Prompt/Muse: Galaxy by Bolbbalgan4. Character(s): Layzel Alexis & Nathaniel Chrom. Settings: AU / January 2012. Genre: Comfort. Rating: General.
Kopi di gelasnya masih separuh ketika pemuda datang. Rambutnya lantas dipilin guna menghilangkan gugup yang mendera, tepat sebelum pintu kafe terbuka. Ada gemerincing lonceng dan suara langkah kaki, saling susul dengan degup jantungnya. Alexis muda memang belum terbiasa harus mengerjakan proyek dengan orang baru yang notabene baru ia kenal kurang lebih lima hari.
“Maaf, saya terlambat.”
“O-oh. Nggak apa-apa. A, aku juga baru datang.”
Chrom tersenyum tipis dan kaku, sedangkan Layzel berdiri untuk mempersilakan pemuda duduk. “Santai saja, Alexis,” tegur pemuda kemudian yang berhasil membuat kedua pipi dara diwarnai merah segar. Malu. Kebiasaannya belum berubah seputar ini. Orang-orang terdekatnya hapal dan biasanya akan meledek. Namun, Nathaniel Chrom tak mengenalnya dan bukan orang dekatnya. Ia yakin hal-hal seperti ini akan segera berlalu.
(Tenanglah, Layzel. Tenang.)
Beberapa lalu, ekspresi keduanya sudah tampak serius. Pulpen di tangan dara sesekali bergerak ke kertas di hadapan Chrom, seiring ia menjelaskan mengenai apa yang keduanya akan kerjakan. Bidang dara yakni bisnis periklanan, lalu Chrom sendiri tengah mengelola tambang tempatnya bekerja. Pemuda ditempatkan pada bagian penjualan dan tengah merencanakan profil kooperasi perusahaannya. Kantor milik Alexis dipilih olehnya atas rekomendasi seorang relasi.
“Kurasa itu saja. A, ada yang ingin Anda tanyakan..., Chrom?”
Dua pasang mata itu kemudian bertemu dan pemuda tak tahu mengapa manik abu badai di hadapannya terlihat lebih bersinar. Abu-abu itu tak seterang milik Annabeth, kawan sejawatnya, namun begitu cemerlang. Seperti ada jutaan cerita di sana.
“Apa memungkinkan bagi saya, mengajak Anda makan malam hari ini?”
Tercetus begitu saja pertanyaan dalam kepalanya, tanpa pikir panjang. Layzel kewalahan menahan rona merah di kedua pipinya lagi saat tertawa lirih. Pikirnya pemuda Chrom akan menegur atau memberikan gagasan, atau bahkan menolak idenya. Namun, ini di luar dugaannya. Maka dari itu...,
Musim Semi kali ini cukup mengurung dua muda-mudi itu di apartemen mereka, di kamar masing-masing, dengan pikiran yang sama-sama keruh. Ada setumpuk laporan di meja seorang gadis, sedangkan di kamar lelaki, ada partitur berserakan. Keduanya tengah menengadah menatap langit-langit dan menghela napas di saat bersamaan. Lalu, seekor kucing mengeong, menggeliat di dekat kaki sang gadis dan menjadi pemicu yang bersangkutan beranjak keluar kamar untuk member hewan peliharaannya itu makan. Cary, namanya.
Sebagai seekor kucing, ia adalah pengamat majikannya dan juga rekan tinggal seatapnya. Mereka sejauh ini akur, bahkan dari sudut pandang seekor kucing, ia tahu. Maka dari itu, ia tidak suka melihat majikannya, sang gadis, berdiam di kamar dan terus-menerus perang dingin dengan sang adam. Walau, ia akui, bahwa ia juga tak menyukai kebiasaan lelaki itu, tapi ia tahu, mereka tidak tahan harus diam lebih lama lagi di kamar masing-masing.
“Akhirnya keluar kamar?”
