Linmorgan - Kebiasaan mabuk paling manis
Tetesan air jatuh membasahi lantai, handuk mengalung dileher menutup kepala, setengah basah setelah digunakan untuk mengusap rambut silvernya yang basah setelah keluar dari kamar mandi. Helaan nafas lega lolos dari bibirnya, mandi setelah lelah seharian bekerja diluar memang sangat melegakan. Rasanya seluruh tubuhnya menjadi rileks dan siap untuk tidur.
Apalagi karna setelah ini tidak ada pekerjaan lain, hanya memikirkan bisa beristirahat dengan nyaman bersama orang terkasih saja sudah sangat menenangkan. Tinggal menunggu sang kasih yang belum juga pulang untuk kembali ke dalam pelukan saja. Manik birunya melirik jam di dinding, mengernyit kala melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. kini mulai bertanya-tanya, kenapa kekasihnya masih belum juga pulang.
ia mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas tempat tidur, layar wallpapernya menampilkan wajah tersenyum sang kekasih, dengan rambut dan mata hitamnya yang tampak jernih. melihat kearah kamera sambil menunjukkan boneka dinosaurus yang baru saja dia menangkan dari mesin capit dengan bangga. melihat itu, diam-diam ia tersenyum. kekasihnya yang tampan dan menggemaskan. ada alasan kenapa ia memasang foto itu sebagai wallpapernya. karna itu adalah satu diantara sedikitnya foto sang kekasih yang tampak bagus, mengingat kekasihnya itu tidak terlalu suka difoto dan kelakuannya yang random.
tersadar, pria yang menyandang nama Daifuku Lin itu berdeham. mulai menghubungi nomor sang kekasih.
tapi tak lama, suara deringnya malah terdengar dari luar kamar bersamaan dengan pintu apartemen yang terbuka. membuat kedua alis Lin tertaut, oh, ternyata baru saja pulang..
Lin menaruh ponselnya kembali dinakas, mengusap rambutnya sambil berjalan hendak keluar ke kamar saat pintu kamar terbuka lebar. sosok sang kekasih, dengan rambut hitamnya yang berantakan dan wajah memerah masuk dengan sempoyongan. langkahnya oleng, tapi pria itu berjalan menghampirinya dengan pasti.
“Morgan?” Lin mengernyit heran, jarang sekali ia melihat sang kekasih pulang dalam keadaan mabuk.
Morgan langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Lin, memeluknya erat tanpa peringatan. dari nafasnya yang berat, Lin bisa mencium aroma alkohol yang pekat.
“hic.. Liiinn~” panggil Morgan dengan nada manja, menduselkan wajahnya ke dada Lin. “kepala aku~ pusiingg banget~”
Lin, yang tidak habis pikir dengan kelakuan Morgan hanya bisa menghela nafas, balik memeluk tubuh sang kekasih. “iyalah pusing, kamu mabuk banget gini.”
Morgan langsung menggeleng, “aku gak mabuu~kk…”
“cuma orang mabuk yang bakal bilang gitu,” Lin terkekeh, mengusap surai hitam sang kekasih sambil menatap wajahnya yang memerah. manik hitam Morgan tampak tidak fokus, dan kulit putihnya memerah sampai ke leher. “kamu pulang sama siapa?”
“hng~ tadi.. Mike—hic.. Ivan sama Lei.. hehe.. tauu gakk~ aku menang taruhan sama mereka hehe~”
“taruhan apa tuh?” Lin sudah menduga kalau Morgan akan minum dengan tiga orang itu. tentu saja Morgan akan pulang mabuk berat, toleransi kekasihnya itu terhadap alkohol cukup rendah. sedangkan Mike sangat toleran pada alkohol.
Morgan memanjat tubuh sang kekasih, melingkarkan kedua kakinya di pinggang Lin dengan manja. dan Lin, yang sudah hapal kelakuan Morgan saat sedang mabuk pun otomatis menggendong tubuh Morgan. pelukan Morgan pun semakin erat.
“mereka bilang aku–hic… gak bakal bisa lepas dari kejaran polisi kalau car steal. hing~ padahal kan aku jagoo~”
Lin tertawa, “terus kamu car steal dan lolos?”
“iya dong~ hehehe~”
gemas, Lin mencium pipi Morgan, kakinya melangkah ke arah kamar mandi. membawa Morgan dalam gendongan agar sang kasih bisa membersihkan diri dan pergi tidur.
