Sore sudah hari selasa. Sepiring nasi goreng dan kopi hitam pait. Oh, bukan, aku bukan pujangga yang mengibaratkan kopi hitam pait sebagai kehidupan yang gelap dan kelam. Ah, itu hanya karena aku suka kopi hitam dan lupa beli gula. As simple as that, yaa sesimple itu. I'm not a great thinker like Aristoteles dan filsuf terkenar lainnya. I'm not a great thinker like Einstein, Edison, Newton dan lainnya. Bukan pula seperti Chairil Anwar dan yang lain, puitis bukan nama tengahku. Ah, juga bukan Affandi, Picaso, Van Gogh dan lainnya. Mereka masa lalu, pemikir hebat yang karyanya bisa digunakan sekarang. Aku, cuma laki-laki berambut dan berjanggut biasa yang hidup di masa ini. Hidup untuk apa? Hidup untuk mengapresiasi orang terdahulu. Hidup untuk mengisi hari ini, bukan yang lalu, jadilah aku yang seperti ini, dan berusaha jadi diri sendiri. Yaa seperti ini, hidup di zaman ini, dan harus seperti ini. Mereka, masa lalu, sekarang kau yang punya kuasa. Aah, apalagi? Kopiku sudah habis, nasi goreng juga. Sudah kenyang dan harus pergi. Pergi kemana? Pergi untuk apa? Aah, masih ada tugas kuliah, harus selesai, tidak selesai? Harus selesai. Mungkin begadang, ditemani Rhoma Irama, oh secangkir kopi hitam pait lagi.