Cary mengeong seiring mendengar suara lelaki saat nyatanya mereka menutup daun pintu secara bersamaan. Majikannya, Layzel Alexis sang gadis, menghela napas dan melanjutkan untuk abai ke arah dapur. Dan di saat itulah, ia, si kucing, melompat dari gendongan dan setengah berlari ke lelaki. Dengan sengaja, ia menabrak betis Rein, lelaki tadi, agar yang bersangkutan memasang wajah masam dan mengejarnya; seperti biasa; agar suasana tak begitu canggung. Namun, sekali ini tidak.
Langkah lebar Rein mencapai Layzel dan lengan itu merengkuhnya dari belakang.
“A, Apaan, sih?”
“Jangan marah lagi, kek. Aku betulan lupa, kemarin.”
Sebagai seekor kucing, kini ia menemukan kunci bagian mana yang tak ia mengerti dari para manusia. Bagaimana bisa mereka murung hanya karena alasan sepele. Dalam kacamata seorang kucing, Cary tidak mengerti bagaimana bisa dua muda-mudi itu sampai perang dingin lantaran sang lelaki lupa ulang tahunnya sendiri dan meninggalkan sang gadis di rumah dengan lilin yang sudah tak begitu tampak sumbunya.
“Aku minta maaf, Layzy.”
Bagian ini yang sebagai kucing, ia semakin tak mengerti. Kenapa majikannya harus memegangi tepian meja dan menghela napas sebelum berbalik dan menyentuh rahang lelaki itu? Dan kenapa juga, Rein menggamit tangan Layzel erat? Apakah mereka sedang bermain? Kalau, ya, kucing Bengal kita merasa mereka curang sekali. Mereka bermain dan mereka lupa, bahwa Cary masihlah di sana, menonton mereka. Atau lebih tepatnya, menunggu mangkuk makanannya diisi.
“Aku menunggu sampai jam dua dan jawabanmu: lupa. N, nggak hanya itu. K, kamu bertemu teman-temanmu dan n, nggak meninggalkan kabar sama sekali,” ada nada sedih dan kecewa yang lolos dari lisan Layzel. Cary tahu, ia merasakannya, dan karena ia mengenal majikannya lebih dari siapapun. Taruhan saja. Pasti Rein bahkan tak tahu bagaimana gadis itu semalaman berulang kali melihat ponsel bahkan sampai membanting benda persegi itu ke sofa.
“Aku minta maaf. Sungguh.”
“Kalau begitu, kamu yang bikin sarapan.”
“Uh.”
Dikarenakan tidak tahan lagi, Cary mendekat ke keduanya, menabrak betis Rein, dan berjalan di sekitaran kaki sang gadis. Ekornya menyentuhkan kasih sayang, melingkari kaki Layzel, hingga mereka menyadarinya: bahwa kucing Bengal itu sudahlah lapar.
“Ayo, Cary. Aku sudah menemukan sarapanmu,” kata Layzel, pada akhirnya. Cary bisa lihat boks bergambar kucing jelek; karena ia menganggap kucing paling cakap hanyalah ia; juga sebotol susu sapi. Rein, di belakang gadis itu bersungut-sungut menatap hewan peliharaan kekasihnya yang menatap sengit langsung ke mata. Pikir Cary, ia akan dilempar ke luar jendela. Tapi, rupanya, lengan itu menjadi bantalan gendongannya seiring menyusul Layzel.
“Kau mau sarapan apa?”
“Panekuk.”
.
.
Manusia memang aneh. Tapi, tangan mereka selalu hangat.
Dan, oh, selalu lebih besar dari milik si kucing.
Dia tidak bisa berbohong, bahwa ia begitu membenci Hunger Games.
Abu-abu badai itu gagal lepas dari layar kaca ketika melihat Peserta yang terpilih di tahun ini dan hatinya mencelos. Ada sesuatu tak kasat mata seakan menyapu isi kepalanya, sehingga tanpa sadar, gelas berisi minuman berwarna ungu terang terlepas dari tangannya; pecah menjadi kepingan di atas lantai, yang kacanya menggores punggung kakinya.
