Hey yo ! Iām back...after being gone a century, I guess ?
After all the blank promises to keep writing, I guess I just canāt fulfill it,Ā ācause all the tugas kuliah non-stop bikin kepala pecah dan waktu habis tanpa sisa shit happened all this time.
So, letās dive into this topic stated in the title above, shall we ? ;)
I had been chosen by the writer, a.k.a. Miss Arleen herself, to be her 15 first reader ! How really happy I am as an avid novel reader to get this rare chance and of course, getting a free book to read ! I just have toĀ āpayā in the form of making a review of this book.Ā
A promise is still a promise, even though I write this a bit later than almost all the other 14 readers, here is my āhope-it-is-quite-completeā review about this epic book. Ah, and I will write the review in Bahasa Indonesia, tho, so that people wonāt have any difficulties in reading this review (and to prevent any comments that accuses me for being not nationalist).
P.S. : WARNING ! SPOILERS AHEAD !Ā
Jadi secara singkat, buku ini bercerita mengenai kisah romansa yang dituturkan lintas generasi, dengan fokus tokoh nenek dan kakek buyut, lalu sedikit kilasan kisah nenek dan kakek, melompati ayah dan ibu (cucu si buyut), dan kembali fokus lagi ke kisah cinta para cucu (buyut dari yang tertua). Kalau bercerita soal pohon keluarga yang memiliki silsilah panjang memang agak ribet sih...
Enaknya mulai dari mana ya ? I guess, dari covernya dulu kali ya.
Covernya cukup bagus, dengan unique perksĀ berupa bagian merah muka sang tokoh bisa dibuka-tutup. Tipe kertas cover-nya cukup memuaskan, apalagi di bagian hitamnya, di mana cover tersebut dilaminasi seperti tipe-tipe cover buku-buku GPU jaman dulu, karena mencari cover buku novel terbitan GPU seperti itu sekarang sulit ditemui. Namun sayangnya, bagian merahnya justru merupakan kelemahan terbesar dari cover tersebut, karena tidak ikut dilaminasi sekalian dan sangat rentan rusak. Punyaku saja itu bagian poninya sudah separuh bengkok dan terlihat bekas putih seperti bekas lipatan. Harusnya bagian merahnya juga disamakan seperti bagian hitamnya, sehingga lebih tahanĀ ābantingā.
Beralih ke bagian terutamanya, yaitu cerita dari buku ini. Seperti di penjelasan singkatnya di atas, ini merupakan cerita lintas generasi. Perhatian bagi Anda semua yang tidak menyukai tipe cerita lintas generasi, mungkin buku ini bukan untuk Anda. Namun, novel romantis seperti ini totally my style dan aku tidak pernah protes disuguhi cerita semacam ini. Penuturan bahasanya cukup baik dan cukup mudah dimengerti, kecuali di beberapa bagian yang entah kesalahan editor atau (maaf) penulisnya sendiri, seperti di :
- Halaman 11 baris ke- 22 hingga 24, laluĀ halaman 12 baris ke- 10 dan 11, lalu halaman 38 baris ke-37 hingga 40Ā di mana terdapat pernyataan yang sesungguhnya menurutku tidak perlu (karena orang-orang juga tahu kalau itu bukan jaman modern)
- Halaman 13 baris ke-11 dan 12 yang menurutku sedikit tidak masuk akal, karena sepintar apapun seorang anak berusia dua tahun di jaman apapun, pertanyaan yang dilontarkan kurasa terlalu rumit.
- Halaman 37 baris ke-1 dan 2 yang penggunaan kalimatnya sedikit kurang efektif.
- Halaman 51 baris ke-8Ā di mana fraseĀ āorang kapalā tanpa penjelasan yang jelas, sehingga belum tentu dimengerti pembaca-pembaca awam.
- Halaman 77 baris ke-6Ā terdapat kalimat singkat yang kurang jelas,Ā ākata suara beratā saja tanpa tambahan apa-apaĀ yang menurutku akan lebih jelas bila ditambahkanĀ āituā.
- Di halaman Pohon Keluarga Gregory Drew yang terdapat kesalahan penulisan yang mestinyaĀ āWotton Farmā menjadiĀ āWarden Ranchā.
- Halaman 148 baris ke-6Ā yang semestinya jika ingin menulis lima derajat di atas nol, tidak perlu memakai plus menurutku, karena walau tujuannya ingin memperjelas, menjadi kurang efektif.
- Halaman 177 baris terakhirĀ yang semestinya tidak usah dituturkan, karena membocorkan rahasia alur cerita di beberapa paragraf selanjutnya.
- Halaman 268 baris ke-16 dan 17Ā terdapat kalimat yang menurutku tidak perlu ditulis, karena terasa kurangĀ ānyambungā sama kalimat berikutnya dan terkesan kurang efektif.
- Halaman 317 baris ke-10, kataĀ āBrandonā yang diikuti dengan titik semestinya menurutku diganti denganĀ āBrandon?ā agar lebihĀ ānyambungā dengan kalimat selanjutnya.
- Halaman 353 baris ke-14 dan 15, di mana Robert, anak dari Rhonda dan Greg, meminta dibacakan cerita tentang tokoh Spider-Man. Perlu diingat kejadian ini terjadi bertahun-tahun setelah tahun 2020 (semestinya) dan setidaknya menurutku, Spider-Man bukan cerita anak-anak yang terlalu lintas generasi walau tokohnya sudah lama diciptakan dan di-recycle dengan pemain-pemain baru, belum tentu jauh setelah tahun 2020 masih ada (atau mungkin juga masih, kita tidak pernah tahu).
Lalu sedikit tambahan, semestinya cerita bagian tentang Wanda dan Jerry Stephens itu bisa ditambahkan lagi setidaknya panjangnya menyeimbangi cerita dari Nana Betty dan Robert Wotton, karena sebenarnya cerita mereka cukup menarik dan sayang bila kesannya harus dipersingkat seperti itu.
Namun dengan segala kekurangannya di atas, buku ini tetap memikat dan membuat pembacanya menebak-nebak jalan ceritanya. Hal itu dikarenakan cerita-cerita mengenai Si Topi Merah dan Sang Serigala yang sebenarnya memberikan clue-clueĀ terhadap kelanjutan cerita ini, ditambah lagi jumlah halamannya yang cukup tebal ternyata tidak membuat bosan yang baca. Rasa heart-wrenchingĀ (entah apa Bahasa Indonesia-nya) yang aku rasakan saat membaca kisah cinta Rhonda dan Greg yang berliku serta gemas yang disertai rasaĀ āingin menghantamā wajah si Brandon dengan segala tingkah liciknya juga kurasakan ketika membaca ini.
Pembaca seakan dibuat ikut menjelajahi waktu dengan kisah-kisah para tokoh utama di buku ini. Anehnya, dengan fokus tokoh utama di awal dan akhir yang berbeda, lalu alur cerita maju yang jangkanya sangat lama hingga lebih dari satu abad, aku tidak merasa ribet atau ruwet atau pusing S.A.M.A. S.E.K.A.L.I.
Iām so waiting for your next piece, Miss Arleen !Ā Ditunggu cerita-cerita hebat yang akan terlahir di tangan Anda berikutnya, karena ekspektasi yang telah dibangun dalam cerita ini cukup tinggi.
Sebagai penutup, aku akan mengutip satu quoteĀ favorit aku dari buku The Lady In RedĀ ini :
āTapi sejauh apa pun dirimu pergi
Sejauh apa pun perasaanmu menjauh
Selalu akan ada tempat yang menarikmu pulang
Selalu akan ada hati yang menarikmu kembaliā
Skor :
Cover : 7/10
Isi : 9/10
Tipografi dan penataan kalimat : 7/10
Penyampaian emosi : 8.5/10
P.S. : ah iya, I do hope that you will buy this bookĀ ācause this book is much a recommended one. JANGAN PINJAM-PINJAM YA :)
I have some books in my bookshelf that Iāve been thinking to sell it to you, some of my lovely booksā new owners, because my bookshelf is getting crowded ;) For those of you who wants it, just message me at my LINE : msrosie09 :)
P.S. : untuk pembelian melebihi Rp 50.000,- (exclude ongkir), dapat gratis 1 buku (judul buku aku yang pilihkan random) :) Happy shopping !
Kondisi 85%, ada label nama dan kode perpus ala-ala di samping buku, tidak disampul, sampul asli sedikit usang (tapi masih bagus), no bookmark, FULL ENGLISH.
2. Christian Simamora - All You Can Eat : 30.000 IDR
Kondisi 90%, utuh dengan figur boneka kertas bonusnys, no bookmark, no TTD, halaman bagian depan sedikit salah jilid (salah produksi dari sananya), disampul, ada coretan nama.
3. Stephanie Zen - Between The Raindrops : 30.000 IDR
Kondisi 95%, utuh dengan bookmark, no TTD, tidak disampul, ada coretan nama.
4. Syafrina Siregar - Dengan Hati : 35.000 IDR
Kondisi 90%, utuh dengan bookmark, bercak kuning sedikit di bawah buku, dengan TTD asli, tidak disampul, ada coretan nama.
Kondisi 90%, utuh tanpa bookmark, disampul, ada sedikit cacat produksi di bagian atas buku, bersih tanpa coretan, berunsur teenlit.
17. Orizuka & Lia Indra Andriana - Oppa & I (Buku 1 & 2) : @25.000 IDR
Kondisi 90% (Buku 1) dan 95% (Buku 2), utuh tanpa bookmark, disampul, di buku 1 ada coretan karakter Korea sedikit, ada coretan nama (buku 1 & 2), berunsur Korea & teenlit.
18. Agnes Jessica - Mona Jadi Lisa : 15.000 IDR
Kondisi 90%, utuh tanpa bookmark, disampul, bercak tipis kecil di halaman depan dan belakang, berunsur teenlit.
19. Asih Mitra - 10 Autumns in Korea : 20.000 IDR
Kondisi 95%, utuh dengan bookmark, disampul, ada coretan nama, berunsur Korea dan teenlit.
20. Pricilla A.W. - First Love Dilemma : 25.000 IDR
Kondisi 90%, utuh dengan bookmark, ada label nama dan kode perpus ala-ala, ada coretan nama, disampul, berunsur teenlit.
Itās been ages since Iāve logged on this blog, maybe this blog has already dusty and spider houses grow everywhere... (yeah, itās kinda exaggerated, though).
Whereās the new chapter of that story ?
Well, hereās the answer..... *phew*
That novel is now in a long hiatus. Why ? Uhm, I donāt want to make an excuse sounds like...a lame one, so I donāt literally want to make an excuse, but Iāve tried so many times to continue that story and the result : none.
I erased those parts on my note, because itās being lame and too long AND of course irrational, but I couldnāt find any replacements thatās suitable to end that story. I donāt know why, so I keep that on hiatus until now, Iām so sorry.
Iām also writing a new one right now, but Iām not going to post it here just because I let that new one become a surprise and Iām writing it in a slow pace, remembering my piles of campus assignments.
I just come by again and say hello (I know nobody would read this, though, so sad) and in my next post Iām gonna post some pictures of my old (good condition, ofc) books that Iāll sell to someone who wants it ! ;) So I think I should write that post right now because of my limited time (I have an evening class today) ;)
After soooo⦠longggg i keep this blog inhabited (bacaĀ : gak diisi tulisan), iām back with a simple 100-word flash fiction, insipred by a competition made by @nyankent in ask.fm. The theme of the competition is making a flash fiction from non-living matterās POV. So, happy reading and like this post if you like my story :) *P.S.Ā : Sage is almost finished, just wait for it guys ;)*
-- Here's the eighth chapter of Sage, guys ! Chapter nine is still on progress, wish me luck finishing that while coping with all of my assignments, guys !! Happy reading ;) xx --
Redamancy, n. : When I realize the way you look at me, I feel full. Even the brightest gold and the shiniest diamond can beat this feeling.
#8
Harum masakan menyeruak dan menyebar hingga ke ruang tengah apartemen Serene. Sam baru saja datang dan sedang duduk di tempat kesayangannya, sofa ruang tengah apartemen Serene. Entah mengapa, Serene berkata bahwa ia sedang tidak ingin dibantu apapun hari ini dan mengusir Sam keluar dari dapur saat ia baru saja masuk, sehingga Sam hanya bisa menyetel televisi sambil duduk-duduk.
"Masak apa sih, sayang ? Wangi amat, tambah lapar nih..." Tanya Sam dari ruang tengah.
"Ada saja. Nanti kamu lihat deh, sebentar lagi juga selesai kok..." Ujar Serene dari dapur. Suara laci dibuka dan piring-piring keramik berderak.
"Done !" Terdengar suara Serene beberapa saat kemudian. Sam dengan semangat langsung berdiri dan melangkah cepat menuju dapur untuk melihat hasil karya Serene.
"Gosh, baby. Aku bisa buncit kalau begini terus..." Desah Sam saat melihat apa yang dimasak Serene. Pan-seared sea bass with cream sauce and mashed potato with rosemary.
"One of your favorite food, right ?" Serene mengerlingkan sebelah matanya. Ia tahu makanan ini salah satu jenis makanan kesukaan Sam, karena saat merayakan dua bulan mereka bersama di salah satu restoran, Sam memesan hidangan satu ini.
"Absolutely." Sam langsung menyantap hidangan di depannya dan memejamkan matanya saat merasakan krim dan ikan kakap putih itu seakan meleleh dengan lembut di lidahnya.
"Jesus, this is so..." Kata-katanya terhenti, kemudian ia mencoba kentang tumbuk dan kembali memejamkan matanya.
Serene menunggu kata-kata dari bibir Sam.
"Gila ini enak banget, sayang ! Sungguh, kalau aku makan beginian terus setiap hari, aku bisa gendut." Tatap Sam sungguh-sungguh.
Serene tergelak, ia lega setidaknya kemampuan memasaknya tidak berkurang meski ia jarang masak semenjak pindah ke Singapura. Serene pun ikut menyantap masakan yang ia buat sendiri itu dan bersorak dalam hati saat merasakan masakannya ternyata memang enak luar biasa.
Ā Setidaknya, Sam tidak akan memesan delivery setiap malam saat mereka sudah menikah kelak.
Ide menikah yang baru saja melintas di benak Serene membuat Serene tersenyum bahagia.
Ā **
Ā Sebuah kotak putih gading berpita berukuran cukup besar terdapat di meja Serene saat ia baru saja sampai di kantornya. Serene bisa menebak dari siapa, apalagi Sam tidak mengantarnya pagi ini, namun isinya apa ?
Serene duduk di kursinya, menaruh tas tangannya dan tas kerjanya, kemudian membuka simpul pita lalu tutup kotak cantik itu.
Sebuah gaun panjang cantik berwarna putih gading, sepasang pump heels senada, dan dua buah amplop putih polos di atasnya menyambut mata Serene. Ia tersenyum, mengambil salah satu amplop yang terletak di atas amplop lainnya dan mengeluarkan isinya. Sebuah surat dari Sam.
Ā Be ready at 5, love, and wear that dress. You'll sure look amazing in that ā„
A black limo will be there at your office's lobby, btw ;)
-Sammy.
Ā Serene tersenyum manis, kemudian membuka satu amplop lainnya dan mengerutkan keningnya mendapati amplop itu berisi sebuah kunci.
Ā "Kunci apa ini ?" Gumamnya bingung sambil mengamati kunci itu. Bukan kunci apartemen Sam, bukan juga kunci mobil, ataupun kunci lemari. Jadi, kunci apa ?
Setelah mengamati sekian lama, namun tidak juga mendapatkan petunjuk, Serene mengangkat bahunya dan memasukkan kunci itu ke dalam tas tangannya lalu memutuskan untuk menyelesaikan sebagian pekerjaannya.
Ā **
Ā Sam tidak membual, rupanya. Sebuah limusin panjang ala tamu VVIP terparkir dengan gagahnya di depan lobby kantor Serene, menarik perhatian beberapa karyawan yang pulang tepat waktu hari itu. Serene sudah berganti pakaian dengan gaun panjang dan sepatu yang diberikan Sam, namun menutupi bahunya yang terbuka dengan blazer kerjanya, berjalan menuju limusin itu.
Limusin berjalan pelan keluar dari kantor Serene. Serene menikmati interior mewah limusin itu, walau menurutnya, Sam agak sedikit berlebihan merayakan perayaan enam bulan masa pacaran mereka.
Serene tambah terkejut lagi ketika ternyata ia dibawa menuju gedung The One Hotel & Residences dan dituntun menuju helipad yang terletak di lantai teratas gedung tersebut. Sebuah helikopter telah menunggunya. Serene mulai berpikir Sam setengah sinting walau ia tetap takjub dan menaiki helikopter tersebut. Saat ia sudah memakai headphone untuk meredam suara bising dan mengenakan sabuk pengamannya, helikopter tersebut membawanya terbang menjauh dari gedung The One Hotel & Residences.
Pemandangan gedung-gedung pencakar langit ala Singapura dan laut yang terlihat semakin mendekat membuat Serene berpikir, akan dibawa kemanakah ia ? Ia mencoba untuk berkomunikasi dengan pilot di depannya namun pilot tersebut hanya tersenyum misterius tanpa menjawab pertanyaannya. Serene semakin bingung saat posisi helikopter sudah tepat berada di atas laut biru Singapura, benar-benar meninggalkan Singapura.
Serene terus menatap jendela, masih penasaran ke mana ia akan dibawa. Namun lama-kelamaan lehernya pegal karena terus menoleh dan ia memutuskan untuk meregangkan tubuhnya yang sedikit letih. Tiba-tiba ia merasa ia mengantuk, namun ia masih ingin mengetahui kemana ia dibawa. Serene mengerjapkan matanya beberapa kali, rasa kantuk semakin menggodanya untuk mengabaikan rasa penasarannya dan membuatnya memejamkan matanya.
Ia tidak sadar ia telah tertidur berapa lama hingga ia merasa bahunya ditepuk pelan beberapa kali.
"Miss Serene ?" Suara pilot menyapa pendengarannya. Serene membuka matanya, menyesuaikan matanya dengan semburat cahaya jingga matahari sore.
"We've arrived, Miss." Suara pilot kembali terdengar. Serene perlahan beringsut turun dari helikopter dan sang pilot mengantarnya hingga ke depan pintu limusin yang menjemputnya. Saat melewati moncong depan limusin, mata Serene menangkap plat hitam limusin tersebut.
Plat BP.
Saat Serene sudah masuk ke dalam limusin yang bersuhu dingin, ia mengerjapkan matanya dan sadar...
Apakah ia berada di Batam ? Di Indonesia ?
Serene hanya bisa melongo hebat.
Ā **
Ā Limusin membawanya menuju ke arah pantai yang indah, walau langit sudah berwarna jingga keunguan, hampir menggelap.
"Selamat datang di Pantai Nongsa, Nona Serene. Silahkan turun..." Suara supir menyambutnya saat pintu sisi kiri Serene terbuka dan Serene turun dari limusin. Angin sore pantai menerpa gaun panjangnya, membuat gaun yang dikenakannya berkibar lembut. Serene merapatkan blazer yang disampirkannya di bahunya yang terbuka, kemudian ia melangkah dengan sang supir yang membimbing langkahnya menuju sebuah villa di antara villa-villa lainnya di daerah pantai tersebut. Villa yang terlihat sedikit lebih menonjol karena ukurannya yang lebih besar dan tampak eksteriornya yang benar-benar tipikal rumah pantai khas Amerika dengan warna putihnya yang menonjol.
Supir tersebut berhenti di depan tangga kayu kecil yang minimalis dan manis, kemudian membungkukkan badannya untuk pamit, lalu pergi begitu saja. Serene hanya bisa mengerjapkan matanya bingung, karena belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung, kemudian ia meniti tangga itu perlahan. Terlihat seakan rapuh, namun saat ia injak ternyata kokoh. Serene suka dengan villa ini.
Serene kemudian merogoh tas tangannya dan mengambil sebuah kunci yang ia akhirnya ketahui sebagai kunci pintu villa di depannya ini, lalu membuka pintu villa tersebut.
Gelap gulita. Satu hal yang dapat Serene lihat begitu pintu villa dibuka, apalagi sekarang langit sudah benar-benar gelap, karena matahari telah kembali ke peraduannya di ujung barat sana.
Tiba-tiba, Serene seakan melihat setitik-dua titik cahaya yang menyala di samping kakinya, disusul menyalanya sederet lampu pijar kuning temaram berukuran kecil, membentuk sebuah jalur setapak di sisi kanan dan kiri kakinya, menggoda untuk ditelusuri. Dengan bantuan cahaya temaram, Serene mulai bisa melihat sekitarnya walau samar-samar. Sofa putih besar yang terlihat sungguh empuk dan nyaman di pojok ruangan, meja panjang minimalis terletak di depannya dengan vas bunga berisi beberapa tangkai calla lily putih di atas meja tersebut. Semakin Serene berjalan pelan mengikuti jalur lampu temaram tersebut, ia dapat melihat sekitarnya semakin jelas. Replika lukisan The Last Supper tergantung di depan rak berisi banyak buku, meja makan yang bisa memuat empat orang beserta kursi makan yang minimalis namun terlihat berkelas, dan bahkan motif lantai parket yang Serene pijak saat ini. Dapur yang cukup luas menyambut mata Serene, karena jalur yang ia telusuri melewati dapur.
Jalur itu berhenti di depan sebuah pintu kecil yang Serene duga adalah pintu belakang, karena terletak di samping dapur. Serene heran, mengapa jalurnya begitu aneh, karena bisa saja sebenarnya jalurnya dibuat menuju balkon belakang villa yang pintunya sempat Serene lihat di dekat rak-rak berisi buku.
Serene menjulurkan tangannya, memegang handel pintu dan membukanya. Beberapa undakan tangga untuk dititi lagi di depannya, dihiasi dengan lampu pijar temaram yang sama. Di depannya, sebuah penataan indah berbentuk hati dari lampu-lampu pijar tersebut menyapa matanya. Pasir putih Pantai Nongsa beserta alunan debur ombak memanggil-manggilnya untuk ditelusuri.
Sosok punggung tegap tidak jauh dari bibir pantai menarik perhatiannya. Siapa lagi kalau bukan Sam, kekasihnya yang paling ia cintai, satu-satunya hal yang tidak ingin Serene lepaskan.
"How's the trip ? Is it fun ?" Sam berbalik dan menatap Serene penuh sayang sambil menyunggingkan senyum terindahnya.
Serene berjalan pelan menuju Sam yang langsung merentangkan tangannya lebar-lebar, menyambut pelukan laki-laki yang paling dicintainya itu.
Oh, Serene bahkan rela mengorbankan seluruh dunianya agar ia dapat memeluk dan memiliki Sam dalam hidupnya untuk selama-lamanya.
Serene menghirup aroma pantai yang bercampur dengan harum tubuh Sam yang memabukkan, kemudian menjawab pertanyaan Sam yang sempat ia abaikan beberapa saat, "I'm so sleepy I can't see the beautiful view below the copter, but I really happy that you prepare all of these just for me."
Sam mengecup lembut puncak kepala Serene, lama dan hangat. Rasanya, memiliki Serene dalam pelukannya terasa sangat sempurna hingga ia ingin merengkuh wanitanya ini selamanya.
"I have something for you." Ujar Sam saat ia melepas pelukan eratnya, kemudian ia merangkul bahu Serene dan menggiringnya menuju satu area yang sedikit tertutupi oleh bias cahaya lampu pijar. Siluet piano dan sebuah meja makan untuk berdua yang tertata indah tak jauh dari piano tersebut mengunci pandangan Serene.
"Dinner ?" Tanya Serene, matanya masih terpaku ke arah meja makan.
"Hmm, ada lagi sih..." Suara Sam terdengar penuh rahasia, ia mengulum senyum misterius.
