Lihat saja, awak tidak mendukung pilu. Belakangan ini ia nampak sama, selalu membiru, indah, seperti sedang menikmati kenyamanan.
ADA YANG BERBEDA DARI BIASANYA
Kendatipun aku tak dapat menyangkal, hari ini pilu tak dapat diutarakan, melalui wajah ataupun keresahan. Nampaknya, menceritakan masa lalu lebih menenangkan, untuk sedikit mengingat kenangan agar sedih tidak terlalu menganga.
Tidak terasa hari ini sudah munggah. Namun, tidak seperti biasanya. Mungkin beberapa diantara kalian bertanya-tanya. Apa itu munggah? Munggah ataupun munggahan ialah sebuah tradisi suku Sunda dalam menyambut bulan Ramdaha. Iya, aku selalu melaksanakan tradisi ini setiap tahun. Menunaikan suka cita dengan keluarga, tetangga, dan teman-teman. Bahkan beberapa teman non-muslim ku selalu ikut merayakan. Ini adalah sebuah tanda, tanda syukur atas kebahgaiaan yang masih Tuhan berikan kepada kita untuk melaksanakan ibadah puasa.
Jika tahun lalu, pagi hingga siang aku berkumpul bersama teman. Membakar sate dan makan bersama, tawa-tawa dihidangkan dengan suka cita nampak berseri di setiap muka. Lalu, sore hingga malam aku bersama keuarga besar. Ketika menunggu makanan datang, kita bertukar cerita, ada yang memasak di dapur dan menyediakan hidangan, ada anak-anak berlari dan bermain kegirangan, ada yang hanya sibuk bermain gadget, apapun itu, yang penting kita sudah berkumpul dan melaksanakan tradisi di satu titik rumah yang dijadikan bascamp. Sungguh itu adalah silaturahmi yang sangat membahagiakan.
Namun, ada yang berbeda dengan munggah kali ini. Tak ada tawa, tak ada cerita, tak ada makanan khas seperti opor ayam,dendeng dagang sapi, bakar ikan, dan sambel cobek, tak ada berbelanja kebutuhan pokok, tak ada berkumpul dengan teman dan keluarga, tak ada silaturahmi tatap muka. Tak ada, semua nampak kosong.
Aku bertanya pada diri, haruskah aku menahan sendu dan tetap bersuka cita? Namun, perasaan adalah kejujuran, aku tak bisa berpura-pura, ini benar amat pilu. Hanya ada kenangan yang mengingatkan pada masa dimana hari munggah adalah hari paling dinantikan, tapi tidak untuk hari ini. Tidak untuk hari ini.
Sayangnya, langit selalu nampak mega. Bersuka cita sendiri dan menampakan kesyahduan. Sudahlah.
Aku interpretasikan pilu kedalam rasa syukur, yang sisanya doa berperan paling banyak. Hanya doa yang menenangkan, hanya doa yang perayaannya tidak pernah hilang, berdoalah dan rayakanlah dengan bercerita hanya kepada Tuhan. Semoga bulan puasa kali ini akan lebih banyak bersilaturahmi dengan-Nya. Ini adalah hikmah, sejauh mana kita selama ini selalu mengingat ketika suka? Dan seberapa banyak kita berdoa ketika duka? Memang selalu tidak seimbang, maka ambilah keuntungan dari sendu kali ini, untuk mencari keridhoan-Nya.
Semoga wabah yang menjadi penyebab kita tak dapat merayakan akan segera pudar, dan mati diluluh waktu. Berharap bumi segera kembali baik, dan kita yang berpijak kembali dalam keadaan selamat. Aamiin-kan.