“Elizabeth, kau tak mendengarkanku?”
Kerongkongan dara kering kerontang bak sumur di musim kemarau. Suara sang sepupu seolah hanya asap dari sesuatu yang terbakar dalam diri Alexis muda satu ini. Ada emosi membuncah, menghantam setiap sisi dara, sehingga guncangan pada lengannya baru berhasil menyadarkannya. Layzel, akhirnya, menoleh dan membiarkan sepasang abu-abunya berserobok dengan biru cerah; seperti mendung bertemu langit cerah, yang begitu kontras, sama persis seperti pemiliknya.
“God damn it, Elizabeth. Aku memanggil berkali-kali.”
“Sorry, Benz. I was...,”
“Jangan bilang kau mengenalnya.”
Layzel tidak punya sangkalan apapun mengenai hal itu.
“Demi Tuhan, Elizabeth. Kau harus menghentikan kebiasaan barumu.”
Nasehat itu lagi; berkala, serupa, dan membuat telinganya pekak.
“Lalu apa? Kau akan membantunya, atau Stark?”
Mata itu terbelalak terkejut. Mulutnya terbuka, sedangkan napasnya tertahan. “S, Stark, kau bilang...?” Begitulah pertanyaan bodoh yang terucap, saat lengan sepupu sang dara berhasil dicengkeram dalam gemetar lemah. Layzel sudah berulang kali merasakan sesak napas seperti ini; setiap tahunnya, selama Hunger Games; namun, ini membuatnya luruh di emosinya. Kakinya lemas bukan main, sehingga ia terjatuh dan ujung celananya basah, karena gelas pecah tadi.
“Astaga. Mana Avox idiot itu?”
Benz menarik sepupunya dengan paksa; menjauhkan Layzel dari pecahan kaca; lantas berjongkok dan menangkup pipinya. “Dengarkan aku,” titah Benz bagai petir di siang bolong bagi Layzel Alexis. “Kau harus berhenti memedulikan mereka, Elizabeth. Aku tidak mau kau terluka,” hingga membuatnya tak berhasil bersuara, sebab emosinya dirongrong ke batas maksimal.
“Kau, Capitol. Mereka, bukan.”
Ia tahu.
“Kepedulianmu, Elizabeth, membuat celaka semuanya.”
Ia sangat amat tahu.
“Minggir,” sergah Layzel, saat mencoba berdiri.
“Aku,” kepalanya terkulai lemas. “sangat amat tahu akan hal itu dan berhentilah memberitahuku, karena aku nggak bisa nggak peduli, Benz.” Tatapannya nyalang menantang kalau mendongak. “Mereka manusia, sama seperti kita. Mereka, punya hak hidup yang sama seperti kita. Apa kau, pernah sedikit saja, menyadari hal itu?”
Benz bergeming di tempatnya, lantas mendengus mengejek.
“Dan apa kau tahu bahwa Corialonus Snow tak akan diam saja dengan pemikiran lugu seperti milikmu, Elizabeth? Presiden punya seribu satu cara untuk membuatmu paham: kalian tidak sama. Aku memberitahumu berulang kali, karena aku memintamu untuk benar-benar paham”
Layzel menatap sepupunya dengan pemikiran di awang-awang.
"Dia hanya seorang Penjaga Perdamaian, Elizabeth. Walau kau memberikan seluruh hartamu untuknya, hanya agar ia selamat, kau tidak akan pernah berhasil apabila Corialonus Snow pikir ia tidak pantas, dan aku bersungguh-sungguh mengingatkanmu. Stratamu jauh di atasnya”
Ada tarikan napas panjang dari Layzel, sedangkan Benz menggeleng dalam ratapan memohon, “Jangan lakukan itu, Elizabeth. Dengarkan aku. Kau punya orang-orang penting di Capitol, di atas mereka semua.”
