Sweetpeas and Poppies
Poppy is peace, and sweetpea is delicate pleasure.
“It’s one hell of a weird day.”
Secangkir latte—lengkap dengan latte artnya, bergambar kucing hari ini, cute—di meja bundar menguarkan aroma sangat harum. Éclairnya sudah digigit setengah. Gadis itu tidak duduk sendirian. Mungkin tampak aneh awalnya ketika kursi itu mulai menjadi spot berpenghuni, tetapi barista itu terasa lebih cocok menjadi temannya mengobrol di kafe ketimbang sekadar pegawai yang melayani. Pemuda yang secara personal mengantarkan latte ke meja nomor lima tersebut duduk di depannya, sebelah alis terangkat seusai si gadis menuturkan kalimat pertama untuk menceritakan harinya. Belum, dia belum menyentuh latte yang masih mengepul. Jemarinya menyisir helai-helai kecokelatan yang semakin panjang, belum sempat dipotong lagi, alasannya.
“Well, shall I make another cup, for accommodate the story,” pemuda itu tersenyum tipis, menjeda pertanyaannya—dia kenal benar, kenal benar nada bicara teman mengobrolnya yang satu itu, “Summer?”
Dengusan pelan gadis kita—Summer, ingat namanya—disusul lambaian tangan, artinya ‘tidak usah’.
“Tidak sibuk?” Sebelum dia mulai cerita panjangnya, bertanya dulu. Basa-basi, sebenarnya. Sekarang sudah pukul sembilan, dua jam lagi kafe ini tutup, dan nyaris tak ada pengunjung. Kecuali Summer sendiri, tentunya. “Aku bisa cerita sampai tengah malam. Oh, jangan sampai kau dipecat Max karena mangkir dari pekerjaan. Sudah baca koran, kan? Sepertinya ekonomi kita akan memburuk, sulit mencari pekerjaan.”
Pemuda itu hanya tertawa. Tergelak, geli. Menular sepertinya, dia ikut terkekeh. Damian—nama pemuda itu, dan jantung Summer punya kebiasaan buruk melewatkan satu kali detaknya tiap nama itu terbersit—jika dia tertawa, ada kerut-kerut tipis di sisi kelopak mata, pipinya naik seperti menggembil, menggemaskan (oh no, she thought he’s cute). Suara tawanya tidak membahana, tidak mengganggu, mirip seperti ketuk pelan pada lantai kayu kabin untuk berkemah. Hangat. Ia berhenti tertawa, untuk mengulum senyum, dan diam-diam memerhatikan bagaimana pemuda itu mulai reda tawanya. Sampai bersirobok dua pasang mata, sama-sama tersenyum pemiliknya.
“Kurasa Max akan kesulitan kalau aku sampai dipecat. Nanti dia bisa kehilangan pelanggan setianya, yang selalu duduk di meja nomor lima,” jawaban itu membuatnya memasang tampang kaget, palsu. Scandalous. “Apa? Memang benar, kan? Siapa yang akan membuatkanmu latte art Iron Man kalau bukan aku?”
Gilirannya yang tertawa lebih dulu. Dehem dari balik counter menghentikan tawanya. Oh, rekan kerja si barista ternyata. Alih-alih kembali ke posnya—di depan mesin espresso—barista ini cuma melirik, lalu sebelah tangannya terlipat di atas meja. Tangan kanan menopang dagu, punggungnya condong ke depan. Memandang lurus pada si gadis musim panas, “ayo, aku mau dengar ceritamu hari ini.”
Ia tersenyum geli. Walau sebenarnya, bisa merasakan barusan jantungnya melakukan aksi akrobatik di balik rusuk. Beberapa pekan menghabiskan waktu seperti ini, masih belum terbiasa jika sepasang kelam itu menatapnya seolah ia adalah pusat dari dunia. Kepalanya kosong sesaat, ketika balas menatap. Itulah alasannya untuk mengalihkan pandangan, akhirnya memilih untuk melirik ke arah cangkir minumannya yang masih mengepul tipis. Berdehem sekali, ia akhirnya menemukan kata-kata untuk membuka ceritanya malam ini.