Sam melangkah ke arah piano kemudian duduk di atas kursi piano, menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya, memberi isyarat agar Serene duduk di sampingnya. Serene merapikan rok gaunnya yang masih berkibar ditiup angin pantai, kemudian melirik ke arah Sam yang membuka tutup piano di depannya dan meletakkan jemarinya di atas tuts putih piano.
Dentingan piano yang merdu kemudian terdengar, sebuah lagu yang tidak terlalu asing di telinga Serene walau ia lupa judulnya.
Ā "Whole world is watching us now
It's a little intimidating
Since there's no way to come down
Let's give them something amazing
Ā Let's make them remember
Using one word
Ā Incredible oh oh oh ohhh
Incredible oh oh oh ohhh
Let's make them remember
We were incredible
Simply incredible
Oh oh oh ohhh"
Ā Serene tersenyum lembut, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Sam, kemudian memejamkan matanya. This feeling is indeed incredible.
Ā "We even counted us out
We weren't sure we'd make it
But we've learned no matter what they dish out
It's nothing, we can take it
Ā We'll go down in history
They'll describe our love as
Ā Incredible oh oh oh ohhh
Oh incredible oh oh oh ohhh
Let's make them remember
and we were
we were incredible
simply incredible
oh oh oh ohhh...
Ā Let's make them remember
They'll describe our love as
Ā Incredible oh oh oh ohhh
Oh incredible oh oh oh ohhh
Let's make them remember
that we were
we were incredible
simply incredible
it's something amazing
Ā Let's give them something amazing."
Ā Dentingan piano mengalun pelan sedikit sebelum berhenti. Serene membuka matanya, menatap ke arah Sam yang menatapnya balik dengan senyum baik di bibirnya maupun di matanya.
"You like it ?" Tanya Sam pelan.
Serene mengangguk pelan, kembali duduk dengan tegap. Sam berdiri dari kursi piano, Serene ingin mengikuti namun tangan hangat Sam menahan bahu Serene, membuatnya mengernyitkan keningnya. Ketika Sam perlahan berlutut dan kemudian menggenggam tangan Serene hangat, Serene tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mendadak pipi dan mata Serene terasa hangat, tiba-tiba ia merasa seperti ingin menangis.
"Let's make our love last forever, my only Serene. Let's make them remember that we were incredible, let's make us noted in history. Be mine, will you ?" Ujar Sam perlahan dengan intonasi suara yang dalam, menatap intens wanita di depannya. Ia tidak mengeluarkan cincin yang telah ia siapkan di saku celananya, terlalu klise memohon memakai cincin yang disodorkan ke arah perempuan yang dilamarnya.
Pipi Serene basah mendengar kalimat yang diucapkan Sam, dadanya terasa ingin meledak saking terlalu bahagia dan sekarang ia malah bungkam karena tidak dapat berkata-kata. Dilamar kekasihnya dengan kalimat seperti yang Sam ucapkan itu terlalu lebih dari imajinasinya selama ini tentang marriage proposal.
Melihat Serene terus menangis, Sam mulai merasa ada yang salah. Tidak biasanya seorang perempuan terharu hingga menangis selama Serene saat ini.
"Ada yang salah, sayang ?" Sam bertanya kepada Serene sambil menghapus sungai kecil di pipi Serene.
Serene menggeleng, berusaha menjawab, namun ia terlalu bahagia hingga tidak bisa mengungkapkan apapun yang ia rasakan.
"Here..." Sam kembali duduk di samping Serene dan memeluk wanitanya itu. Hati Serene semakin menghangat dan membuncah dalam kebahagiaan, ia membalas pelukan Sam dengan erat. Ia tidak ingin lagi kehilangan Sam.
Terkadang, sebuah pernyataan tidak memerlukan jawaban. Sam mengerti Serene menerimanya melalui pelukan erat itu dan ia bersumpah tidak akan melepas Serene selama ia masih bernapas.
Ā **
Ā Serene menyandarkan tubuhnya di bahu tegap Sam. Mereka sudah menandaskan makan malam mereka dan sekarang mereka sedang duduk di sofa empuk di ruang tengah villa mewah milik Sam.
"Are you happy ?" Tanya Sam kepada Serene, jemarinya membelai rambut lembut Serene yang terurai.
"I'm just beyond happy, Sam..." Jawab Serene pelan, ia kembali melirik cincin yang telah disematkan Sam di jari manis tangan kirinya. Cincin platina berlapis rose gold bertatahkan berlian putih berkilau -yang ia duga minimal tiga karat- dikelilingi berlian-berlian kecil berwarna merah muda.
"Suka cincinnya ?"
"Suka banget, Sammy sayang..."
"Ah iya," Sam teringat sesuatu, "Kamu belum lihat grafir dalam cincinmu ya ?"
Serene mengangkat kepalanya dari bahu Sam, kemudian menatap kekasihnya itu sambil mengernyitkan kening.
"Coba deh dilihat." Ujar Sam sambil tersenyum.
Serene melepas cincinnya dan melihat ke sisi dalamnya, menemukan ukiran dua kata dalam bahasa Spanyol bertuliskan, 'Mi Preciosa'.
"My precious ?" Tebak Serene.
Sam mengangguk, kemudian merangkul Serene ke pelukannya lagi. Serene menyandarkan kepalanya ke dada Sam. Terdengar samar detak teratur dari dada Sam.
"Percaya nggak, Serene, kalau aku sudah tertarik sama kamu dari pertama kita bertemu ?"
"Hmmm... Nggak tahu juga ya, bisa saja kamu sekarang cuma ngerayu aku." Balas Serene dengan nada manja.
"Ih, siapa yang ngerayu ? Nggak kok. Memang benar, aku sudah tertarik dari pertama. You look different."
"Define that 'different'."
"You look smart dan tidak seperti perempuan lainnya. Kalau klien perempuan yang langsung bertemu aku seperti kamu, biasanya nggak tahu kenapa, pertemuan kedua-ketiga-keempat dan seterusnya, selalu berusaha flirting, pakaiannya minim dan nggak berkelas seperti profesional."
"Really ?" Serene melepaskan diri dari pelukan Sam dan menatap Sam jenaka.
"Yes. Tapi kalau kamu, beda banget. Tetap tampil cantik apa adanya, profesional, dan berkelas. I like it that way, though." Sam tersenyum sambil menjentikkan hidung Serene yang langsung merengut sejenak.
"You look cute, baby." Sam menjentikkan hidung Serene lagi, kemudian reaksi yang sama datang dari Serene.
"Jangan bilang cute ah, kayak aku adikmu saja." Serene bersandar lagi ke bahu Sam.
"Serene..."
"Yes ?"
"Aku mau ajak kamu ketemu orang tua aku. Gimana ? Kamu mau ?"
Serene terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Of course yes, Sammy... Tapi aku perlu siapin apa buat mereka ?"
"Nggak perlu siapin apa-apa, sayang. Cukup bawa diri saja, sama kalau kamu suka bunga, kamu pasti nyambung sama Mama."
"Really ? Nggak perlu siapin apa-apa ?"
"Yes. Sungguhan deh, bawa diri saja."
"Kapan ?"
"Tomorrow ?"
Serene tercenung sejenak.
"Keberatan, sayang ?" Tanya Sam melihat Serene yang terdiam.
"Ah, nggak kok. Cuma agak kaget saja, like...why so in rush ?"
"Aku pengin kenalin kamu dan aku yakin banget Mama dan Papa pasti bakal suka sama kamu. So you don't need to feel uncomfortable. Apalagi panik, buat apa ? Mereka nggak nakutin kok, yah, Papa mungkin agak sedikit bikin takut buat kamu, melihat apa yang sudah dia lakukan ke aku..." Sam menghela napas, seakan merasakan kepanikan Serene, "...but it's really okay. Trust me, kamu nggak bakalan kenapa-kenapa."
"Jadinya besok, Sam ? Langsung terbang ke Jakarta ?" Tanya Serene.
"Yep." Sam mengelus rambut Serene menenangkan kekasihnya itu.
"You know what, baby ? You're so adorable, so I think you don't need to be afraid." Lanjut Sam lagi. Serene semakin menyurukkan dirinya ke dalam pelukan hangat Sam.
"I love you so much." Sam mengecup puncak kepala Serene. Serene mengangkat kepalanya menatap Sam dengan rasa sayang begitu besar.
"I love you too, sayang." Balas Serene, kemudian Sam menunduk dan mengecup lembut ujung bibir Serene sebelum melumatnya. Serene membalas kecupan Sam, menyamakan intensitas Sam.
Hilang sudah semua rasa takut, rasa ketidakamanan, dan rasa panik. Selubung demi selubung gairah mulai tersingkap, sebuah rasa yang tidak biasa menyeruak.
Napas bersahutan, kulit demi kulit bersentuhan, dan ketika Sam dan Serene sama-sama menyentuh langit ke tujuh, mereka tahu mereka harus menanggung segala konsekuensi atas perbuatan mereka.
Namun, toh, mereka tidak menyesali apa yang terjadi. Malam ini menjadi malam yang akan mereka ingat seumur hidup.
-- So sorry for taking this so long, but my campus schedule this semester kinda don't allow me to continue writing this story :") But never mind, this is the next chap, will be posting the eighth chapter too today ! Happy reading, guys ;) --
Bugging, v. : There is no relationship as clean and smooth as china, there are always many stones that will make you trip and fall. The problem is, whether you want to get up and strive or let go and give up.
#7
Sam mulai berpikir untuk pindah ke Jakarta.
Okay, he is now rectifying his words about not living in Jakarta. Persetan soal ayahnya dan macet luar biasa yang kerap mengganggunya, namun ia hanya ingin berada di dekat Serene. Bagaimana ia dapat melihat Serene setiap hari, menjemputnya dari kantor, makan siang dan makan malam bersama, bahkan mengantarnya pulang dan bisa saja memiliki kesempatan berkenalan dengan ibu Serene.
Dan tentu saja, ia lebih mudah memperkenalkan Serene dengan orang tuanya yang sekarang menetap di Jakarta. Kepada ibunya, lebih tepatnya, karena orang yang selama ini ia anggap ayahnya tega memperlakukan dirinya bukan sebagai putra semata wayangnya, namun seperti robot penerus perusahaannya. Kalau saja ia memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia musik yang sempat membesarkan namanya, mungkin ia akan rela meninggalkan kursinya di Singapura dan bahkan melepas saham-saham yang dimilikinya bila ayahnya meminta.
Ia ingat persis sewaktu ia bekerja di dunia entertainment tersebut, ia sudah bisa membeli Harley Davidson sendiri dalam waktu kurang dari setahun. Jadi bukannya tidak mungkin ia akan mapan dalam waktu singkat. Hanya saja sekarang ia sudah kepalang basah berkecimpung di dunia bisnis akibat skenario ayahnya dan usianya yang tidak lagi muda untuk memulai debut kembali.
Kembali ke keinginannya pindah kantor, Sam sudah menyeleksi beberapa cabang usaha ayahnya yang sekarang di luar fokus kerja ayahnya, sehingga akan membuatnya tidak perlu sering-sering bertemu ayahnya yang kejam itu. Sam belum memberitahu dan meminta usul Serene atas pemikirannya ini, ia ingin meminta usul Serene malam ini.
Ā Telepon di meja Sam berdering. Sam menekan loudspeaker untuk menjawab sambungan telepon itu.
"Yes, Sam Darius here."
"Mr. Sam, you have a meeting in ten minutes." Suara Ellie terdengar dari pengeras suara telepon Sam.
"Okay, I'll be there in five minutes, Ellie." Sam pun memutus sambungan telepon setelah menjawab pemberitahuan Ellie.
Semenjak Mark pergi tanpa memberitahu dan meninggalkan apapun untuk Sam, semua urusan dan pengaturan jadwal menjadi pekerjaan Ellie. Sam mengerti Mark merasa bersalah telah membuat janji ke ayah angkatnya untuk tidak membocorkan rahasia tersebut, walau toh ia buka juga ketika melihat kondisi Sam yang lemah dan menuntut penjelasan dari Mark. Menurut Sam, walau Mark bersalah telah menyimpan rahasia sebesar itu darinya selama ini, namun yang paling patut disalahkan memang tetap ayahnya, sehingga Sam memutuskan untuk tidak mengganggu Mark yang mungkin sedang menenangkan dirinya entah di mana. Sam yakin, suatu saat Mark pasti kembali dan misalnya pun Mark tidak kembali, ia yakin ia pasti akan bertemu Mark dan berterimakasih kepada Mark yang memutuskan untuk membuka rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Sam melihat jam dinding di kantornya, kemudian segera berdiri dan memakai jasnya yang ia sampirkan di sandaran kursi kerjanya, lalu melangkah pergi menuju ruang meeting.
Ā **
Ā Sam memutar-mutar ponselnya, masih ragu untuk meminta usulan kepada Serene. Beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi Serene, namun baru nada sambung pertama berbunyi lalu ia putus lagi sambungannya. Beberapa kali juga ia mencoba untuk mengetikkan pesan di LINE kepada Serene, namun baru ia ketikkan beberapa kata, lalu ia hapus lagi.
Bukannya ia ragu untuk pindah, hal itu sebenarnya sudah mantap, namun bisa saja Serene tidak setuju atas usulnya, bukan ?
Sam menghela napasnya berat. Ia melihat layar ponselnya yang gelap, kemudian menyentuhkan jarinya dan mencoba menelepon Serene lagi. Kali ini ia harus mendengar apapun yang Serene katakan, toh ini dia meminta usul bukan meminta restu orang tua.
Apa ia bilang ? Meminta restu orang tua ? Ah, sudah melantur ia rupanya. Baru dekat sama Serene saja sudah mau memboyong wanitanya itu ke pelaminan.
Well, Serene memang sudah menjadi miliknya. Tanpa kata-kata memohon yang sudah ketinggalan jaman dan kekanakan, Serene sudah jatuh ke pelukannya. Hebat bukan ?
Ah, jadi besar kepala... Sam senyum-senyum sendiri.
"Hi, Sam..." Suara manis Serene terdengar.
"Hello, my lady..." Sam tersenyum tipis sambil membayangkan wajah Serene.
"For me, it's not a problem if I pay more to call you."
Serene tertawa kecil. Meski saat ini mereka terpisah oleh jarak yang cukup jauh, mendengar suara Sam saja bisa membuatnya bahagia. Ia tidak tahu kapan tepatnya mereka menjalin hubungan seperti ini, sebuah hubungan yang bisa membuat dada berdebar kencang, pipi bersemu merah, dan tentu saja membuatnya terus tersenyum seperti orang gila.
"Ada apa telepon aku, Sam ?" Tanya Serene lagi.
"Ummm..." Sam membasahi bibirnya, "Aku mau tanya saja, sih, kira-kira kalau aku pindah ke Jakarta, kamu setuju ?"
Serene terdiam sesaat dan mengerjapkan matanya. Dia tidak salah dengar, kan ? Sam berniat untuk pindah ke Jakarta ??
"Serene ?"
"Ah, yes. Ummm...gimana ya jawabnya ?" Serene menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku senang sih, Sam, tapi bukannya kamu nggak suka dekat-dekat sama...Papamu ?" Tanya Serene hati-hati.
"I've a deep thought about that already, Serene. Aku memang nggak suka dekat sama Pras, that's why I've surveyed some of his companies."
"Terus ?" Serene bertanya untuk mengetahui jawaban Sam.
"Ada beberapa perusahaan yang sedang tidak dalam fokus kerjanya Pras dan ada dua perusahaan di antaranya yang posisinya kuincar diduduki senior yang sudah semestinya pensiun. Mungkin belum ada yang cocok untuk menggantikan mereka. Aku bisa saja minta bantuan Uncle Dody buat menghubungi mereka dan menanyakan apakah mereka butuh pengganti." Jawab Sam.
"Kamu benar-benar siap untuk pindah ke sini, Sam ? It's not easy."
"I know it's not easy, baby, but I want to see you everyday. Menghabiskan waktu bersama kamu, Serene. It seems so ideal." Sam tersenyum membayangkan bila ia jadi pindah ke Jakarta dan bisa terus bersama Serene.
Serene tersenyum lebar mengetahui alasan Sam pindah ke Jakarta. Semua dilakukan Sam untuknya dan entah mengapa ia merasa bahagia. Tiba-tiba saja, ia juga mempunyai ide.
"Ummm... Sam ?" Panggil Serene.
"Yes ?"
"Aku sebenarnya mendengar ada rencana Pose mau buka kantor di Singapura, untuk hub antara Pose cabang Jakarta dan Filipina dengan pusatnya di London. Begini, Sam, sebenarnya aku juga bisa kok mengusulkan ke atasanku agar aku dipindahtugaskan ke cabang baru di Singapura. Jadi kamu nggak perlu repot-repot pindah ke Jakarta, kan ?"
Giliran Sam yang terdiam memikirkan usul Serene. Ia tidak ingin egois, namun mendapati Serene rela pindah tugas ke Singapura membuatnya sedikit-banyak senang juga.
"Ngapain kamu yang pindah ?" Tanya Sam.
"Biar kamu juga nggak stress pindah sini. I know you want to be near me, Sam, tapi dengan pindah ke Jakarta beban pikiranmu kan semakin berat. Kalau nanti kamu nggak sering nengok Mamamu juga nggak enak, tapi kalau sering-sering, mau bagaimanapun juga kamu pasti beberapa kali ketemu Papamu. Jadi baru saja aku pikir kalau aku yang pindah tugas saja ke Singapura, problem solved dan kamu juga nggak ada beban pikiran." Jelas Serene atas usulnya pindah ke Singapura.
"Nanti di Singapura kamu mau tinggal di mana ? Mamamu nggak apa-apa kamu tinggal di Jakarta ?"
"Soal tempat tinggal gampang, Sam. Bisa saja aku dikasih fasilitas sama kantor atau kalau nggak aku bisa sewa apartemen dekat kantor. Mama nggak apa-apa pasti, kan ada Selena, adikku." Serene tersenyum.
"Atau...kamu bisa saja tinggal sama aku, sayang." Usul Sam sambil tersenyum geli.
"Terus sekalian curi-curi kesempatan ?" Serene memutar bola matanya gemas, ia tertawa dalam hatinya.
"I ain't that pervert, Serene." Tawa Sam meledak, namun ia mengakui dalam hatinya bahwa bisa saja kesempatan itu datang dengan sendirinya tanpa harus mencuri.
"Soal di mana aku bakal tinggal itu masalah gampang, Sam. Balik ke topik kita, kira-kira kamu setuju nggak aku pindah ke Singapura ?"
"Kalau aku sih semuanya terserah kamu, Serene. I'm happy, of course, but it's all up to you. Kalau memang kamu sungguhan mau, no problem with me. Kalau memang nantinya kamu nggak jadi juga, tinggal aku yang pindah ke Jakarta."
Baik Sam dan Serene terdiam setelah itu. Hanya helaan napas mereka saja yang terdengar, mereka sama-sama sibuk berpikir keputusan yang harus diambil demi hubungan mereka.
"Well, Sam, besok aku coba tanyakan ke atasanku, siapa tahu ada peluang buat aku pindah tugas ke sana."
"Kalau memang nggak bisa jangan dipaksa ya, sayang. Biar aku saja yang pindah. Promise me ?"
"I promise, Sammy. Now you go sleep. Di sana sudah jam satu pagi."
"Dan di Jakarta juga sudah jam dua belas. Sama saja, Serene." Sam tersenyum kecil.
"Okay, I'll sleep too." Serene tersenyum.
"Good night, sweetie. Dream about us ?"
"I will. You too, Sammy."
Sambungan telepon pun terputus. Serene masih menatap ponselnya, sedikit-banyak tidak percaya bahwa mereka sekarang sudah berpacaran. Dulu, Serene bermimpi bisa mempunyai pacar setampan penyanyi favoritnya, siapa sangka mimpinya terkabul saat ini ? Hanya saja Sam bukan lagi penyanyi seperti dulu, melainkan calon pewaris perusahaan ayahnya dan tentu saja, penyanyi pribadi Serene kapanpun diminta.
She never imagines her life will be like this and she couldn't ask for more. Begini saja sudah cukup.
"Ah, Serene darla... Come here, sit down." Panggil Ma'am Paris sambil tersenyum. Serene duduk di depannya.
"Ada apa kamu mencari saya, darla ?" Tanya Ma'am Paris dengan senyum.
"Ma'am, saya mendengar katanya Pose mau buka kantor cabang di Singapura bertepatan dengan peresmian outlet kita di sana ?"
"Yes, and that plan is likely to be happened. Why, Serene ?"
"Ummm... If I say that I want you to help me move there, will you approve to that idea ?" Serene membasahi bibirnya gugup.
"Kamu mau dipindahtugaskan ? Kenapa, Serene ? Pekerjaan di sini kurang menantang ?" Tanya Ma'am Paris heran. Serene adalah salah satu aset berharga kantor Pose di Jakarta dan tentu saja ia tidak bisa melepas Serene begitu saja untuk dipindahtugaskan di kantor cabang Singapura. Ia bahkan berencana untuk memberi Serene posisi yang lebih baik di kantor cabang Jakarta.
"Bukan begitu, Ma'am. Saya ingin membantu cabang Singapura untuk berkembang sama seperti Jakarta ini, jadi saya pikir mungkin ada baiknya saya dipindahtugaskan karena cabang Jakarta tanpa saya pun sudah akan berjalan lancar."
Ma'am Paris terdiam dan berpikir, kemudian menatap Serene dan melihat ada kesungguhan di mata coklat Serene. Mungkin memang ada baiknya Serene membantu cabang Singapura, pikirnya.
"Nanti akan saya pikirkan dan diskusikan dengan board of directors lusa saat meeting, ya, my darla... Sementara ini kamu kerjakan apa yang perlu kamu kerjakan, nanti kalau memang ada kabar saya beritahu lagi. You can go now..." Ma'am Paris tersenyum. Apabila Serene jadi dipindahtugaskan ke Singapura, cabang Jakarta akan kehilangan sosok Serene yang begitu pintar mengambil peluang bagus. Sosok seperti Serene tidak banyak dan di kantor cabang Jakarta hanya dia sosok yang terlihat menonjol dan cemerlang. Namun mungkin ada baiknya juga bila Serene dipindahtugaskan, siapa tahu memang selama ini ia terlalu fokus pada sosok Serene yang cemerlang, sehingga ia juga melewatkan beberapa karyawan lain yang mungkin memiliki potensi serupa.
Ā 'Let's see...' Batin Ma'am Paris sambil menghela napas.
Ā **
Ā "Belum ada kabar dari atasanmu, sayang ?" Tanya Sam malam itu saat mereka video call via Skype.
"Belum dong, Sam. Meeting-nya saja baru siang ini, habis itu atasanku ada tugas keluar. Kenapa sih memangnya kok buru-buru ?"
"Nggak sih, cuma pengin cepat-cepat ketemu kamu saja." Sam menyengir lebar.
Serene mengepalkan tangannya, berpura-pura menjitak kepala Sam dari layar laptop-nya.
"Ouch, it hurts so bad, baby !" Sam pura-pura merengut. Wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan.
Serene tertawa.
"But you do miss me too, right ?" Tanya Sam, menaikkan sebelah alisnya.
"Menurutmu ?" Serene menahan cengirannya dan mengulum bibirnya dengan ekspresi jenaka.
"You miss me !"
"Tet-tot ! You're wrong. I'm not missing you right now." Serene menjulurkan lidahnya.
"So you're trying to play with me right now ? Okay, girl..." Sam pura-pura kesal, karena nyatanya ia tidak bisa kesal sama sekali melihat ekspresi lucu Serene.
"Okay. I'm hanging up..." Serene tidak terpancing permainan Sam, ia berusaha bermain lebih jauh lagi.
"Eh jangan begitu juga kali, sayang." Wajah Sam terlihat terkejut kemudian memelas saat Serene bilang akan memutus sambungan video call mereka.
Serene tertawa kencang, triknya berhasil rupanya. Sam memajukan bibirnya di seberang sana.
