Halo! Apakabar, Kamu?
Kayanya itu bakal jadi line pertama Saya saat menyapa Kamu. Dilanjutkan dengan line-line percakapan berikutnya yang lebih panjang ketika Kamu menjawab line pertama Saya.
Nggak enak ya rasanya jadi introvert, yang nggak bisa langsung inisiatif menanyakan kabar Kamu ketika rindu, yang nggak bisa tiba-tiba telpon Kamu padahal ingin. Karena takut. Takut Kamu lagi sibuk, takut Kamu nggak punya banyak waktu, takut Kamu emang nggak suka disapa-sapa kaya gitu.
Di masa yang serba instan kaya gini, ketika trennya adalah share-all-about-you-right-now, masih aja ada Kamu yang entah nggak mau, sembunyi atau bahkan nggak peduli dengan hidup serba berbagi kaya gitu. Risih, mungkin menurut Kamu. Tapi mungkin Kamu nggak sadar kalau ada Saya yang mencari namamu di daftar kontaknya dan berkali-kali hampir mencoba menanyakan kabarmu.
Saran Saya, cobalah sekali-kali umumkan pada dunia apa yang sedang Kamu kerjakan, apa yang sedang Kamu pikirkan, bahkan apa-apa saja yang sedang menyita perhatian Kamu saat itu. Dengan begitu, Saya tahu kalau Kamu sedang baik-baik saja dan menikmati hidup Kamu. Pencitraan kata Kamu? Justru Saya ingin mengetahui pencitraan Kamu.
Saya tunggu kabar Kamu!
Teruntuk teman, sahabat, saudara Saya yang sudah berkali-kali hampir disapa di media sosialnya.
...
Sepertinya Saya menemukan solusi untuk memulai percakapan dengan Kamu.
Halo! Kabarin alamat rumah/kosan lo dong, mau ngirim undangan nih.
Wkwk.









