“Menurut kamu, gimana caranya manjain perempuan, istrimu nanti misalnya?” tanyamu.
“Aku taunya perempuan tomboy, kayak kamu itu tuh. Aku aja belum menikah” jawabku sekenanya.
“Yee, ditanya malah ngeledek. Aku tanya serius nih. Semua orang juga tau kali kamu itu gak laku, dan kayaknya si emang nggak ada cewe yang mau di deketin sama cowok nyebelin macam kamu” ujarmu ngeledek.
“Enak aja! Banyak tau yang ngantri. Jangan ngiri nanti loh kalau aku punya banyak istri. Kamu mau aku jadiin yang keberapa?” candaku.
“Ogah! Cowok nyebelin kayak kamu, mau jadi suami aku? No Way! Aku nggak bisa bayangin deh kalau kita jadi suami istri. Tinggal satu rumah, pasti bakal tawur terus. Debat nggak jelas, sama-sama nggak ada yang mau ngalah. Ya ampun, baru ngebayangin aja udah kayak mimpi buruk. Dan satu lagi, aku gak mau di duain! Camkan itu!” katamu menggebu-gebu.
“Sok jual mahal kamu. Belum apa-apa aja kamu udah bayangin sampai kesitu. Padahal nggak ada yang nyuruh kamu buat ngebayangin loh. Awas aja kalau kamu benerbener jadi istriku nanti, aku ketawain kamu tiap hari. Ah, tapi paling tidak kamu sudah berpikiran jauh tentangku” aku tertawa puas.
“Heh, kamu tuh disuruh buat jawab, jangan ngeles melulu deh, heran jadi orang” ujarmu kesal.
“Iya iya bawel. Setau aku nih ya, nggak ada yang namanya perempuan manja. Manja hanyalah sebatas kondisi dimana ia ingin diperhatikan oleh orang-orang tertentu. Menuntut diberi waktu untuk memenuhi keinginanannya. Manja tidak selamanya melekat pada diri perempuan” jelasku singkat.
“Berarti perempuan sebenernya nggak boleh manja ya? tanyamu.
“Siapa bilang? Boleh banget. Kan aku bilang dia memintanya pada orang-orang tertentu. Jika anak perempuan yang sedang manja, ia akan meminta dibelikan boneka oleh Ayahnya. Ya dia hanya akan bermanja kepada ayahnya. Segala macam bujuk rayu ia lakukan, entah dia menangis guling-guling sekalipun demi mendapat boneka yang dia ingini.
Seorang istri kepada suaminya yang meminta pulang cepat dari kerjanya, agar mereka bisa makan malam berdua dirumah.
Tapi ada satu hal, sebagai laki-laki memanjakan perempuan apalagi belum menjadi apa-apanya tidak perlu berlebihan. Tidak perlu menuruti segala keinginan perempuan. Tidak perlu membelikan barang-barang yang mewah, cukuplah barang itu bisa bermanfaat untuknya. Kita hanya perlu menunjukan kepedulian kita kepadanya.
Memberikan ruang bicara, mendengarkan setiap keluhankeluhannya dan sesekali memberi kesan dari masalah yang dihadapi. Mereka hanya butuh keberadaan kita” aku menjelaskan panjang lebar.
“Oooh.. Aku bisa nggak ya nanti, nggak bikin repot suamiku. Keinginanku banyak sekali” cemasmu.
“Menurutku, perempuan yang baik itu dia bisa menjadi duplikat ibu kita. Walau nggak harus sama persis, paling tidak keberadaannya tidak menjadi asing. Perhatiannya, cara nyayangin anak-anaknya, ngedidik anak dengan penuh kesabaran. Memberi kehangatan di tengah keluarga karena kelemah lembutan hatinya.
Lebih-lebih memang wanita baik itu harus butuh lakilaki yang bijaksana buat menopang lelahnya si wanita agar tumbuh dewasa. Itu si pemikiran pendekku”
“Berarti, kalau belum ada laki-lakinya, perempuan belum sempurna ya dewasanya” tanyamu ingin tahu.
“Aku tidak ngomong begitu loh. nanti kasian perempuan yang single parents, gagal dewasa dianya” kataku membuat tawa.
Seketika itu kita saling tatap. Diam sekejap memikirkan hal yang sama, lalu sama-sama tertawa. Menertawakan diri
ternyata kita pun sama-sama belum belum memiliki pasangan.
“Berarti kamu belum dewasa juga dong. Ah, salah nanya nih” katamu sambil menikmati tawa sore kala itu.