Ini kisah tentang dunia,
Dunia yang menua sebelum waktunya
Kemput bagai daun yang meranggas
Diperkosa oleh kenyataan
Sampai nyaris tak bersisa
Dalam keadaannya yang tanpa gairah
Jutaan orang baris-berbaris
Di bibir jurang
Menunggu sang jagal
Menghunuskan pedangnya dalam bayang-bayang
Memisahkan kepala dari tubuh-tubuh mereka
Dengan begitu bengisnya
tentang teman yang mengingatkan bahwa mungkin saya telah teralienasi
Dia adalah seorang teman sejurusan. Karena jalur masuk kampus yang berbeda, semester awal saya tidak begitu mengenalnya. Namun beberapa kawan lain terdengar memiliki julukan untuknya. Morena. Alasannya karena dia kerap bergaya semacam Syahrini yang hari itu sedang mencoba membombastiskan goyang morena. Saya sih hanya menjadi pendengar pasif saja. Tanpa benar-benar mengetahui apa iya dia segaya itu.
Dia sering sendirian. Tak jarang terlambat masuk kelas. Gosip yang beredar, dia hobi berlama-lama nongkrongin laptop di depan BAAK. Di sana tempat berkumpulnya para dewa download dengan fasilitas wifi yang kadang kalau lagi dibutuhkan malah sering tak berguna. Dia suka drama korea. Entah sudah berapa puluh judul dia download. Sejak itu saya agak mencurigainya. Apa jangan-jangan dia daftar kuliah cuma untuk drama korea?
Akhir semester, organisasi yang saya ikuti kembali membuka pendaftaran anggota baru. Kebetulan saya menemani senior menempeli poster di segala penjuru mading kampus. Sampai di mading BAAK, bertemulah saya dengannya. Dia mulai bertanya-tanya apa yang saya lakukan. Senior saya nampak tertarik. Ia langsung mengundang dia untuk mendatangi sekretariat kami sorenya.
Di luar prediksi saya, dia datang. Sendiri. Dan untuk pertama kali baginya datang ke gedung tersebut. Ia banyak-banyak bertanya pada senior. Sejak itu, dia menjadi yang paling betah di sekretariat. Bahkan menjadikannya rumah kedua. Loyalitas keberadaannya lebih tinggi dari saya yang kadang masih mengalahkan organisasi demi main dengan teman lain.
Saya mencoba mengakrabkan diri dengannya. Apalagi bila dilihat-lihat, dia tak dibersamai siapapun di jurusan. Sesekali saya cerita tentang diri. Namun kemudian saya menemukan ada ketidaknyamanan ketika beradu kisah dengannya. Ia ekspresif. Atau lebih tepatnya terlampau asyik dengan dunianya sendiri. Ia jumawa. Melontarkan pertanyaan tapi dijawabnya sendiri. Tiba-tiba tertawa atas perkataanya sendiri. Saya jarang diberinya waktu untuk berpikir harus merespon seperti apa.
Sikap seenaknya sendiri tidak hanya ditunjukan kepada teman saja. Dosen juga kena imbasnya. Tanpa pandang bulu. Bila terlambat masuk kelas, tak peduli siapapun dosennya, langsung saja duduk. Padahal sebagai mahasiswa seharusnya kita mengenali juga bagaimana karakter dosen. Saat presentasipun begitu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya lebih sering mengambang tanpa kejelasan.
Belakangan banyak teman sejurusan yang bertanya kepada saya. Apakah aslinya dia seperti itu? Apakah saya juga merasakan ketidaknyamanan mereka terhadapnya?
Mulanya saya masih ingin menjadi teman yang baik. Coba lebih bersabar mendengarkan, sejatinya apa yang dia rasakan. Membelanya di depan teman-teman yang menertawai dia baik di depan atau di belakang. Kalau memang tidak bisa memarahi mereka yang meledek, setidaknya saya tidak menjadikannya sebagai bahan ejekan.
Bagaimana tidak, di kalangan pria-pria penyuka sastra itu, ada yang menjadikannya barang taruhan. Jangan ada yang menyebut namanya. Kalau ada, dia harus membersamai ‘dia’ selama KKL nanti. Niatnya sih luhur. Untuk berhenti dari kebiasaan bullying. Saya sih tenang-tenang saja walau dalam hati terasa mengganjal. Apa harus segitunya?
