Renung-Renung sore - PerempuanSore
Semakin banyak orang yang menyukai sembunyi. Dan sembunyi di balik kerumunan adalah penyakit yang paling utama pada saat ini.
Ini adalah beberapa definisi “kerumunan” yang coba saya catat:
Kita sembunyi di balik pertemanan, sembunyi di bawah kekuasaan orang tua, sembunyi di balik kasih sayang kekasih, sembunyi di balik barang-barang ter-update yang ia miliki (dari leptop seri terbaru hingga seri handphone paling mutakhir), sembunyi di balik persahabatan, sembunyi di balik komunitas (sebutlah ia adalah gabungan dari sebuah komunitas paling happening di kotanya), sembunyi di balik tren terkini, sembunyi di balik pergaulan paling terkini (update fashion terbaru, update film terbaru dll), lalu hal lainnya adalah kerumunan kian berkembang menjadi media sosial: banyak orang lalu berlomba-lomba sembunyi di balik status di media sosialnya yang bersifat religius, ia lalu sembunyi di balik kutipan ayat-ayat kitab suci, atau di balik kutipan keren dari filsuf atau tokoh-tokoh besar lainnya, dan banyak orang sembunyi di balik status saling nyepet jika ada ada masalah, perang status karena tidak mampu menyelesaikan persoalannya di dunia nyata. Banyak orang lalu berubah menjadi “anonymous person” di dunia maya dan juga di dunia nyata.
Sayang sekali kata “sembunyi” di atas tadi dekat sekali dengan kata “pengecut” Bukankah pengecut-pengecut senang sembunyi. Karena jangankan berhadapan dengan orang lain, berhadapan dengan diri sendiri saja, ia tidak mampu.
Jadi kamu sendiri sedang sembunyi di balik apa?
(Renung-Renung Sore, ditulis sehabis makan soto lamongan dekat kantor pos jalan Ambon, Bandung, Rp.21.000 semangkuknya)
this is deep.








