Alhamdulillah. Kadang kita lupa bersyukur atas segala kemenangan yang kita dapat. Menang dari rasa khawatir, hawa nafsu, dan takdir buruk yang dijauhkan oleh Sang Khalik. Puji sebesar-besarnya untuk Engkau.
Rasanya cukup terlambat untuk merilis tulisan ini. Saya akan mengemukakan sedikit argumen tentang beberapa bulan yang lalu sedang viral di media sosial kita (karena saya belum menemukan kasus yang nyata saya lihat). Yaitu tentang murid yang memperlakukan guru dengan sangat kasar.
Pada awalnya saya sangat miris melihat kelakuan murid yang seperti itu, baik itu masih dalam lingkup sekolah dasar, menengah pertama, maupun menengah atas. Peristiwa yang gak masuk akal itu terjadi di tengah-tengah kita. Bisa-bisanya seorang murid yang dapat dikatakan “pencari ilmu” dapat bertindak semaunya terhadap “penyebar ilmu”.
Dari peristiwa diatas, mungkin beberapa orang menyimpulkan bahwa moral anak-anak indonesia itu kurang ajar. Tidak berpendidikan. Hmmmm seperti ini. Saya kurang sepakat akan hal itu, karena disaat yang sama banyak putra-putri Indonesia yang tengah mendapatkan penghargaan di ajang olimpiade sains tingkat internasional, bahkan sampai mengalahkan Amerika Serikat yang notabene negara dengan teknologi paling maju. Dan mungkin saya dapat menyimpulkan bahwa murid-murid itu tidak sepenuhnya salah.
Kenapa seperti itu? Waktu saya masih sd, kamera handphone ibu saya masih 128 x 128 pixel (nokia 6610i, termasuk terbaik dijamannya). Dan sekarang saya sudah beranjak di tahun kedua bangku perkuliahan dengan kamera smartphone yang mencapai 13 megapixel. Sebuah kemajuan teknologi yang cukup pesat. tetapi apa kabar dengan pendidikan di negeri ini? Sejak saya masih sd sampai sekarang, sistem pendidikan di Indonesia dapat dikatakan “sangat lambat”. Saya tidak tahu pasti kenapa hal itu terjadi. Apakah menteri pendidikan selama ini memakan gaji buta? Ataukah masalahnya ada pada guru?
Pendidikan kita seolah-olah malah lebih menyejahterakan para guru daripada murid-muridnya. Dengan gaji guru di Ibukota Indonesia telah naik 2 kali lipat, ditambah lagi sertifikasi yang menjadi fokus sekarang kenapa program studi pendidikan guru sekolah dasar termasuk program studi yang paling banyak penggemarnya. Dengan upah guru yang luar biasa itu, kenapa bisa moral murid-murid Indonesia jadi seperti ini.
Saya pernah mendengar suatu kutipan entah darimana, bahwa “Semua itu terjadi karena internet gratis lebih awal muncul di Indonesia daripada pendidikan gratis”. Konsumsi internet yang luarbiasa dilakukan oleh anak-anak masa kini. Banyak konten yang tidak selayaknya mereka konsumis, dengan mudahnya mereka jangkau. Hmmmmm saya tidak menyalahkan internet disini, tapi lebih menelisik lebih jauh, Apakah menteri pendidikan sudah paham watak anak-anak jaman sekarang itu bagaimana? generasi saya waktu jaman sd tidak boleh disamakan dengan genesai sd jaman sekarang. Dulu tidak ada internet sebagai ancaman. Bahkan mungkin banyak anak-anak yang menyesal telah lahir dijaman milenium ini kalau mereka tahu resiko konsumsi internet yang sangat prematur oleh anak-anak. Wallahualam.
Ini pekerjaan rumah kita semua, bagaimana treatment kita kepada anak-anak jaman sekarang agar mereka dapat merasakan indahnya hidup bermoral. Semoga tidak adalagi tindakan-tindakan yang abnormal dilakukan oleh anak-anak ditengah ancaman internet.
Dibalik kata semoga, terselip banyak harapan. Dimana ada harapan, kita tidak akan pernah berhenti berdo’a.