Sudah lama, tak lagi ceria ketika azan datang.
"Dah azan ya, tinggal dikit lagi ini."
Aku kompak dengan teman sekantor untuk sedikit meneruskan kerja, lalu sholat.
Ya, kami sholat ya sekedar sholat, untuk menunaikan kewajiban saja. Tak ada rasa tenang. Kami lalu buru-buru untuk makan siang. Beberapa yang lain mereka makan siang dahulu, hampir jam satu siang baru sholat. Dihati masih ada rasa mengganjal, tapi beberapa teman sudah mulai santai begitu.
Aku takut merasa santai akan ini.
Pesan ayah, antara kita dan Allah seperti terikat tali yang memiliki bel yang diletakkan di dada. Jika kita menjauh, disanalah tali renggang, bel berbunyi, disaat itulah kita merasa tak tenang, ingin kembali. Namun jika terbiasa menjauh, tali putus, bel tak berbunyi lagi, kita akan merasa santai dengan maksiat.
Jika semakin jauh dari Allah, celakalah. Apa-apa tidak akan berkah, dunia akan menuntut perhatian sehingga kau akan sibuk dengannya, lalu waktumu terasa berputar cepat, kamu lelah dan bingung.
Aku ingin membalikkan keadaan segera, agar dunia yang mengejarku. Sudah lama sekali masa-masa itu, aku lupa rasa tenang dan khusyuk. Karena untuk mencapai khusyuk, ada nikmat beribadah dulu di awalnya. Jika bisa karena terbiasa, maka akan aku biasakan.
Aku rindu hangatnya susana saat berjalan menuju masjid, terasa bersahaja dihati. Aku rindu getaran hati saat mendengar Al Fatihah.
Aku rindu akan suaraku yang merdu memenuhi seisi rumah dengan irama ajam saat membaca surah Ar-Rahman, salah satu surah kesukaanku. Aku rindu dengan kerinduanku menyambut azan.
Baru tadi pagi, aku berusaha kuatkan niat, membaca Ar Rahman dengan irama ajam. Baru ayat kedua, aku menangis sejadi-jadinya, hatiku kembali bergetar.
Ya Allah, aku kembali pulang.
A story, Demi S.
_______________
Semoga bermanfaat.














