WBEntRPG is property of its respective Staffs and Admins. Chae Ryujoon is mine. Lee Junghan is Lintang’s. This contains boys love...so...dldr? Ini AU lho, sumpah, AU.
Couple!AU, requested by @dolbaekie on twitter.
Coba tebak, kali ke berapa mereka terjebak hujan dan acara jalan-jalan berdua akhirnya berantakan. Lagi.
“Maaf.”
Semuanya gara-gara salah satu berkeras tetap pergi hari ini, dan mengacuhkan ramalan cuaca tadi pagi. Pemuda itu menggerut ujung sweaternya dengan kedua tangan, menggigit bibir. Menunduk, matanya tak lepas memandangi ujung sepatunya yang terpercik tetesan air hujan dan genangan air ketika mereka berlari untuk berteduh di halte bus—satu-satunya halte bus terdekat, bayangkan!—berlindung dari hujan yang tiba-tiba saja deras mengguyur bumi. Ia merasa bodoh sekali, sungguh merasa bersalah padahal yang hari ini dimintanya untuk pergi bersama sudah berkorban sampai rela membatalkan acaranya untuk menonton gigs di Hongdae.
“Junghan-ie. Marah ya?” Ia mengangkat wajahnya pelan-pelan, seperti mencicit, memanggil pemuda yang berdiri jauh di ujung lainnya dari halte ini.
Hanya mereka berdua. Harusnya ini bisa jadi kencan yang romantis.
“Nggak,” Lee Junghan menjawab, tetapi wajahnya masih menoleh ke arah lain.
Lalu suara yang terdengar hanya derasnya air hujan membasahi trotoar dan jalan beraspal. Dilengkapi gemuruh awan hitam di langit, serta lecutan petir yang membelah angkasa. Ia tidak takut petir, tidak pula takut badai, tetapi saat matanya melirik ke sosok pemuda yang hanya mengenakan kemeja berlengan pendek, jins hitam, dan Converse merah, langsung ciut nyalinya. Junghan tidak lagi bersuara, masih pula enggan menoleh ke arahnya. Dari sini, ia hanya bisa melihat belakang kepala pemuda bermarga Lee itu. Rambutnya yang mencapai tengkuk masih meneteskan air, basah setelah diguyur hujan. Pun seluruh pakaian hingga sepatunya. Ia hanya bisa meringis prihatin, sebab ia tak merasakan penderitaan basah diguyur hujan.
Yah, terima kasih Lee Junghan yang merelakan jaketnya digunakan untuk memayungi Chae Ryujoon.
“Junghan-ie?” Ia coba memanggil lagi. Tidak ada jawaban. Masih, suara yang terdengar hanya atmosfir derasnya hujan.
Dingin sekali.
Bukan, bukan karena hujannya, tapi karena Junghan.
“Junghan-ie. Aku minta maaf lagi, nih,” putus asa, sampai menghela nafas. Sepatunya yang basah itu kalau dibawa melangkah jadi berbunyi menjijikkan dan tidak nyaman sekali. Junghan bergeming. Ryu mengulurkan tangannya dan menarik ujung kemeja si pemuda dingin. “Maaf. Ya?”
Ia mendengar helaan nafas, dan pemuda bernama Lee Junghan itu menoleh. Akhirnya. Namun tentu saja, wajahnya tampak tidak senang. Junghan menarik tangannya, hingga pegangan Ryu pada ujung kemeja itu lepas. Lalu ia berdecak kesal dan melipat tangan di depan dada. Kali ini melengos, berjalan melewati Ryu hingga tiba di ujung yang berseberangan dengan tempat Ryu berdiri. Memunggungi pemuda yang hanya bisa mengerjap bingung, Junghan berdiri acuh.
Duh.
Ryu benar-benar dalam masalah.
“Lee Junghan, maafkan aku,” nadanya memohon. Wajahnya begitu pupus harapan, seperti anak anjing terbuang di dalam kardus tanpa atap. “Kan—aku tidak tahu kalau ternyata ramalan cuaca hari ini benar-benar kejadian.”
“Berapa kali kita kehujanan atau terjebak badai, Chae Ryujoon?” Tanpa menoleh, Junghan akhirnya bersuara lagi.
“Ngg—itu sih…lima kali?”
“Terus, berapa kali kau,” Junghan berbalik, akhirnya. Matanya itu—aduh, memandang tajam benar, “berkeras kalau cuacanya akan cerah dan semua baik-baik saja?”
“Li—ma.”
Suara gemuruh hujan masih membingkai keberadaan dua insan yang berjarak dua setengah meter satu sama lain. Satu dengan pakaiannya yang basah kuyup, kesal. Satu dengan sweater biru, menunduk bersalah. Rintik-rintik air yang menjatuhi atap halte tempat mereka berteduh seolah hendak menonton, berlomba-lomba menuruni hingga melewati lengkungan atap tersebut, dan akhirnya jatuh ke sisi trotoar. Menjadi saksi ketuk tidak sabar Converse merah yang basah, menghakimi sepasang Converse biru yang merapat satu sama lain. Gemuruh langit yang mendung belum mau berhenti, awan hitam masih menggelayuti, hujan bernyanyi, dan petir bersahutan.
