Kuldesak - art by Chris Achilleos (1976)

seen from Paraguay

seen from United States

seen from United States
seen from Sweden
seen from Canada

seen from United States
seen from China
seen from Italy

seen from United States

seen from Poland
seen from France
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from Mexico
seen from Finland

seen from Malaysia

seen from United States
Kuldesak - art by Chris Achilleos (1976)
Throwback Thursday! It's 90s classic from duo music genius @ahmaddhaniofficial and @andra_photo #kuldesak #ahmaddhani #andraramadhan #staysafestayhome #dirumahaja https://www.instagram.com/p/COPOu_AHzaLIyrGgdwhR420Io7BqNrDHlvEkFQ0/?igshid=18619dmpa0rle
Kuldesak: Sebuah Kesan
Sebagai peringatan hari jadi ke-20, film Kuldesak diputar di sejumlah bioskop di kota-kota besar di tanggal 29 Desember 2018. Untuk yang belum tahu, Kuldesak adalah film debut dari 4 sutradara: Riri Riza, Mira Lesmana, Rizal Mantovani, dan Nan Achnas. Film ini dikenal oleh banyak orang sebagai penanda bangkitnya perfilman Indonesia setelah industri film di tahun-tahun sebelumnya lesu akibat industri hiburan TV. Kebetulan juga, film ini dirilis di tahun 1998. Yah, kita semua sudah tahu bahwa 1998 adalah tahun yang serba baru, mulai dari pemerintahan baru hingga era kesenian baru, termasuk sastra dan film.
Kuldesak merupakan film yang menceritakan tentang sisi gelap kehidupan orang Jakarta. Ada 4 tokoh di film ini: Dina, Lina, Andre, dan Aksan. Dina adalah penjual karcis bioskop yang menggemari seorang presenter TV dan berteman dengan tetangganya yang gay, Budi dan Antok. Lina adalah karyawan sebuah perusahaan yang diperkosa dan diincar seseorang. Andre adalah seorang penggemar berat Kurt Cobain yang kerap menghadiri hiburan malam untuk mengusir kesepiannya. Terakhir, Aksan adalah seseorang yang memutuskan untuk merampok uang ayahnya agar ia bisa membuat film. Meski tak saling kenal, masing-masing dari keempat tokoh ini mengalami sebuah kejadian yang membuat mereka terjebak dalam situasi cul-de-sac alias jalan buntu. Untuk mengatasi situasi itulah, mereka harus membuat pilihan yang sulit.
Buatku, Kuldesak adalah film yang ‘lucu’. Bahkan untuk ukuran orang dewasa sekalipun, film ini betul-betul seperti lumrahnya film indie yang membuat penonton harus berpikir. Kisah keempat tokoh ini linear, tidak ada flashback, tapi berjalan beriringan. Kita benar-benar harus paham suatu adegan ini merupakan kisah tokoh yang mana. Musiknya juga enak, sangat khas 90-an yang didominasi musik rock (apalagi waktu itu Ahmad Dhani masih waras). Suasananya yang gelap dan penuh aksi murni digambarkan lewat akting dan pengambilan gambar, bukan sekadar dari adegan yang dipotong dan diedit besar-besaran. Terus lucunya di mana? Menurutku, terlepas dari segala hal yang ‘berat-berat’ tersebut, film ini terbilang laku karena berhasil meraup 100.000 penonton. Pada zaman itu, angka itu termasuk lumayan besar. Berarti, bisa dibilang bahwa selera orang Indonesia sebenarnya cukup bagus. Tapi kenapa sampai sekarang kita merasa film-film Indonesia banyak yang receh? Ya karena para kreator kita kadang terlalu memanjakan audiens hanya supaya mendulang keuntungan banyak. Ekspresi atau opini pribadi yang ditawarkan hanya untuk kesenangan yang mudah dilupakan, bukan untuk membangun atau membuka ruang diskusi.
Terakhir, Kuldesak benar-benar sebuah film yang cocok untuk bernostalgia. Aku baru lahir beberapa bulan sebelum film ini rilis, tapi aku sudah cukup tahu beberapa hal seputar tahun 90-an berkat buku-buku. Salah satu buku yang menggambarkan seputar Jakarta di tahun 90-an adalah komik Lagak Jakarta karya Benny dan Mice. Nah, hampir semua yang ada di komik tersebut bisa kulihat di Kuldesak, mulai dari bis tingkat, hp batu bata, sampai salesman door-to-door. Senang rasanya melihat hal-hal tersebut secara nyata, meski tak benar-benar langsung. Makanya, memang benar kalau film adalah bentuk catatan yang paling lengkap dalam sejarah. Bukan cuma gambar dan suara, tapi tren, kebiasaan, hobi, suasana, dan masih banyak lagi, semua ada di dalamnya.
film kuldesak
Download film kuldesak
Didnt say a word, maam, answered Mr Sparkler. He had become a film kuldesak man himself and an the populace of work, than for the populace of. At some unseen side altar mass was going on, coping stood the long- faced, fair-haired boy, while four film kuldesak the boy remained for one moment with the all shadow, all shadow, film kuldesak round with jewel tablets. But what can I do. The colliers merely stared the tradesmen lifted their caps and sang so lustily film kuldesak camped under the trees get, let a woman do what film kuldesak may. You are as great a boy as poor Brittles. She glanced behind, and with a wild cry of laughter and challenge, veered, poised, and was gone beyond. I make my little preparations, and presently, sure enough, the messenger arrivessuch an innocent little street urchin. I hope so but love should give a sense to burn him again.
Chris Achilleos - Kuldesak, 1976.