Layzel mengambil satu langkah menjauh dari sepupunya.
“Aku harus mencari Dimitri dan Mags, sekarang.”
Sebelum dicegah, ia sudah berlari.
Ia pernah bermimpi buruk, dan masih.
Namun, Tuhan, jika eksistensimu nyata, maka dengarkan pintanya;
Pria muda itu menghentikan gesturnya membuka pintu lemari es, kemudian menoleh ke arah dara yang memejamkan mata di sofa. Keningnya otomat berkerut dan ia segera berjalan cepat, duduk di meja kecil depan sofa, dan menaruh tangannya pada lutut Alexis muda.
“Kau nggak betulan ngomongnya, kan?”
Abu-abu badai itu berserobok dengan sepasang mata cokelat milik Rein untuk beberapa detik, lantas dara membuang mukanya; seperti tak mau melihat pria muda Ikeda hanya untuk menjelaskan. Dua hari lalu, Rein melamar dara di depannya dengan cara yang paling normal menurut keduanya; mereka duduk di salah satu atap gedung tertinggi, menatap patung Liberty dan kerlipnya jutaan lampu kota New York, dan Rein mengutarakan keinginannya. Ada hesitasi dilakukan oleh Layzel; mengatakan butuh waktu untuk menjawabnya; dan hari ini, ia, Ikeda Rein, tidak bisa tetap tenang. Hatinya mencelos mendengar kalimat yang tadi datang dari Layzynya.
“Aku takut, R-Rein.”
Didengarnya seksama penjelasan dara.
“Aku bukan m-meragukanmu, tapi..., aku meragukan diriku s-sendiri. Kau tahu, aku kadang masih mengingatnya saat sendirian. Aku nggak mau nantinya kau merasa dicurangi, karena a-aku melamun memikirkannya, atau membuatmu kecewa. K-Kau terlalu ba...,” dan secara spontan, bibir Rein membungkam Layzel dalam waktu singkat. Mata mereka bertemu di jarak sedekat sekarang; begitu dekat, sampai Layzel kira, ia baru saja tenggelam di sepasang cokelat terang milik Ikeda Rein.
“Aku akan menemanimu terus, kau tahu, jadi kau nggak akan mengingatnya.”
Selalu, dan selalu seperti itu.
“K-Kau selalu begini, padahal aku bersikap ng-nggak adil.”
“Kalau begitu, kali ini bersikap adil padaku. Menikahlah denganku, Layzy.”
Layzel menatap Rein cukup lama dan menghela napas berat. Begitu lama waktunya untuk melupakan seseorang, sehingga ia lupa bahwa ada orang yang memerhatikan, menjaga, dan menatapnya; sama persis seperti tatapannya ke dia. Tangannya menyentuh tulang pipi Ikeda muda, menyusuri rahangnya, beralih ke tengkuk, dan berakhir memeluk erat. Dibenamkan wajahnya pada ceruk leher pria muda di depannya, sehingga aroma tubuh Rein menguar dan terhirup sempurna.
Tangan seorang gadis gemetaran hebat ketika mencapai gerbang.
.
Yang dirasakannya hanya takut, dan takut, tidak ada lainnya—siapapun akan begitu, ketika semua kebiasaan akan memperlakukan setiap orang di satu kasta sama, namun nyatanya, pemerintah tak memperbolehkan hal itu; sama sekali. Dan pada akhir cerita, kau akan selalu jadi yang diburu; buronan sepanjang hidup mereka, sampai kau berhasil menderita, atau mati. Begitulah dara Alexis dan posisinya kini; semua kepeduliannya berbuah manis ketika salah seorang melaporkan tindak-tanduk dara ke petinggi di Capitol, bahwasanya memperlakukan seorang penghuni distrik seperti teman bermain bak haram hukumnya.
