Di pinggir hutan Macondo, tinggallah seorang pemburu bernama Bandrio dengan seekor kuda tua bernama Tagore. Petani selalu menaiki kuda ke mana pun pergi, baik itu berburu maupun saat menjual hasil buruannya.
Suatu siang, pemburu ini pergi ke suatu tempat untuk mengantarkan hasil buruan pada seseorang. Dia memacu Tagore dengan sangat kencang. Tapi petani tak tahu bahwa Tagore sedang tidak sehat. Sejak tadi malam, badan Tagore demam. Tagore kurang tidur. Tapi Tagore tak kuasa menolak perintah pemburu Bandrio. Dia tetap berlari walau pun badannya semakin lemah. Tagore takut dipecut kalau malas berlari.
Setelah melewati dua desa, Tagore makin merasa lelah. Dia kehausan. Tagore tak sempat sarapan. Di dekat persimpangan jalan, Tagore melihat kubangan air yang jernih. Karena sudah lelah dan sangat haus, Tagore langsung berhenti dan meminum semua air di kubangan itu. Glek.. Glek.. Glek...
Bandrio marah melihat ulah Tagore. "Hey, cepat. Kenapa kamu berhenti tanpa aku suruh?" hardik si pemburu. Si pemburu segera melecutkan pecut ke tubuh kuda Tagore. Mau tak mau, Tagore harus kembali berlari.
Tagore kembali merasakan kelelahan. Badannya terasa makin lemas. Dia kembali merasakan demam. Keringat mengucur deras. Kepalanya basah oleh keringat, sekujur badannya juga demikian. Tapi Tagore tak berani berhenti, dia takut dipecut pemburu Bandrio. Akhirnya, Tagore pun berhasil melewati desa ketiga.
Saat perjalanan sudah memasuki desa keempat, Tagore benar-benar sudah tidak sanggup lagi berlari. Di dekat sebuah padang rumput, Tagore pun mulai sempoyongan, larinya mulai tidak teratur, dan akhirnya…. BRAK!
Tagore terjerembab. Badannya terguling. Tubuh pemburu Bandrio juga dengan sendirinya terguling. Bandrio langsung bangkit dan memaki-maki Tagore: “Dasar kuda pemalas! Begitu saja sudah tidak kuat. Ayo bangun! Aku sudah ditunggu pembeli daging buaya di desa kelima!”
Bandrio menendang-nendang tubuh Tagore, memaksanya bangun. Bandrio terus meneriaki Tagore. Tapi Tagore memang sudah tidak berdaya. Dia nyaris pingsan. Matanya berlinang air mata. Dia hanya bisa meringkik pelan, tanda dia menahan rasa sakit.
Melihat Tagore tetap saja tergeletak, Bandrio makin marah. Dia mencoba membangunkan Tagore dengan tangannya sendiri. Dia tarik Tagore perlahan-lahan, sampai akhirnya Tagore bisa berdiri. Tapi, baru saja Bandrio mau naik ke punggung Tagore, kembali Tagore ambruk. Badannya menimpa Bandrio. Tentu saja Bandrio makin marah.
Saat itulah muncul seekor kerbau dari arah padang rumput. Dia berjalan pelan-pelan. Kerbau bernama Wiro itu mencoba melihat apa yang terjadi. Dia sepertinya ingat dan pernah bertemu dengan kuda yang sedang dipukuli oleh pemburu itu. Wiro terus mendekati mencoba melihat dengan lebih dekat.
“Aku ingat! Dia kuda yang dulu waktu aku kecil pernah menolongku saat tersesat. Ah, betul! Saat itu aku terpisah dari ibu, aku ketakutan, lalu kuda itu muncul dan menuntunku mencari ibu,” kata kuda Wiro dalam hati.
Wiro mencoba tambah lebih dekat. Ia makin mengerti apa yang terjadi. Rupanya, kuda itu sudah kecapaian, tapi si pemburu tetap saja memaksanya berlari. “Aku harus menolong kuda itu!” kata si Wiro.
Wiro yang kini sudah besar, tanduknya sudah panjang. Dia bergerak perlahan. Pemburu itu tidak sadar bahaya yang mengancamnya. Saat jaraknya sudah sangat dekat, Wiro segera menyeruduk pemburu Bandrio. Dia langsung terjengkang. Wiro terus menyeruduknya. Pemburu Bandrio mencoba mencari senapan miliknya. Sayang sekali, senapannya tertinggal di rumah. Sementara Wiro terus menyeruduk Bandrio dengan tanduknya. Bandrio makin ketakutan. Dia tahu bahayanya berhadapan dengan kerbau yang sedang marah. Bandrio pun lalu lari terbirit-birit.
Setelah pemburu Bandrio pergi. Kerbau Wiro menghampiri kuda Tagore. Wiro duduk-duduk di sebelah Tagore, menjaga sampai Tagore pulih.