“hebat banget sih, pacar aku.” begitu sampai dikamar mandi, Lin sudah mau menurunkan tubuh sang kekasih dari gendongan. tapi Morgan langsung menggeleng cepat, tangan dan kakinya semakin erat memeluk tubuh Lin.
“gak mau turunn!!” rengeknya.
“mandi dulu, sayang.”
“gak mauuu~!”
“sebentar aja,”
“gak mauu!”
Lin menghela nafas, Morgan tidak mau lepas sama sekali. menempel seperti koala ditubuhnya. tak punya pilihan, Lin terpaksa mendudukkan diri diatas closet, dengan Morgan dipangkuannya. karna Morgan tidak ingin jauh darinya, Lin jadi tidak punya pilihan selain ikut mandi bersamanya, walau sebenarnya ia baru saja selesai mandi.
Dengan lembut dan telaten, Lin melepaskan pakaian sang kekasih satu persatu. sedangkan siempunya sibuk mendusal dilehernya. setiap kali mabuk, Morgan memang punya kebiasaan menempel padanya seperti koala. anak itu juga akan jadi lebih clingy dan manja. Lin sangat menyukai sisi Morgan yang seperti ini. karna jika kekasihnya itu sadar, jangankan clingy, anak itu akan bertingkah seperti kucing tsundere. sok tegas dan cuek diluar, padahal sebenarnya ingin dekat dengannya. menurutnya tingkah Morgan ini sangat lucu, karna Morgan jadi sangat jujur saat sedang mabuk.
Dan jujur saja, clingy Morgan juga tampak sangat sexy. apalagi Morgan sangat defenseless setiap sedang mabuk.
Lin tersenyum miring, tapi berusaha tidak bertindak lebih jauh. Lin ingin menikmati waktu-waktu seperti ini dengan baik, siapa tau juga nanti ia bisa memakai momen ini untuk meledek sang kekasih.
“Uph–!”
Tapi belum sempat menyalakan keran air, Morgan tiba-tiba saja turun dari gendongannya dengan sendirinya. Lalu berlari kearah closet dan memuntahkan isi perutnya. Lin menghela nafas, menghampiri kasihnya itu, mengusap punggungnya pelan sembari sesekali memij
at belakang lehernya.
“Minum nya kebanyakan sih kamu.” Omelnya.
“Huk– huff…” tubuh pria muda itu langsung lemas didepan closet setelah memuntahkan alkohol dan isi perutnya. “Aku gak mabukk~”
Lah, masih mabuk ternyata.
Lin terkekeh kecil, apalagi karna setelah itu, Morgan lagi-lagi mengalungkan tangan ke lehernya. Mata hitamnya terpejam, bibirnya bergumam tidak jelas tanpa suara. Pria berambut silver itupun akhirnya mengangkat tubuh Morgan lagi. Membawanya ke bawah shower untuk membantunya mandi.
Jarang-jarang Morgan minum sampai semabuk ini.
Begitu selesai membantu Morgan mandi, Lin mengambil selimut dan membalut seluruh tubuh Morgan. Kekasihnya itu menurut saja, diam dengan mata setengah terpejam. Wajahnya masih memerah meski tidak separah tadi. Dan bau alkohol sudah tidak sekuat sebelumnya. Dengan selimut yang membalut seluruh tubuhnya, Sekarang Morgan malah terlihat seperti ulat besar. Lin tertawa dalam hati, mengacak rambut sang kekasih gemas.
“Lucu.”
Lin menggendong Morgan lagi menuju kamarnya, dengan hati-hati membaringkan kasihnya itu ditempat tidur. Morgan menggeliat, membuat dirinya semakin mirip dengan ulat keket dan Lin tertawa lagi.
Dengan sayang Lin mengecup pucuk kepala Morgan, lalu ikut bergabung dengannya ditempat tidur. Memeluk tubuh sang kasih erat.
“Lain kali kalau mau minum ajak aku juga. Aku gak suka yang lain lihat sifat mabuk kamu yang gemesin ini.” Ucap Lin sambil mengusap belakang kepala sang kasih. Ucapannya hanya dibalas gumaman pelan dan anggukan, karna manik si surai hitam sudah sepenuhnya memejam. Nafasnya mulai teratur.
“Goodnight, sayang.”
Lin terpejam, ikut berkelana ke dalam mimpi memeluk sang kasih.











