Bahasa Cinta
Yang aku tahu, ayah bukan perakit kata yang handal. Mungkin karenanya pula aku jengah dengan ucapan kosong langkah.
Lebih daripada itu, caranya peduli sering membingungkan. Pulang dari hangout bersama teman, ayah akan menginterogasi sedemikian rupa, 'berhasil dapat apa pada terbuangnya waktu hari ini'.
Mengantongi prestasi itu dan ini, ucapan selamat akan tergulir hanya dua kali-sekali, sisanya yang berulang kali, ialah pertanyaan tentang detail-detail perjuangan. Tanpa selamat, namun semburat bahagia tampak jelas di wajahnya.
Aku hanya tau, ia memang tak pandai merangkai kata.
Caranya perhatian juga kerap membingungkan, ia gemar membercandai kita. Bila lama tak bertemu muka, bukan tanya kabar yang dilempar, melainkan mengingatkanmu tentang kekonyolan masa lalu.
Tak heran, aku yang dulu banyak menangis diam-diam pada bahasa cinta ayah. Aku yang masih bingung pada diri sendiri, semakin bingung tak bisa memahami. Nyatanya lagi ayah tak terima kita menangis, sebentar boleh saja katanya, tapi siapa yang bisa mencegah deraian air mata?
Oh, merajuk saja katamu? Itu upaya paling mudah memantik bahasa cinta ayah yang baru. Jangan harap akan dibujuk atau dihangati kalimat-kalimat indah, tak akan. Bahasa cinta ayah pada orang merajuk, lebih membingungkan. Mungkin itu cara dia memberantas naluriah kami yang mengharuskan ia menebak banyak rasa. Daripada nantinya salah bersikap, ayah cenderung memaksa untuk, 'sampaikan saja, jangan lari dari masalah, yang merajuk itu, bukan anak ayah'.
Bahasa cinta ayah, memang membingungkan.
Namun ada satu bahasanya yang lekat di kepalaku, ayah dan kemampuannya merakit semua benda. Ia tak senang berantakan, ia juga tak senang sesuatu tercerai berai, ia pula benci membuang barang. Maka akan kau temukan di berbagai sudut rumahku, perabot-perabot lama dengan polesan ribuan kalinya. Termasuk mesin cuci di belakang yang tiap tahun ada saja ceritanya, lalu ayah akan menghadapinya di sore hari sambil 'mencari-cari keringat'.
Atau juga, casing gadget ku yang lepas, tas yang terurai talinya, cassan yang gompel-gompel, ketika pulang tahunan ke rumah, semua itu jadi baru lagi. Tanpa perlu berkata, ia tiba-tiba sudah meletakkannya di atas meja dengan sedikit bahasa cinta tambahan, 'kamu tuh ya, adaaaaaa aja barangnya'
Menapaki hari ini, aku sudah mulai tak bingung. Menerjemahkan bahasa cintanya menjadi ketawa di penghujung hari atau renungan di suatu malam. Aku dan kakaku kini jadi sering membahas, betapa penuh 'teka-teki' nya bahasa cinta ayah. Kadang pun satu-dua seakan memancing untuk menangis lagi, tapi satu sama lain, kami, sudah bisa saling menerima.
Ayah adalah sebenar-benar representasi lelaki tak manis kata pada rasa wanita. Atau agaknya ia ingin bermanis ria, namun ia memilih menerabasnya dan melatih kami pula bisa memegang kendali atas gelora rasa 'berlebihan' itu.
Namun jangan dilawan, ayah tetap pemegang medali emas 'talk less, do more'. Manusia yang harum semua effortnya tanpa perlu keluar dari ucapnya. Aih, semoga aku bisa begitu juga!