Lima Penjaga Perdamaian mengobrak-abrik apartemennya, menembak lengan atas Benz, kemudian meninggalkan ancaman; Layzel diharuskan menemui Aron Aaroo untuk tindakan lebih lanjut. Ia meraba semua hal; mengenai dukungannya akan distrik Empat, percakapannya dengan Loreius Stark, semua pemotretan di distrik, dan obrolan pasifnya bersama seseorang bernama Nathaniel Chrom. Tombaknya sudah jelas, bahwa undangan bertemu pria muda Aaroo tak akan pernah membawanya kembali pada Benz, begitu pula sebaliknya.
“Aku mau pergi.”
Itu kalimat terakhirnya, dan ia hanya ingat bahwa ia sudah menyuruh kakinya berlari sejauh mungkin; ditanggalkannya semua identitas Capitol dan hanya berbekal kaus paling lusuh yang Layzel punya, serta celana jeans yang Benz sebut ketinggalan zaman. Hingga kini, di perbatasan memasuki distrik Dua, ia terjebak sendiri—menggigil hebat, kelelahan, dan kelaparan—tapi, lagi-lagi, yang ia tahu hanya pergi sejauh mungkin; distrik Tiga Belas, tujuannya. Dalam kepalanya sudah berseteru ketika ide itu muncul: satu, menyebut Layzel gila karena distrik itu sudah hancur, dua, ingin percaya dengan kepercayaannya sendiri; bahwa Tiga Belas masih ada dan jauh lebih baik dibanding Panem sekarang.
Bersandar pada satu pohon yang cukup rindang, dibalik semak-semak, Alexis muda mengistirahatkan badannya—makin kurus, karena bekal terakhir yang dibawanya adalah roti; ini membuatnya ingat pada Hunger Games. Peserta pasti lebih kesusahan; lebih menderita.
“Kau tahu.”
Suara itu membuat Layzel tersentak, lantas menyeret dirinya menjauh.
“Seorang Capitol tak seharusnya disini.”
Tatapan dingin dari orang yang berbicara dibalik seragam Penjaga Perdamaian membuat gemetarnya makin jadi—disini, ialah yang tak berdaya. Posisinya adalah yang diburu, bukan yang mengucurkan dana ke para pemburu. Aron Aaroo pasti memerintahkan salah satu dari Penjaga Perdamaian untuk mengejarnya—hingga ke tempat ini.
“Chrom.”
Namun, dugaannya salah, ketika tangan itu meraih pundaknya yang mungil dan membetulkan ke posisi semula; bersender pada pohon. Sepasang abu badai yang tak diselimuti lensa kontak menatap sepasang iris milik Penjaga Perdamaian itu; gentar tersisa disana, tak surut sedikitpun. Layzel Alexis ketakutan, hingga setiap kali darah dalam nadinya mengalir, maka sederas dan sesering itu pula keinginannya untuk meninggalkan Panem—karena takut menjadi seorang buronan.
“Aku mendengar tentangmu.”
Itu membuat Layzel segera berdiri, berusaha menjauh.
“A-aku tak tahu kenapa jadi s-serumit ini.”
Pemuda ingin merutuk dalam hati, memberitahukan semua logika yang berjalan di Panem; bahwasanya seorang Capitol tak boleh peduli dan penghuni distrik harus tahu kedudukan—tapi, mereka, ia dan Alexis itu, tak berada di keadaan yang seharusnya ada di Panem. Semenjak kegiatan Capitol yang dilakukan di gunung distrik Dua, terlebih ketika Chrom membiarkan jemari kurus itu meremas seragamnya—ia semakin tak mengerti. Semua teori mengenai logika yang berjalan di Panem, dihancurkan begitu saja melalui verbal Alexis. Pemuda itu ingin memperingatkan—tapi, tak bisa. Kebingungan itu membuatnya tak bisa berkutik sama sekali; seperti saat ini.
“A-Aku t-tak diterima l-lagi di Capitol.”
