Ada sebuah kutipan yang sempat aku baca
Ingatlah, hidup ini indah dan meski apapun yang terjadi, kau akan tetap baik-baik saja. Karena,apapun yang terjadi padamu itu hanyalah badai di luar, sedangkan dirimu "di dalam" abadi adanya dan tak tersentuh apapun. Ingatlah juga, segala sesuatu itu cukup untuk semua orang, termasuk cinta - terutama cinta.
Aku lupa pernah membaca dimana, atau entah itu merupakan bisikan dari hatiku saja (?) Namun, aku bersyukur akan pesan semesta ini yang begitu kuat dan selalumengingatkanku ketika aku merasa mulai menggerutu tentang hidup ini.
Kutipan ini mengingatkanku kembali, jika sebenarnya sumber dari segala masalah yang menimpa kita adalah pikiran kita sendiri. Semua cikal bakal permasalahan itu timbul adalah dari pikiran negatif - terutama rasa takut- yang mana, rasa takut itu sendiri merupakan lawan rasa cinta (energi positif).
Kita terkadang terlalu takut sendirian, takut ditinggalkan, takut tidak dicintai, takut kekurangan, takut ditindas, takut dihina, takut dilupakan, takut tidak dianggap dan takut dikucilkan (dan segala macam ketakutan manusia). Rasa takut inilah yang terkadang mendorong kita menjadi bersikap/ bertingkah laku aneh dengan mencari perhatian, seperti; berusaha menyakiti diri sendiri dan orang lain agar mendapat perhatian, dan kadang-kadang tanpa sadar tindakan kita itu menjurus ke tindakan jahat dan keji pada orang lain.
Jika kita yakin bahwa kita baik-baik saja apapun yang terjadi, kita hanya ingin berjalan dan terus berjalan dalam hidup ini dengan berbagi keindahan dan kegembiraan dengan dilingkupu perasaan cinta dan kasiih. Jika kita yakin cinta itu berlimpah dan cukup buat semua, kita akan tenang-tenang saja membagi-bagikannya kepada siapa saja yang membutuhkannya. Dalam hal ini, cinta adalah energi; berupa perhatian dan kepedulian kita terhadap semesta di luar diri kita. Mulai dari sekedar memberikan jempol sebagai bentuk apresiasi kita atas karya orang lain, senyuman, sapaan, pujian, dan pemberian dalam bentuk apapun.
Mereka, yang selalu memiliki ketakutan akan kekurangan, akan selalu berpikir bahwa segala yang ia miliki masih kurang dan bisa berkurang, sehingga ia menjadi takut untuk memberi dan diberi.