"You look cute, Sammy. Cute..." Serene masih bercanda dengan Sam. Menurutnya, Sam tidak hanya berperan sebagai pacarnya saat ini, namun juga teman terbaiknya.
Sam mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula.
"Man hate when a woman says he is cute. Kesannya kayak dia anak batita, Serene." Sam memutar bola matanya.
Serene tertawa lagi. Sebenarnya ia tahu jelas banyak pria dewasa yang benci dibilang 'cute' karena itu terdengar sedikit tidak maskulin.
"You angry ?" Tanya Serene.
"No. Just feeling uncomfortable. Rasanya geli dipanggil begitu."
Serene menyengir lebar, lalu sedetik kemudian ia menguap lebar tak tertahankan, membuatnya refleks menutup mulutnya.
"Ngantuk, sayang ?" Tanya Sam yang melihat Serene menguap.
"A little bit, but I still could cope with it."
"Sudah, tidur saja. Besok kamu juga kerja kan ?"
"Really ? Nggak apa-apa nih, Sam ?"
"I'm okay. Lagipula ngapain aku maksa kamu ngobrol terus pas kamu sudah ngantuk sih ?" Sam tersenyum lembut. Kehangatan melingkupi hati Serene.
"Okay, I'm really hanging up now..."
"Yes, sweety." Sam terdiam sedetik, "...Oh, I forgot."
"Hmm ?" Gumam Serene yang sudah mengantuk.
"Here." Sam memajukan wajahnya ke layar laptop dan mengecup kening Serene, "I love you, baby."
Serene tersenyum lembut, ikut memajukan wajahnya ke depan layar dan mengecup pipi kanan Sam.
"I love you too, Sammy."
Ā Dan sepuluh menit kemudian, Serene sudah tertidur pulas dengan senyum terpatri di wajahnya.
Ā **
Ā Ma'am Paris memanggil Serene ke ruangannya. Entah mengapa dada Serene berdebar kencang mendengar ia dipanggil. Bibirnya mendadak kering karena ia gugup. Ia tahu ia akan diberitahu hasil diskusi mengenai pengajuan pindah tugasnya ke Singapura.
Bila Serene mencoba menghitung peluang, dari seluruh direktur dan Managing Director yang mengepalai kantor cabang Jakarta yang ia ketahui, ada lebih dari 60-70% kemungkinan pengajuannya akan diterima.
Semoga saja prediksinya kali ini benar.
Ā Serene mengetuk pintu ruangan Ma'am Paris.
"Yes, Serene darla. Come in..." Suara Ma'am Paris terdengar dari balik pintu.
"Ma'am." Ujar Serene sambil sedikit menundukkan kepalanya ketika membuka pintu ruangan atasannya dan melangkah masuk ke dalam.
"Sit down." Ma'am Paris mempersilakan bawahan kesayangannya itu duduk di sofa besar di ruangannya.
Setelah mereka berdua duduk, Ma'am Paris mengamati pegawai kesayangannya ini, kemudian menepuk bahu Serene beberapa kali.
"Well, I've got a good news about you and I know you know what it's about, right ?" Ma'am Paris mengedipkan sebelah matanya ke Serene.
"Really, Ma'am ? Aku boleh pindah tugas ?" Tanya Serene dengan raut gembira.
"Yes, but..." Ma'am Paris menggantung kata-katanya. Membuat Serene mendadak tegang lagi.
"But ?" Serene mengulangi kata-kata Ma'am Paris perlahan dan gugup.
"You've got a new responsibility, darling..." Ma'am Paris tersenyum lebar.
Ā **
Ā "What could've been better than this, Sammy !" Serene berteriak gembira saat sambungan video call melalui Skype tersambung dan wajah Sam terlihat di layar.
"What ? Pengajuan kamu diterima ? Kamu jadi pindah ?" Ekspresi wajah Sam terlihat bahagia.
"Not only that, Sam. I'm getting a promotion !" Serene tersenyum lebar.
"Wow ! Terus posisimu di kantor cabang Singapura apa ?" Tanya Sam antusias. Ia senang melihat Serene begitu gembira hari ini.
"Head of Marketing, setara posisi Ma'am Paris sekarang di Jakarta. I'm a Marketing Director, Sam !" Serene memeluk bantalnya kencang-kencang seakan ia sedang memeluk kekasihnya.
"Wah, tapi nanti tugasmu lumayan berat lho."
"I'm okay, Sammy. Lagipula, siapa sih yang nggak pengin naik jabatan ? Dapat fasilitas, gaji juga naik."
"You know I'm always here supporting you, right ?"
Serene mengangguk senang.
"Jadi, kapan pindah ?"
"As soon as possible. Kantor cabangnya harus jalan dulu sebelum outlet Pose di mall kamu diresmikan. Mungkin sekitar dua minggu lagi aku resmi pindah sana. Sekarang lagi diurus prosesnya sama kantor, sekalian dibuatkan izin tinggal tahunan juga. Nanti aku tinggal di apartemen dekat kantor, dapat fasilitas begitu."
"Yah, kamu nggak jadi tinggal bareng aku begitu ?" Sam pura-pura merengut.
"But I can still cook for you in your apartment and we'll have dinner together everyday." Bujuk Serene sambil tersenyum lembut.
"I know, Serene. I know..." Sam sudah bisa membayangkan hidup berdua dengan Serene.
Ā Setelah mereka menyudahi video call mereka, ponsel Serene berdenting, tanda ada pesan singkat dari LINE masuk.
Ā JanetStephanie : CIEEEE IBU DIREKTUR !!! Envy you, woman ! Bisa berduaan pacar tiap hari deh hbs ini...
Serene tersenyum membacanya, kemudian membalas chat dari sahabatnya itu.
SereneLElysia : I'm so-so-so-so...happy, Jane !
JanetStephanie : Iya deh tau, yg bs ciuman tiap saat nanti. Aku tunggu ponakannya ya ;)
SereneLElysia : Masih lama woy ! *plak*
JanetStephanie has sent you a sticker.
Serene melihat sticker yang dikirimkan sahabatnya itu. Sticker Moon, salah satu tokoh di LINE, tertawa guling-guling. Serene ikut tertawa melihatnya.
Ā Ponselnya berdenting lagi. Kali ini Marla, sekretarisnya, yang mengirimkan pesan singkat.
Ā Just.Lala : Congrats, boss ! You deserve it ! :D
SereneLElysia : Thanks, La ! Ah, hbs ini kamu punya bos baru ya :D
Just.Lala : In two weeks ! Will miss you, Serene... :")
SereneLElysia : I'll miss you a lot too, La ! You've been the best assistant I've got ! :")
Just.Lala : And you're the best boss yet best advisor I've ever got !! :D
Ā Serene tersenyum membaca semua pesan dari orang-orang di sekitarnya. Ia merasa diberkati dan didukung oleh orang-orang yang menyayanginya.
Ā Pintu kamar Serene diketuk tiga kali, kemudian dibuka. Ibu dan adik satu-satunya muncul dari balik pintu.
"Cieee yang dapat promosi ! Congrats, Kak !" Selena, adiknya yang hanya berbeda dua tahun dengannya, memeluknya erat hingga ia tidak bisa bernapas.
"Thanks, Lena..." Serene tersenyum.
"Sini, Ren..." Sekarang giliran Alana, ibunya, yang memeluknya erat.
"Mama will miss you a lot. Sering-sering pulang ya kalau ada libur ?" Wajah Alana yang masih terlihat cantik di awal lima puluhannya tampak terharu. Sorot matanya memancarkan kebanggaan.
"I'll miss Mama a lot too. Serene pasti akan cari waktu kok..."
Alana memeluknya semakin erat. Merasa bahwa putri sulungnya ini begitu membanggakan. Mengingat perjuangannya yang tidak mudah saat mengandung dan melahirkan Serene, ia merasa putri sulungnya ini semakin mirip dengannya dulu.
Ā Serene merasa hidupnya benar-benar berada di puncak kebahagiaannya saat ini. Ia tidak ingin kehilangan kebahagiaan ini, maka ia harus berusaha keras untuk menggenggam apa yang telah ia dapatkan ini baik-baik.
Ā **
Ā Bandara Changi tetap seramai biasanya, tetap apik dan tidak semrawut. Serene menghitung kapan terakhir kali ia datang ke Negeri Singa ini.
Sekitar tiga bulan, mungkin.
Bedanya, sekarang ia kembali untuk bekerja dalam waktu yang lama, bisa setengah tahun, bisa setahun, bahkan bisa lebih dari itu.
Dan satu lagi bedanya, kalau dulu ia masih single, sekarang ia sudah mempunyai Sam. Serene tersenyum mengingat Sam yang menjemputnya siang ini. Sam bahkan rela mengosongkan jadwalnya hari ini demi menemani Serene beberes apartemen barunya di daerah Woodlands. Jauh sejauh-jauhnya dari lokasi outlet pertama Pose di Marina Bay dan apartemen Sam di Raffles Place. Itu dikarenakan kantor cabang Singapura tempat Serene ditugaskan sekarang memang terletak di Woodlands, hanya butuh berjalan kaki dari apartemen Serene ke kantornya kelak. Letaknya berlawanan dari outlet Pose yang berada di selatan Singapura, sementara kantornya di utara. Memang masih satu line MRT, hanya saja harus melewati hampir dua puluh titik stasiun pemberhentian.
Awalnya Sam hampir tidak setuju Serene harus tinggal jauh darinya dan hampir membelikannya apartemen di gedung yang sama dengan apartemen milik Sam, namun Serene yang menolak dengan alasan jarak tempuh ke kantor setiap hari yang boros bensin -ya, Serene juga diberikan fasilitas mobil dan supir- dan boros waktu, akhirnya Sam setuju Serene tetap tinggal di apartemen yang diberikan oleh kantornya, hanya saja dengan satu syarat yaitu Serene harus mau Sam mengunjunginya setaip hari usai Sam pulang kantor.
Mau tidak mau, Sam juga kekasihnya dan Serene harus menyetujui syarat itu kalau tidak mau dipaksa tinggal di apartemen yang letaknya sungguh berlawanan dengan kantornya.
Sam terkadang bisa jadi sangat manja dan mengesalkan memang, namun Serene masih tetap menyayanginya.
Serene mendorong troli berisi seluruh barang bawaannya. Dua koper berukuran besar berisi pakaian lengkap hingga sepatu-sepatu yang Serene miliki, dua dus berisi seluruh stok makanan masakan ibunya yang dibekukan sebagai pelepas kangen Serene akan masakan rumah dan tentunya sambal balado favorit Serene. Belum lagi tas kerja berisi laptop Serene dan tas tangan Serene. Cukup banyak dan merepotkan, namun untung saja ia tidak harus membawa keperluan lainnya karena kata Ma'am Paris apartemennya telah dilengkapi fasilitas yang cukup lengkap sehingga Serene tidak perlu repot-repot lagi membawa banyak barang dari Jakarta.
Mendekati pintu keluar, Serene dihampiri oleh seorang petugas bandara untuk mengecek jumlah bagasi yang dibawa Serene dengan tag yang menempel di tiket Serene saat melakukan check-in di Jakarta. Petugas itu kemudian mempersilakan Serene menuju pintu keluar sambil mengatakan kepada Serene ucapan selamat datang di Singapura.
Ā Pintu keluar terbuka secara otomatis dan Serene melihat Sam berdiri menjulang di antara banyak penjemput yang membawa kertas bertuliskan nama orang yang harus mereka jemput. Sam menghampiri Serene yang sedikit kesulitan mendorong troli berisi barang bawaannya yang cukup berat dan mengambil alih troli tersebut.
"Welcome to Singapore, sweetie." Ujar Sam, kemudian memeluk Serene erat dan mengecup keningnya.
"I could kiss you everyday now..." Sam tersenyum jenaka. Pipi Serene menghangat dan bersemu merah.
"Kenapa sih apartemen kamu mesti jauh banget ?" Sam menggerutu pelan.
"Ya anggap saja kamu harus pulang all the way from your parents' house in Menteng to Kemang..." Canda Serene. Sam hanya bisa mengacak rambut Serene dengan sebelah tangannya, lalu kembali memegang handel troli.
"Ini kamu bawa apa coba ? Banyak banget lho, berat juga..." Sam heran dengan begitu banyaknya bawaan Serene dari Jakarta, kemudian dengan sigap memindahkan semua barang bawaan Serene dari troli ke bagasi mobil.
"Banyak ya ? Hehehe..." Kikik Serene, kemudian ia melanjutkan ocehannya, "Itu yang koper isinya pakaian aku lengkap dari pakaian rumah, santai, sampai formal, sama sepatu-sandal terus seluruh make-up lengkap dan obat perawatan wajah juga termasuk alat-alat seperti hair dryer, hair clamp, dan lainnya..."
"Serene, kamu rasanya nggak usah pakai semua itu juga sudah cantik kok."
"Jangan ngegombal deh kamu..." Lirik Serene kepada Sam yang sedang menyetel lagu di mobilnya sebelum bersiap untuk keluar dari bandara.
"Lho aku nggak ngegombal, I mean it." Sam menoleh dan menatap Serene sambil tersenyum.
"Lihat saja nanti kalau aku bangun pagi, belum dandan, belum pakai pakaian kayak gini, masih ileran. Nanti pasti kamu kira aku monster." Serene melipat tangannya.
Sam mengelus kepala Serene dengan perasaan sayang yang sangat besar, "Serene, mau kamu ileran juga aku tetap sayang kok. Sungguhan deh."
Serene tersenyum tipis. Lihat saja lain kali saat Serene baru bangun tidur, ia berani bertaruh Sam setidaknya mengernyitkan keningnya. Bukan karena dandanan Serene tebal sehingga membuatnya terlihat cantik, namun setidaknya ia kan harus memakai bedak dan sedikit sentuhan di beberapa titik di wajahnya. Kalau bukan karena itu, Serene pasti terlihat berbeda.
"Lho, kenapa ? Lagunya nggak enak ? Sebentar kuganti..." Tangan Sam langsung menuju ke tape mobilnya, namun ditahan oleh Serene.
"Nggak. Aku maunya kamu yang nyanyi lagu ini. Bisa kan ?" Pinta Serene dengan wajah antusias.
"Sekarang giliran kamu tahu aku masih bisa nyanyi, maunya cuma dengar suaraku nih ?" Goda Sam sembari mengecilkan volume speaker mobilnya.
Serene mengangguk sambil tersenyum.
Ā Sam berdeham dan mulai bernyanyi dari bagian tengah lagu sesuai dengan nada yang lamat-lamat mengalun.
Ā "You're a carousel, you're a wishing well,
And you light me up, when you ring my bell.
You're a mystery, you're from outer space,
You're every minute of my everyday.
Ā And I can't believe, uh that I'm your man,
And I get to kiss you baby just because I can.
Whatever comes our way, ah we'll see it through,
And you know that's what our love can do.
Ā And in this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, you make me sing.
You're every line, you're every word, you're everything."
Ā Serene pun turut menyanyikan lagu bernada riang ini pelan-pelan. Ia cukup tahu diri menyadari bahwa suaranya tidak semerdu Sam untuk bernyanyi kencang-kencang, cukup Sam yang bernyanyi untuknya.
Ā "So, la, la, la, la, la, la, la
So, la, la, la, la, la, la, la
Ā And in this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, you make me sing.
You're every line, you're every word, you're everything.
You're every song, and I sing along.
'Cause you're my everything.
Yeah, yeah
Ā So, la, la, la, la, la, la, la
So, la, la, la, la, la, la, la"
Ā Serene bertepuk tangan kencang-kencang seperti anak kecil yang baru saja selesai menonton pertunjukan yang sangat bagus.
"Am I good ?" Tanya Sam.
"You're beyond fantastic, my Sammy..." Serene melingkarkan tangannya di leher Sam dan memeluknya perlahan mengingat Sam sedang menyetir.
Sam mengelus kepala Serene dan mengecup puncak kepala Serene yang sedang bersandar di bahunya.
"I don't know why, but I just feel that having you makes my life complete, Serene." Ujar Sam pelan. Serene mendongak menatapnya dari balik bahunya, kemudian mengecup pipi kirinya pelan.
"I love you, beautiful."
"I love you too..."
Mereka berdua pun tersenyum bersama.
Ā **
Ā "Sudah belum ?" Ujar Sam yang masih berbalik dan memejamkan matanya, karena Serene sedang menata pakaian dalamnya di laci lemarinya yang baru di kamarnya.
"Satu lagi. Tunggu..." Serene dengan gesit membereskan seluruh pakaian dalamnya dan menutup laci di hadapannya.
Sam berbalik ketika mendengar suara laci ditutup.
"Sudah selesai kan tata-tata pakaian sama barang-barangnya ?"
"Done !" Serene menghela napas lega dan meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal, "Tinggal masukin semua masakan Mamaku ke lemari es saja kok. Easy..."
"Mamamu bawain apa saja ?" Sam melangkah keluar merangkul bahu Serene.
"Nggak begitu tahu sih, aku cuma tahunya ada sambal balado saja, makanya dibongkar saja dulu, Sam. Ayo..." Serene menggeret Sam menuju dua dus berukuran cukup besar dan mulai membuka dus berisi makanan beku tersebut.
Sam melebarkan matanya melihat berkotak-kotak makanan yang dibekukan tersusun rapi dan sudah diberi label di tiap kotaknya.
"Wah... Your Mom cooks the best meal, Serene." Ujar Sam sambil mengeluarkan berkotak-kotak makanan yang dibekukan tersebut. Ada rendang, opor kisi sapi, gulai ayam, gudeg nangka, berkotak-kotak sambal balado dan bumbu sup ayam, kare ayam, kering kentang ebi, dan asam-asam ikan.
"OMG I just want to drool..." Sam bergumam pada dirinya sendiri, apalagi melihat kotak bertuliskan gudeg nangka, salah satu makanan Indonesia favoritnya.
"Rasanya kok pengin panasin salah satu ya, tapi kita beli beras dulu di supermarket, sekalian beli beberapa bahan lainnya. Mau, Sam ?" Serene merespon gumaman Sam, apalagi melihat ekspresi wajah Sam yang terlihat ingin melahap semua masakan ibunya.
"Mau banget, sayang. Ini kayaknya enak-enak semua. Nanti makan malam juga makan ini saja ya ?" Sam menatap Serene dengan tatapan memohon. Ia jadi benar-benar merindukan masakan ibunya.
Serene mengangguk menyetujui, kemudian mereka turun dari apartemen Serene dan pergi ke supermarket untuk membeli beras dan beberapa bahan makanan yang kurang.
Ā **
Ā Sam benar-benar seperti orang yang baru keluar dari hutan rimba. Serene hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Sudah dua piring nasi dihabiskan, namun Sam belum meminta berhenti, sementara Serene hanya memakan seperempat porsi makan Sam.
"Belum kenyang ?" Serene hanya bisa menelan ludahnya melihat Sam memakan lauk masakan ibunya yang tadi dipanaskan.
"Sumpah, sayang... Aku kangen banget masakan Indonesia. Tinggal di Singapura, perutku isinya itu-itu saja."
"Ya kalau begitu pas kapan hari balik kok malah makan steak ? Bukannya makan nasi padang..." Sindir Serene, namun sambil tersenyum.
"Kan nggak cool, non. Masa di depan gebetanku makan nasi padang porsi jumbo begitu ?" Sam menyengir lebar, kemudian melahap lagi nasi di depannya, piring ketiga, walau isinya tidak sepenuh dua piring sebelumnya. Serene berpikir, badan Sam tinggi dan tidak gemuk, namun porsi makannya bisa lebih mengerikan daripada orang yang beratnya seratus kilo, seperti sepupunya di Inggris.
"Kamu makannya lebih hebat dari sepupuku yang beratnya seratus kilo, lho." Serene masih tidak habis pikir melihat Sam yang rasanya belum kenyang juga.
"Habisnya, gudeg ini enak banget ! Lebih enak dari punya Mamaku. Really, I'm not lying." Ujar Sam sambil mengunyah.
"Terus lainnya ?"
"Sama-sama enaknya. Sambal baladonya juga mantap."
Serene hanya bisa mendecakkan lidahnya, kemudian membawa piring bekas makannya ke bak cuci piring.
"Nanti gendut lho, Sam..."
"Biarin. Masih punya tenaga buat gym sampai balik ke semula lagi kok. Lagipula, masa kalau aku gendut kamu nggak mau sama aku ?"
"Kalau kegendutan sampai obesitas ya nggak mau, Sam. Aku mau kamu yang sehat, nanti kalau kegendutan sering sakit-sakitan lagi." Serene menyelesaikan cuciannya dan kembali duduk di samping Sam.
"Aku nggak mungkin gendut sampai kayak begitu, sayang..." Sam langsung merangkul Serene. Serene menyandarkan kepalanya di dada bidang Sam. Samar-samar, ia menghirup harum maskulin parfum Sam bercampur dengan keringat.
"Jadi, sekarang masih belum kenyang ? Masih mau habisin sisa gudeg sama kering kentang ebinya lagi ?"
"Gudegnya saja lah, kering kentang kan bisa disimpan buat dicemil lain kali. Simpan dulu gih, sayang. Nanti keburu melempem." Sam tersenyum lebar dan menarik piring berisi sisa gudeg lalu melahapnya habis dan membersihkan bumbunya hingga licin tandas. Serene lagi-lagi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, kemudian menutup kotak berisi kering kentang ebi rapat-rapat dan menyimpannya di lemari.
"Ahhh... Aku kenyang banget, Serene." Sam menepuk-nepuk perutnya yang sedikit membesar walau masih tergolong cukup datar.
"Ya iyalah kenyang, makannya kayak orang nggak makan seminggu..."
Sam tertawa kencang.
Ā Setelah membereskan seluruh peranti dan meja makan, Sam dan Serene berencana untuk keluar berkeliling beberapa spot di Singapura.
"Mau kemana, Serene ?"
"Enaknya kemana ya ?" Serene berpikir.
"Singapore lack romantic places, I guess." Sam tertawa kecil, "Kalau mau main, sekarang sudah sore..."
Sekarang sudah jam tiga sore waktu Singapura.
"Ke mall kamu saja deh. Nanti agak malam baru balik... Kamu masih sanggup makan malam memangnya ?"
"Kalau dipikir sekarang ya masih belum sanggup. Nanti dilihat lagi saja... Jadi, ke The One ?"
Serene mengangguk, "Sekalian lihat outlet aku nanti..."
"Okay, my lady. This driver is ready to take you right now. Let's go !"
Ā **
Ā Malam itu setelah memutuskan untuk melahap rendang buatan ibu Serene dan nasi putih sepiring yang membuat Serene kembali menggeleng-gelengkan kepalanya lagi untuk kesekian kalinya -karena ternyata perut Sam masih sanggup menampung makanan setelah siangnya melahap makanan dalam porsi mengerikan- Sam malah tertidur di sofa ruang tengah apartemen Serene. Televisi di depannya masih menyala program berita Channel NewsAsia, yang kemudian dimatikan oleh Serene.
"Kekenyangan sih, jadi nggak kuat melek kan ?" Gumam Serene sambil menahan senyumnya. Serene lalu mengambil selimut cadangan yang dibawanya dari lemari kemudian menyelimuti Sam yang sudah bergelung nyaman dan nyenyak. Setelah itu, Serene mematikan lampu ruang tengah dan berlalu ke kemarnya setelah menanamkan kecupan selamat malam di kening Sam.
Ā **
Ā Serene mengamati kalender di meja kerjanya, kemudian sambil tersenyum cerah ia mencoret satu angka tanggal di kalendernya dengan spidol merah menyala.
Ā 12 Agustus. Enam bulan perayaan mereka bersama.
Hari demi hari berlalu bagaikan angin, tanpa terasa sudah hampir enam bulan mereka bersama. Berbagai kejadian telah mereka lalui, dari pembukaan outlet perdana resmi Pose di Singapura dan peresmian kantor cabang Pose di Woodlands, serta pelantikan Serene sebagai Head Of Marketing -nama lain Marketing Director- Pose cabang Singapura.