**
Lee Junghan tidak mengerti, apa susahnya mengikuti anjuran prakiraan cuaca dari pusat meteorologi? Ia masih melipat tangannya di depan dada sambil memandang Ryujoon yang menunduk. Lihat, sekarang semuanya berantakan. Ingat betul ketika pemuda itu merajuk memintanya untuk pergi berjalan-jalan di sekitaran Gwangju—karena bosan dengan Hongdae atau Gangnam, alasannya. Berhari-hari pemuda itu terus membombardir dengan telepon di saat yang tidak tepat (bayangkan, Ryujoon menghubunginya pukul dua pagi, dan lebih sering lagi saat ia sedang berada di tengah jam kerja), chat penuh stiker dengan nada memohon, dan menggedor pintu apartemennya—semua demi jawaban ‘ya’ atas ajakannya itu. Kadang Lee Junghan bertanya-tanya, apa yang membuatnya tertarik dari seorang Chae Ryujoon? Ia pemuda yang keras kepala, berisik, selalu bertindak seenaknya, ceroboh—dan segudang sifat-sifat yang membuatnya keras kepala seolah menempel pada pemuda itu.
(mungkin—karena Ryujoon mengingatkannya akan langit musim panas yang begitu cerah, biru tak berawan)
Hingga akhirnya, ia memang tak sampai hati menolak ajakan si berisik yang satu itu.
Menghela nafas, diliriknya jaket basah yang teronggok di atas bangku panjang. Jaketnya. Impulsif, ketika hujan mulai turun, ia lepaskan untuk memayungi Ryujoon. Butuh paksaan dan sedikit bentakan agar pemuda itu mengurungkan niatnya bermain hujan, dan mau berteduh di halte. Akhirnya begini; Junghan yang basah kuyup, sementara Ryujoon bisa dibilang cukup kering, selamat dari kedinginan tersiram air hujan. Tak bisa dipungkiri kebingungannya menjadi-jadi, ia benar-benar sudah membatalkan janji menonton gigs yang ditunggu-tunggunya sejak bulan lalu demi pemuda ini. Pemuda yang sok tahu soal cuaca, dan berkeras kalau prakiraan cuaca itu sering meleset, padahal sudah empat kali sebelumnya acara mereka berantakan karena hujan. Dan, semuanya selalu diawali dengan keyakinan Ryujoon atas cuaca yang katanya akan cerah.
Bulan lalu, contohnya, mereka jauh-jauh ke Jeju (“habisnya aku belum pernah ke sana! Mau berdua saja dengan Junghan-ie biar romantis!” Seperti itu alasannya). Lantas begitu sampai, mereka disambut hujan deras. Seharian hanya bisa berteduh di kafe, hingga waktunya menyeberang pulang. Hari itu, tentu saja Ryujoon tak mengindahkan ramalan cuaca yang mengatakan ada badai yang akan melintasi Jeju dan sekitarnya. Junghan sudah memperingatkan, dan hanya ditanggapi dengan tawa, dan pemuda itu tetap menariknya keluar dari apartemen.
“Ha—atchi!”
Suara bersin membuatnya tertegun.
“Ha—tchi!” Dahinya berkerut, menyadari suara itu berasal dari Ryujoon yang berdiri beberapa langkah darinya. Hah. Lihat. Siapa yang basah kuyup dan menggigil kedinginan, dan siapa yang mulai bersin-bersin.
“Junghan-ie,” akhirnya pemuda itu berhenti bersin. Junghan memerhatikan, hidung Ryujoon memerah setelah jarinya menggosok-gosok, ia memang tidak sebasah Junghan tetapi jelas lengan sweaternya tampak menggelap terkena air. Pun ujung jinsnya agak basah. Converse biru itu selamat dari terendam genangan air, tetapi mendekati solnya, ada bekas-bekas percikan air.
“Kamu—kedinginan ya?”
Tak beberapa lama, tangannya ditarik. Pemuda itu memaksanya berdiri berhadapan.
“Sini. Tangannya kuhangatkan.”
**
“Junghan-ie! Lihat! Ada pelangi!”
Mereka masih dipayungi atap halte. Hujan sudah reda. Digantikan gerimis, rintik-rintik sendu. Awan gelap terbelah cahaya matahari yang mengintip. Hanya tersisa genangan air di atas aspal dan trotoar, memantulkan langit abu-abu yang kian cerah.
“Ayo! Ayo lihat pelangi! A—HUATCHI!”
Lee Junghan menggeleng, sungguh bingung dengan pemuda itu.
“Jangan bersin ke arahku, Ryujoon.”
Junghan masih merasakan kemejanya belum kering benar. Rambutnya pun masih agak basah—tengkuknya masih merasa dingin. Namun ia tak menggigil kedinginan.
“Maaf deh, habis ini aku bersinnya tidak akan ke arah Junghan-ie.”
Ah, ya. Ryujoon belum melepaskan tangannya, masih digenggam erat, dan—memang hangat. Ajaib sekali.
**
“Junghan-ie, besok kita nggak usah jalan-jalan deh. Di apartemenmu saja, kita nonton Pororo. Ya?”
“…besok aku ada janji sama temanku.”
“Yaaaah—pokoknya besok aku mau nonton Pororo sama Junghan-ie!”
Lee Junghan masih tidak paham akan tingkah Chae Ryujoon. Keras kepala, berisik, sok tahu, egois, kekanakan—dan kenapa pula Lee Junghan masih menuruti tiap kemauannya.
Mungkin benar, kalau cinta membuat orang jadi hilang akal, ya?