Tembok
Tembok disini adalah batasan terhadap orang baru untuk memasuki kehidupan pribadi, latar belakang membangun TEMBOK ini karena lelah mempercayai seseorang, lelah mengikuti kata hati, lelah karena harus memperbaiki hati pasca seseorang menghancurkannya, lelah karena sudah menhancurkan TEMBOK hanya untuk dilukai, dan lelah karena terus berfikir kali ini akan berbeda akan tetapi tetap sama yang menjadikan berakhir terluka dan patah hati kembali.The same pain with different people.
Sangat mudah untuk membangun TEMBOK untuk diri sendiri demi menghindari orang baru untuk memasuki kehidupan pribadi, dan sangat mudah juga untuk menghancurkan TEMBOK tesebut apabila tertarik kepada seseorang. Akan tetapi ada juga bagian tersulitnya, dimana ketika sudah membangun TEMBOK tesebut dengan sangat kokoh dan memutuskan untuk menghancurkan TEMBOK tersebut untuk berjumpa dengan seseorang yang kita anggap menarik perhatian otak dan hati. Tetapi berjumpa dengan orang yang menghancurkan otak dan hati kembali dan pada akhirnya membangun TEMBOKyang lebih kokoh dari pada TEMBOK yang dihancurkan sebelumnya.
Dimana pada akhirnya akan sulit untuk mengahancurkan tembok yang kita bangun sendiri, karena setiap kali diruntuhkan TEMBOK tersebut akan kembali kita bangun lebih kuat daripada sebelumnya (snowball effect) yang menjadikan apabila pada suatu waktu bertemu dengan orang baru atau ingin seseorang memasuki kehidupan pribadi kita akan sangat sulit untuk menghancurkan tembok tersebut.
Maka dari itu solusinya.......
Saya sendiri masih belum tau solusinya apa karena mengalami juga hal seperti itu, dan diharapkan kedepannya mengetahui untuk menjawab persoalan mengenai TEMBOK tersebut.
Pesannya kalau bangun TEMBOK kayanya jangan terlalu pake bahan - bahan yang terlalu bagus. Takutnya kita nanti malah kekurung sama TEMBOK yang kita bangun sendiri. Yaa batu batanya pake yang Rp.500,-an aja laah jangan pake batu bata beton, semennya pake Semen Gr***k aja yang Rp.50.350 jangan pake Semen Tiga Roda, takut susah buat ngancurinnya
And maybe these walls protect you from heartbreak and disappointment. Maybe they keep you guarded and practical but they don’t make you feel alive. They don’t make you experience the high that comes with every text, every date, every kiss and every hand you hold (Rania Naim 2017).













