From ‘perempuansore.blogspot.co.id ‘
{ Generasi Digital adalah Generasi yang Doyan Pamer }
-
Sadar atau tidak sadar, banyak orang yang mengejar untuk kelihatan “keren” coba perhatikan sekelilingmu, semua orang berlomba-lomba untuk punya gadget terbaru, semua orang aktif di sosial media untuk, memosting foto sedang liburan kemana, atau nongkrong sama siapa, atau meng-RT pujian ketika dipuji di twitter, bahkan yang lebih dangkal adalah berlomba-lomba melakukan “unjuk gigi pencitraan” supaya mendapat banyak follower.
Lain halnya ketika kita bermain path atau instagram, kita akan memosting pose-pose foto kita dengan berbagai gaya, dalam rangka mendapat pujian atau mengejar-ngejar komentar yang bikin hati kita senang. Ya ujung-ujungnya supaya kita dibilang cool. Kita dibilang keren.
Yang muncul dalam kepala saya ketika melihat fenomena ini adalah: generasi digital adalah generasi pamer.
Tapi selamat datang di era digital, teman-teman. Dan selamat datang di era “ketika lo nggak pamer, lo nggak keren.”
Oke, tulisan ini dibuat bukan untuk menegur siapa-siapa. Tulisan ini dibuat untuk menegur diri saya sendiri yang terkadang juga melakukannya.
Berbeda dengan jaman dulu, ketika banyak orang tidak banyak bicara, tetapi mereka menghasilkan sesuatu. Banyak musisi yang kemudian bisa menghasilkan lagu bagus tanpa perlu berkoar-koar dulu di twitter. Banyak penulis yang menghasilkan buku bestseller, tanpa perlu pamer dia begadang malam-malam ketika menuliskannya. Banyak fotografer yang sukses dengan pekerjaan memotretnya, tanpa perlu “pamer” dulu di facebook, instagram, dlsb.
Sedangkan jaman sekarang mau liburan saja, harus pamer dulu dengan status “Lagi packing nih.” Ujung-ujungnya pengin ditanya, “mau kemana sih?”
Yang lagi kencan sama pacarnya, harus pasang status “malam mingguan dulu ya, sama hunbun.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Ejieee.”
Atau status sok sibuk yang biasanya kita sengaja lakukan, contoh: “duh, meeting to meeting nih. Sudah kopi ke berapa ya.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Sukses ya!” atau “Semangat!”
Hal lainnya, ketika kita pasang status nowplaying sebisa mungkin kita cari musik yang lagi update banget dan kalau bisa yang susah, supaya ketahuan kalau kita memang mendengarkan musik-musik yang “keren” dan tidak biasa.
Ternyata semua yang kita lakukan di atas ini hanya untuk satu kata: pamer. Kita adalah generasi yang senang memamerkan hal-hal yang terlalu dangkal untuk berlomba-lomba disebut “keren.”
Suatu hari obrolan saya dengan beberapa sahabat tentang betapa banyak orang saat ini banyak yang berlomba-lomba untuk terlihat keren dengan hal-hal yang dangkal.
Mereka lupa bahwa orang-orang “keren” tidak pernah berusaha dengan keras untuk “berteriak” kepada dunia bahwa ia sudah melakukan sesuatu. Orang “keren” yang sebenar-benarnya “keren” tidak perlu doyan pamer.
(Tahun 2013 menulis postingan ini di www.perempuansore.bogspot.co.iddan rasanya hingga sekarang masih relevan)