“Semuanya berawal dan berakhir di—”
Meraih paperbag di dekat kakinya, ia menghela napas, kemudian mengangkat bahu. Buket bunga berwarna ungu dan putih menyembul.
“—bunga-bunga ini.”
Seingatnya, ia bekerja sebagai ilustrator untuk event organizer. Terakhir kali mengecek e-mail isinya masih draf-draf kasar beberapa poster yang harus disubmit dua pekan terakhir. Akan tetapi hari ini, delapan belas menit setelah dia duduk di kubikel, menghadap monitor—bahkan belum memulai review draf poster—asisten bosnya tiba-tiba menghampiri dengan setumpuk map manila di tangan. Bukan, bukan karena map itu dia mengangkat alis keheranan. Melainkan saat setumpuk map berwarna pastel tersebut diletakkan di mejanya, dan map paling atas—yang berwarna baby pink—menerakan nama yang asing; Spring Avenue Florist.
“Um—florist?” Ilustrator itu sedang memastikan apakah asisten andalan bosnya tidak salah alamat. “Liz, dekorasi bukan bagianku. Ashley, dia di sana,” sampai mengedikkan dagunya ke arah rekan di kubikel ujung, tak lain dia yang berwenang urusan venue hingga dekorasi.
“Bukan, bukan. Ini untuk buket bunga pernikahan klien,” Liz, wanita keturunan Irlandia, dengan rambut merah menyala. Pretty ginger, very pretty one. Lebih tua tiga tahun darinya, tetapi pengalaman kerjanya di dunia EO sudah lebih dari cukup. Jika dia mengambil keputusan, sewajarnya itu adalah pilihan yang paling tepat. Ia pun percaya pada Liz, tetapi sampai tangannya membuka satu demi satu map, ia masih belum mengerti konsep permasalahan yang disodorkan untuknya.
Pernikahan, bunga, buket—dan kenapa ilustrator yang mendapat tumpukan map ini?
“Klien kita, tadi menelepon dan bilang ingin dipilihkan kira-kira bunga apa yang cocok untuk pernikahannya nanti. Dia suka sekali dengan ilustrasi bunga yang diletakkan di undangannya,” ah—okay, got it. Penjelasan Liz akhirnya mencerahkan, dan ia mengangguk karena sedikit banyak mulai memahami ke mana arah percakapan ini.
“Jadi, aku harus menyesuaikan dengan hasil ilustasi kemarin—”
“Nah-ah. Summer, dia ingin kau yang memilihkan bunganya, bunga berbeda dari ilustrasi itu tetapi nuansanya sama. Mungkin kau bisa cari nanti, bawa sampel buketnya untuk difotokan pada klien kita.”
Ini, jawaban yang tidak diduga.
Toko bunga pertama yang dikunjunginya, dua blok dari kantor, hari itu kebetulan tutup. Cukup membuatnya kesal karena ia ingin perkara buket bunga segera selesai, dan masih ada setumpuk pekerjaan sungguhan yang harus disubmit paling tidak nanti sore. Berkeliling London untuk sebuket bunga terdengar konyol, maaf saja. Memang ada beberapa toko bunga yang bisa dicapainya dengan berjalan kaki atau sekali naik bus dari sini, tetapi kebanyakan tidak meletakkan variasi bunga yang dirasa cocok dengan kriterianya. Ini musim gugur, menemukan bunga-bunga berwarna sesuai gambar ilustrasi yang diberikan kemarin cukup sulit. Sekarang ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah membuat ilustrasi bunga-bunga.
“Maaf, Miss. Sedang mencari bunga?”
Ia tertegun—buyar lamunannya, dan baru sadar masih berdiri di depan toko bunga yang tutup itu. Ketika menoleh, seorang kakek tersenyum padanya. Mungkin ia berdiri terlalu lama di sana, sampai ada yang menyadari tujuannya.
