Kulon Progo Binangun
Selamat ulang tahun ke-64 untuk Kabupaten Kulon Progo! Semoga Kulon Progo semakin maju, sejahtera, dan terus mengedepankan slogan “Bela Beli Kulon Progo”. Aamiin.
Kulon Progo adalah rumah kedua bagiku karena aku pernah tinggal di sana selama kurang lebih dua bulan (KKN). Tentu saja, Kulon Progo bagiku tidak sama seperti bagi orang lain. Bukan sekedar tempat wisata dan bukan sekedar tempat untuk berfoto.
Dari Kulon Progo, aku bisa mengenal Kecamatan Pengasih, Desa Karangsari, dan Dusun Kamal.
Aku masih sangat ingat banyak kenangan tinggal di Dusun Kamal.
Jalan-jalan pagi atau sore ke sawah. Mencari pemandangan yang hijau-hijau sembari tegur sapa dengan warga setempat. Berbincang-bincang tentang banyak hal dengan teman seperjalanan. Berfoto-foto ria.
Menyusuri hutan untuk menuju lokasi situs Lumpang Kentheng. Menginjak setiap ranting dan dedaunan. Mencoba mencari-cari jalan alternatif keluar sampai nyasar dan akhirnya memilih diantarkan oleh warga setempat untuk keluar dari hutan.
Menyusuri hutan bagian atas sampai menuju RT 67 (RT paling puncak) dengan berjalan kaki bersama tiga teman perempuan lain di suatu pagi. Sama sekali tidak melelahkan. Sangat asik. Sangat seru. Sangat berkeringat. Akhirnya mampir ke rumah Pak Dukuh (berada di RT 67) karena beberapa orang kepepet kebelet BAB dan haus maksimal.
Jalan-jalan ke Alun-alun Wates mencari makan dan jajanan. Ikan bakar, siomay, soto ceker yang kehabisan ceker, dan minuman es coklat. Mau bersembilan atau berdua rasanya tetap menyenangkan.
Hang out dengan Mbak Unyi ke Wates. Sering curi-curi waktu karena bosan, tak ada kerjaan, dan lari dari kerjaan. Satu hal yang pasti kami lakukan adalah jajan. Bakso, siomay, mie ayam, steak, pecel lele, tongseng dan sate, dan lain-lain deh. Selain makan, nyalon juga pernah.
Pergi ke pasar setiap tiga hari sekali sesuai jadwal piket masak. Selalu sama Mbak Unyi karena doi memang partner sejati gue, saat itu. Pasar teteg, Pasar Wates, sampai warung-warung sayur pinggir jalan di Pengasih pernah dijajah. Oh ya, Toko Embrio toko serba ada yang ngehitz juga dijabanin.
Mancing di pemancingan milik Pak Sleman (pemancingannya berada di dusun Kamal). Waktu itu mancing berdua hanya dengan Mbak Unyi karena hari itu memang ingin masak lele. Jadi ceritanya, kami sudah keliling pasar-pasar di Wates tapi memang lagi apes. Btw, itu pengalaman pertama mancingku. Sempat kesal karena pancinganku tidak lebih laku daripada punya mbak Unyi. Tapi, asli lah.. Itu seru! Aku ketagihan.
Masak di pondokan untuk menghidupi tujuh anak lainnya. Sebenarnya kami masak bertiga, tapi satu orangnya tidak berperan aktif. Jadi, aku sama mbak Unyi lah yang masak. Dari awal kami pesimis karena kelompok kami rasanya hampir tidak pernah masak. Kenyataannya kami bisa. Kami berdua. Kata anak-anak lain, masakan kami selalu enak. Meskipun itu hanya mengandalkan resep dari internet dan hasil tanya-tanya dari ibu kami, kami bisa. Bahkan, masakan kami sering ditiru oleh anak-anak lain. Keren kan? :P Kami pernah masak lele goreng, sambal, terong krispi, sayur bayam, sayur sop, tumis jamur, oseng kangkung, mie instan goreng + telor ceplok, sosis asam manis pedas, sosis goreng, telor dadar, nasi goreng sarden, sarden, tempe goreng garit, bakwan, jamur krispi, tahu bacem. Apalagi ya? Lupa. Oh ya, soto. Tapi soto adalah masakan paling gagal buat kami. Btw, setiap masak kami hampir tidak pernah tidak berseteru. Tapi itu yang akhirnya bikin seru. Bikin kangen..