Senang, bahagia, berbagai senyuman dan tawa dari hari ke hari, kecupan manis Sam di bibir Serene untuk pertama kalinya saat mereka merayakan satu bulan mereka bersama dengan dinner romantis buatan mereka sendiri di apartemen Sam serta ribuan kali dekapan hangat telah mereka lakukan bersama.
Tentu saja mereka pernah bertengkar. Sebuah hubungan tidak selamanya manis seperti madu, ada kalanya juga pahit seperti obat yang Serene minum saat ia demam. Serene jadi mengingat satu saat pahit itu, ketika mereka bahkan memutuskan untuk sama-sama menyendiri mengambil jatah break dalam hubungan mereka......
Ā ...tepat tiga bulan mereka bersama.
Ā **
Ā Makan malam romantis di Pool Grill, Singapore Marriott Hotel itu terasa sangat hangat baik bagi Sam maupun Serene. Pemandangan langit Singapura malam itu yang bebas bintang namun cerah memayungi dua orang yang sama-sama sedang mengapung dalam lautan rasa cinta di antara mereka.
Tiga bulan mereka bersama, hampir tidak ada konflik di antara mereka kecuali sedikit debat kecil sana-sini yang bisa diatasi semudah menepis debu yang hinggap di kemeja.
Sam menggenggam jemari Serene di depannya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan bahwa Serene luar biasa cantik malam ini. Dengan gaun pendek turquoise berpotongan sabrina yang dikenakannya, Serene terlihat jauh lebih muda daripada usianya. Riasan wajahnya yang juga natural dan simpel menyempurnakan penampilannya.
"Kamu nggak bosan kan, sayang, kalau aku bilang lagi ?" Ujar Sam menatap Serene dengan penuh cinta.
"Umm...menurutmu ?" Balas Serene sambil menatap mata coklat Sam yang menurutnya terlihat berkilau malam itu.
"You're so damn beautiful tonight. Nggak enek ?"
Serene menggeleng sambil tersenyum manis. Bagaimana bisa dia mual mendengarkan pujian kekasihnya yang paling ia sayangi ini ?
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Seusai bersulang dan menyesap sedikit dari wine di gelas mereka, mereka menyantap hidangan lezat di depan mereka. Serene menyuapi Sam makanannya, begitupun Sam. Mereka terlihat sangat serasi dan manis.
Usai menghabiskan makan malam dan wine mereka, mereka pun beranjak pergi. Namun Serene tidak menyangka akan terjadi sesuatu sedetik setelah mereka melangkah pergi dari meja mereka.
Seorang wanita yang kira-kira seusia Serene mendatangi Sam dengan wajah penuh air mata. Serene melihat ekspresi Sam yang datar dengan mata menyipit.
"Natasha ?" Suara rendah Sam terdengar.
"Sam, tolong aku..." Natasha menangis sesenggukan di depan Sam, membuat beberapa pasang mata tertuju kepadanya.
"Ada apa ?" Tanya Sam kepada Natasha, sambil melihat sekelilingnya. Beberapa orang sudah memakukan tatapan mereka ke drama yang tiba-tiba saja terjadi tanpa aba-aba.
"Tolong rawat anak kita..." Natasha menekap mulutnya untuk mencegah suara tangisannya yang semakin membesar.
Serene membeku di tempatnya berdiri. Kepalanya perlahan menoleh ke arah Sam dan matanya menatap ekspresi Sam yang ternyata sama-sama membeku.
"A...anak kita ? Kapan ?" Nada suara Sam penuh dengan ketidakpercayaan.
Hubungan Sam dengan Natasha telah berakhir kurang-lebih satu setengah tahun yang lalu dan sekarang tiba-tiba Natasha datang meminta pertanggungjawaban. Natasha bahkan sudah menikah karena dijodohkan oleh keluarganya yang berdarah biru.
"Cerita lawas, Sam. Aku hamil tiga bulan saat suamiku menikahiku, aku tahu hal itu saat usia kandunganku berusia enam minggu. Kau ingat, bukan, kejadian itu ? Saat kita..." Natasha menghentikan kata-katanya dan menatap Serene penuh tuduhan. Serene sendiri sudah merasa perih mendengar Sam dan Natasha pernah melakukannya -oh, tentu saja, Natasha sungguh cantik dan eksotis, Sam juga seorang pria matang jadi jelas ia tidak bisa menolak pesona diri Natasha.
Serene melepaskan genggaman tangan Sam yang hangat, kemudian memutuskan untuk berdiri diam melawan tatapan Natasha yang penuh intimidasi. Toh, ia sekarang yang menjadi kekasih Sam. Natasha hanyalah sebongkah dari bagian kisah cinta masa lalu Sam. Yang perlu dijelaskan adalah apakah benar anak yang disebut Natasha adalah anak Sam.
"Siapa kamu ?" Tanya Natasha tajam.
"Aku ?" Serene menyipitkan matanya, walau dadanya terasa sesak dan ingin segera mengetahui kebenaran dari segalanya, "Kekasih Sam saat ini. Sebaiknya kita duduk bila ingin membicarakan masalah ini, Natasha. Kau tentunya tidak ingin menjadi pusat tontonan, bukan ?"
Sam menoleh ke arah Serene yang menjadi begitu dingin di sebelahnya, merasakan bahwa Serene enggan berbicara dengannya, bahkan genggamannya pun dilepas.
Mereka duduk di sebuah meja kosong di dekat kolam renang di sisi luar restoran.
"Sam, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut. Sungguh." Natasha meneruskan ucapannya. Sam masih bergeming.
"Apakah kamu yakin itu anak kita ?" Tanya Sam datar, walau benaknya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Serene menoleh ke arah Sam. Kalau ia yang jadi Natasha mungkin -kalau memang perkataan Natasha benar- ia sudah menampar Sam. Teganya Sam berkata seperti itu !
Natasha kembali meneteskan air matanya dan menggigit bibir bawahnya.
"Itu anak kita, Sam. Tolong, aku minta, rawat dia. Aku tidak meminta kita untuk bersama lagi seperti dulu, aku hanya menginginkan kamu merawat dia..."
"Dan kenapa kamu begitu putus asa memintaku merawatnya ? Kenapa kamu baru mendatangiku saat ini ? Kenapa kamu sampai tahu aku ada di sini ?" Cecar Sam kepada Natasha. Serene kembali melihat Sam. Itu pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya juga mengambang di benak Serene.
"Aku sedang..." Natasha terdiam sesaat, membasahi bibirnya, "...makan malam di sini, Sam. Aku tidak menyangka aku bisa menemukanmu. Semenjak aku ditarik pulang ke Jakarta dan dipaksa menikah, aku merasa hidupku hampa. Aku begitu ingin mencarimu, namun aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku dikekang suamiku sendiri, kebebasanku dilenyapkan, aku seperti dipenjara..."
Natasha kembali meneteskan air matanya sendiri.
"Keith aku lahirkan enam bulan setelah aku menikah. Ketika aku menikah, suamiku tidak tahu aku mengandung anakmu, hingga akhirnya aku beritahu malam itu juga di kamar pernikahan kami dan dia meninggalkanku begitu saja. Hingga sekarang, walau kita tidur sekamar, ia tidak pernah menyentuhku. Aku seperti bonekanya, aku hanya bisa diam di rumah, mengurus Keith dan mengurus taman bunga di halaman belakang rumahku. Aku nggak tahan, Sam. Aku ingin kebebasanku kembali... Makanya aku kabur membawa Keith ke sini, berharap mungkin aku bisa menemukan kamu. Aku ingin kamu yang membesarkan dia, aku ingin pergi sejauh mungkin dari wilayah Asia agar suamiku tidak lagi bisa mencariku. Tolong aku, Sam..."
Ā Sam dan Serene sama-sama terdiam, dengan pikiran berbeda di benak mereka masing-masing.
"Di mana...Keith ?" Ujar Sam, lamat-lamat menyebut nama yang disebut Natasha sebagai putranya. Kalau memang itu benar, Sam yakin, Serene pasti akan meninggalkannya. Tidak lagi mempercayainya.
"Sekarang ada di penitipan bayi di hotel tempatku menginap."
"Aku mau lihat Keith." Sam berkata pendek, membuat Serene kembali menatap Sam dengan hati teriris.
Ā Kalau memang itu anak Sam, Serene tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin, jalan satu-satunya adalah membiarkan Sam membesarkan anaknya dan meninggalkan Sam mencari kebahagiaannya sendiri. Serene tidak sanggup bila harus hidup dengan anak buah cinta Sam dengan mantan kekasihnya. Kelak seumur hidupnya, ia akan terus mengingat perbuatan keji Sam menghamili Natasha.
Ā Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat Natasha menginap, hanya keheningan yang mengisi atmosfer mobil Sam, ditambah sesak bagi Serene.
Ketika mereka sampai dan akhirnya melihat bagaimana rupa Keith, Serene mengerjapkan matanya beberapa kali, menemukan fakta bahwa wajah Keith lebih mirip Natasha daripada Sam, kecuali satu hal. Mata Keith yang besar dan bersinar polos itu begitu mirip mata Sam, sama-sama coklat bening.
Bagi Sam sendiri, entah mengapa ia tidak merasakan suatu hal yang dapat membuatnya langsung mengakui bahwa Keith adalah anak kandungnya. Sam menyadari kemiripan mata Keith dengan matanya, namun perasaannya entah berkata bahwa Keith bukan anaknya. Bukan sebuah penolakan tepatnya, namun menurut Sam nalurinya menyuarakan kebenaran. Tidak ada perasaan sayang, tidak ada rasa kedekatan apapun. Sam seketika merasa ini seperti ia dan ayahnya. Tidak merasakan rasa sayang dan kedekatan, tidak seperti ia dan ibunya yang begitu dekat.
Mata bulat besar Keith mengerjap beberapa kali melihat dua sosok yang tidak dikenalnya, kemudian ia melihat ke ibunya, Natasha, yang langsung menggendongnya dan mencium keningnya.
"Keith baru sebelas bulan, Sam." Natasha berujar sambil kembali mencium puncak kepala Keith yang bergelung nyaman di pelukannya.
Sam melangkah maju, mencoba merasakan dan mencari perasaan sayang di hatinya dengan mengulurkan tangannya untuk berusaha menggendong Keith. Keith hanya menatapnya polos, kemudian memalingkan wajahnya dan kembali bergelung di pelukan ibunya yang nyaman. Sebuah penolakan untuk Sam.
"Keith, this is your daddy. Look at him, is he handsome ? He is as charming as you, kiddo..." Suara Natasha terdengar membujuk Keith. Keith melengkungkan bibirnya ke bawah lalu menangis kencang. Jelas, ia tidak ingin bersama Sam.
"I think he is already tired, Sam. Besok tolong lihat dia lagi ya di sini ? Please..." Pinta Natasha sambil menenangkan Keith.
Sam tidak merespon apapun. Hanya mengangguk kemudian berbalik meninggalkan Natasha dan Keith, lalu menggamit jemari Serene yang sedari tadi hanya dapat menonton adegan di depannya.
Ā Di mobil Sam, dalam perjalanan mengantar Serene kembali ke apartemennya di Woodlands, Sam hanya terdiam tanpa memberikan penjelasan apapun kepada Serene. Keheningan yang menyesakkan bagi mereka berdua.
"You're not going to explain anything to me ?" Suara Serene yang penuh perasaan perih akhirnya memecah keheningan yang mencekam itu.
Sam mengatupkan rahangnya erat-erat dan mengeratkan pegangannya di kemudi mobil.
"Kalau memang kamu pernah melakukannya dengan Natasha, aku bisa mengerti, Sam. She is very beautiful, she is so appealing to every normal man like you. Semua pria pasti pernah melakukannya biar hanya sekali-dua kali kepada kekasihnya. Namun kalau sampai menghamili itu sudah lain cerita, Sammy..." Suara Serene dipenuhi pedih yang sangat kental.
"We did it, though. Dan aku sadar, aku tidak memakai pengaman apapun... Tapi aku benar-benar tidak sadar bila perbuatanku itu bisa menghamilinya..." Suara Sam bergetar.
Serene mendengus pelan, "Kamu nggak pakai pengaman ? Ya jelaslah ada kemungkinan besar kamu menghamili Natasha."
"Natasha selalu bilang dia meminum pil dan aku tidak pernah melakukannya terlebih dahulu kalau Natasha tidak menggodaku."
"Ah, digoda ?" Serene menoleh ke arah Sam, menatap kekasihnya itu tajam, "Kamu gampang digoda, begitu rupanya ?"
"Not that, Serene." Sam terlihat salah tingkah, "I mean, she always tell me that she loves me and she wants to make out with me. Kamu tahu aku pasti menolak.....-"
"-menolak ? Kalau kamu tolak masa dia bisa hamil ?!" Potong Serene mulai histeris. Ia mulai merasa amarahnya meluap, tidak hanya sekadar perih di hati.
"Maksudku, Serene, di awal hubunganku dengan Natasha dulu, aku selalu menolak bila dia minta aku begitu. But I'm a normal guy, Natasha marayuku dengan gaya yang... Oh God, I can't tell !" Sam meremas rambutnya, merutuki kebodohannya saat beberapa kali luruh dalam rayuan Natasha untuk melakukan hal itu dengannya.
Serene menggigit bibirnya. Mulai yakin bahwa memang Sam menghamili Natasha. Ia menggelengkan kepalanya.
"Berhenti, Sam. Turunkan aku." Serene menahan air matanya yang sudah mengambang.
"No, Serene. Aku nggak mau turunin kamu di sini. Sudah malam dan ini masih jauh."
"Drop me here right now, Sam." Serene menengadahkan kepalanya, berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh saat itu.
Sam terdiam dan terus memacu mobilnya menuju ke apartemen Serene. Mengetahui bahwa Sam tidak akan menurunkannya, akhirnya Serene hanya bisa menoleh ke luar, melihat jalanan malam ala Singapura yang tidak terlalu ramai sambil diam-diam menghapus air matanya yang menetes.
Sesampainya di apartemennya, Serene buru-buru turun dan meninggalkan Sam. Namun Sam langsung turun dari mobilnya dan mencekal pergelangan tangan Serene.
"Lepaskan aku, Sam. Mau apa lagi ?" Ujar Serene tanpa menoleh. Ia juga sudah lelah untuk melawan, sehingga ia tetap membiarkan tangannya digenggam oleh Sam.
"Sweetie, please, look at me." Pinta Sam. Ia tidak ingin kehilangan Serene dengan cara seperti ini, bahkan ia tidak pernah membayangkan rasanya bila Serene meninggalkannya.
Serene tetap bergeming, tidak berbalik untuk menatap Sam. Akhirnya Sam yang maju ke depan Serene, menatap wanita yang dicintainya itu dengan sedih.
"I won't lose you, baby. I'll give our relationship a break if you want it, but promise me, someday you'll come back to me. I'll always wait for that time." Ujar Sam dengan hati sesak sambil menggenggam jemari Serene. Ia tahu, ia harus membereskan urusan ini dan Serene tidak boleh terlibat di dalamnya. Apapun hasilnya nanti, apakah Keith memang putranya atau tidak, Sam akan tetap berjuang mendapatkan cinta Serene kembali. Semoga saja kalau memang Keith benar anaknya, Serene tetap ingin kembali padanya dan syukur-syukur mau menemaninya merawat Keith.
"You know what I want, Sam. Sampai urusanmu itu selesai, jangan temui aku sama sekali. Jangan hubungi aku juga. Please... I need to breath." Serene kembali meneteskan air matanya, kemudian membebaskan tangannya yang digenggam Sam dan melangkah pergi, masuk ke dalam gedung apartemennya, meninggalkan Sam dengan perasaan pahit.
Ā Namun kenyataannya, dua minggu kemudian, Sam datang dengan wajah cerah ke apartemen Serene. Serene yang selama dua minggu itu tidak bisa tidur nyenyak karena bimbang apakah ia harus melepaskan Sam bila memang Keith putra biologis Sam, atau merelakan dirinya ikut merawat Keith walau ia akan terus mengingat perbuatan Sam, bingung mendapati Sam berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah cerah seakan masalah di antara mereka sudah selesai begitu saja.
Sam memeluknya erat, tubuh Sam terasa bergetar saat Serene menyandarkan kepalanya di dada Sam.
"It's now clear, Serene. Oh, I miss you so much, baby..." Ujar Sam dengan suara penuh kelegaan sambil mengecup puncak kepala Serene berkali-kali.
Harum tubuh Sam membuat Serene merasa bahwa ia benar-benar merindukan Sam, namun masalah di antara mereka belum selesai baginya. Ia butuh penjelasan.
Serene melepaskan pelukan Sam dan menatap Sam tajam. Sam menutup pintu apartemen Serene dan duduk di sofa ruang tengah, ia menepuk tempat kosong di sebelahnya, menyuruh Serene duduk di sampingnya. Serene menurut dan duduk, namun setelah itu kembali menatap Sam menuntut penjelasan.
"Keith is not my biological son." Satu kalimat dari Sam itu mengangkat hampir seluruh beban hati Serene. Begitu lega, membuat Serene hampir berteriak karena selama dua minggu belakangan ia didera sesak dan matanya tak henti mengeluarkan air mata hingga bengkak. Namun masih ada ganjalan, sebuah rasa penasaran.
"DNA test ?" Tanya Serene pendek.
"Awalnya nggak. Jadi selama tiga hari, aku terus mengunjungi Keith di apartemen Natasha. Mengajak Keith bermain, kupikir kalau dia memang anakku apa salahnya aku mendekatkan diri. Toh, dia anakku." Sam berdeham sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya, "Tapi Keith selalu menjauh dari aku, nggak mau dekat sama sekali. Aku coba suapi bubur dia tidak mau makan sama sekali. Bukannya membujuk dia, entah mengapa aku malah kesal. Rasanya aku nggak bisa sayang sama dia. Aku pikir, mungkin aku masih belum terbiasa. Jadi aku tahan saja, namun ternyata memang aku nggak bisa sayang sama dia walau Keith lucunya minta ampun."
Sam menghela napasnya. Serene masih terdiam menatap televisi yang mati di depannya.
"Hari keempat, tiba-tiba seorang laki-laki datang ke tempat Keith dititipkan saat aku mencoba membujuk Keith buat main sama aku. Keith terlihat begitu senang saat orang itu mendekatinya, dia langsung merangkak cepat. Orang itu melihat ke arahku. Dia tanya aku siapa dan dia bilang, dia Papanya Keith."
Serene menoleh ke arah Sam, mengerutkan keningnya. Sam balas menatapnya, kemudian tersenyum tipis dan melanjutkan ceritanya, "Dia suaminya Natasha, ya...yang dijodohkan itu. Dia tanya aku siapa, jadi aku cerita saja langsung apa adanya. Toh, kalau memang aku Papa kandungnya Keith, dia pasti bilang kan ? Walau ada kemungkinan Natasha tidak cerita siapa ayah kandung Keith."
"Lalu ?" Tanya Serene, berusaha datar. Ia masih tidak ingin terlihat begitu lega di hadapan Sam.
"Dia cuma tersenyum saja, namun matanya seperti sedih. Lalu dia cerita semuanya. Kalau ternyata...Natasha mengidap kelainan jiwa. Mentalnya trauma saat mendapati dirinya hamil di luar nikah, karena tiga bulan sebelum mereka menikah, dia meniduri Natasha secara tidak sengaja karena berada di bawah pengaruh alkohol akibat minum terlalu banyak di acara pesta salah satu koleganya. Saat ia sadar dari pengaruh alkohol keesokan harinya, ia sadar bahwa ia melakukannya tanpa pengaman dan ia tentu saja sadar saat itu Natasha masih berstatus pacarku. Natasha tidak ingin menemuinya lagi, walau sebenarnya Natasha tahu ia sudah dijodohkan olehnya. Namun Natasha masih tetap ingin bersama aku hingga akhirnya tiga bulan kemudian ia dipaksa pulang untuk menikah, karena suaminya itu sadar ia telah berbuat dan ia harus bertanggung jawab dengan mempercepat proses perjodohan itu."
"But you did that with her..." Serene menggumam pelan, namun tetap terdengar oleh Sam.
"I did that, namun ternyata saat itu Natasha sudah hamil, mengandung anak suaminya itu."
"And you believe his story ? Just like that ?"
"Pengin percaya, tepatnya, namun kamu tahu aku tidak mudah percaya begitu saja jadi aku mau membuktikannya sekali lagi."
"Natasha nggak tahu kalau suaminya datang ?"
"Tahu dan pas dia tahu, dia benar-benar histeris sambil memeluk Keith yang menangis, bilang kalau suaminya itu sering menyiksanya, sering mengurungnya seperti dipenjara, dan bilang suaminya itu bukan ayah Keith. Saat itu aku melihat bahwa sepertinya Natasha memang terguncang. Besoknya, suaminya Natasha menghubungi aku dan bilang kalau memang aku masih tidak percaya, dia sudah mengambil beberapa helai rambut Keith sebagai sampel tes DNA. I did it though and the result turns out to be negative. That's why I realize that I can't love Keith, I'm just adoring him because he is such a cute little boy."
Serene terdiam. Sebenarnya ia sudah tidak memerlukan penjelasan lagi, namun sekarang ia ingin melihat seberapa jauh usaha Sam untuk kembali membuatnya tersenyum.
"Serene ?" Panggil Sam pelan. Serene menoleh ke arah Sam, menatapnya datar.
"Penjelasanku cuma itu saja, karena memang cuma itu yang terjadi... Believe me, baby, I'm not lying and I don't dare to lie to you." Sam menatap Serene dengan sayang.
Serene masih terdiam.
"Kamu masih kecewa ? Masih marah karena aku pernah melakukan hal itu ke Natasha ?" Tanya Sam lembut.
Serene hanya terdiam saja. Raut wajah Sam yang kebingungan sebenarnya membuat Serene ingin tertawa.
"Sweetie..." Sam merengkuh Serene ke dalam pelukannya. Serene tidak menolak, namun tidak membalas pelukan itu walau sebenarnya ia ingin.
"You know what ? Meskipun Keith terbukti anak kandungku, aku tetap akan meminta kamu bersamaku. Merawat Keith dan anak kita nanti bersama-sama..." Sam mengecup puncak kepala Serene.
Mendengar kata-kata 'anak kita' dari mulut Sam membuat mata Serene menghangat. Sam menginginkan sebuah masa depan dengannya.
Serene menggigit bibir bawahnya, menahan tangis harunya. Ia tahu ia sudah memaafkan Sam, walau Sam sama sekali tidak bersalah dan hanya menjadi korban dari ambisi Natasha yang mengidap kelainan jiwa.
"Serene, my love..." Sam mengangkat dagu Serene yang sedang menempel di bahunya lalu menatap mata coklat jernih Serene dalam-dalam. Meresapi wajah jelita di hadapannya. Satu-satunya wanita yang mengerti dirinya dan satu-satunya wanita yang ia inginkan untuk menjadi istrinya, menemani hidupnya selamanya hingga maut memisahkan.
"You know what ? Apapun yang terjadi, aku akan tetap selalu bersamamu. I'll always love you no matter what happened. You're my only incredible girlfriend, my lovely, my precious one."
Kedua tangan Sam menangkup wajah Serene, ibu jarinya menyusuri tulang pipi Serene, lalu hidung dan bibir tipis Serene.
"You are the most beautiful woman in my life, baby."
"Mamamu ?" Tanya Serene pelan.
Mata Sam mengerjap beberapa kali, kemudian bersinar jenaka, "Setelah Mama tentunya," kemudian ia tertawa pelan, membuat Serene mau tidak mau tersenyum.
"I miss you so much, mi reina (my queen)..." Sam mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan bibirnya perlahan dengan bibir Serene. Serene memejamkan matanya, merasakan bibir hangat Sam menyusuri bibirnya.