“Umm, yeah. Tapi toko ini tutup dan—aku terlalu lama berpikir di sini,” mulutnya membentuk ‘o’, begitu pula matanya. Jangan-jangan saat ia berdiri, sampai menghalangi jalan. “Apa aku menghalangi jalan? O—oh, maaf,” panik, matanya melirik ke kanan dan kiri. Semoga tidak ada pejalan kaki yang memandang sinis ke arahnya, karena sudah mengganggu lalu lintas di atas trotoar ini. Namun kakek itu malah tertawa, dan menggeleng pelan.
“Bukan begitu,” ah, syukurlah. Ia bisa menghela napas, sedikit lega. “Tapi kau berpikir terlalu keras, sampai aku bisa mendengarnya,” lantas kakek itu kemudian mengangkat telunjuknya, membuat ilustrator kita mengerenyit, tetapi matanya mengikuti ke mana tangan itu terarah. “Pergilah ke balik gedung itu. Ada toko bunga kecil, aku jamin kau akan menemukan apa yang kau cari, Miss.”
Benar sekali, di sana, ada sebuah toko bunga. Terjepit di antara kafe dan minimarket. Sama sekali tak mencolok—bahkan mereka tak memajang bunga di luar ruangan.
Daripada berkeliling London, tak ada salahnya mencoba—biarpun ia ragu akan menemukan bunga yang diinginkan. Denting lonceng kecil di sudut pintu sempat mengagetkannya ketika mendorong pintu kaca berbingkai kayu tersebut. Oh. Matanya langsung disambut oleh deretan rangkaian bunga. Pun hidungnya digelitik wangi yang manis, campuran bunga-bunga itu, mungkin. Kebanyakan memang bunga musim gugur—crocus, dahlia, sternbergia—tetapi mendapati freesia dan gladiolus yang merupakan bunga musim panas, ia mulai mengerti kenapa kakek tadi bilang toko ini bisa memenuhi kebutuhannya. Semoga, ya. Semoga memang ia bisa menemukan bunga-bunga yang cocok sesuai ilustrasi itu.
Well, tetapi ia belum melihat kehidupan bergerak di sini. Maksudnya, tidak ada orang lain.
“Umm, hai? Permisi?” Tidak mungkin, kan, kalau toko bunga ini tak bertuan. Tanda ‘open’ dilihatnya tergantung di pintu tadi, sebelum masuk. Dan lampunya menyala—biarpun agak redup di dalam sini—serta thermostatnya berfungsi sebab begitu masuk ke dalam, rasanya lebih hangat dari udara musim gugur di luar sana. Ia sudah siap untuk berbalik, melangkah keluar, kalau memang tidak ada orang. Ada pintu di ujung ruangan ini, sedikit terbuka. Sekali lagi, berpikir bagaimana baiknya, apakah keluar atau menunggu? “Halo? Aku mencari bunga…oh!”
Sampai terkesiap, dan buru-buru menutup mulutnya yang melongo karena kaget. Ada orang, di sana. Pintunya terbuka dan berdiri sosok nenek dengan sweater rajutan warna marun, tersenyum ke arahnya. “Maaf menunggu, Miss,” nenek itu kelihatan ramah, dengan rambut putihnya digulung, dan senyuman yang membuat matanya tersembunyi di balik bentuk bulan sabit. Entah mengapa, ia seperti melihat neneknya sendiri. “Apa yang bisa kubantu?”
Ya, awalnya memang ia terburu-buru. Tetapi melihat nenek itu melangkah pelan, satu demi satu meniti, rasanya tak tega. Pura-pura memandangi bunga di sekitarnya, sampai suara langkah nenek tersebut terdengar cukup dekat.
