Rinai Tahun Baru
Hai, Ab. Lama tak jumpa. Kali terakhir bersua, lima bulan lalu? Bukan, bukan. Itu tak bisa dihitung sua. Sebab tak satu pun kata saling kita lontar. Bahkan sekedar tatap pun, tidak. Terik hari itu, pertengahan Agustus. Delapan anggota Keluarga Lima bertemu. Langsung, tanpa batas. Tanpa belenggu dunia maya. Tanpa seorang Jambi yang pulang kampung. Tanpa. Agustus, Bintang hadir ke bumi. Berkerlip cantik, menangis manja. Tersenyum dalam lelap, acap kali sepanjang hari. Jemari mungilnya menggenggam harap Bunda. Bintang yang Tenang, Muthmainnah. Singkat kata usai jenguk sang Bintang. Ber-delapan kami turun, kendara dua roda sewaan. Hingga alun-alun Bandung Timur. Aku pun menepi, demi menunggu mereka membayar jasa. Lalu duniaku berhenti. Berhenti berotasi. Udara membaur semu. Terlebih tekanan dalam paru. Tak keruan. Kemudian jendela hati mulai mengkristal. Kemudian julukan Ksatria Kata seperti omong kosong belaka. Kemudian gerak refleks seakan ter-reset sempurna. Kemudian. Kemudian. Kemudian Ab, kau tepat dihadapanku dalam balutan jaket abu memunggungiku. - Sedekat itu, tetap saja kita tak bertemu.

