Sam melumat bibir Serene, menyesap manis yang terasa, menumpahkan seluruh rasa cintanya yang mendalam. Serene membalas Sam dan tak lama, mereka sudah saling melumat dan menautkan lidah mereka. Tidak hanya gairah, namun juga rasa cinta yang meluap.
Tidak diperlukan kata-kata bagi mereka untuk kembali merekatkan hubungan mereka yang sempat retak.
Ā **
Ā Wajah Serene merona mengingat salah satu ciuman terhebat yang pernah mereka lakukan itu. Ia melirik jam di dinding ruangannya, hari ini ia akan pulang cepat, ia sudah berjanji kepada Sam akan memasak makan malam bagi mereka berdua.
Serene segera membereskan berkas-berkasnya dan tas kerjanya. Hari ini, ia tidak ingin dijemput, sehingga ia akan diantar pulang dengan mobil kantor.
-- This is the next chapter, hope you guys enjoy it !! Happy reading :D --
Incredible, adj. : Ronan Keating said, "I'm not Superman, but I can always be your man", so do I.
#6
Ā Sudah sepagian ini Sam merasakan sakit kepalanya kambuh lagi, bahkan kali ini di saat ia benar-benar dalam keadaan sadar sepenuhnya. Ia sudah mengkonsumsi aspirin dua tablet, masih tidak mempan juga. Ia bahkan sudah memaksa dirinya untuk tidur agar setidaknya ia tidak perlu merasakan sakit yang menyiksa ini, namun ia tidak sanggup memejamkan matanya.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya dan rencana Sam untuk langsung menemui Mark sesampainya ia di Singapura sepertinya akan berantakan. Sam mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahangnya menahan rasa sakit yang sudah berlebihan ini. Napasnya terengah-engah dan sesekali kakinya menghentak. Ia akhirnya berguling di sofa ruang tengahnya, merapatkan kakinya pada dadanya lalu dipeluknya.
Ketika setelah entah berapa lama, akhirnya Sam merasa sakit kepalanya sedikit mereda. Mungkin ini efek dari dua tablet aspirin yang ia minum.
Namun ketika Sam berdiri dan kakinya menginjak lantai apartemennya yang dingin, pandangannya mendadak gelap dan ia tumbang begitu saja. Sam pingsan tanpa ada yang mengetahui dan tanpa ada yang menolongnya.
Ā **
Ā Serene cemas, ia khawatir mengapa Sam tidak menjawab segala panggilan dan pesan singkat yang ia kirimkan seharian. Sekarang sudah jam tiga sore waktu Jakarta, yang berarti empat sore waktu Singapura. Kalau memang Sam sedang beristirahat, semestinya ia sudah terbangun karena ponselnya berdering dan bergetar terus atau kalau memang ponselnya diatur dalam mode silent, setidaknya ponselnya bergetar.
Di saat yang sama, ibu Sam, Berliana, juga sedang berjalan maju-mundur tak tentu, cemas mengapa anak semata wayangnya tidak memberi kabar hingga sore seperti ini. Padahal biasanya, Sam selalu memberi kabar bila ia ingin berangkat dan setelah mendarat, baik untuk urusan bisnis atau berlibur. Berliana pun sudah mengecek ke call center maskapai yang ditumpangi Sam dan pihak maskapai mengatakan bahwa pesawat telah mendarat dengan sempurna tanpa mengalami penundaan. Semua telepon yang Berliana coba dari pagi hingga sore ini teralihkan ke kotak suara.
Ā Serene ingat bahwa Sam mempunyai asisten bernama Mark, namun Serene tidak mengetahui nomor Mark yang bisa ia hubungi. Serene pun mengambil inisiatif menghubungi kantor Sam di Singapura.
"Good afternoon, Sol Golden Enterprise. Ellie Tan is answering, who am I talking to ?"
"Good afternoon, Miss Ellie. I'm Serene from Pose Jakarta. Is Mr. Mark in the office ?"
"I'm so sorry, Miss Serene, Mr. Mark is now off the office for a meeting in Changi. Any message for him ?"
"Do you know his phone number ? I have an important thing to talk to him." Serene menggigit bibir bawahnya.
"I can give you his phone number, Miss Serene, but pardon me, may I know your business in calling him privately ? Because as far as I know, Mr. Mark doesn't want to receive any call outside business matters from our business partners."
"Regarding Mr. Sam. I want to talk to Mr. Mark about Mr. Sam privately. This is important, Miss Ellie, could you give me his number ?" Serene menekan nada bicaranya karena ia benar-benar cemas dan butuh nomor ponsel Mark.
Ellie yang mendengar nada tak lazim dari Serene merasa bahwa mungkin Serene memang benar-benar ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting, sehingga ia pun menyebutkan sederet nomor ponsel pribadi Mark.
"Thank you very much, Miss Ellie."
"You're welcome, Miss Serene. Have a good day."
Klik. Sambungan telepon diputus. Serene pun langsung mengetik sederet nomor yang ia dapat dari Ellie di layar ponselnya dan menelepon Mark.
Tidak diangkat. Sepertinya Mark memang sedang sibuk. Serene mencoba menelepon sekali lagi dan tetap tidak diangkat. Serene menghela napasnya, kemudian mencoba sekali lagi dan akhirnya diangkat.
Ā "Hello ?" Suara bariton Mark terdengar di telinga Serene. Serene mendesah lega.
"Yes, am I speaking to Mark ? Sam's personal assistant ?"
"Yes, I'm Mark, Sam's personal assistant. Who is this ?"
"I'm Serene. Remember me ? Pose Jakarta." Ujar Serene dengan cepat.
"Ah, yes, Miss Serene. What's the matter ? I'm on a meeting right now."
Serene mengatakan alasannya terpaksa menelepon Mark dan nada kaget yang sedikit aneh terdengar dari suara Mark.
"Sam tidak bisa dihubungi ?" Ujar Mark dengan nada suara sedikit meninggi.
"Sama sekali, Mark. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Bisa tolong kamu cek di apartemennya ?" Pinta Serene kepada Mark dengan suara memohon. Serene tahu, tidak mungkin Mark tidak mengetahui apartemen Sam.
"Akan aku cek segera, Serene. Terima kasih telah menghubungi aku."
"Tolong kabari aku kalau kamu telah menemukan Sam, ya. Aku sangat khawatir seharian ini."
"I will, Serene." Kemudian Mark memutus sambungan telepon.
Ā Serene memijat keningnya, hidungnya berkerut dan matanya terpejam. Entah mengapa ia merasa sangat cemas seperti ini terhadap keadaan Sam. Sudah lama sejak ia terakhir merasakan perasaan semacam ini.
Serene menyadari satu hal setelahnya...
Ā Apa ia mulai memperhatikan Sam ?
Ā **
Ā Mark menggenggam kemudi mobilnya erat-erat. Ia takut, apa yang ditakutinya selama ini akhirnya terjadi juga pada Sam. Setelah berusaha secepat mungkin menyudahi meeting-nya, ia segera pergi ke apartemen Sam.
Ia menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Mobilnya membelah jalan bebas hambatan, persetan dengan batas kecepatan yang berlaku, ia perlu sampai secepat mungkin di apartemen Sam.
Ketika ia sudah tiba di depan pintu apartemen Sam dan menekan kombinasi kode kunci lalu membuka pintu apartemen Sam, ia malah menemukan Sam berjalan tertatih-tatih menuju ke arah kamar mandi. Wajah Sam begitu putih pucat, seakan sama dengan warna tembok apartemennya.
"Sam !" Mark berlari menuju Sam dan memapahnya masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, tubuh Sam yang bergetar hebat terjatuh di depan kloset dan ia otomatis mengeluarkan seluruh isi perutnya yang hampir tidak ada karena ia tidak menyentuh makanan sedikit pun mulai pagi ini.
Setelah beberapa kali mencoba untuk melawan rasa mual hebat yang ia rasakan dengan muntah namun tidak berhasil, Sam berusaha untuk berdiri namun ia bahkan tidak kuat mengangkat tubuhnya. Mark membantunya berdiri dan memapahnya menuju tempat tidurnya.
"Water, please..." Tunjuk Sam ke arah gelas di atas nakas samping tempat tidurnya. Mark dengan sigap mengambil gelap berisi air dan meminumkan air itu ke Sam.
Wajah Mark penuh dengan kecemasan dan teror, seakan sudah tahu apa yang terjadi dengan Sam.
"Don't show your ill expression when somebody is ill in front of you, Mark." Sam berkata datar dengan suara lemah.
"Kamu pasti belum makan, Sam. Aku buatkan bubur untukmu." Mark beranjak keluar dari kamar Sam. Ia berusaha menunda apapun yang ingin Sam katakan kepadanya, setidaknya hingga kondisi Sam membaik dan perutnya sudah terisi sedikit.
Saat bubur sudah jadi dan siap disantap, Sam hanya sanggup menelan tiga sendok makan sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya menolak suapan berikutnya.
Ā 'Ini gawat. Sekarang sepertinya mau tidak mau aku harus siap dengan konsekuensi apapun.' Batin Mark gusar.
Ā "Mark, aku sudah tahu semuanya. Tidak ada gunanya lagi kamu takut. Aku tidak marah kepadamu atau kepada siapapun yang menyimpan rahasia ini dan sudah berjanji ke Papa..." Sam menatap lurus, menghindari menatap Mark yang terlihat lemas.
Mark menatap Sam tak berkedip. Benarkah ia sudah tahu semuanya ?
"Iya, aku sudah tahu bahwa aku adalah Sammy D. Nama asliku Samuel Damian Jayanata dan aku seorang penyanyi terkenal yang kehilangan karirnya karena ditembak oleh seseorang yang tak dikenal. Banyak orang mengira aku sudah meninggal dunia karena tidak ada satupun kabar mengenai aku setelah kejadian penembakan itu. Aku amnesia hingga sekarang, setelah aku sadar dari pingsan tadi, aku mengingat seluruhnya secara utuh."
Mark terdiam. Sebenarnya masih ada lagi...
"Aku mengetahui fakta ini dari Mamaku, sehingga kupikir ketika nanti aku mendapatkan ingatanku kembali pun aku tidak masalah karena sudah mengetahui hal ini terlebih dahulu. Namun masih ada yang mengganjal. Setahu dan seingatku, aku hampir tidak pernah mempunyai musuh. Ada pun itu adalah rival di dunia musik yang sepertinya tidak membahayakan. Jadi siapa yang tega menembakku ? Masa hanya orang gila tanpa motif apapun ? Dan mengapa harus tiga kali ?" Tanya Sam sekaligus memancing jawaban dari Mark.
'There you go, Mark. He already knows everything but the bitter truth. So you should let him know now. Whether you'll die by cracking your vow, it's all your consequences.' Batin Mark mengutuk dirinya sendiri dan akhirnya memutuskan untuk memberi tahu segalanya.
"Sam, aku bakal kasih tahu kamu semuanya sekarang. Terserah setelah ini kamu bisa memaafkan aku atau tidak, namun aku sangat berharap, jangan memusuhi aku." Mark memohon kepada Sam dengan tatapan menyesal.
Sam mengangguk, masih tidak menatap Mark sama sekali.
"Begini... I'll be back in five minutes. Okay ?" Mark berlalu dari hadapan Sam untuk naik ke apartemennya sendiri dan mengambil seluruh bukti yang selalu ia simpan dan rahasiakan dari Sam.
Saat Mark kembali ke hadapan Sam, Sam sedang menonton berita internasional di televisi di kamarnya. Sam segera mematikan televisi itu ketika melihat ada sebuah amplop besar yang Mark pegang.
"Apa itu, Mark ?" Mata Sam melihat terang-terangan ke arah amplop besar yang masih berada di tangan Mark.
Mark mengeluarkan seluruh isinya. Hasil ct-scan terakhir otak Sam beserta beberapa surat dengan tulisan tangan ala dokter yang membingungkan untuk dibaca.
Mark menyodorkan lembaran ct-scan ke arah Sam sambil menunjuk ke sebuah bagian otak Sam, "Namanya bagian memori episodik, di dalamnya ada beberapa segmen kortikal lainnya, bagian ini adalah bagian tempat otakmu menyimpan mayoritas memori yang lalu, Sam."
Mark menghela napasnya. Kening Sam berkerut menerima pelajaran baru yang tidak ia ketahui itu.
"Mark, please. Kamu itu mau jelasin apa sih ?"
Mark terdiam sesaat, kemudian melanjutkan lagi, "Aku terpaksa harus merahasiakan ini ke kamu karena, well...kamu pasti sudah tahu, aku berjanji ke Papamu."
Sam mengangguk kaku.
Ā "Jadi sebenarnya..."
Ā **
Ā Mark mengintip dari balik tembok dan mendengar sepotong pembicaraan Pras Jayanata dengan profesor yang menangani koma yang dialami Sam.
Ia mengerutkan dahinya mendengar beberapa istilah kedokteran tentang bagian otak dan saraf yang tidak asing lagi di telinganya, secara dia juga adalah seorang mahasiswa kedokteran walau masih semester awal.
Mau diapakan otak Sam ? Lagipula, apakah Pras mengerti istilah kedokteran mengingat latar belakangnya yang murni bisnis ?
Ā "Bagaimana dokter ?" Tanya seorang laki-laki tua berwajah kaku.
"Sebenarnya ini tidak bisa bersifat permanen. Jika teori yang disebut oleh banyak ahli sebagai alam bawah sadar itu benar, maka lima tahun saja sudah cukup untuk kembali membuat ingatan aslinya mengambang ke permukaan."
"Ada jaminan berapa lama dia bisa bertahan dalam keadaan seperti sekarang ?"
"Apabila kita lihat dari kondisi saat ini, mungkin...lima belas tahun. Namun tentu saja, berapa lama tepatnya tidak bisa saya jamin dengan angka pasti. Itu semua tergantung dari kondisi pasien."
Ā Hal itulah yang Mark dengar. Bulu kuduknya meremang. Apa yang akan dilakukan pria sinting itu ?
Usai melihat Pras berlalu, Mark diam-diam keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri profesor tersebut.
"Prof..." Panggil Mark.
Profesor tua itu berhenti dan menoleh ke arah Mark, menatap Mark bingung.
"Maaf, Prof. Saya tidak sengaja mendengar sepotong pembicaraan anda dengan Pras Jayanata mengenai Sammy. Boleh saya tahu itu tentang apa, Prof ?"
Profesor tersebut terlihat ragu dan sedikit takut, kemudian ia bertanya, "Siapa anda ?"
"Nama saya Mark, Prof, bisa dibilang...saya anak angkat Pras Jayanata. Sammy adalah adik angkat saya, jadi boleh saya tahu apa yang anda coba lakukan kepada Sammy ? Anda tidak perlu khawatir saya tidak mengerti, karena saya seorang mahasiswa kedokteran dan walau saya masih semester awal, saya sudah berencana mengambil spesialis saraf." Jelas Mark terlihat meyakinkan.
Profesor tersebut terlihat ragu sebelum akhirnya mempersilakan Mark masuk ke dalam ruangannya. Di dalam ruangannya, profesor tersebut mempersilakan Mark duduk, kemudian ia menyalakan sebuah alat untuk menunjukkan hasil scan otak Sammy.
"Sammy mengalami benturan di kepalanya, namun tidak cukup keras untuk menganggu memori di dalamnya ataupun memberi efek syok yang bisa mengakibatkan amnesia. Saya pun heran mengapa Sammy tidak sadar-sadar juga, walau efek syok yang ia alami tergolong kecil." Profesor itu berhenti sejenak. Mark mengamati hasil scan otak Sam dan mengiyakan perkataan profesor tersebut dalam hati.
"Pras mendapat info bahwa sedang ada percobaan penelitian tentang serum yang bisa menghapus memori seseorang. Maka ia bawa Sammy yang masih belum sadar ke sini, walau sebagai seorang dokter, bila saya dihadapkan dengan kondisi seperti itu saya tidak akan mengizinkan Sammy di bawa pergi apalagi jarak antara Singapura dan Jerman tidak dekat. Namun Pras berjanji kepada saya, waktu itu lewat sambungan telepon internasional, bahwa ia akan membiayai seluruh riset tersebut asal Sammy bisa dirawat di sini dan dicobakan serum itu."
Mark membeku mendengar penjelasan profesor tersebut. Sammy dijadikan kelinci percobaan memory wipe serum yang bahkan masih belum tahu berhasil apa tidak ?
"Tapi, Prof... Itu termasuk ke dalam kejahatan medis, bukan ? Mencobakan hasil penelitian yang belum diketahui efek sampingnya kepada pasien yang bahkan tidak sadar dan tidak menyetujui untuk dicobakan ?" Tanya Mark dengan nada tidak percaya.
Profesor itu menunduk dan menghela napas berat, "Saya tahu saya melakukan keputusan yang salah dan melakukan kejahatan medis, namun biaya riset itu sungguh besar dan pemerintah tidak mengabulkan proposal yang kami ajukan. Bagaimanapun juga Mark, riset ini sudah berjalan setengah jalan lebih dan titik terang sudah terlihat. Saya yakin serum ini akan berhasil di sebagian besar orang, walau pasti ada beberapa yang bebal."
"Dan kelinci percobaan pertama adalah Sammy ?" Ujar Mark geram.
"Kami tidak mempunyai seorang pun yang bersedia dan kami pantang menggunakan binatang, karena serum ini diciptakan untuk otak manusia, bukan untuk mamalia di luar itu. Pras sudah mengatakan alasannya dan ia terlihat sangat putus asa saat itu. Mau tidak mau, untuk mengetes keberhasilan serum ini, hanya Sammy yang bisa kami gunakan." Profesor itu mengakui alasannya kepada Mark.
Mark menelan ludahnya membayangkan bila dirinya yang menjadi Sammy. Tidak hanya identitasnya hilang, namun juga masa lalunya dihilangkan dengan paksa.
"Lalu, apa efek obat itu selain menghilangkan ingatan, Prof ?"
"Simpelnya obat itu menekan memori tentang diri Sam dan apa yang sedang dilakukannya sebelum koma, lalu mencegah memori itu mengambang kembali setelah bertahun-tahun."
"Berapa lama efeknya, Prof ? Lalu apakah ada efek samping yang ditimbulkan pada pasien yang diberikan obat itu ?"
"Saya sendiri tidak bisa menjamin berapa lama efek itu akan bertahan, karena bila teori alam bawah sadar itu benar, memori itu akan lebih cepat mengambang ke permukaan. Melihat dari kondisi Sammy saat ini, mungkin lima belas tahun pun bisa-bisa saja, namun bila memori bawah sadar Sammy melawan balik dengan reaksi dan tekanan yang disebabkan oleh obat tersebut, mungkin lima tahun saja sudah cukup lama.
"Tentang efek samping, saya sendiri tidak bisa menjamin apa yang akan ditimbulkan. Bisa tidak terjadi apa-apa, atau pingsan dan muntah-muntah bila ringan, atau bahkan pasien bisa kembali koma jika tubuhnya tidak tahan. Saya masih belum bisa menjamin apa yang akan terjadi dengan Sammy, karena dia yang pertama."
Mark kembali terdiam. Di benaknya ia berpikir betapa kejam dan sintingnya Pras Jayanata melakukan hal ini kepada anak semata wayangnya, hanya agar Sammy mau menuruti keinginannya menjadi pewaris kerajaan usahanya dan tidak lagi membangkang, seperti yang sudah dilakukan Sammy beberapa tahun terakhir.
Mungkin Pras memang sudah sangat putus asa sehingga terpaksa menempuh cara ekstrim seperti ini. Menyuruh orang untuk menembak anaknya saat konser tunggal ketika caranya pura-pura kambuh sakit jantung tidak mempan untuk Sammy bisa membatalkan konser tunggalnya lalu menjenguk ayahnya di rumah sakit.
Bulu kuduk Mark kembali bergidik merasakan apa yang dirasakan Sammy. Ditembak tiga kali, terluka fatal dan kehabisan banyak darah, koma, dan masih dijadikan kelinci percobaan riset chemical amnesia.
Ā **
Ā "Sam... Ini beberapa surat dari profesor tersebut mengenai perkembangan kamu setelah diberikan serum itu dalam keadaan koma hingga kamu sadar dalam keadaan amnesia. Serum itu memang berhasil menekan memorimu selama ini, namun aku tidak tahu lagi, mungkin semakin lama efeknya semakin memudar. Mimpi-mimpi buruk yang kamu alami itu mungkin adalah efek mulai kembalinya memorimu yang ditekan efek serum itu..." Mark menyerahkan seluruh bukti yang telah ia beberkan dan jelaskan tersebut, kemudian dengan menundukkan kepalanya ia berjalan keluar dari kamar Sam. Ia cukup tahu diri telah menyimpan rahasia ini sekian lama dan sekarang saatnya ia menyerah dan memberitahu semuanya, lalu memberikan Sam waktu untuk berpikir. Mark pun akhirnya lupa memberitahu Serene tentang keadaan Sam.
Sam masih mematung. Baginya, informasi yang baru saja ia dapat terasa tidak masuk akal. Ayahnya setega itu menghancurkan karirnya demi mendapatkan penerus perusahaannya ? Menugaskan orang untuk menembaknya lalu ia dijadikan kelinci percobaan pertama sebuah penelitian obat yang bahkan pemerintah setempatnya saja tidak menyetujui riset itu ?
Dada Sam terasa sesak dan panas akan amarah serta rasa kecewa. Ia melihat bukti-bukti yang telah Mark beberkan dengan rasa geram yang begitu nyata. Ia membereskan seluruh bukti-bukti itu kembali ke dalam amplopnya dan menyambar ponselnya, melihat begitu banyak pesan singkat dan missed calls dari Serene dan ibunya selama ia pingsan, yang ia sementara abaikan. Ia memesan sebuah tiket menuju Jakarta, penerbangan pertama esok pagi.
Bukan untuk menemui Serene ataupun ibunya, namun untuk menemui ayahnya...tidak, menemui sosok Pras Jayanata yang sungguh-sungguh ia benci.
Ia merasa, ia bukan anak Pras Jayanata lagi, karena sekejam apapun sosok seorang ayah, yang namanya ayah tidak akan mencobai anaknya kecuali ia sudah sinting.
Ā Dan menurut Sam, Pras Jayanata memang sudah sinting.
Ā **
Ā Sam melangkah dengan cepat, langkah kakinya lebar-lebar, menuju ke ruang CEO, kantor Pras Jayanata.
Kedatangannya menarik perhatian, karena ia adalah anak tunggal dan pewaris utama seluruh perusahaan dan anak perusahaan ayahnya. Tanpa perlu mengetuk pintu dan melewati sekretaris ayahnya begitu saja, Sam membuka pintu ruangan CEO dengan kasar. Amarahnya sudah menggelegak dari saat kemarin mengetahui kebenaran pahit yang selama ini disembunyikan.
Pras dengan terkejut mendongak dan menatap ke arah putra tunggalnya yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Sam berjalan menuju ke meja ayahnya tanpa menutup pintu ruangan, kemudian membanting amplop besar berisi seluruh bukti yang kemarin dibeberkan Mark. Ia menatap ayahnya -yang sudah ia tidak anggap ayah- itu dengan tatapan membara. Rahangnya terkatup rapat.
Wajah Pras memucat melihat amplop besar itu di atas mejanya, sementara kejadian di ruangannya sudah mulai menarik perhatian orang-orang di luar. Sekretarisnya merasa ada sesuatu yang tidak beres langsung sigap menutup pintu ruangan atasannya itu.
"Da...darimana kamu dapat amplop ini ?"
"Dari Mark, anak angkatmu, Pras !"
"Kamu tidak memanggilku Papa ?" Tanya Pras dengan alis terangkat. Ia harus bisa mengontrol emosinya agar penyakit jantungnya tidak kambuh lagi.
"Papa... Hah ! Kau tidak lagi pantas dipanggil Papa setelah apa yang kau lakukan padaku !" Sam mengamuk.
