Sabtu lalu, saat aku pergi mengajar bersama teman-teman ke kucur ada satu hal yang menurutku bisa sama-sama diambil sebagai pelajaran. Semuanya bermulai dari sini...
Wildan kecil, seperti anak kecil lainnya yang gerak motoriknya masih suka hilang kontrol. Dia berlarian kesana, kemari. Aku sudah mengingatkannya berulang kali, mengalihkan perhatiannya pada matematika atau iqra. Tapi Wildan masih lebih asyik dengan dunianya. Saat kuminta dia belajar, dia berontak, lalu kembali berlarian mengelilingi musholla.
Satu saat dia tidak sengaja menabrak Devi hingga Devi ambruk ke belakang. Sontak semuanya kaget, aku mengelus kepala Devi yang barusan terbentur dengan lantai, tapi Wildan masih cuek, dia merasa semua baik-baik saja dan tanpa pikir panjang dia segera bangun dan berlarian lagi mengelilingi musholla. Devi hanya menghela nafas, lalu melanjutkan belajarnya.
Kak Faiz yang sadar Wildan salah segera menghentikan dan menyuruhnya meminta maaf pada Devi. Digendongnya Wildan kemudian dipaksa meminta maaf.
"Laki-laki harus berani minta maaf."
Wildan menolak, dia terlalu gengsi untuk meminta maaf. Kak Faiz tetap memaksa, dan semakin keras Kak Faiz menyuruh Wildan untuk meminta maaf pada Devi, semakin keras pula Wildan berontak. Akhirnya, Wildan menangis sejadi-jadinya.
Kembali, seisi musholla dicuri perhatiannya oleh Wildan. Kali ini semua kebingungan. Wildan malah semakin berteriak pada Kak Faiz. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil Wildan, aku peluk saja sambil kududukkan. Wildan perlahan menghentikan teriakannya. Kuelus kepalanya,
"Eh wildan kok nangis ya, Wildan tau nggak rukun Islam itu apa saja?"
Wildan akhirnya berhenti menangis, sambil sesenggukan dia menggeleng.
"Ah masa wildan nggak tahu. Yang lain tahu nggak? Devi? Mais? Yuk tepuk yuk, kakak ajarin. Tepuk Rukun Islam!"
Devi bukannya marah pada Wildan, malah ikut bingung melihat Wildan menangis, dari raut mukanya dia begitu ingin Wildan berhenti menangis. Dengan semangat Devi mengiringi seruanku dengan tepuk tangan "prok-prok-prok", dibantu dengan teman-teman lain. Satu, syahadat..dua sholat...dan begitu seterusnya. Hingga Wildan lupa dengan tangisnya. Pelan-pelan aku berbisik,
"Wildan jangan gitu ya, kalau salah harus minta maaf."
Dia hanya mengangguk sambil tenggelam dalam euforia tepuk Rukun Islam. Dan tahukah kalian, siapa yang menemani Wildan berjalan pulang saat belajar bersama ini usai? Si Devi yang pemaaf.
Terkadang, kita tidak bisa memaksakan seseorang meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat, yang ada bisa jadi dia makin menjadi angkuh dan merasa tidak bersalah. Semakin kita memaksa atau menuntut bisa menyebabkan dia semakin tidak mau mengakui kesalahannya. Maka dari itu kita harus membuat momen. Percayalah, kebaikan selalu mengalahkan kejahatan. Momen dengan tetap berbuat baik, momen dengan bersabar, dan momen melapangkan hati. Lalu biarkan semesta bekerja, hingga ada satu momen dimana dia akan dibuat mengerti bahwa itu salah. Dan pada akhirnya tak perlu ada ungkapan maaf, tetapi kita sudah saling memaafkan. Ya, seperti itu....jangan pernah berhenti berbuat baik :)
Seperti Devi yang diam, sabar, dan malah meredakan tangis Wildan.