15 First Reader - The Lady In Red by Arleen A.
Hey yo ! I’m back...after being gone a century, I guess ?
After all the blank promises to keep writing, I guess I just can’t fulfill it, ‘cause all the tugas kuliah non-stop bikin kepala pecah dan waktu habis tanpa sisa shit happened all this time.
So, let’s dive into this topic stated in the title above, shall we ? ;)
I had been chosen by the writer, a.k.a. Miss Arleen herself, to be her 15 first reader ! How really happy I am as an avid novel reader to get this rare chance and of course, getting a free book to read ! I just have to ‘pay’ in the form of making a review of this book.
A promise is still a promise, even though I write this a bit later than almost all the other 14 readers, here is my “hope-it-is-quite-complete” review about this epic book. Ah, and I will write the review in Bahasa Indonesia, tho, so that people won’t have any difficulties in reading this review (and to prevent any comments that accuses me for being not nationalist).
P.S. : WARNING ! SPOILERS AHEAD !
Jadi secara singkat, buku ini bercerita mengenai kisah romansa yang dituturkan lintas generasi, dengan fokus tokoh nenek dan kakek buyut, lalu sedikit kilasan kisah nenek dan kakek, melompati ayah dan ibu (cucu si buyut), dan kembali fokus lagi ke kisah cinta para cucu (buyut dari yang tertua). Kalau bercerita soal pohon keluarga yang memiliki silsilah panjang memang agak ribet sih...
Enaknya mulai dari mana ya ? I guess, dari covernya dulu kali ya.
Covernya cukup bagus, dengan unique perks berupa bagian merah muka sang tokoh bisa dibuka-tutup. Tipe kertas cover-nya cukup memuaskan, apalagi di bagian hitamnya, di mana cover tersebut dilaminasi seperti tipe-tipe cover buku-buku GPU jaman dulu, karena mencari cover buku novel terbitan GPU seperti itu sekarang sulit ditemui. Namun sayangnya, bagian merahnya justru merupakan kelemahan terbesar dari cover tersebut, karena tidak ikut dilaminasi sekalian dan sangat rentan rusak. Punyaku saja itu bagian poninya sudah separuh bengkok dan terlihat bekas putih seperti bekas lipatan. Harusnya bagian merahnya juga disamakan seperti bagian hitamnya, sehingga lebih tahan “banting”.
Beralih ke bagian terutamanya, yaitu cerita dari buku ini. Seperti di penjelasan singkatnya di atas, ini merupakan cerita lintas generasi. Perhatian bagi Anda semua yang tidak menyukai tipe cerita lintas generasi, mungkin buku ini bukan untuk Anda. Namun, novel romantis seperti ini totally my style dan aku tidak pernah protes disuguhi cerita semacam ini. Penuturan bahasanya cukup baik dan cukup mudah dimengerti, kecuali di beberapa bagian yang entah kesalahan editor atau (maaf) penulisnya sendiri, seperti di :
- Halaman 11 baris ke- 22 hingga 24, lalu halaman 12 baris ke- 10 dan 11, lalu halaman 38 baris ke-37 hingga 40 di mana terdapat pernyataan yang sesungguhnya menurutku tidak perlu (karena orang-orang juga tahu kalau itu bukan jaman modern)
- Halaman 13 baris ke-11 dan 12 yang menurutku sedikit tidak masuk akal, karena sepintar apapun seorang anak berusia dua tahun di jaman apapun, pertanyaan yang dilontarkan kurasa terlalu rumit.
- Halaman 37 baris ke-1 dan 2 yang penggunaan kalimatnya sedikit kurang efektif.
- Halaman 51 baris ke-8 di mana frase ‘orang kapal’ tanpa penjelasan yang jelas, sehingga belum tentu dimengerti pembaca-pembaca awam.
- Halaman 77 baris ke-6 terdapat kalimat singkat yang kurang jelas, ‘kata suara berat’ saja tanpa tambahan apa-apa yang menurutku akan lebih jelas bila ditambahkan ‘itu’.
