Semua terlalu tiba-tiba. Tiba-tiba menghilang entah ke mana. Tidak terlihat di sudut mana pun. Lalu, dengan kurang ajarnya tiba-tiba dia muncul kembali. Tetap dengan tas yang dia apit di lengannya, rambut sepanjang leher, sampai gaya kasualnya. Hanya sendal japit yang sekarang ganti menjadi sepatu. Dia langkahkan kaki entah mencari apa di ruangan-ruangan yang dia tuju di lantai dua ini. Aku tetap diam mengamati. Entah kapan lagi aku bisa melihatnya aku tidak tahu. Terlalu mustahil untuk itu terjadi.
Lalu, dengan lebih kurang ajarnya lagi dia memincingkan mata mengahadapku dan menyapaku.
'Halo.' Dia bilang dengan agak ragu, suaranya berat. Bodohnya aku hanya memberikan senyuman tanggung. Entah terlihat semengenaskan apa wajahku waktu itu.
Aku tahu dia hanya salah menyapa. Aku tahu dia tidak tahu yang dia sapa itu siapa.
Tapi, aku ambyar.
