Tapi lama-lama, dia tetap saja menjadi bahan. Memang tidak memanggil namanya, tapi menggantinya dengan you know who. Saya pernah memarahi teman saya yang terlibat dalam taruhan tersebut. Jahat. Esensi dari taruhan tidak lagi diagungkan. Ini hanya mengubah pola ledekan. Apa mereka tidak memiliki perasaan?
Kenapa marah? Dianya saja santai.
Selalu kalimat ini yang membenturkan saya. Saya sudah berkali-kali mengajak dia berdialog dari hati ke hati. Mengenai bagaimana pemikiran teman-teman sejawat mengenai dirinya. Tapi kemudian responnya membuat saya lama-lama jengah.
Biarin. Kan ini diri gue.
Pesimis? Sangat. Sekarang adalah titik dimana saya sudah menyerah tentangnya. Tak lagi saya berinya nasehat-nasehat. Bukan saya mau berhenti menjadi temannya, tapi karena saya rasa solusi terbaik untuknya adalah dirinya sendiri. Pengalaman yang bisa bekerja lebih banyak untuk mengubahnya. Biasalah anak muda masih mencari jati diri. Hibur saya.
Lambat-lambat ada yang mengganggu pikiran saya. Apakah dorongan hati saya yang selalu ingin membelanya itu benar-benar murni untuknya? Sepertinya tidak. Apa yang saya lakukan terhadap orang lain, selalu dilandaskan dengan pertimbangan bagaimana kalau saya di posisinya. Misal dengan memberi tempat duduk untuk lansia di kereta. Hal ini juga yang saya lakukan terhadapnya.
Bagaimana kalau saya di posisi dia.
Apakah saya sanggup menghadapi cibiran, sindiran, ledekan, hinaan, baik secara langsung maupun tidak.
Bagaimana kalau saya di posisi dia.
Apakah esok saya akan kembali ke kampus? Sanggup bertahan di kelas di mana semua orang memperhatikan untuk mengolok? Datang ke organisasi hanya untuk dicela?
Bagaimana kalau saya di posisi dia.
Apakah saya masih bisa membagi senyum. Hidup seolah tanpa beban sepertinya. Membiarkan orang lain berkata apa. Biar saja jalan sendiri kalau memang tidak ada yang mau menemani.
SAYA TIDAK AKAN SANGGUP.
Kadang saya malu padanya. Selama ini, saya selalu melakukan konformitas atau penyesuaian diri. Saya akan melakukan hal yang sekiranya dapat diterima di tempat yang saya inginkan. Kadang sadar, kadang tidak. Hingga tak jarang saya sering merasa muak dengan diri saya. Saya sering merasa tidak bisa menjadi diri saya di beberapa tempat. Saya terpaksa terus menerus bertopeng sekalipun tidak menenangkan.
Mungkin itu yang dinamakan alienasi. Sebuah keterasingan dari diri sendiri akibat terlalu sering melakukan konformitas.
Sewaktu-waktu saya bisa bahagia karena memiliki banyak teman di segala penjuru. Mau bahas sastra ada temannya. Bahas anime jepang ada temannya. Bahas film ada temannya. Bahas hal yang imajinatif ada temannya. Bahas selera humor ada temannya. Bahas organisasi ada temannya
Sewaktu-waktu saya bisa benci karena sering merasa tidak memiliki teman. Sebab saya tidak pernah menyiapkan diri untuk bisa sendiri. Saya selalu mencari teman. Namun kadang bersama teman yang satu, saya tidak bisa menjadi seterbuka ketika bersama teman yang dua. Hanya saja teman yang dua tak memiliki banyak waktu. Jalan dengan teman yang tiga saya harus mengambil topeng lain dengan rupa lain pula. Selalu begitu.
Jadi sebenarnya apa yang saya lakukan terhadap ‘dia’, sebenar-benarnya dilandasi oleh keprihatinan terhadap diri sendiri. Ya, saya mengasihani diri sendiri dengan bersikap berbeda kepada dia.
Refleksi Mingguan: Membaca Karl Marx Karl Marx merupakan seorang pemikir yang sangat kritis, tajam dan cakap dalam menganalisa suatu persoalan, tak terkecuali di bidang “pekerjaan.” Ia berpandangan bahwa, pekerjaan merupakan suatu proses identifikasi diri manusia, sebab di dalam pekerjaan itulah manusia membentuk dirinya sendiri untuk kemudian diperkenalkan kepada semesta raya.