"Apa yang Mark katakan padamu, Sam ? Jangan percaya apa yang dia katakan !" Pras menatap putra semata wayangnya itu, ketakutan terpancar di wajahnya.
"Bagaimana bisa aku tidak percaya bila Mark bisa dengan lancar menjelaskan semua isi amplop itu, Pras ? Ditambah lagi dengan ia tahu siapa yang menyuruh orang untuk menembakku, kemudian dia sempat berbicara dengan profesor yang kau biayai risetnya untuk menyuntikku dengan memory wipe serum. Hah, begitu kau bilang aku tidak harus percaya dengan kata-kata Mark ?" Sam mendengus.
Pras meraih ponsel di saku kemejanya dan berusaha menelepon Mark. Anak angkatnya itu patut mendapat pelajaran atas janjinya yang ia langgar sendiri.
"Mau apa kau, Pras ?!" Sam maju ke arah ayahnya dan merebut ponselnya, kemudian melihat bahwa ayahnya sedang berusaha menelepon Mark, lalu Sam membanting ponsel ayahnya ke lantai hingga hancur.
"Kau mau menelepon Mark, memarahinya di depanku karena telah melanggar janji yang kau paksa dia turuti ? Jangan pernah kau ganggu Mark dan semua yang telah memberitahu aku kebenaran, bangsat !" Sam menyumpah ke ayahnya.
Pras berusaha berdiri dari kursinya, karena ia ingin menampar putranya yang telah dengan kurang ajar mengatainya bangsat, namun Sam tahu dan ia menarik kerah kemeja ayahnya.
"Sampai kau menghancurkan orang-orang yang sudah memberitahukan aku kebenaran ini, aku tidak akan lagi sudi menduduki posisimu dan mewarisi semua perusahaanmu. Mengerti, Pras Jayanata ?!" Lalu Sam melepaskan cengkeramannya pada kerah ayahnya dan mendorong ayahnya. Pras jatuh begitu saja, kemudian ia merasa dadanya mendadak nyeri. Sakit jantungnya kambuh.
Sam berlalu begitu saja dari ruangan ayahnya, meninggalkan ayahnya dalam keadaan sakit dan butuh pertolongan. Sekretaris Pras berlari masuk dan menemukan atasannya pingsan sambil memegangi dadanya, kemudian dengan sigap menelepon ambulans karena ia tidak lagi melihat Sam di sekitar ruangan atasannya.
Ā **
Ā "Serene, kamu lagi apa ?" Tanya Sam saat sambungan telepon baru diangkat oleh Serene, ia bahkan belum sempat berkata 'halo'.
"I'm in my office. Ada apa, Sam ?"
"Do you have time this afternoon ?"
"Yeah, why ?" Kening Serene berkerut. Sam terdengar tidak seperti biasanya.
"Lunch with me ?" Tanya Sam langsung.
"Lho, kamu sekarang di Jakarta memangnya ?"
"Yes, I'm now in Jakarta. Aku lagi ada urusan jadi aku balik lagi. That's why I want to have lunch with you, Serene. Aku mau cerita soal urusanku ini." Jelas Sam, namun suaranya terdengar terburu-buru, membuat kerutan di kening Serene semakin dalam.
"Sam, are you okay ?"
Sam menghela napasnya, terdengar oleh Serene tentunya, "I'm not."
Sam memejamkan matanya, raut wajahnya masih terluka.
"What happened ?" Nada suara Serene meninggi.
"That's why I want to told you. I'll pick you up at twelve, okay ?"
"Okay, Sam." Serene menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba merasa cemas terhadap Sam.
Sambungan telepon diputus oleh Sam. Serene melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih ada satu jam sebelum ia dijemput. Ia cepat-cepat membereskan pekerjaannya yang bisa ia selesaikan dalam waktu satu jam.
Setelah pelayan berlalu usai mereka memesan minuman mereka, Serene menatap Sam yang memang tidak terlihat baik-baik saja.
"Sam, you're really not okay. Tell me, what happened to you ?"
Baru saja Sam membuka mulutnya, ponselnya berdering. Sam mengeluarkan ponselnya dan melihat caller ID yang muncul di layarnya. Telepon dari ibunya, Sam segera mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Yes, Ma ?"
"Sam, Papa kambuh. Kamu di Singapura sekarang ?"
Sam memejamkan matanya, berusaha mengontrol dirinya yang antara ingin mensyukuri apa yang terjadi pada ayahnya, namun ia juga kasihan mendengar suara ibunya yang begitu panik.
"Sam di...Jakarta, Ma."
"Lho, katanya kamu pulang langsung dari Semarang ?" Suara ibunya terdengar bingung.
"Sam punya urusan yang tadi harus segera diselesaikan, Ma, jadi Sam balik lagi. Pr...Papa...sekarang bagaimana ?" Sam harus menahan diri untuk tidak menggigit lidahnya karena terpaksa menanyakan kondisi ayahnya dan ia hampir keceplosan memanggil Papanya langsung dengan namanya. Keningnya berkerut dalam menahan gejolak emosi.
"Dokter bilang kondisinya belum stabil. Mumpung kamu di Jakarta, kamu sekalian jenguk Papa ya ?" Mohon ibu Sam lewat telepon. Sam menahan diri untuk tidak berteriak tak sudi.
"Kalau aku sempat ya, Ma."
"Mama tahu kamu tidak dekat dengan Papa, tapi tolong luangkan waktumu, nak..."
"Sam usahakan ya." Tak lama kemudian, Sam meletakkan ponselnya.
"What happen to your Dad ?" Serene menatap Sam yang terlihat kalut.
"He is not my Dad anymore, Serene."
Serene mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Sam, kemudian ia menggenggam tangan Sam yang tergeletak lemas di atas meja, memberi dukungan kepada Sam.
"Why ?" Tanya Serene pelan.
Sam memejamkan matanya dan menelan ludahnya. Bahkan hingga sekarang ia masih tidak percaya ayahnya tega melakukan hal itu. Serene melihat raut wajah Sam yang terluka dan mendadak Serene ingin memeluk Sam, mengatakan semuanya pasti akan baik-baik saja.
"Kamu tahu..." Sam mengatupkan rahangnya sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya, "...siapa yang menembakku ?"
Serene mengerjapkan matanya. Sebagai penggemar Sammy D., ia hanya tahu Sammy ditembak oleh orang tak dikenal yang diduga mengidap kelainan psikologis. Ia menunggu jawaban dari Sam dalam diam.
"Pras Jayanata, Serene. Si brengsek itu yang...menyuruh orang untuk menembakku saat konser tunggal di Singapura waktu itu."
Serene terkesiap dan menutup mulutnya dalam keterkejutan yang sama sekali tak disangkanya. Ayah Sam menyuruh orang untuk menembak putra tunggalnya ? Serene menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah tidak percaya, setengahnya lagi tidak menyangka fakta itu yang akan didengarnya.
"Papamu..." Ujar Serene terbata-bata. Ia mengerjapkan matanya berulang kali.
"I told you already. He. Is. Not. My. Dad. Anymore." Sam mengulangi kata-katanya dengan sedikit penekanan.
"You don't believe it, do you ?" Sam bertanya kepada Serene yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Tapi itu kenyataannya, Serene." Sam menelan ludahnya pahit dan kembali memejamkan matanya.
"Dia...kenapa dia bisa begitu ?"
"Yang jelas, demi mendapatkan penerus usahanya. Aku dari dulu membangkang terus, Serene. Aku tidak pernah menuruti kata-kata dia untuk belajar bisnis dan malah debut sebagai penyanyi, lulus SMA malah mendaftar ke Juilliard dan aku memang sudah diterima saat aku ditembak itu. Aku tidak suka bisnis, aku suka seni terutama menyanyi. Pras...dia sama sekali tidak menyetujui semua caraku dan karena aku terus membangkang, kurasa, dia mulai takut kehilangan anak satu-satunya sebagai penerus. Lalu dia akhirnya mengambil cara ekstrim untuk menembakku." Sam menghela napasnya, kemudian melihat Serene yang masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Well, tidak sampai situ, Serene. Dia masih melakukan satu hal lagi. Menurutku dia sudah sinting karena tega memperlakukan aku, putra satu-satunya yang ia miliki, seakan aku terlahir hanya untuk jadi robot penerus usahanya."
Serene melebarkan matanya mendengar masih ada lagi kegilaan yang dilakukan Pras Jayanata.
"Dia apain kamu lagi ?"
"Kamu tahu kan pasti, aku sadar dalam keadaan amnesia. Bahkan hingga beberapa hari yang lalu saat aku cerita ke kamu fakta tentang masa laluku, itu aku masih amnesia."
Serene mengangguk pelan.
Sam melanjutkan ceritanya, "Saat kamu dan Mama nggak bisa menghubungi aku, itu aku pingsan. Sepagian, kepalaku pusing bukan main. Aku paksa mau tidur juga nggak bisa. Pas aku kira sakitnya sudah mereda, malah aku pingsan. Saat aku baru saja sadar, Mark datang dan membantuku berjalan ke kamar mandi. Aku mual nggak karuan, mau muntah juga nggak bisa karena aku nggak makan apa-apa dari pagi. Itu adalah efek samping dari kembalinya ingatanku yang selama ini bukan hilang sepenuhnya, namun tepatnya dipaksa untuk diredam."
Serene mengerutkan keningnya mendengar ingatan Sam yang katanya...apa ? Diredam ?
"Berarti sekarang kamu sudah ingat sepenuhnya masa lalu kamu ?" Tanya Serene.
Sam mengangguk. Pelayan datang membawakan pesanan mereka dan menyajikannya di depan mereka, kemudian berlalu setelah mengucapkan selamat menikmati.
"Kalau aku masih amnesia, masa aku ingat aku pernah mendaftar ke Juilliard dan diterima sebelum aku ditembak ?" Sam tersenyum kecil, walau raut wajahnya masih terlihat perih.
Serene mengangguk perlahan membenarkan ucapan Sam dan sedikit merutuki dirinya yang kurang atentif.
"Soal amnesia yang kualami, itu juga perbuatan sinting Pras, Serene. Dia mendengar ada percobaan riset memory wipe serum di Jerman oleh seorang profesor dan timnya saat aku masih koma, itu mengapa dia begitu ngotot mau memboyong aku yang masih koma pergi ke Jerman. Riset itu bahkan tidak mendapat persetujuan dari pemerintah setempat dan proposal pengajuan biaya mereka ditolak. Tapi siapa sih yang tidak tergoda dengan uang ? Pras menemui profesor itu langsung dan mengatakan ia bersedia membiayai seluruh riset mereka hingga selesai asal profesor itu bersedia mencobakan serumnya ke aku."
Mulut Serene menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Sam.
"Memory wipe serum ? Kamu jadi kelinci percobaan mereka, Sam ?" Tanya Serene benar-benar tidak percaya.
"Yes, Serene. Aku kelinci percobaan pertama mereka dan voilĆ , berhasil dengan sempurna. Sinting memang, tapi kuakui profesor itu hebat bisa membuat riset memory wipe serum. Sebenarnya, asal jangan dipakai di orang yang salah dan menjadi korban seperti aku, serum itu bisa dipakai untuk pemberantasan penjahat tanpa harus dihukum mati. Mungkin serum itu juga akan berguna bagi Pras, agar seluruh kesintingannya itu hilang." Sam tertawa pahit. Serene menggigit bibir bawahnya dan memindahkan kursinya ke sebelah Sam. Ia langsung memeluk Sam dan mengelus punggungnya. Sam membalas pelukannya, Serene merasa tubuh Sam bergetar.
Ketika Serene melepas pelukannya, ia melihat ujung mata Sam sudah basah oleh air mata. Ia mengambil tissue dari dalam tas tangannya dan mengusap air mata Sam. Ia sendiri sebenarnya merasa ingin menangis mendengar penderitaan Sam, ia tidak bisa membayangkan bagaimana bila itu semua terjadi padanya.
"Be strong, Sam. Mungkin kamu sekarang merasa marah dan sangat kecewa, aku mengerti hal itu. Namun nanti mungkin seiring waktu, kamu akan belajar untuk bisa memaafkan apa yang telah Papamu lakukan."
"I don't think I can forgive that rotten bastard."
"Don't." Ujar Serene sambil mengusap bahu Sam menenangkannya.
"Mungkin bukan sekarang, mungkin saja suatu saat. I know you're now so angry that even if you can, you want to boomed your rage out here." Serene melanjutkan kata-katanya.
Sam masih terdiam dan terus menghela napasnya berat. Ia bahkan tidak bernafsu untuk sekadar mengisi perutnya dengan makanan di buffet table atau meminum minuman yang telah ia pesan.
"Makan dulu, ya, Sam ?" Serene membujuk Sam yang terdiam karena masih marah dan syok. Seenggaknya, Sam harus mengisi perutnya.
Sam menggelengkan kepalanya pelan.
"Cukup hatimu yang sakit, jangan lambungmu nanti ikutan sakit, Sam. Aku ambilkan sedikit ya ?" Bujuk Serene lagi. Setelah terdiam selama beberapa detik, Sam akhirnya mengangguk. Ia sendiri tidak bernafsu, namun ia tidak ingin dianggap lemah dan kekanakan, apalagi kalau sampai ia benar-benar sakit nantinya karena tidak mengisi perutnya sama sekali.
Serene tersenyum lembut, tatapan matanya masih memancarkan rasa prihatin yang dalam. Ia berlalu dari samping Sam dan berjalan menuju buffet table, kemudian mengambil semangkuk sup dan beberapa potong garlic bread untuk Sam, serta sepiring kecil makanan untuknya, lalu kembali ke mejanya.
"This is yours, Sam. Dimakan ya, nanti dingin supnya." Serene menepuk bahu Sam perlahan setelah menaruh mangkuk sup di depan Sam, kemudian ia menarik kursinya kembali ke tempat semula.
Sam menatap Serene yang sedang menyantap makanannya. Somehow, he feels lucky that he knows Serene and her amazing caring attitude. Melihat Serene menyantap makanannya, Sam pun mulai melahap sup dan garlic bread di depannya perlahan-lahan. Hangatnya sup yang mengalir di tenggorokannya membuat ia menatap Serene dan diam-diam berterimakasih atas kehangatan diri dan perhatian Serene yang begitu besar terhadap dirinya yang menyedihkan.
"Sam ?" Serene bingung melihat Sam menatapnya begitu intens sampai berhenti memakan supnya.
Sam mengerjapkan matanya, terkejut karena mendapati dirinya begitu memuja sosok Serene di depannya.
Apa dia bilang ? Memuja ?
Sam cepat-cepat menyeruput sup dan mengunyah garlic bread hingga habis. Mendadak, perutnya terasa lapar.
"Sepertinya kamu benar, Serene. Aku memang lapar." Sam beranjak berdiri dari kursinya dan berjalan cepat menuju buffet table untuk mengambil makanan. Serene bingung melihat Sam yang tiba-tiba gugup, namun ia senang Sam sudah mau makan lagi sehingga ia tersenyum menatap punggung Sam yang berjalan menjauh.
Di depan buffet table, Sam merutuki kebodohannya. Kenapa juga ia harus menatap Serene begitu lama ? Sam pun terus merutuki kebodohannya sambil mengambil makanan apapun yang menarik perhatiannya di depannya dengan cepat dan dalam jumlah banyak. Entah mengapa, Sam merasa jantungnya berdetak begitu cepat. Ia sudah lama tidak merasakan hal seperti ini dan ia tahu pasti apa maksudnya ini.
Ā Sepertinya, ia telah jatuh cinta kepada Serene.
Ā **
Ā Malam menjelang dan Sam sedang merenung sendirian di teras belakang rumah pribadinya. Bagaimana bisa nasibnya seburuk ini ?
Ditembak oleh orang suruhan ayahnya yang biadab, lalu dijadikan kelinci percobaan memory wipe serum oleh seorang profesor -lagi-lagi atas suruhan ayahnya yang biadab- dan dibuat seolah dia amnesia, lalu hidup dalam dunia ciptaan ayahnya hingga akhirnya ia sadar sendiri. Apa penderitaannya masih perlu ditambah ?
Namun di antara semua kondisi buruknya, setidaknya ia masih mempunyai ibunya dan Serene.
Serene London Elysia. Nama perempuan yang akhir-akhir ini selalu melintasi benaknya dan menggetarkan hatinya. Perempuan yang selalu membuat Sam tersenyum meski di saat-saat terpahitnya seperti sekarang, perempuan yang berhasil meredam amarah Sam dengan curahan perhatian dan kehangatannya. Sosok yang lama-kelamaan seperti candu bagi Sam. Sekarang, tiap malam ia harus menghubungi Serene, walaupun tidak ada topik yang dibicarakan, namun suara Serene sudah seperti lagu pengantar tidur yang menenangkannya.
Dan ia tidak tahu mengapa, ia ingin Serene terus ada di sampingnya, menemaninya melewati segala kepahitan, kesedihan, bahkan ia ingin berbagi kebahagiaan dengan Serene.
Sam merogoh ponsel di saku celananya dan dalam sekejap ia sudah menghubungi Serene.
Ā "Halo, Sam ?" Suara Serene yang terdengar manis di telinganya membuat Sam otomatis melengkungkan bibirnya ke atas.
"Night, lady..." Sapa Sam dengan suara rendahnya.
"Kamu sudah baikan ?" Tanya Serene perhatian.
'See ? She is even asking my condition. Oh, girl...' Sam tersenyum kecil.
"Sedikit. I still have a evil wish to kill him, though." Sam tertawa kecil, membuat Serene ikut tertawa bersamanya.
"Jangan begitu lah, Sam. Dia kan juga Papamu. Learn to forgive him is the best way to let all things done." Suara Serene terdengar teduh di telinganya.
Sam hanya bisa terdiam. Ia masih belum tahu apakah ia dapat memaafkan perbuatan keji ayahnya.
"Kamu lagi apa, Serene ?" Sam tidak ingin membahas tentang hal itu lagi, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.
"Finishing my work, besok harus dilaporkan ke atasan."
"Sudah malam, Serene. Masih banyak kah ?"
"Not really. I think I'll finish these in an hour." Terdengar suara samar jemari yang beradu dengan keyboard laptop di telinga Sam.
"Oke, aku temani kamu ya ?"
"Kamu nggak tidur ? Nanti kecapekan lho, Sam..."
"It's okay, Serene, I'm okay."
"Really ?"
"Umm-hmm." Sam mengumam mengiyakan, lalu melanjutkan pembicaraannya, "Mau aku nyanyi ? Biar kamu juga nggak bosan kerjain tugas kantormu."
"You really want to sing ?" Suara Serene terdengar senang.
"Of course, girl. Sekarang request, mau lagu apa ? This living jukebox will sing according to your request." Sam menatap langit-langit teras belakang rumahnya dan merasakan dadanya menghangat.
"Radiohead - Creep. You know that song ?" Pinta Serene.
"I know, this is one of my favourite too. Is this your favourite song ?"
"One of my favourite song, besides your songs." Serene tersenyum sambil menatap laptop-nya.
"Okay." Dan Sam pun mulai bernyanyi lagu permintaan Serene itu.
Ā "When you were here before
Couldn't look you in the eye
You're just like an angel
Your skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
I wish I was special
You're so fucking special
But I 'm a creep
I 'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here"
Ā Sam menarik napas sejenak, sambil merenungkan arti lirik yang entah mengapa begitu mengena. Serene memang terasa begitu spesial di hatinya.
Ā "I don't care if it hurts
I want to have control
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice
When I'm not around
You're so fucking special
I wish I was special"
Ā 'Yeah, I do wish I was special.' Batin Sam meracau.
Ā "But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
She's running out again
She's running out
She run, run, run run
Run
Whatever makes you happy
Whatever you want
You're so fucking special
I wish I was special
But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
I don't belong here."
Ā Serene yang mendengar melodi merdu dari lagu yang dilantunkan Sam merasa hatinya menghangat. Ia tidak tahu mengapa dirinya bereaksi seperti ini. Ia hanya merasa bahagia dan selalu ingin tersenyum. Ia ingin mencurahkan perhatiannya dan menemani Sam melewati masa-masa sulitnya hingga Sam mendapatkan kembali kebahagiaannya.
"You're still as good as those old times, Sammy." Serene memuji Sam.
"Even I've experienced amnesia n almost never sing these past twelve years until now, luckily I don't lose my ability to sing too." Sam tertawa kecil, membuat Serene tersenyum lebar.
"Nyanyi lagi dong, Sam..."
"Again ? Oke, lagu apa ?"
"Kali ini terserah kamu deh..."
Sam memikirkan beberapa lagu, termasuk lagunya sendiri, namun akhirnya ia memilih satu lagu yang ia anggap mewakili perasaannya tanpa harus berkata langsung.
Sam berdeham dan mulai bernyanyi lagi.
Ā "I've been heading in the wrong direction
Hiding from my own protection
Running but my heart was standing still
I guess you saw the light inside me
Your love has been a torch to guide me
I hope I can be all that you deserve"
Ā Hati Serene menghangat mendengar sebuah lagu yang ia kenal persis. Ronan Keating, Superman.
Ā "Well I'm no superman
But I'll love you that best I can
And you know I'm just flesh and bones, but with you
I feel I'm flying
Don't you know I'm no superman
But I'll always be your man"
Ā 'I'm not a superman, Serene, but I'll always be your man. I hope you understand a message behind this song.' Sam membatin, sambil kemudian melanjutkan nyanyiannya.
Ā "I was searching for a heart that's beating
As fast as the way I'm feeling
Trying to find some peace there in my soul
You know it was your love that saved me
The answer to my prayers you gave me
And I hope I'll be all you deserve
Ā Well I'm no superman
But I'll love you that best I can
And you know I'm just flesh and bones, but with you
I feel I'm flying
Don't you know I'm no superman
But I'll always be your man"
Ā Entah mengapa Serene merasa matanya menghangat dan ia ingin meneteskan air matanya. Serene menarik napas perlahan dan mengerjapkan matanya. Sebulir air mata turun ke pipi mulusnya. Serene menekap mulutnya, menjaga agar ia jangan sampai terisak.
Sementara itu, Sam terus bernyanyi sambil memejamkan matanya, merasakan hangat dan damai mengalir di setiap inci tubuhnya.
Ā "Well I'm no superman
But I'll love you that best I can
And you know I'm just flesh and bones, but with you
-- I'm back again ! I don't know why my writing mood is so random, but these days I'm really into writing so much that I can finish two chapters as fast as F1 race LOL :)) Hope that I could write like this so I can finish all of the chapters early before my full-packed college day starts. Okay then, I do really hope you all enjoy reading this !! xx --
Denial, n. : The fact that I'm still unsatisfied with what I've got makes me do anything to get what I really want, even when I let myself dying to get it.
#5
Ā "Serene, you have time tonight ?" Ujar Sam menelepon Serene. Ia ingin berbagi apa yang telah ia dapatkan, semoga Serene tidak kaget saja mendengarnya.
Ā Dan semoga Serene masih mau menerimanya...
Ā "Yeah I do. Why ?" Serene sedang berada di dalam mobilnya, menatap putus asa jalanan di depannya yang macet bukan main. Ia baru saja pulang dari rumah sakit setelah mendonorkan darahnya di acara penggalangan dana sebuah LSM yang ia dapat infonya dari twitter.
"Aku mau ngobrol saja sama kamu."
"Oke, jam berapa ? Di mana ?" Serene mengetukkan jemarinya di atas kemudi mobilnya.
"Seven ? Sekalian makan malam saja. Ketemu langsung di Holycow Kemang ya..."
"Okay, see you there, Sam." Serene memutuskan sambungan teleponnya dan menginjak pedal gasnya perlahan. Mobilnya kembali maju sekitar satu meter. Jakarta's traffic always makes her nut.
Ia melirik ke jam tangan yang dipakainya, sudah jam empat sore. Kalau sekarang ia masih berada di daerah Gatot Subroto dan ia harus pulang ke rumahnya di Pondok Indah, kemudian pergi lagi ke Kemang, dengan kondisi jalan seperti ini sepertinya ia hanya bisa berharap pada keajaiban agar ia tidak terlambat nanti.