“Aku—sebenarnya butuh satu buket bunga, yang mirip seperti ini,” nenek itu rupanya duduk di balik meja, letaknya beberapa langkah dari pintu masuk. Mungkin berfungsi sekaligus sebagai konter dan kasir. Ia pun mengeluarkan selembar print out desain undangan kliennya dari map yang dibawa. Meletakkannya di atas meja, menunggu nenek tersebut—sepertinya dia pemilik toko bunga ini—mengamati. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, sebab si nenek begitu pelan membuka laci, mengeluarkan kacamata—dan kaca pembesar—baru memerhatikan bunga seperti apa di kertas berwarna violet dan biru tersebut. Cukup lama, ya. Ujung sepatunya saling bertemu, gelisah. Bukannya apa, tetapi sepuluh menit yang lalu sudah pukul sebelas. Bayangannya, ketika waktu makan siang, urusan ini sudah selesai.
Nenek itu bergumam. Telunjuknya yang keriput menelusuri garis-garis gambar bunga di kertas. Senyumnya terkembang, sepertinya hanyut dalam pikiran sendiri. Untungnya, tidak lama. Sang nenek menoleh, masih mempertahankan senyumnya.
“Ini buatanmu, Miss?” Ia baru sadar suara nenek itu lembut sekali. Hangat. Buru-buru mengangguk, gadis itu. Sebelum ia lagi-lagi hanyut melamun. “Untuk pernikahanmu juga?”
Ini, membuatnya terkesiap.
“B-bukan! Bukan! Aku ilustrator untuk event organizer—itu undangan pernikahan klienku,” dan ia bisa merasakan panas merambati pipinya. Lehernya sampai sakit karena menggeleng terlalu kuat.
“Ah, kupikir untukmu, Miss. Berarti sekarang, kau sedang jatuh cinta?”
Sungguh. Ia tersedak, dan kehilangan kata-kata. Nenek itu tertawa, menggeleng pelan. Katanya, setelah berhenti tertawa, dia bisa melihat kalau ada setangkai bunga yang mulai tumbuh di hati si gadis—dan menurutnya, itu adalah cinta. Ia tak kesal dengan ucapan nenek itu, biarpun cukup mengusik. Apa yang membuatnya kehilangan kata-kata ialah pikirannya sendiri, merespon frasa ‘jatuh cinta’ dengan bayangan secangkir latte dan sepiring éclair bertuliskan ‘have a good day, Summer!’.
She is, may or may not, thinking about a certain barista, too.
Beruntunglah, nenek itu mengerti pelanggannya kehilangan kata-kata, masih tersenyum dan beranjak dari kursi, dia kemudian bilang agar si gadis menunggu dulu di sana. Sebab nenek itu merasa punya beberapa tangkai bunga yang cocok dengan ilustrasi tersebut. Sewaktu menunggu itulah, ia memikirkan lagi—apa dirinya sedang jatuh cinta?
“Di hari kerja jarang ada pelanggan yang datang siang hari,” nenek itu kembali dengan beberapa tangkai bunga dalam ember besi. Diletakkan di sebuah meja tinggi, dekat kumpulan freesia. Kontras sekali. Dari sini ia melihat putih dan ungu—sweetpea dan poppy—bersebelahan dengan freesia kuning. “Pasti ada yang memberikan alamat toko ini padamu, Miss?” Lagi-lagi ia dihadiahi senyuman hangat, mengundangnya untuk membalas dengan senyuman tipis pula, sambil mengangguk.
“Seorang kakek, waktu aku berdiri di depan toko bunga yang tutup—di seberang sana,” jelasnya.
Nenek itu terkekeh, tangannya sibuk memilih-milih tangkai bunga yang masih segar.
“Oh Damian, kebiasaannya menyapa orang asing.”
Damian?
“Kakek yang kau temui itu, Miss, pelanggan tetapku. Suamiku, Damian,” nada suara nenek itu terdengar penuh nostalgia, senyumnya mencapai mata, sepertinya tengah membayangkan puluhan tahun yang telah lewat. “Sudah lima puluh tahun, dia berkeras untuk tetap membeli bunga dariku, padahal mengambilnya tanpa membayar bukan masalah—ah, iya. Bunganya, Miss, aku hanya punya beberapa tangkai, tidak cukup untuk satu buket. Mungkin aku harus mengambil lebih banyak di rumah kaca, dan baru siap sore hari. Tidak keberatan untuk memberikan alamatmu? Kurasa sore nanti pegawaiku bisa mengantarnya.”
