemudian saya menemukan ada ketidaknyamanan ketika beradu kisah dengannya. Ia ekspresif. Atau lebih tepatnya terlampau asyik dengan dunianya sendiri. Ia jumawa. Melontarkan pertanyaan tapi dijawabnya sendiri. Tiba-tiba tertawa atas perkataanya sendiri. Saya jarang diberinya waktu untuk berpikir harus merespon seperti apa.
Sikap seenaknya sendiri tidak hanya ditunjukan kepada teman saja. Dosen juga kena imbasnya. Tanpa pandang bulu. Bila terlambat masuk kelas, tak peduli siapapun dosennya, langsung saja duduk. Padahal sebagai mahasiswa seharusnya kita mengenali juga bagaimana karakter dosen. Saat presentasipun begitu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya lebih sering mengambang tanpa kejelasan.
Belakangan banyak teman sejurusan yang bertanya kepada saya. Apakah aslinya dia seperti itu? Apakah saya juga merasakan ketidaknyamanan mereka terhadapnya?
Mulanya saya masih ingin menjadi teman yang baik. Coba lebih bersabar mendengarkan, sejatinya apa yang dia rasakan. Membelanya di depan teman-teman yang menertawai dia baik di depan atau di belakang. Kalau memang tidak bisa memarahi mereka yang meledek, setidaknya saya tidak menjadikannya sebagai bahan ejekan.
Bagaimana tidak, di kalangan pria-pria penyuka sastra itu, ada yang menjadikannya barang taruhan. Jangan ada yang menyebut namanya. Kalau ada, dia harus membersamai ‘dia’ selama KKL nanti. Niatnya sih luhur. Untuk berhenti dari kebiasaan bullying. Saya sih tenang-tenang saja walau dalam hati terasa mengganjal. Apa harus segitunya?
Tapi lama-lama, dia tetap saja menjadi bahan. Memang tidak memanggil namanya, tapi menggantinya dengan you know who. Saya pernah memarahi teman saya yang terlibat dalam taruhan tersebut. Jahat. Esensi dari taruhan tidak lagi diagungkan. Ini hanya mengubah pola ledekan. Apa mereka tidak memiliki perasaan?
Kenapa marah? Dianya saja santai.
Selalu kalimat ini yang membenturkan saya. Saya sudah berkali-kali mengajak dia berdialog dari hati ke hati. Mengenai bagaimana pemikiran teman-teman sejawat mengenai dirinya. Tapi kemudian responnya membuat saya lama-lama jengah.
Biarin. Kan ini diri gue.
Pesimis? Sangat. Sekarang adalah titik dimana saya sudah menyerah tentangnya. Tak lagi saya berinya nasehat-nasehat. Bukan saya mau berhenti menjadi temannya, tapi karena saya rasa solusi terbaik untuknya adalah dirinya sendiri. Pengalaman yang bisa bekerja lebih banyak untuk mengubahnya. Biasalah anak muda masih mencari jati diri. Hibur saya.
Lambat-lambat ada yang mengganggu pikiran saya. Apakah dorongan hati saya yang selalu ingin membelanya itu benar-benar murni untuknya? Sepertinya tidak. Apa yang saya lakukan terhadap orang lain, selalu dilandaskan dengan pertimbangan bagaimana kalau saya di posisinya. Misal dengan memberi tempat duduk untuk lansia di kereta. Hal ini juga yang saya lakukan terhadapnya.
Bagaimana kalau saya di posisi dia.
Apakah saya sanggup menghadapi cibiran, sindiran, ledekan, hinaan, baik secara langsung maupun tidak.
Bagaimana kalau saya di posisi dia.
Apakah esok saya akan kembali ke kampus? Sanggup bertahan di kelas di mana semua orang memperhatikan untuk mengolok? Datang ke organisasi hanya untuk dicela?
Bagaimana kalau saya di posisi dia.
Apakah saya masih bisa membagi senyum. Hidup seolah tanpa beban sepertinya. Membiarkan orang lain berkata apa. Biar saja jalan sendiri kalau memang tidak ada yang mau menemani.
SAYA TIDAK AKAN SANGGUP.
Kadang saya malu padanya. Selama ini, saya selalu melakukan konformitas atau penyesuaian diri. Saya akan melakukan hal yang sekiranya dapat diterima di tempat yang saya inginkan. Kadang sadar, kadang tidak. Hingga tak jarang saya sering merasa muak dengan diri saya. Saya sering merasa tidak bisa menjadi diri saya di beberapa tempat. Saya terpaksa terus menerus bertopeng sekalipun tidak menenangkan.
Mungkin itu yang dinamakan alienasi. Sebuah keterasingan dari diri sendiri akibat terlalu sering melakukan konformitas.
Sewaktu-waktu saya bisa bahagia karena memiliki banyak teman di segala penjuru. Mau bahas sastra ada temannya. Bahas anime jepang ada temannya. Bahas film ada temannya. Bahas hal yang imajinatif ada temannya. Bahas selera humor ada temannya. Bahas organisasi ada temannya
Sewaktu-waktu saya bisa benci karena sering merasa tidak memiliki teman. Sebab saya tidak pernah menyiapkan diri untuk bisa sendiri. Saya selalu mencari teman. Namun kadang bersama teman yang satu, saya tidak bisa menjadi seterbuka ketika bersama teman yang dua. Hanya saja teman yang dua tak memiliki banyak waktu. Jalan dengan teman yang tiga saya harus mengambil topeng lain dengan rupa lain pula. Selalu begitu.
Jadi sebenarnya apa yang saya lakukan terhadap ‘dia’, sebenar-benarnya dilandasi oleh keprihatinan terhadap diri sendiri. Ya, saya mengasihani diri sendiri dengan bersikap berbeda kepada dia.