Pria muda itu menghentikan gesturnya membuka pintu lemari es, kemudian menoleh ke arah dara yang memejamkan mata di sofa. Keningnya otomat berkerut dan ia segera berjalan cepat, duduk di meja kecil depan sofa, dan menaruh tangannya pada lutut Alexis muda.
“Kau nggak betulan ngomongnya, kan?”
Abu-abu badai itu berserobok dengan sepasang mata cokelat milik Rein untuk beberapa detik, lantas dara membuang mukanya; seperti tak mau melihat pria muda Ikeda hanya untuk menjelaskan. Dua hari lalu, Rein melamar dara di depannya dengan cara yang paling normal menurut keduanya; mereka duduk di salah satu atap gedung tertinggi, menatap patung Liberty dan kerlipnya jutaan lampu kota New York, dan Rein mengutarakan keinginannya. Ada hesitasi dilakukan oleh Layzel; mengatakan butuh waktu untuk menjawabnya; dan hari ini, ia, Ikeda Rein, tidak bisa tetap tenang. Hatinya mencelos mendengar kalimat yang tadi datang dari Layzynya.
“Aku takut, R-Rein.”
Didengarnya seksama penjelasan dara.
“Aku bukan m-meragukanmu, tapi..., aku meragukan diriku s-sendiri. Kau tahu, aku kadang masih mengingatnya saat sendirian. Aku nggak mau nantinya kau merasa dicurangi, karena a-aku melamun memikirkannya, atau membuatmu kecewa. K-Kau terlalu ba...,” dan secara spontan, bibir Rein membungkam Layzel dalam waktu singkat. Mata mereka bertemu di jarak sedekat sekarang; begitu dekat, sampai Layzel kira, ia baru saja tenggelam di sepasang cokelat terang milik Ikeda Rein.
“Aku akan menemanimu terus, kau tahu, jadi kau nggak akan mengingatnya.”
Selalu, dan selalu seperti itu.
“K-Kau selalu begini, padahal aku bersikap ng-nggak adil.”
“Kalau begitu, kali ini bersikap adil padaku. Menikahlah denganku, Layzy.”
Layzel menatap Rein cukup lama dan menghela napas berat. Begitu lama waktunya untuk melupakan seseorang, sehingga ia lupa bahwa ada orang yang memerhatikan, menjaga, dan menatapnya; sama persis seperti tatapannya ke dia. Tangannya menyentuh tulang pipi Ikeda muda, menyusuri rahangnya, beralih ke tengkuk, dan berakhir memeluk erat. Dibenamkan wajahnya pada ceruk leher pria muda di depannya, sehingga aroma tubuh Rein menguar dan terhirup sempurna.