Aku bisa bikin kue brownies cokelat kukus pakai tepung mocaf (modification cassava flour)!! Itu pertama kalinya praktek bikin kue sepanjang hidupku. Aku yang inisiatif mau bikin, cari resep, beli bahan dan alat, dan prakteknya dibantuin sama anak-anak. Setiap takarannya selalu aku kira-kira. Percobaan pertama, berhasil walaupun lupa menutup panci pakai serbet. Hiks. Tapi tetap enak! Gue jabanin deh. Percobaan kedua lebih berhasil. Sempat kesulitan cari cokelat padat di lima toko karena kehabisan. Akhirnya nemu di toko kelima padahal itu sudah malam dan aku kedinginan. Hasil praktek kedua ini kami jual di acara besar unit, yaitu acara bazar. Aku salah menentukan harga karena hanya dikira-kira. Keuntungan yang didapat kurang dari 3000 rupiah -_- Tapi, ini pengalaman yang sangat berharga, seru, sedih sekaligus menyenangkan.
Berkunjung ke Waduk Sermo bersama tujuh anak lain sekaligus dengan dua anak pemilik pondokan yang kami tempati. Naik perahu dan berfoto-foto. Sangat seru!
Beli bensin selalu di SPBU Pengasih. Ketemu sama mbak-mbak Desa Karangsari yang ditaksir sama temen laki-laki. Dasar kalian :))
Apa-apa beli di toko Embrio. Toko serba ada. Toko sejuta umat. Pakaian ada, peralatan mandi ada, peralatan bayi ada, sembako ada, pulsa ada, makanan ada, minuman ada, mainan anak-anak ada, alat tulis ada, alat masak ada, alat jahit ada, dan lain-lain.
Tanjakan terbang. Tanjakan ini ada di tengah jalan menuju Dusun Kamal. Aku sering sengaja menambah kecepatan motor untuk melewati tanjakan ini agar merasakan sensasi terbang di atas motor. Sengaja bikin kaget sama yang aku boncengin :P
Ambil dan naruh laundryan. Dibanding yang lain, aku yang paling inisiatif untuk ke tempat laundry. Biasanya tiga hari sekali. Doyan amat yak.
Main pingpong di belakang pondokan. Ini juga pengalaman pertama kali. Mbak Unyi mengajarkanku main ini sampai akhirnya aku bisa, ketagihan dan selalu mengajak doi untuk main. Sayangnya, ini tidak bertahan lama karena Mbak Unyi kena alergi karena meja pingpongnya sering kotor. Tapi asli.. Seru abis lah.
Mandi di pondokan ngantri beberapa orang karena kamar mandi cuma satu. Kamar mandinya sebelahan sama WC. Jadi, setiap WC-nya ada orang laki-laki, mandinya jadi ketunda-tunda gitu karena nungguin yang di WC keluar :))
Sholat jamaah. Satu bulan pertama, kami berempat awalnya sering jamaah. Tapi mulai masuk bulan kedua, jadi hanya aku dan mbak Unyi yang jamaah karena Riza sama Ismi sedang bermasalah sama datang bulannya. Kami gantian jadi imam tapi paling sering ya mbak Unyi sama Ismi.
Makan bersama. Kami punya satu meja makan tempat kami selalu makan, rapat sub unit, dan hanya sekedar berbincang-bincang. Kami sering makan bersama. Selalu ada yang mau dimintain tolong untuk mengambilkan nasi, sayur, bahkan lauknya.
Beli makan dari luar. Kalau lagi malas masak biasanya beli makan dari luar. Ada bakso ider yang lewat pondokan, pernah beli soto, bakmi rebus sama goreng, nasi goreng, bubur murah meriah nan banyak dan enak, bakso jumbo, mie ayam, gorengan, brongkos, opor tahu tempe, lotek, nasi padang, tumis sayur, sate, dan lainnya lupa. Enak-enak deh pokoknya.
Sahur bersama. Bulan pertama, hal yang paling malas untuk dilakukan adalah piket masak untuk menyiapkan makan sahur. Seringnya kami mengandalkan sisa makan semalam untuk dihangatkan kembali. Kalau masak paling mudah, larinya ya hanya bikin telur dadar.
Buka puasa bersama. Ini juga selalu kami lakukan bersama. Awal-awal, menu kami selalu enak dan selalu ada minuman seperti es buah, es blewah, es kelapa muda. Lama-lama, ya seadanya saja. Haha. Tapi ini saat-saat berharga buat aku. Kapan lagi bisa seperti ini :)
Nonton film horor. Virus nonton horor melanda karena Riza yang memprovokatori. Kami perempuan berempat (kadang berlima) nonton. Mbak Unyi takut tapi maksa ingin nonton. Ismi ngantuk tapi maksa ingin nonton. Riza teriak kalau ada yang teriak duluan. Seru!!
Tidur sekamar sama anak-anak perempuan. Selalu ada cerita di setiap malamnya. Banyak kejadian lucu yang sudah terjadi. Lucu :)))
Terima kasih banyak Kulon Progo atas semua pengalaman-pengalaman tersebut! Mungkin akan jadi lain cerita kalau ini tidak terjadi di Kulon Progo. Sekali lagi, selamat ya! Ulang tahunmu bikin aku kangen lagi sama masa-sama selama KKN :(
Yk, 15 Okt 2015 23:33