Refleksi Mingguan: Membaca Karl Marx Karl Marx merupakan seorang pemikir yang sangat kritis, tajam dan cakap dalam menganalisa suatu persoalan, tak terkecuali di bidang “pekerjaan.” Ia berpandangan bahwa, pekerjaan merupakan suatu proses identifikasi diri manusia, sebab di dalam pekerjaan itulah manusia membentuk dirinya sendiri untuk kemudian diperkenalkan kepada semesta raya.
Kalau Kau Kucing, Kau Tak Perlu Kursus Menggonggong
Adam adalah manusia terawal dalam sejarah kehidupan manusia. Tetapi menjadi makhluk terakhir dalam masalah penciptaan. Sejarah-sejarah dari sumber turats mengkonfirmasikan hal ini, tentu saja khabar ini berasal dari khabar shidiq (berita terpercaya) yang diberitahukan langsung oleh Nabi. Terkait hal ini anda bisa menelusurinya di beberapa kitab hadits (tentang khutbah terpanjang Rasul pada suatu hari dari bakda shubuh, terpotong oleh shalat duhur, lalu dilanjut, terpotong oleh shalat ashar, dan dilanjut hingga maghrib menjelang), khutbah Rasul tersebut hampir seharian jeput, menceritakan dari awal mula penciptaan hingga generasi beliau dan beberapa periode setelahnya. Khutbah tersebut dibukukan oleh Ibn Katsir dan diberi judul al-Bidayah wan Nihayah (dari awal hingga akhir) 11 jilid tebal.
Al-Quran sebagiannya berisi tentang kisah masa lampau atau sejarah, tetapi ia tidak lantas menjadi buku sejarah. Kisah-kisah tersebut, diperuntukan untuk diambil pelajaran dengan pendayagunaan akal dan kontekstualisasi untuk manusia sekarang dan untuk peneguh hati Nabi. Dengan kisahlah, ditengah hiruk pikuk keduniaan dan kesedihan Nabi, hatinya dikuatkan, ditegarkan, sehingga bebannya menjadi lebih ringan. Bila Rasul saja perlu ada peneguh hati, maka itu artinya lebih pantas lagi buat kita untuk juga diteguhkan, dengan menyelami perikehidupan manusia terbaik sepanjang sejarah dunia ini. Setiap segi dari kehidupannya bisa menjadi teladan sempurna, karena beliau, merupakan hasil dari didikan langsung Allah sehingga menjadi manusia yang sebaik-baiknya adab. Itu pula yang membuat apa yang dilakukan oleh Muhammad, hingga kunyahan mulutnya, langkah kakinya, puguhning ucapan dan tindak-tanduknya, sangat relevan dan perlu untuk diikuti. Karena itu adalah sebaik-baik laku lampah. Semua kebaikan yang terserak didunia ini terhimpun secara sempurna dalam kepribadian Muhammad. Sholawat dan salam untuk beliau.
Sejarahlah yang menghubungkan kita dengan asal-usul kita. Dan pengetahuan kita terhadap asal-usul bisa lebih mempermudan dan memperjelas konsep sangkan paran kita dalam hidup. Yaitu sebuah konsep tentang keberadaan kita disini, darimana, mau kemana dan untuk tujuan apa. Manusia diciptakan dengan blue-print yang jelas. Tidak berupa papan tulis kosong yang ditulisi oleh faktor-faktor diluarnya. Bila anda akrab dan mengakrabi tulisan-tulisan dari filsup barat dari mula zaman modern hingga post-modern, permasalahan ini jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan. Ada campur baur dan tumpeng tindih antara setiap faham dengan kutubnya masing-masing ; yang berspekulasi bahwa kehidupan ini tanpa tujuan, sehingga membuat kita bebas menjadi apa saja (tentang ini saya tiba-tiba jadi teringat film Zootopia, itu film yang bagus dan sarat makna filosopis, bila belum nonton saya sarankan untuk segera) karena kehidupan ini memang sudah absurd dari sononya, atau yang mencampurkan konsep agama yang hierarkis dalam realitasnya dengan konsep-konsep yang saling bertentangan.
