Na Yeogisseo, Hyung.
Bobby & Jinhwan
“Dalam program survifal ini, akan ada dua member baru yang telah kupilih secara hati-hati. Bagi kalian yang tidak menunjukkan banyak peningkatan, akan dieliminasi.”
Jinhwan’s POV Hatiku seakan diremas-remas dan dilempar begitu saja. Begitu sakit rasanya. Aku tak bisa berkata apa-apa di hadapannya. Aku terus menundukkan pandanganku. Tidak ada nafsu dalam jiwaku untuk menatap apalagi medengar kalimat-kalimat menusuk yang terus ia lontarkan dari mulutnya. Tapi pada kenyataannya, telingaku masih berfungsi baik dan kata demi kata yang ia ucapkan tak terhidarkan. Aku menatap dua remaja lelaki di hadapanku. Kami semua duduk melingkar. Member tim B lainnya saling merapat dan duduk menatap kearah dua lelaki asing itu. Aku sempat melihat Hanbin. Dan ia tampak sama sekali tidak berada dalam kondisi bahagia. Jiwon mengelus kasar tangan Hanbin. Secara tidak langsung mengajaknya duduk. Gerakan tangannya seakan mengatakan “Sudah, duduklah dulu. Semuanya akan baik-baik saja”. Tapi sorotan mata Hanbin sama sekali tidak mengiyakan gerakan tangan Jiwon bahwa “Semuanya akan baik-baik saja.” Satu persatu member tim B memperkenalkan dirinya. Hanbin, Donghyuk, sekarang giliranku. Dengan berat kuangkat wajahku. Menatap wajah dua orang laki-laki -yang harus kuakui cukup tampan- tersebut satu persatu. “Aku Kim Jinhwan. Dan aku 21 tahun.” Ucapku singkat. Seluruh orang di ruangan ini menatapku. Seakan menuntut penjelasan tentang pribadiku yang lebih luas. Tapi hanya ini. Memang hanya seperti inilah aku. Junhoe segera menyambung pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya. Disusul dengan Jiwon yang memulai perkenalannya dengan menyalami dua anak baru itu. Bukannya aku tidak menyukainya. Hanya saja, Jiwon seharusnya tidak perlu bersusah payah membuat mereka merasa nyaman dengannya. Entahlah. Yunhyung memperkenalkan dirinya dengan sedikit tawa-tawa kecil. Dia bahkan mengatakan bahwa ia merasa mirip dengan salah satu anak di hadapan kami. Aku mengerti. Dia tidak ingin membuat dua member baru itu canggung berkepanjangan.
Jiwon’s POV
Aku sangat lelah hari ini. Kabar-kabar yang terus-menerus berganti dengan labilnya mebuat kepalaku terasa sakit sekali. Kami semua pulang ke dorm setelah hari yang terasa begitu panjang ini. Kami semua. Termasuk dua trainee baru yang akan segera bergabung dengan tim kami. Aku mengusap dahiku yang penuh dengan peluh. Akupun berjalan menuju kamar Jinhwanie hyung. Dan seperti yang aku harapkan, dia ada di sana. Duduk di kasurnya, menatap kosong lantai. Aku tahu persis apa yang sedang dipikirkannya.
Jinhwan’s POV Aku memasuki dorm bersama dengan dongsaeng-dongsaengku. Kami semua memasang mimik muka yang sama. Bahkan dua trainee barupun juga demikian. Kami semua saling diam. Tidak ada yang mencoba berbicara. Aku beranjak masuk ke kamarku. Kulepas jaketku yang sedari tadi melindungiku dari dinginnya udara di Seoul. Kutarik nafas sepanjang mungkin. Dan ku lepas bersamaan dengan semua rasa letih yang tak pernah hilang selama tiga tahun belakangan.
Donghyuk’s POV
Aku melepas sepatuku sembarang sesampainya di dorm. “Aku pulang.” Ujarku sebelum akhirnya berjalan gontai menuju kamarku dan Jinhwan. Ku lihat Jinhwanie hyung meletakkan jaketnya di ranjang dan membuang nafas berat. Wajahnya nampak begitu lelah. Tapi tidak hanya itu. Seperti yang kita semua-tim B- rasakan bersama. Kekecewaan. Ia kecewa dengan pengunguman baru hari ini. Kami semua tentu merasakannya. “Hyung, gwenchana?” tanyaku khawatir. “Gwenchana.” Balasnya singkat seraya memungut jaketnya dari ranjang dan menggantungkannya di gantungan balik pintu. Tentu saja ia akan menjawab seperti itu. Dia bukanlah tipe lelaki yang membuka hatinya dan mengumbar gejolak perasaannya begitu saja. Ia lebih suka diam dan berlagak seperti ia baik-baik saja dan secara diam-diam meneteskan air mata. Aku tahu itu. Kami semua tahu itu. Jinhwan kembali duduk di ranjang ketika aku yang baru saja akan naik ke kasur di atas miliknya menoleh saat melihat Jiwon masuk ke kamar kami. Jiwon menatap Jinhwan persis seperti aku menatap Jinhwan hyung beberapa detik lalu. Jiwon melirikku saat mengetahui bahwa aku juga berada di ruangan ini. Aku melirik Jinhwan kemudian membuang nafas sebagai kode untuk Jiwon bahwa Jinhwan sedang benar-benar tidak bahagia. Jiwonie hyung mengangguk. Ia kemudian menolehkan kepalanya ke luar ruangan sebagai isyarat untuk memberikan Jinhwan dan Jiwon hyung waktu untuk bicara berdua. Aku hanya menurut dan menuruni tangga kasurku dan beranjak keluar serta menutup pintu.