- Di halaman Pohon Keluarga Gregory Drew yang terdapat kesalahan penulisan yang mestinya ‘Wotton Farm’ menjadi ‘Warden Ranch’.
- Halaman 148 baris ke-6 yang semestinya jika ingin menulis lima derajat di atas nol, tidak perlu memakai plus menurutku, karena walau tujuannya ingin memperjelas, menjadi kurang efektif.
- Halaman 177 baris terakhir yang semestinya tidak usah dituturkan, karena membocorkan rahasia alur cerita di beberapa paragraf selanjutnya.
- Halaman 268 baris ke-16 dan 17 terdapat kalimat yang menurutku tidak perlu ditulis, karena terasa kurang ‘nyambung’ sama kalimat berikutnya dan terkesan kurang efektif.
- Halaman 317 baris ke-10, kata ‘Brandon’ yang diikuti dengan titik semestinya menurutku diganti dengan ‘Brandon?’ agar lebih ‘nyambung’ dengan kalimat selanjutnya.
- Halaman 353 baris ke-14 dan 15, di mana Robert, anak dari Rhonda dan Greg, meminta dibacakan cerita tentang tokoh Spider-Man. Perlu diingat kejadian ini terjadi bertahun-tahun setelah tahun 2020 (semestinya) dan setidaknya menurutku, Spider-Man bukan cerita anak-anak yang terlalu lintas generasi walau tokohnya sudah lama diciptakan dan di-recycle dengan pemain-pemain baru, belum tentu jauh setelah tahun 2020 masih ada (atau mungkin juga masih, kita tidak pernah tahu).
Lalu sedikit tambahan, semestinya cerita bagian tentang Wanda dan Jerry Stephens itu bisa ditambahkan lagi setidaknya panjangnya menyeimbangi cerita dari Nana Betty dan Robert Wotton, karena sebenarnya cerita mereka cukup menarik dan sayang bila kesannya harus dipersingkat seperti itu.
Namun dengan segala kekurangannya di atas, buku ini tetap memikat dan membuat pembacanya menebak-nebak jalan ceritanya. Hal itu dikarenakan cerita-cerita mengenai Si Topi Merah dan Sang Serigala yang sebenarnya memberikan clue-clue terhadap kelanjutan cerita ini, ditambah lagi jumlah halamannya yang cukup tebal ternyata tidak membuat bosan yang baca. Rasa heart-wrenching (entah apa Bahasa Indonesia-nya) yang aku rasakan saat membaca kisah cinta Rhonda dan Greg yang berliku serta gemas yang disertai rasa “ingin menghantam” wajah si Brandon dengan segala tingkah liciknya juga kurasakan ketika membaca ini.
Pembaca seakan dibuat ikut menjelajahi waktu dengan kisah-kisah para tokoh utama di buku ini. Anehnya, dengan fokus tokoh utama di awal dan akhir yang berbeda, lalu alur cerita maju yang jangkanya sangat lama hingga lebih dari satu abad, aku tidak merasa ribet atau ruwet atau pusing S.A.M.A. S.E.K.A.L.I.
I’m so waiting for your next piece, Miss Arleen ! Ditunggu cerita-cerita hebat yang akan terlahir di tangan Anda berikutnya, karena ekspektasi yang telah dibangun dalam cerita ini cukup tinggi.
Sebagai penutup, aku akan mengutip satu quote favorit aku dari buku The Lady In Red ini :
“Tapi sejauh apa pun dirimu pergi
Sejauh apa pun perasaanmu menjauh
Selalu akan ada tempat yang menarikmu pulang
Selalu akan ada hati yang menarikmu kembali”
Skor :
Cover : 7/10
Isi : 9/10
Tipografi dan penataan kalimat : 7/10
Penyampaian emosi : 8.5/10
P.S. : ah iya, I do hope that you will buy this book ‘cause this book is much a recommended one. JANGAN PINJAM-PINJAM YA :)