Dalam film Zootopia (loh kok malah bahas film? Biarin haha) diandaikan oleh tokoh utamanya bahwa siapapun berhak menjadi apa saja. Benar-benar menjadi apa saja. Tergantung keinginan, bukan asal-usulnya. Dibuka dengan asumsi semacam itu membuat saya berpikir berkali-kali, apakah itu mungkin? Seperti benar tetapi ada yang rancu. Karena film tersebut diperankan oleh hewan, maka menjadi mudah dalam pembayangannya, tetapi ketika ditransformasikan ke manusia, rumitnya minta ampun!.
Zootopia adalah sebuah kota metropolis tempat berkumpul semua hewan dengan peradaban yang sudah maju dan canggih, diatur oleh yang berkompeten dan disana, adalah surganya dunia, siapapun berhak menjadi apa saja, dan tidak berhak diprotes oleh orang lain. Bila saya mengkaitkan antara “siapapun boleh menjadi apapun” sebagai, misalnya, seekor kelinci yang ingin menjadi harimau, jelas ini menyalahi kodrat. Ada batas-batas yang tidak bisa dilewati. Kelinci ya kelinci, dengan segenap kekhasan dan karakteristiknya. Harimau ya harimau, dengan segenap kekhasan dan karakteristiknya. Akan menjadi sesuatu yang musykil manakala kelinci mau menjadi harimau dalam artian harfiahnya. Kalau sekedar ingin seperti keberanian harimau, kepedean harimau, mungkin boleh dan bisa-bisa saja. Tapi kelinci yang ingin menyerupai semua-semua dari harimau, tentu saja ini keliru. Kata Einstein, ikan itu mau diajari sepanjang hidupnya untuk terbang ya ndak akan pernah bisa-bisa, karena ikan itu bukan burung. Dan dengan tidak bisanya terbang (walau sudah berlatih sepanjang hidup) tidak lantas menjadikannya sebagai hewan terbodoh sedunia. Artinya apa? Kita harus bisa membedakan antara menjadi sesuatu yang boleh, dan mengerti batas diri.
Dalam Bahasa Pidi Baiq, seniman dan budayawan asal Bandung itu, beliau mengungkapkan lebih kurang begini,
“Kalau sekarang sedang zamannya atau trennya menggonggong, para kucing tidak perlu mengambil kursus mengonggong. Karena yang menggonggong itu adalah anjing, bukan kucing. Kucing tidak perlu mengikuti atau meniru anjing, hanya karena menggonggong sedang menjadi tren. Tetapi jadilah unik karena dirinya sendiri. Jadilah mandiri, tanpa harus ingin tampil seperti orang lain. Kita menjadi baik itu bukan harus lebih baik daripada orang lain, seminimalnya harus baik dan lebih baik daripada diri kita yang dulu.”
Dan memang begitu, akan justru menjadi teralienasi (dan itu adalah problem) manusia-manusia yang pada mau meniru-niru orang lain, mengejar tren, dan melenyapkan dirinya sendiri.
Memang mendapatkan pemahaman terhadap diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada sekedar meniru-niru kehidupan orang lain. Tetapi percayalah, itu adalah tantangan yang menggiurkan untuk dijalani. Sebuah perjuangan yang merentang panjang dalam waktu-waktu kita selama didunia ini. Mencari formulasi apa yang dikehendaki oleh Tuhan kita ketika menciptakan kita. Dan beruntunglah orang-orang yang sudah mengetahui dan mendapatkan apa yang menjadi perannya di dunia ini. Semisal cangkul yang sudah mengetahui bahwa dirinya cangkul, dia tidak akan mengambil peran menggunting rumput atau dipake buat membelah kayu, karena dirinya tau bahwa dia adalah cangkul, maka peran yang bisa membangkitkan 100% potensi optimalnya, adalah mengambil peran cangkul ; menggarap tanah atau mengaduk bahan bangunan. Mungkin bisa saja cangkul digunakan untuk selain peran aslinya, tapi jelas itu tidak akan mengoptimalkan keseluruhan dari daya potensinya itu.
Pagi hari tanpa embun, Jumat minggu kedua Ramadhan 1437 H (2k16)
Maka lepaskanlah earphone-mu, simpan telepon genggammu, sapalah teman di sampingmu. Bukalah pintumu dan keluarlah untuk menemui orang-orang yang selama ini terlalu lama tak kau sapa. Peluklah orang-orang yang kau sayangi. Ketuklah pintu tetangga dan berikan sesuatu untuknya. Tersenyumlah. Kembalilah jadi manusia!