Jiwon’s POV Aku berjalan mendekati Jinhwan yang sempat menoleh kearahku sesaat setelah Donghyuk menutup pintu. “Gwenchanayo?” Tanyaku basa-basi. Tentu saja aku tahu bahwa dia tidak sedang baik-baik saja. Jinhwan hyung menarik panjang nafasnya untuk yang kesekian kalinya. Aku pikir dia akan segera menumpahkan isi hatinya. Tapi ternyata tidak. Ia kembali menatap lantai. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang menutupi segala perasaannya. Aku dongsaengnya. Kita masuk ke YG dalam pekan yang sama. Dengan usia yang sepantaran. Dengan latar belakang yang juga sama-sama meninggalkan keluarga di tempat yang jauh. Menjadi trainee selama tiga tahun lamanya bersama. Menghabiskan sisa hari di dorm yang sama. Dan ia masih berani bersikap tertutup terhadapku? “Yya Jinhwanie hyung! Katakan padaku!” ucapku berusaha membuatnya berbicara. “Nan gwenchana.” Balasnya tanpa sedikitpun melirikku. “Yya Kim Jinhwan!” bentakku tanpa tanggung-tanggung. “Gwenchanayo!” Jinhwanie hyung berteriak balik menatapku. Nafasnya nampak berat. Tes Setitik air mata mengalir keluar dari mata indah Jinhwanie hyung. Bergerak menuju pipinya yang sangat milky. Namun sebelum air mata itu melewati pipinya, ia menghapusnya dengan sangat kasar. Aku menatapnya dengan iba. Tidak hanya untuknya. Tapi juga untukku, Hanbin, Donghyuk, Yunhyung, dan Junhoe. Aku merasa bahwa kita semua nampak sangat menyedihkan. Hatiku semakin terasa sesak. Ingin rasanya melepaskan rasa yang sangat berat ini. Ingin rasanya aku menangis. Namun dengan segala upayaku, aku menahannya. Tapi sepertinya Jinhwanie hyung tidak sama denganku. Ia tak sanggup menahan air matanya. Lagi, air matanya kembali jatuh. Di sambut dengan air mata lainnya yang terus mengalir membasahi wajah bayinya. “Hyung..” ujarku saat melihat wajahnya basah. Ia semakin terisak. Aku tak tahan lagi. Aku langsung memeluknya. Membiarkan ia menangis di pelukanku. Begitu pula denganku. Air mata kepedihan yang selama ini kupertahankan agar tak tumpah, akhirnya jatuh dan membasahi pundak hyungku ini. “Otokkeyo?” tanyanya dalam tangisnya. “Apa yang harus aku lakukan?” lanjutnya lagi. Aku memeluknya lebih dalam. Membiarkannya merasakan keberadaanku. Membiarkannya merasakan bahwa aku akan selalu ada di sini. Di sisinya. Aku dapat merasakan bahu mungilnya bergoncang. Akibat isakan kuat yang berusaha kuredam dengan pelukanku. “Hyung, kkurjima” ujarku tepat di depan telinganya. Aku mengelus tengkuknya yang halus. Mengelus-elus rambutnya yang sangat halus juga. Jinhwan masih terus menangis. Air mataku juga terus menetes tanpa henti. “Inikah hasil yang kita dapatkan setelah tiga tahun kerja keras? Mengapa semua ini terasa sangat tidak adil? Tidak bisakah dia mempercayai kita?” tanyanya tanpa henti di dalam pelukku. Aku merenggangkan pelukan kami. Kuletakkan tanganku dia atas bahunya. Membuatku dapat melihatnya. Tapi ia masih menunduk. Menyembunyikan wajah imutnya di balik poni tebalnya. Aku kembali memegangi tengkuknya. Berharap dia mau menatapku. Tapi ia tak melakukannya. Hanya isakan-isakan yang membuat bahunya naik-turun tak terkontrol. “Hyung..” panggilku agar dia menoleh. Lagi-lagi ia hanya diam. Dengan pelan aku mengusap pipinya yang sangat lebut. Sembari menurunkan kepalaku untuk menatapnya. Perlahan ia mengangkat kepalanya. Menatapku tepat di mata. Masih dengan senggukan kecil. Sebuah air mata kembali jatuh dari matanya. Kuusap lagi air itu. Aku mengelus rambut tengkuknya. “Gwenchanayo, hyung. Kita semua merasakan yang sama. Kita lalui ini bersama. Bagaimana?” ucapku lembut disertai dengan senyum kecil. Jinhwan mengangguk kecil. Membuat poninya ikut bergerak dengan imutnya. Wajah kecil hyungku ini tampak sangat mungil dan milky. Memberikan kesan kuat yang membuat siapapun yang melihatnya ingin menciumnya.













