Beban buatan hari-hari sekarang
Ada yang ingin kelihatan lebih dari kenyataan. Pundaknya lelah, bertanya esok harus apa yang ia perbuat, apa yang harus ia pakai, makanan siang apa yang ngehits, omongan apa yang akan dibahas. Terlebih akhir-akhir ini lebih mendengar kata orang dibanding kata hati. Bagaimana penampilan sesuai orang walau hati berkata lain. Sepatu hak tingginya sangat tidak cocok dengan sakit asam uratnya, namun kata orang lebih baik, lebih cucok. Hmm.
Dia menekan dengan kuat pada dirinya tentang bagaimana menggapai apresiasi orang lain. Dia berkerja keras di kantor. Keesokan paginya ia bercerita dengan bangga akan lemburnya yang membuat ia pulang jam 11 malam dan cuma bisa tidur 3 jam. Ini dia tak tau apa itu kerja atau dikerjai. Kelihatan sibuk lebih baik dari pada kerja cerdas. Memang di negara ini yang kerja bagai kuda pacuan lebih dihargai. Tapi toh dia bukan sedang kerja membuat rumah, namun sedang kerja yang butuh otak. Dia sudah kerja bagai kuda. Dipacu di arena, jika semakin baik, maka semakin dipacu dan semakin diandalkan sebagai kuda. Miris.
Waktu terus berlalu dan terasa semakin cepat. Rasanya 24 jam tidak cukup. Sepertinya ada yang hilang. Kenapa waktu terasa relatif cepat di dunianya, berbeda dengan waktu di bumi pada umumnya. 12 jam dia setara 1 jam bumi. Kacau, ada yang salah ini. Sementara ada beberapa orang disekitarnya seolah waktunya diperlambat dan lebih banyak. Hei! Disinilah yang namanya "Jika kamu mengejar akhirat, dunia akan mengejarmu". Waktu relatifmu akan menyesuaikan kembali pada normal. Jika kita menjaga Allah, maka Allah pun menjaga kita, termasuk rejeki waktu, kebahagiaan dan kesehatan kita.
“Kamu yang tau muaramu. Semua pilihanmu. “
~Demi S
07092020