Ā **
Ā Sam berulang kali melirik ke jam tangannya. Serene sudah terlambat setengah jam. Apa dia kena macet ya ? Sam menoleh ke jendela tak jauh dari mejanya dan melihat jalanan Kemang begitu ramai namun setidaknya tidak sampai macet. Rib-eye steak di depannya sudah habis sepertiganya, sementara tangan Sam masih sibuk memotong daging tersebut dan mulutnya masih mengunyah.
Sementara itu, Serene juga berulang kali melihat jam digital di dashboard mobilnya. Jalanan menuju Kemang masih tersendat di depannya dan ia sudah terlambat lebih dari setengah jam. Ia hanya berharap Sam tidak kesal menunggunya, toh ia tidak salah karena yang patut disalahkan adalah jalanan yang menjebaknya dalam kemacetan yang tak usai juga. Serene akhirnya merogoh ponselnya dari dalam tas tangannya, mengetikkan pesan singkat untuk Sam melalui LINE.
Ā SereneLElysia : Sam, I'm still otw and the traffic here sucks. You already finished your meal ?
Ā Sam merasa ponselnya bergetar singkat di saku celana jeans-nya. Ia mengambil ponselnya dan membaca pesan singkat di LINE dari Serene. Tak lama, mereka pun sudah sibuk balas-membalas di ruang chat.
Ā SamDarius : Yea, I'm finished already :( You still stuck ?
SereneLElysia : Unfortunately, still :"( So how ?
SamDarius : You hungry ?
SereneLElysia : Eh ?? Um, kinda. Why ?
SamDarius : Meet me at my house, not too far from Holycow, supposed to be easy to find. I'm taking away your dinner for you :D
SereneLElysia : Ah, really ? You're so kind, Sam ! Thanks a lot :D Okay then, your address, pls ?
SamDarius : Bangka XI / 1. I'm waiting :D
SereneLElysia : Okay, Sam. I'll be there soon !
Ā Sam menekan tombol kunci di ponselnya dan memesan makanan untuk Serene, kemudian tak lama kemudian ia pulang ke rumahnya.
Ā **
Ā Serene menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berpagar hitam yang tinggi.
"Jalan Bangka XI nomor satu. Sepertinya ini benar..." Gumam Serene melihat alamat yang dikirimkan Sam melalui LINE tadi dan menyamakan nomor rumah yang ia temui setelah ia terjebak macet selama setengah jam lebih.
Serene memarkir mobilnya dan turun, kemudian menekan bel di depan rumah Sam. Tak lama, seorang satpam membuka pagar rumah sambil tersenyum.
"Mari, Mbak Serene. Pak Sam sudah menunggu di dalam, terus katanya Bapak, mobilnya Mbak disuruh parkir di dalam saja. Di luar takutnya nggak aman."
Serene mengangguk sambil tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih dan segera menyalakan mobilnya dan memarkirnya di garasi Sam. Entah mengapa Serene tidak kaget melihat tiga mobil Sam yang tergolong mewah di dalam garasi rumahnya. Usai memarkirkan mobilnya, Serene segera masuk ke dalam rumah Sam dan sedikit terkesima dengan interior yang unik sedikit beraksen Jawa karena beberapa pajangan wayang yang menghiasi tembok sepanjang ruang depan menuju ruang tengah, namun ketika melangkah ke ruang tengah yang cukup luas ia disambut dengan pemandangan interior yang modern dan simpel. Kesannya rapi dan bersih. Serene suka dengan rumah Sam, terasa begitu hangat dan nyaman.
"Selamat datang di rumahku, Serene..." Suara Sam terdengar dari arah dapur kering. Serene terkejut karena Sam bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang sama sekali tidak beraksen melihat wajahnya yang jelas berdarah Kaukasia.
"Kamu...bisa bicara Bahasa Indonesia ?" Serene masih bingung dan ia beberapa kali mengerjapkan matanya.
"Mamaku orang Indonesia asli, Papa campuran Filipina sama Indonesia juga." Sam tersenyum dan berjalan ke arah meja ruang tengah sambil membawa sepiring besar berisi steak yang telah disiram saus di tangan kirinya, serta segelas minuman di tangan kanannya.
"Duduk, Serene..." Sam menunjuk ke arah makanan yang sudah tersaji di meja di depan Serene. Serene menuruti Sam, duduk dan mulai menikmati makanannya.
Dalam kebingungannya, Serene akhirnya bertanya, "Sam, kalau begitu pas kamu tahu aku orang Indonesia kok kita nggak ngobrol pakai Bahasa Indonesia saja ?"
Sam tersenyum, "Waktu awal-awal kita kan juga belum begitu dekat, Serene. Lagipula, aku berbisnis pun mau sama orang Indonesia aku nggak pernah pakai Bahasa Indonesia. For me, English is my universal business language."
Serene mengangguk mengerti dan kembali memotong daging di depannya kemudian menyuapkannya.
"You like it ? Aku belikan itu sesuai dengan seleraku karena aku belum tahu seleramu. Yang aku tahu, perempuan jarang suka steak yang berlemak. Well, itu pengalaman sih sebenarnya. So I bought you Tenderloin Steak, medium-well, mushroom sauce."
"Well then..." Serene menelan kunyahannya, kemudian melanjutkan kata-katanya, "...you know my favourite meat. Aku memang suka Tenderloin yang dimasak medium-well, karena kalau well done suka sulit dikunyah dan aku memang suka mushroom sauce, meskipun aku lebih suka black pepper, but this is delicious, Sam. It's not a coincidence, right, you bought me my favourite ?"
Sam tertawa kecil, seenggaknya dia sudah mengetahui salah satu makanan favorit Serene. Sebuah kemajuan dalam hubungan mereka.
"Jadi, mau ngobrol apa ?" Ujar Serene saat ia selesai mengunyah potongan steak terakhirnya.
Sam membereskan piring Serene dan berjalan menjauhi Serene menuju dapur sambil berkata, "Ke teras belakang yuk."
Tak lama kemudian, mereka sudah duduk bersebelahan dengan nyaman di sofa kesayangan Sam di teras belakang.
"Aku mau cerita, tapi setelah aku cerita aku harap kamu jangan kaget atau malah mungkin menjauhi aku. Oke ?" Ujar Sam sambil menatap Serene.
"Why must I ?" Serene tersenyum manis.
Sam menyandarkan kepalanya di bantalan sofa, kemudian mulai bercerita segala tentang info dirinya.
"Pernah dengar nama Pras Jayanata ?"
Serene terdiam, lalu ia menebak dengan tepat, "Your Daddy ?"
"Ah, you know already." Sahut Sam pelan.
"Of course, nama belakang kalian sama." Serene menatap Sam yang sedang menatap langit-langit teras belakangnya. Taman besar yang ditumbuhi pepohonan rimbun membuat udara malam itu jadi cukup sejuk.
"Jadi begini, Serene... Aku sebenarnya sudah mengalami amnesia total dari dua belas tahun yang lalu hingga sekarang. Aku tidak mengenali diriku sendiri saat aku sadar dari koma yang katanya sudah berlangsung selama sebulan. Orang-orang mulai memanggilku Sam, seperti Papa dan Mamaku memanggilku. Yang aku tahu, namaku Sam Darius Jayanata dan aku adalah seorang pewaris utama perusahaan Papaku dan satu-satunya anak di keluargaku."
Serene terdiam menyimak cerita Sam. Melihat Serene tidak bereaksi apapun dan hanya mendengarkan, Sam pun melanjutkan ceritanya.
"Sekitar dua-tiga tahun terakhir, aku mulai sering mendapat mimpi buruk. Awalnya kabur, namun beberapa bulan terakhir mimpi buruk itu mulai jelas dan jernih seperti HD picture. Semakin jelas mimpi itu, aku merasa semakin bingung dan diteror. Aku juga jadi suka sakit kepala, pusing banget sampai rasanya aspirin saja nggak mempan." Sam menghela napas berat. Serene menoleh ke arah Sam dan mengulurkan tangannya, meremas bahu Sam perlahan seakan berkata ia di sini mendukung Sam.
"Kamu mau tahu mimpiku ?" Tanya Sam.
"Kalau kamu tidak keberatan..." Serene ikut menyandarkan tubuhnya di sofa empuk milik Sam.
"Seorang remaja laki-laki yang mirip aku, cuma jauh lebih muda dan enerjik, sedang bernyanyi di atas panggung yang besar. Awalnya aku tidak bisa mendengar lagu apa yang dia nyanyikan, namun yang jelas aku bisa melihat bagaimana dia punya penggemar yang banyak sekali. Beberapa hari lalu sebelum aku memutuskan untuk ambil cuti, aku mendapat mimpi yang lebih jelas lagi, kali ini aku bisa mendengar lagu yang dia nyanyikan... Hanya saja satu yang membuat mimpi itu semakin buruk, pada akhirnya sosok muda itu ditembak dan jatuh dengan mengeluarkan begitu banyak darah." Suara Sam bergetar ketika membayangkan dirinya yang jatuh bersimbah darah karena ditembak.
Serene terdiam di sampingnya. Benaknya sibuk menyambungkan mimpi Sam dengan kejadian yang pernah didengarnya. Satu-satunya yang paling mirip dan Serene paling ingat adalah kejadian penembakan penyanyi favoritnya, Sammy D., saat konser tunggalnya di Singapura dua belas tahun yang lalu.
Mendadak menyadari sesuatu, Serene menoleh ke arah Sam, kemudian mengamati profil wajah Sam. Begitu mirip dengan Sammy D., hanya saja Sam yang di sampingnya ini terlihat begitu matang dan dewasa, ditambah dengan pancaran sendu di kedua bola matanya. Mata Serene membelalak lebar dan ia terkesiap pelan, pantas selama ini wajah Sam terasa begitu familiar.
"So now you know, Serene. Aku pun kaget ketika mengetahui semua itu. Ralat, bukan cuma kaget saja tetapi lebih ke terguncang." Sam menatap lurus ke arah taman luas di depannya."
"Jadi kamu benar Sammy D. ? Penyanyi yang sempat ditembak itu lalu menghilang ?" Serene masih tidak bisa menyembunyikan rasa tidak percayanya. Siapa yang bisa membayangkan bahwa ia akan bertemu lagi dengan penyanyi favoritnya yang dianggap sudah meninggal oleh banyak orang, bahkan sekarang berada di sampingnya dan menjadi teman untuk berbagi cerita ?
Sam mengangguk pelan. Serene masih tidak percaya akan fakta yang baru saja ia terima.
"Tapi kalau begitu, mimpi-mimpi itu berarti ingatan masa lalumu, Sam ? Ingatanmu belum kembali utuh ?" Tanya Serene penasaran dan masih saja takjub.
Sam menggeleng. Ingatannya memang belum kembali, namun toh bila kembali sudah tidak berefek apapun lagi. Ia sudah mengetahui segalanya, walau ia masih merasa ada yang kurang.
Serene terdiam. Dalam hati, ia mengakui bahwa ia tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi, namun ia pun juga merasa kasihan dengan sosok Sam. Sam begitu kuat untuk menanggung fakta bahwa ia adalah korban penembakan dan karirnya harus hancur begitu saja setelah amnesia yang dialaminya.
"You feel afraid now ?" Tanya Sam pelan.
Serene menoleh ke arah Sam dan tersenyum tipis. Kedua tangannya terulur dan ia otomatis memeluk Sam sesaat.
"Kenapa aku harus takut ? Aku senang malah. Aku bisa mengetahui ceritamu dari mulutmu sendiri, apalagi bisa bertemu kembali dengan penyanyi favoritku. Bisa meluk lagi."
Sam menatap Serene yang sudah melepaskan pelukannya, rasa hangat karena pelukan Serene masih terasa di tubuhnya. Ia tersenyum lega, seenggaknya ia mempunyai teman berbagi yang begitu mengerti dirinya walau mereka juga belum kenal terlalu lama seperti dirinya dengan Mark. Sam meraih tangan kiri Serene yang tepat di sebelah tangan kanannya dan menggenggamnya erat.
Serene merasakan rasa hangat mengaliri tubuhnya, rasa hangat yang menyenangkan dan ia tidak ingin melepaskan genggaman ini. Dadanya berdebar lembut namun tidak beraturan dan pipinya terasa menghangat.
"Terus, kalau sekarang aku putar salah satu lagumu, kamu bisa nyanyi ?" Serene bertanya iseng.
"Aku nggak ingat liriknya, Serene. Yang aku ingat cuma lagu terakhir aku, karena itu lagu yang masuk di mimpiku."
Serene pun mencari lagu Something About You dari deretan lagu di ponselnya lalu memutar lagu tersebut. Sam menoleh ke arah Serene sambil tersenyum, entah mengapa rasanya berbeda mendengar lagu ini saat Serene berada di sampingnya. Ia tidak lagi merasa takut dan bergetar, tidak juga merasa sedih seperti saat ia semalam mendengarkan lagu itu. Malah sebuah rasa hangat menyusup ke dalam hatinya.
Ā "I saw you...
How you are so confident in yourself
How your words always feel so sweet
You never cease to amaze me
My heart beats out of rhythm whenever I saw you
My mind never stops making imaginations about me and you
How incredible if we become one, together and forever
My eyes always freeze on your proportional figure and your beautiful face
Ā What if we are really together forever ?
Will we become as incredible as my imagination ?
Will people writes a story about us ?
Ā Oh girl, how I love you so much
My heart races like a rollercoaster in a full speed when I see you in front of me.
That time, I know there is something about youā¦
Ā My mind never stops making imaginations about me and you
How incredible if we become one, together and forever
My eyes always freeze on your proportional figure and your beautiful face
Ā What if we are really together forever ?
Will we become as incredible as my imagination ?
Will people writes a story about us ?
Ā Oh girl, how I love you so much
My heart races like a rollercoaster in a full speed when I see you in front of me.
That time, I know there is something about youā¦"
Ā Serene meneteskan air matanya, entah mengapa ia merasa terharu mendengar Sam bernyanyi tepat di sampingnya, masih sambil menggenggam tangannya dengan erat. Bukan karena Sammy D. yang sekarang berada di sampingnya dalam sosok Sam sedang bernyanyi dan hanya ia yang mendengarnya, namun lebih kepada ia merasa bahwa Sam sebenarnya memang terlahir untuk menyanyi.
Dua belas tahun menghilang dan tidak pernah bernyanyi lagi, suara Sam masih semerdu dulu, hanya saja sekarang lebih dalam dan berat karena umurnya yang bukan lagi 18 tahun seperti saat ia mengeluarkan single ini.
"Sam, you are really-really-really great..." Ujar Serene sambil mengusap pipinya yang basah akibat air matanya dengan tangan kanannya yang bebas.
Sam tersenyum dan menghela napasnya. Beban di hatinya seakan menguap begitu saja dan keberadaan Serene di sampingnya membuatnya merasa lengkap.
Sam menoleh ke arah Serene dengan senyum menawan terpatri di wajahnya dan kembali menyanyikan sepotong bait dari lagunya tersebut, "My heart races like a rollercoaster in a full speed when I see you in front of me. That time, I know there is something about youā¦"
Serene mengerjapkan matanya, terkejut. Sekali, dua kali, tiga kali.
Lalu tanpa aba-aba, Sam memeluknya hangat dan erat. Serene semakin terkejut, namun satu menit kemudian dia mendapati dirinya membalas pelukan Sam yang terasa sangat nyaman sambil bersandar di bahu bidang Sam.
Ā Satu hal yang mereka berdua ketahui sejak malam itu, mereka sudah lebih dari sekadar teman berbagi.
Ā **
Ā Sam merasa dirinya masih butuh penjelasan atas seluruh fakta yang ia dapatkan. Entah mengapa, masih ada yang mengganjal. Intuisinya berkata penjelasan yang ia dapatkan itu belum seluruhnya.
Ketika ia menceritakan ganjalannya itu kepada Serene, Serene sempat terdiam namun kemudian ia mengeluarkan sebuah ide yang Sam anggap cemerlang.
Ā Dan di sinilah ia sekarang. Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang. Serene berkata, saat ibunya dulu merasa sangat gelisah, ibunya selalu berangkat ke Semarang -kota kelahiran ibunya- dan sembahyang di kelenteng ini. Ibunya memang penganut agama Buddha, walau Serene dan adiknya tidak mengikuti jejak ibunya.
Sam sendiri bukan seorang Buddhist, namun Serene berkata banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia yang bahkan bukan beragama Buddha berdoa dan meminta pertolongan, terkadang pula minta dibacakan nasibnya oleh penatua penjaga kelenteng.
Ā "Lalu, kamu sudah pernah digituin ?" Tanya Sam iseng.
"Ada deh, mau tahu saja kamu..." Serene melirik ke Sam dengan senyum jenaka.
Ā Sam pun akhirnya meminta petunjuk kepada penjual paket sembahyang tentang bagaimana cara agar ia bisa mendapatkan pembacaan atas nasibnya. Sam memang penasaran akan yang satu itu dan ia datang memang untuk tujuan itu, bukan untuk sembahyang karena ia sendiri tidak tahu caranya sembahyang di kelenteng.
"Kalau tujuanmu baik, pasti nanti dibolehkan buat dibaca..." Ujar bapak-bapak separuh baya yang menjaga konter pembelian dupa.
Sam mengangguk mengerti.
"Pakai paket dupa ini buat nanti dibantu sembahyang biar bisa dibacain." Bapak-bapak itu menyerahkan paket dupa dan Sam membayar sesuai harga yang tertera di pembungkus paket tersebut.
"Nanti penatua bakal melempar dua belah kayu yang bentuknya mirip kacang mede, itu biasanya disebut ciam si. Kalau ciam si-nya satu terbuka satu lagi tertutup itu berarti leluhurmu memberi izin nasibmu dibacakan. Nanti penatua akan membantu mengocok gelas yang isinya banyak batangan kayu bernomor. Pas ada satu kayu yang jatuh, itu berarti nasibmu. Nanti tinggal tanya-tanya saja, minta diartikan dari kertas yang nanti dikasih ke kamu..." Jelas bapak-bapak itu panjang-lebar. Sam mengangguk mengerti sambil berterimakasih kemudian berlalu dari konter paket dupa tersebut menuju satu tempat sembahyang yang paling besar di tengah-tengah area kelenteng. Suasana kelenteng sedang sepi, sehingga Sam tidak perlu mengantri untuk mendapat nasibnya dibacakan oleh penatua.
Ā Penatua itu menatap Sam dengan mata tuanya yang terlihat bijak, kemudian ia tersenyum dan tiba-tiba berkata, "Nak, jangan kebanyakan berpikir. Suka pusing ya ?"
Sam terkejut dan mengangguk. Dalam hati ia membatin, apakah penatua di depannya ini mempunyai kemampuan supranatural ?
Penatua tersebut kemudian menanyakan nama lengkap Sam. Sam sempat terdiam dan kemudian bertanya kepada penatua nama lahir atau nama sekarang yang harus disebutnya, yang dijawab semuanya sama oleh penatua, maka Sam memakai nama lahirnya.
Penatua itu seakan menulis berbagai karakter di atas meja pualam tinggi di depannya seiring dengan Sam menyebutkan hal-hal yang diminta penatua. Penatua tersebut mengangguk-angguk ketika Sam menjawab pertanyaannya tentang hal apa yang ingin ditanyakan kepada leluhur, kemudian penatua itu menepuk bahu Sam dua kali sambil tersenyum tipis, lalu berbalik dan sembahyang menggunakan beberapa batang dupa yang dibawa Sam.
Penatua tersebut menepuk guci logam berisi dupa yang sebagian masih menyala dan abu dupa yang penuh. Asap harum menguar dari dupa-dupa yang terbakar, kemudian penatua itu mengambil dua keping kayu yang Sam ingat disebut ciam si tersebut lalu melemparnya ke udara.
Trak. Suara keping ciam si yang terjatuh menarik perhatian Sam untuk segera melihatnya. Tepat satu terbuka dan satu lainnya tertutup. Diam-diam Sam berterimakasih kepada siapapun leluhurnya yang memberi izin untuk dibacakan nasibnya.
Penatua tersebut kemudian mengocok gelas berisi puluhan atau mungkin bahkan ada lebih dari seratus batang kayu yang mirip seperti sumpit. Satu batang kayu jatuh keluar dari gelasnya. Penatua tersebut memungutnya dan berjalan ke arah Sam, menunjukkan nomor yang tertera di batang kayu tersebut. Sam mengangguk dan penatua itu berlalu ke belakang tempat sembahyang, kemudian kembali dengan secarik kertas berisi kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak Sam mengerti walau terdapat terjemahannya. Rangkaian kalimat yang digunakan terlalu puitis.
Ā "Ini artinya apa, Pak ?" Tanya Sam.
Penatua itu menatap Sam, "Perasaan kamu ada benarnya, ya ? Memang di sini ada bilang masih ada kabut yang belum disingkirkan, berarti masih ada rahasia lagi. Cuma tidak bisa diprediksi berapa banyak rahasia yang tersimpan."
Sam mengangguk. Perasaannya yang mengganjal terbukti benar.
"Ah, nak... Kamu akan mendapat kebahagiaanmu sebentar lagi kok. Sabar saja, sudah dekat. Tapi, begitu kamu dapat kamu jangan lepas ya, karena orang ini memang takdirmu." Penatua tersebut tersenyum bijak.
Sam mengangguk, perasaannya terasa ringan dan senang. Entah mengapa hanya wajah Serene yang terbayang saat sang penatua menyebutkan sebuah kebahagiaan yang akan didapatnya.
"Terima kasih, Pak." Sam mengangguk pelan sebagai sebuah rasa hormat, kemudian memberikan sedikit uang bagi penatua tersebut sebelum beranjak pergi.
Ā Setidaknya, Sam sudah tahu bahwa perasaan yang mengganjal di hatinya ini betul. Sam akan mencari dan membongkar rahasia apa yang masih terpendam terkait masa lalunya dan sepertinya satu-satunya orang yang bisa menjawab hal itu adalah Mark. Ia perlu mendengar cerita dari sudut pandang Mark, karena bisa saja berbeda dengan apa yang ibunya ceritakan kepadanya.
Ā Ia harus segera pulang ke Singapura untuk mendapatkan kebenaran itu. Sudah cukup satu minggu cutinya, sekarang saatnya ia mengejar apa yang seharusnya ia dapatkan.
Ā Malam itu, tiket penerbangan pertama esok pagi dari Semarang ke Singapura sudah ia pegang. Sam meraih ponselnya yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya dan menelepon ibunya.
"Sam ?" Suara lembut ibunya terdengar setelah empat kali deringan nada sambung.
"Ma, kayaknya aku nggak bisa lama-lama cuti. Harus cepat-cepat balik besok."
"Kenapa ? Ada masalah sama kantor ?" Suara ibunya terdengar panik.
"Don't you worry, Ma. Nggak kok, kantor nggak ada masalah. Sam ada urusan yang harus cepat diselesaikan. I'm so sorry, Ma, pamitnya harus lewat telepon."
"Lho, kamu sekarang di mana ? Kok nggak pamit ke rumah langsung ?"
"Semarang, Ma. Besok pagi terbang ke Singapura pesawat jam 7.40, tapi transit dulu sekitar dua setengah jam di Jakarta, baru lanjut lagi. Kecuali kalau Mama mau mampir ke airport sih pamitnya sekalian di sana."
"Yah, nak... Mama besok ada arisan jam delapan pagi sekaligus sarapan di Four Seasons. Ya sudahlah, kamu jaga diri baik-baik ya. Mama will miss you a lot..."
"I'll miss you a lot too, Ma. Bye..."
"Bye, little boy."
Sam tersenyum kemudian memutus sambungan teleponnya.