Chrom bisa menebak apa alasan pemerintah.
“K-Kau datang untuk memb-bawaku? M-Membunuh—ku?”
Gemetar dalam suara Alexis membuat Chrom meradang; kapan terakhir kali gadis itu membiarkan tubuh kurusnya beristirahat? Atau, kapan persisnya gadis Alexis itu minum? Kenapa tak mengenakan mantel atau jaket? Kenapa harus senekat ini, pergi ketika badai menyerang Panem—musim Dingin yang luar biasa tak bisa ditolerir, sehingga para Penjaga Perdamaian memilih untuk meringkuk di pondok jaga masing-masing.
“Kita pergi.”
Kabut memenuhi kepalanya melihat kondisi Alexis yang begitu kacau; persis korban pelecehan seksual yang biasanya Chrom lihat di Dua Belas. Mungkin, karena sebenarnya tak ada identitas Capitol melekat, sehingga orang tak curiga—dan Layzel Alexis terlihat lebih baik begini; dengan mata abu-abunya, rambut tembaganya, sapuan riasan yang hampir tak ada, meski terlihat kuyu, lusuh, dan seperti mayat.
“A-Aku nggak m-mau kembali. T-Tolong.”
Sederetan hukuman jelas akan mengantre untuk mereka, apabila ada saksi mata. Chrom bisa dicambuk sekian puluh, bahkan ratusan kali—hingga kasur yang nyamanpun terasa seperti Neraka. Itu bisa ditahannya; ia berani bertaruh dengan kepalanya sendiri, karena ia adalah penghuni distrik Dua. Namun, bagaimana dengan seorang Capitol? Alexis jelas akan diseret, diberi hukuman paling mengerikan: dilempar ke kasta paling rendah, yakni, Avox. Dan Chrom, tak pernah tahu, kenapa itu membuatnya peduli.
.
“Kita pergi.”
.
Tangan pemuda meraih pergelangan tangan Alexis dan membawanya paksa memasuki satu pondok tak terpakai; ada selimut bau apek disana dan perapian tua. Setidaknya lebih baik untuk dara dibanding berlama-lama diluar.
“T-Terima kasih.”
.
.
.
.
.
.
.
Mereka sama-sama tak bisa menjabarkan apapun; hanya ada suara senapan api, kemudian teriakan dan pekikan, sergahan kasar, teriakan, suara Chrom memanggil nama Alexis dan begitu pula sebaliknya—dalam kadar frustasi yang sama, dan seketika semua menjadi gelap. Waktu berlalu satu minggu setelahnya—Chrom dijatuhi hukuman seperti yang bisa ia bayangkan dan tak pernah ada yang tahu bagaimana Alexis.
“Salahmu sendiri, Bocah.”
Adalah umpatan paling sopan yang bisa orang berikan dan Chrom dengar. Namun, itu tak berhasil membuatnya sakit hati; pemuda merasakan emosi stabil yang membuatnya meradang, uring-uringan, dan murka—namun, bukan karena umpatan itu. Hanya satu orang; gadis itu; yang membuatnya tak pernah berhasil menempatkan bagaimana posisi mereka—selalu diselimuti kebingungan.
.
.
.
.
.
“Mereka bilang, idiot memang begitu.”
.
“Otaknya berceceran, barangkali. Tolol.”
.
Berkali-kali Chrom mendengar hal itu—ia asumsikan, mereka bicara tentangnya, sampai Penjaga Perdamaian membuka pintu mobil, mendorong kasar seorang gadis kurus dalam keadaan paling mengenaskan—jauh lebih mengenaskan dari kali terakhir Chrom bertemu dengannya.
.
.
.
.
“Avox baru.”
.
Ia peduli akan Alexis.
.
.
.
.
.
Dan gadis itu hancur; membuatnya makin bingung.
.
.
.
.
.
Apa yang salah diantara kita—kepedulianmu, kepedulianku, Panem, dan ketidakadilan?