Anggukannya itu terasa seperti respon otomatis saja. Sebab ia masih berpikir mengenai cerita singkat nenek itu. Mengeluarkan kartu nama, dan memberikannya pada si pemilik toko.
“Oh. Sungguh kebetulan,” lagi-lagi mendengar nenek itu terkekeh, saat membaca tulisan di kartu yang dipegangnya. “Summer Jeon? Namamu, benar?”
“Ya…?” Ia menjawab, sebelah alisnya terangkat.
“Nice to know you, Miss Summer. I’m Summer, too.”
“Jadi, Summer bertemu dengan Summer?” Barista di hadapannya kelihatan terkejut pula, tetapi keterkejutannya itu cenderung ke arah terhibur, gembira. “Kebetulan yang—mengejutkan.”
Ia mendengus, akhirnya meraih cangkir latte dan menyesap isinya. Untunglah masih cukup hangat. Cerita itu, sudah sampai penghabisannya. Memang ia sengaja memotong bagian pertanyaan jatuh cinta, berhati-hati agar cerita itu tidak sampai menumpahkan sedikit rahasia yang masih ditutupi. “Jelas mengejutkan. Bahkan aku bertemu dengan Damian yang lain.”
“Lucu sekali. Summer dan Damian yang lain,” pemuda itu mendesah di akhir kalimat, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Lima puluh tahun menikah itu, terdengar romantis,” sampai penuturan ini, gadis kita kembali meletakkan cangkir lattenya, mendengarkan apa yang diucapkan teman mengobrol satu itu. “Jangan-jangan…itu pertanda?”
“What?”
Sungguh, untung sekali ia sedang tak menyesap minumannya. Bisa-bisa ia tersedak, atau malah menjatuhkan cangkir. Ujaran itu—dia harus mengingatkan agar jantungnya tidak kabur duluan, dan pikirannya untuk tetap tenang, jangan mulai membuat asumsi terlalu jauh. Sayangnya itu tak membantu, karena senyum dan sepasang mata yang hilang laksana bulan sabit memenuhi pandangannya. Seolah mengajaknya untuk melanjutkan apa yang diinginkan oleh pikirannya—oh, ayolah, pasti ini karena sibuknya hari ini. Jadi pikirannya meliar tanpa bisa dikendalikan.
“Kita tunggu saja, apa Summer dan Damian yang ini,” sekali lagi jantungnya berakrobat, pemuda itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya, ibu jarinya mengusap pinggiran bibir si gadis malang yang tengah berpikir ia punya kelainan jantung, “akan jadi seperti apa lima puluh tahun lagi. By the way, minumlah hati-hati. Kalau ada bekas latte di wajahmu dan aku sedang bekerja, siapa yang akan membersihkannya?”
Malam itu, lagi-lagi ia diantar sampai ke depan flatnya. Oleh barista kita, yang berkeras tak membiarkan ‘pelanggan favorit’nya pulang sendirian di malam hari.
Malam itu pula, buket sweetpea dan poppy berpindah ke vas bunga berisi air, diletakkan di meja ruang tamu. Ia perlu lebih dari setengah jam setelahnya, untuk berhasil memejamkan mata dan terlelap.
Setidaknya ia berhasil menemukan jawaban pertanyaan terbesar di siang hari yang aneh, tadi.
Yah, ia memang tengah jatuh cinta, dan mungkin malam itu memimpikan sepasang kakek nenek bernama Damian dan Summer duduk di sudut kafe, di Westminster, tersenyum saat bertukar cerita. Bukan Damian dan Summer dari toko bunga, omong-omong.