Satu orang lagi yang akan ia hubungi. Sudah tiga hari terakhir ini, setiap malam ia selalu menghubungi Serene. Sekadar untuk bertanya 'lagi apa', 'hari ini ngapain saja', 'tadi sudah makan malam apa belum ?'. Pertanyaan yang sederhana namun dapat terasa beda apabila Serene yang menjawabnya.
Ā Kalau begitu... Ada apa dengan dirinya ?
Ā Terdengar nada sambung, lalu tak lama sambungan telepon diangkat oleh Serene.
"Hi, Sam..."
"Hello, beauty..." Sam tersenyum, bagaimana dirinya bisa begitu mudah mengeluarkan rayuan untuk Serene.
"Ada apa, Sam ?" Serene menahan senyumnya, pipinya terasa menghangat lagi.
"Nothing. Umm...actually, aku mau balik ke Singapura."
"Lho, katanya cuti sebulan ? Kok sudah mau balik ?"
"I need to figure something out, Serene. So I think I'll go back earlier."
"Oh, well... Terus, tadi sudah ke Sam Poo Kong ?"
"Sudah..."
"Terus hasilnya ?" Tanya Serene penasaran.
"Ada deh. Mau tahu saja..." Balas Sam meniru jawaban Serene waktu itu.
"Ah kamu, begitu deh ya." Serene membalas dengan nada merengut.
"Waktu itu kamu juga nggak mau kasih tahu aku, Serene..." Sam tertawa kecil, nada bicaranya jenaka.
"Itu kan karena aku tanya soal privasi. Kalau kamu pasti tanya soal perasaan mengganjalmu itu... Nggak usah rahasia juga sudah tahu."
"Okay, missy. Jadi penjaganya itu bilang kalau memang masih ada rahasia yang tersimpan. Maybe my Mom only knows until that point. I mean, her point of view, so she told me that. I know my Mom never lies."
"Hmmm...kalau memang begitu, you really need to figure it out. Siapapun yang menyimpan itu memang kejam banget, Sam, because you need to know the truth."
"Absolutely, Serene. Absolutely." Sam tersenyum. Ia senang mempunyai teman untuk berbagi cerita yang masih begitu perhatian walau ia sudah membuka lebar-lebar rahasia masa lalunya.
Ā Mereka terus mengobrol hingga mata mereka terasa berat dan akhirnya sama-sama tertidur dengan senyum terlukis di wajah mereka.
-- This is the fourth chapter, guys ! Hope y'all enjoy my amateur writing :D I'll be back with the fifth soon ;) --
**
Investigate, v. : I'm going to study about myself again, because for me, how I made of and how I became is very important.
#4
Ā Sam mencari dan mengusahakan segala cara untuk mengetahui masa lalunya yang ia rasa kerap mengganggunya di dalam mimpi dan alam bawah sadarnya. Baiklah, jika memang masa lalu itu sangat penting dan terus menggedor untuk dibebaskan, kali ini ia akan benar-benar melakukan apapun untuk membebaskan dirinya dari mimpi buruk dan sakit kepala yang bisa membuatnya gila itu.
Ia sudah berada di Jakarta sejak kemarin pagi, ia terbang melalui penerbangan pertama yang bisa didapatnya. Ia tidak akan mampir ke rumah orang tuanya dulu, ia akan tinggal di rumah pribadinya di bilangan Kemang. Rumah yang ia beli dua tahun lalu sebagai investasi dan kerap kali disewa baik perorangan bahkan pernah hingga di sewa sebuah rumah produksi untuk set sinetron.
Tentu saja rumah itu selalu terawat, karena ia telah membayar asisten rumah tangga untuk menempati dan merawat rumah tersebut meski ia jarang mampir ke Jakarta. Mampir pun biasanya hanya untuk keperluan bisnis dan ia selalu tinggal di hotel. Kemacetan Jakarta membuatnya berpikir dua kali untuk tinggal di kota ini, selain itu ayahnya juga tinggal di kota ini, semakin membuatnya malas karena jika ia memutuskan untuk mengurus anak perusahaan ayahnya yang berada di Jakarta pasti ia akan sering berurusan dengan ayahnya.
Dari pertama ia membuka mata setelah sadar dari koma, ia telah mendapati ayahnya begitu dingin terhadap dirinya dan juga menyadari bahwa ia ternyata sudah memiliki rasa tidak suka kepada ayahnya. Ia sendiri bingung dari mana rasa tidak suka yang bisa muncul bahkan di detik-detik awal ia baru sadar dari koma dan masih tidak mengenali siapa dirinya.
Di tangannya saat ini telah tertera beberapa nomor kontak dan alamat mantan pegawai ayahnya yang ia dapatkan dari detektif pribadinya. Jangan hanya ayahnya yang punya koneksi detektif dan orang dalam kepolisian bahkan tentara dan intel, setidaknya ia juga punya detektif untuk membantunya menyelidiki kasus-kasus yang berhubungan dengan perusahaan yang diurusnya. Kali ini, detektif pribadinya ia pakai untuk menyelidiki masa lalunya. Semestinya tidak sulit.
Ia melangkah ke teras belakang rumahnya yang luas, duduk di sofa yang sudah beberapa hari belakangan ini menjadi kesayangannya. Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya, kemudian melihat kertas yang dipegangnya lalu mengetik angka-angka yang tertera di kertas tersebut.
Ā Orang pertama yang akan ia hubungi, Pak Dibyo, mantan asisten pribadi ayahnya.
Ā Nada sambung terdengar dan di dering ketiga, sambungan telepon diangkat.
"Halo ?" Suara pria yang terdengar sudah tua menyapa telinga Sam.
"Siang, dengan Bapak Dibyo Santoso ?" Sapa Sam dengan sopan namun datar menggunakan Bahasa Indonesia.
"Ya, dengan saya sendiri. Siapa ini ?"
Sam bingung sesaat. Apakah ia harus menyebut namanya langsung, atau ia harus menyamar menjadi orang yang berpura-pura mencari tahu ?
"Halo ?" Suara Pak Dibyo terdengar lagi, kali ini agak keras.
Oke, sepertinya Sam perlu untuk langsung memperkenalkan dirinya saja. Siapa tahu dia kenal ?
"Saya Sam Darius Jayanata, Pak. Bapak kenal saya ?" Sam memperkenalkan dirinya, sebagian dari dirinya merasa grogi karena takut ia salah langkah.
"Sam Darius Jayanata ? Maaf, Pak, saya tidak mengenal anda. Apakah anda ada hubungannya dengan Tuan Muda Pras Jayanata ?" Nada bingung terdengar dari kata-kata yang diucapkan Pak Dibyo.
Sam memejamkan matanya. Sepertinya dia tidak mengenal siapa dirinya. Ayahnya juga dipanggil Tuan Muda, berarti ini asisten ayahnya yang paling pertama, mungkin saat ayahnya masih muda dan kemungkinan besar belum menikah dengan ibunya. Namun, ada kemungkinan Pak Dibyo mengenal ibunya bukan ?
"Ah, saya......saudara jauhnya, Pak. Maaf mengganggu waktu Pak Dibyo. Saya ingin bertanya, apakah anda mengenal Berliana Ambarwati, Pak ?" Ujar Sam tidak ingin memberitahu siapa dirinya sebenarnya. Toh, ini asisten lama ayahnya.
Ā Di seberang sana, Pak Dibyo terdiam sesaat ketika mendengar nama Berliana Ambarwati disebut oleh orang yang meneleponnya. Ia tahu persis siapa perempuan itu, namun sebelum ia tahu lebih banyak kelanjutan kisah cinta antara Pras Jayanata dan Berliana Ambarwati, ia keburu mengundurkan diri karena penyakit gagal ginjalnya yang membuat ia tidak bisa lagi mengikuti aktivitias Tuan Mudanya yang saat itu sangat padat.
"Pak Dibyo ?" Pancing Sam karena Pak Dibyo tak kunjung menjawab.
"Anu, Pak... Setahu saya, Mbak Berliana itu orang yang dicintai Tuan Muda Pras. Tapi setelah itu, sungguh saya tidak tahu apa-apa lagi."
Jawaban yang sama sekali tidak memuaskan. Sam menghela napas, tentu saja ia tahu bagaimana besar cinta ayahnya terhadap ibunya. Bahkan sepertinya bila ia tidak lahir pun, ayahnya tidak keberatan. Ayahnya hanya mencintai ibunya.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas informasinya." Sam memutuskan sambungan teleponnya, kemudian melihat lagi list nama di kertas yang ia pegang tersebut. Ada lebih dari lima mantan asisten pribadi ayahnya, enam mantan supir pribadi ayahnya, dan bahkan sepuluh mantan asisten rumah tangga di rumah ayah dan ibunya. Sam bingung, mana orang yang kira-kira tepat dan bisa dihubunginya.
Ā Setelah melihat berulang kali dan mempercayai intuisinya, Sam memilih secara acak satu nama asisten rumah tangga dari sepuluh nama di kertas yang ia pegang. Sumiyati, nama itu terasa akrab di telinga dan memori Sam meski ia tidak mengenali dan mengetahui seperti apa rupa orang ini. Ia pun menekan nomor yang tertera di samping nama itu dan menghubunginya.
"Halo ?" Suara lembut seorang ibu menyapa telinga Sam.
"Halo, dengan Ibu Sumiyati ?" Sam membuka pembicaraan dengan mantan asisten rumah tangga ayahnya tersebut.
Ā Di seberang telepon, Ibu Sumiyati mengernyitkan kening tuanya. Suara yang sedang ia dengar begitu mirip dengan seseorang yang sangat ia kenal, hanya saja yang ini terdengar lebih dalam dan rendah.
"Iya, dengan saya. Maaf, sampeyan siapa ?" Ujar Ibu Sumiyati dengan logat Jawa-nya yang kental.
"Nama saya Sam Darius Jayanata, Bu..."
Ibu Sumiyati membeku di tempat ia berdiri. Siapa tadi yang ia dengar ?
"Maaf, anda siapa ?" Tanya Ibu Sumiyati dengan nada tidak percaya.
"Saya Sam Darius Jayanata, Bu. Ibu kenal saya ?" Tanya Sam perlahan dan hati-hati.
'Namanya berubah...' Batin Ibu Sumiyati sambil mengerjapkan mata tuanya yang mendadak terasa hangat. Ia tahu persis siapa yang sedang berbicara dengannya, namun ia adalah orang yang memegang teguh janji yang telah disumpahnya terhadap Tuannya. Ia tidak boleh memberitahukan seluruhnya, walau sebenarnya itu bukan hal yang benar untuk dilakukan, mengingat anak itu harusnya juga mengetahui identitasnya.
"Anu, Mas... Saya memang kenal Mas e, tapi maaf Mas, saya telah disumpah walau saya bisa saja beritahu Mas. Saya takut durhaka melanggar sumpah Tuan saya, Mas." Ibu Sumiyati mengaku dengan suara bergetar.
Sam menghela napasnya kencang. Ibu Sumiyati ini memang orang yang tepat, namun tampaknya semua asisten rumah tangga dan begitu juga asisten pribadi dan ādugaan Samā supir juga, telah disumpah oleh ayahnya untuk tidak memberitahukan hal yang sebenarnya. Ayahnya tahu persis, suatu saat anaknya ini pasti akan mencari tahu apa yang terjadi di masa lalunya hingga harus koma dan tersadar dengan keadaan amnesia total.
Ā "Bu, saya tidak minta diberitahu apapun yang Ibu tahu dan memaksa Ibu melanggar sumpah yang telah Ibu buat. Saya hanya ingin memastikan satu hal penting." Sam berdeham sesaat, kemudian melanjutkan kata-katanya lagi, "...Apakah Ibu ada di saat sebelum saya koma ?"
"Ada, Mas. Saya sudah bekerja lama, sejak Mas e sek cilik." Ibu Sumiyati mengaku.
Sam mengangguk perlahan. Ibu Sumiyati ini setidaknya memegang peran penting di masa lalunya. Jika suatu saat Sam terpaksa membuat Ibu Sumiyati melanggar sumpahnya, ia pasti akan mendapatkan sepotong kisah yang ia butuhkan.
"Terima kasih, Bu, atas infonya. Semoga Ibu sehat-sehat selalu ya..."
Ibu Sumiyati mengusap air matanya yang telah menetes. Begitu malang nasib anak ini, batinnya. Andai ia tidak disumpah, mungkin ia akan berani memberitahukan kisah yang telah ia simpan rapat belasan tahun ini.
Sam memutuskan sambungan teleponnya. Sepertinya percuma saja meminta informasi dari orang-orang ini, karena mereka adalah orang yang setia dan telah disumpah atau mereka bekerja sebelum ayahnya menikah atau saat ayahnya masih berpacaran dengan ibunya.
Hanya satu orang terdekat lagi yang dapat ia paksa untuk memberikannya informasi selain Mark. Ibunya, Berliana Ambarwati.
Ā **
Ā Berliana, Ibu Sam, memeluk anak semata wayangnya erat-erat. Ia sangat merindukan Sam, entah sudah berapa lama ia tidak bertemu.
"Mama miss you a lot, Sam. Where have you been ?" Berliana menatap Sam penuh kasih sayang dan rindu.
"I've got a whole lot of work, Ma. Sekarang aku ambil cuti, bisa sering-sering ke sini lihat Mama." Sam menatap perempuan yang paling ia sayangi selama hidupnya ini dengan perasaan rindu juga. Ternyata ia tidak menyangka bahwa ia bisa rindu ibunya juga seperti anak kecil.
"Kamu ambil cuti, sayang ? Berapa lama ?" Berliana melihat anak semata wayangnya dengan tatapan heran, namun juga senang karena anaknya bahkan bersedia mengambil cuti demi sering-sering mengunjunginya.
"Satu bulan. Cukup kan buat nengokin Mama sering-sering ?" Sam menyengir lebar.
"Wow, that's a lot, boy... Mama senang kamu cuti demi bisa nengok Mama, tapi sebulan itu lama lho. Terus pekerjaan kamu di sana di-handle siapa sementara ?"
"Mark, Ma. I know he can handle my work. Buat dia pasti sebulan nggak ada artinya deh, dia kan kayak robot saja sanggup melakukan segalanya." Sam tertawa kecil. Berliana ikut tertawa sambil mengacak rambut pendek anaknya yang tinggi menjulang itu.
"Ma, Sam mau tanya sesuatu...tapi di gazebo belakang saja ya dekat air mancur ?" Sam mulai menjalankan misinya.
Berliana menatap Sam bingung namun ia akhirnya mengiyakan keinginan anaknya sambil berpikir, apakah yang akan ditanyakan anaknya sehingga anaknya ini harus memilih lokasi yang cukup jauh dari teras belakang rumah tempat mereka biasa bercengkrama ?
Saat mereka berdua sudah duduk di dalam gazebo yang teduh yang terletak di bagian belakang rumah, Sam menatap ibunya itu dan menggenggam tangan halus ibunya kuat.
"Ma, Sam mau Mama jujur ya ? Janji ?"
"Ada apa sih, Sam ?" Berliana menatap anaknya bingung.
"Ya, pokoknya janji dulu deh." Sam berusaha menatap ibunya jenaka.
"Hmm...tergantung."
"Ah, kalau begitu Sam tidak jadi cerita ke Mama." Sam pura-pura merajuk. Ia paling tahu ibunya tidak tahan melihatnya merajuk dan tidak tahan dengan rasa penasaran.
"Iya deh, janji."
Sam menahan tawanya. Benar, kan ? Kemudian ekspresi wajah Sam kembali serius.
"Ma, waktu Sam bangun dan nggak ingat apa-apa itu, apa ada kejadian yang terjadi ?" Tanya Sam langsung, sambil melihat reaksi ibunya saat ia lontarkan pertanyaan itu.
Berliana yang terkejut mendengar pertanyaan Sam hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan semuanya kepada Sam.
"Sam tahu, Ma, ada sesuatu yang semuanya berusaha sembunyikan. Begitu juga Mark. Sam tahu Mark pasti menyimpan rahasia, tapi saat Sam menanyakan hal ini ke Mark, dia tidak mau mengakui apapun malah berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya ada apa sih, Ma ?" Tuntut Sam menginginkan penjelasan.
Berliana hanya terdiam saja sambil menghela napasnya. Matanya menatap lurus ke depan. Ia pun sebenarnya ingin memberitahu Sam, namun ia segan kepada suaminya āayah Samā karena ia sudah berjanji.
"Mama sudah sumpah ya sama Papa, nggak mau kasih tahu ke aku soal ini ?" Tebak Sam tepat sasaran.
Berliana menatap anaknya kaget dan otomatis bertanya, "Darimana kamu tahu kalau Mama sudah berjanji dengan Papa ?," yang langsung ia sesali. Ketahuan sudah ia mengetahui sesuatu.
Sam menatap lurus ke air mancur besar di depan gazebo dan menjawab pertanyaan ibunya, "Aku sudah mencoba mencari tahu, Ma. Aku tidak sebodoh itu juga. Aku bahkan sudah menelepon satu mantan asisten rumah tangga Papa dan Mama juga satu mantan asisten pribadi Papa. Yang asisten pribadi Papa itu memang asisten lamanya, sehingga beliau tidak mengetahui apapun, tetapi mantan asisten rumah tangga itu tahu hanya saja ia bilang ia sudah disumpah dan ia tidak ingin durhaka sama Papa sebagai mantan tuannya."
Berliana semakin merasa bersalah atas pernyataan anaknya. Ia tahu, lama-kelamaan anaknya pasti akan mencari tahu dan ia yakin, tak lama lagi ingatan anak semata wayangnya yang selama ini hilang akan kembali.
"Tapi...kamu kenapa bisa tiba-tiba mencari dan penasaran sama apa yang terjadi di masa lalumu ?" Tanya Berliana penasaran.
Sam menghela napas dan memejamkan matanya sesaat, kemudian membukanya lagi, "Sudah sekitar beberapa tahun belakangan aku sering mimpi buruk. Mulai dari yang hanya mengganggu tidur karena tidak jelas, hingga akhir-akhir ini semuanya terasa nyata hingga rasanya meneror hidup aku. Sakit kepala yang aku rasakan juga semakin sering dan semakin parah. Rasanya aspirin bertablet-tablet saja nggak akan mempan, Ma. Daripada aku lama-lama jadi nggak waras karena nggak tahan, lebih baik aku cari tahu sendiri penyebabnya sekarang."
Berliana terdiam mendengar penjelasan anaknya. Merasa bahwa mungkin saatnya anaknya ini tahu akan rahasia yang selama ini terpendam jauh dan berusaha untuk tidak lagi dibongkarnya.
Ā "Dulu, kamu itu adalah seorang pekerja seni, nak. Seorang penyanyi......"
Ā **
Ā Berliana menangis histeris ketika mengetahui anaknya ditembak oleh orang tak dikenal saat sedang mengadakan konser tunggalnya di Singapura. Saat itu, ia sedang berada di ruang VVIP General Hospital Singapore, menemani suaminya yang penyakit jantungnya mendadak kambuh.
Sudah suaminya tergeletak sakit, sekarang anak semata wayangnya jadi korban penembakan orang tak dikenal. Cobaan apa yang Tuhan berikan kepada keluarganya ?
"Pa, Sammy ditembak !" Berliana menangis di hadapan suaminya yang baru saja sadar setelah sempat kehilangan kesadaran.
"Ditembak ?" Reaksi suaminya justru di luar perkiraan Berliana. Pras tidak terlihat kaget. Sebenarnya, Berliana sudah sedikit mempersiapkan diri akan reaksi Pras yang akan seperti ini, namun ini kasus yang menimpa anaknya, masa suaminya ini sama sekali tidak kaget ?
"Pa, masa kamu nggak berusaha apapun ? Meskipun selama ini Sammy terus membangkang, namun dia tetap anakmu, Pa."
"Sammy punya bodyguard, Ma. Dia pasti sudah di bawa ke rumah sakit. Jangan khawatir, Ma, Sammy pasti selamat." Jawab Pras datar. Ekspresinya masih terlihat lelah dan sakit.
Berliana menatap suaminya yang ia tahu masih kesal atas segala pembangkangan anaknya, mungkin juga di dalam hati suaminya itu mensyukuri apa yang terjadi kepada Sammy karena kualat, selama ini tidak mau menuruti segala perkataannya. Ia lihat suaminya yang berusaha untuk tidur lagi, sehingga ia langsung memperbaiki bantal dan selimut yang dipakai suaminya.
Ā Ketika ia dengar bahwa Sammy sudah masuk ke ruang ICU dan orang tua diperbolehkan untuk menjenguk walau hanya sesaat, ia segera keluar dari ruang rawat suaminya dan berlari menuju ruang ICU tempat anak semata wayangnya dirawat.
Bau obat-obatan yang keras menyapa indera penciuman Berliana. Air matanya langsung mengalir saat melihat begitu rapuhnya tubuh anaknya tergeletak di atas ranjang ICU, berjuang keras untuk hidup. Bunyi mesin-mesin penyokong hidup seakan berkata kepadanya bahwa hidup Sammy berada di ujung tanduk. Dokter bilang, Sammy koma akibat trauma benturan di kepalanya, mungkin ia terjatuh dari panggung yang tinggi saat kejadian penembakan itu. Lagipula, Sammy juga kehilangan banyak darah dari tiga luka tembakan yang cukup fatal. Dokter pun tidak dapat memperkirakan sampai kapan Sammy akan terus koma.
Berliana menggenggam tangan anaknya yang terpasang selang infus dan hanya dapat berharap pada keajaiban sehingga anak semata wayang kesayangannya tidak harus koma lama-lama.
Ā Beberapa hari setelahnya, Pras memutuskan untuk membawa Sammy ke Jerman walau keadaan Sammy belum membaik. Tim dokter sempat melarang dan Berliana juga sempat berbicara dengan suaminya itu, namun Pras berkeras dengan alasan Sammy akan cepat sembuh karena teknologi kedokteran di Jerman lebih canggih daripada di Singapura, tentunya akan mempercepat pemulihan Sammy.
Berliana yang sama sekali buta dengan dunia kedokteran hanya berharap yang terbaik agar Sammy dapat segera pulih, sehingga setelah ia pikir baik-baik, ia mendukung keputusan suaminya itu.
Di Jerman, Sammy masih koma hingga dua minggu kemudian saat anaknya itu membuka mata untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Berliana tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan bahwa anaknya masih diberikan kesempatan hidup walau Sammy harus menderita amnesia akut yang bahkan ketika ditanya oleh dokter yang bersangkutan, mereka tidak bisa menjawab kapan ingatan Sammy akan kembali.
Suaminya sempat menitipkan pesan kepadanya bahwa jangan sekali-kali memberitahu Sammy masa lalunya, karena Pras begitu takut Sammy akan membangkang lagi dan kembali ke dunia musik. Pras akan kehilangan pewaris utama seluruh perusahaannya, karena hanya Sammy anak yang ia punya. Pras bahkan memutuskan untuk mengurus surat ganti nama Sammy.
Awalnya Berliana sempat tidak setuju nama Sammy yang sudah dipakainya sejak lahir diubah, namun Pras beralasan bila Sammy memakai nama lamanya, orang akan dengan mudah mengenalinya dan lagi-lagi, ia akan kembali ke dunia musik yang ditentang keras oleh Pras. Berliana yang tidak dapat berbuat apa-apa dan merasa suaminya itu benar hanya bisa menurut saja.
Maka itu, ketika Sammy membuka matanya setelah koma, namanya resmi berubah dan ia terlahir sebagai manusia yang baru dengan masa lalu yang terkubur.
Ā **
Ā Sam mematung mendengar penuturan kalimat demi kalimat yang ibunya lontarkan. Soal masa lalunya yang terkubur sebagai rahasia, soal penembakan yang pernah terjadi padanya, soal mengapa ia bisa amnesia hingga saat ini.
"Apakah... Apa itu sudah semuanya, Ma ?" Sam bertanya pelan kepada ibunya yang baru selesai bercerita.
"Semuanya, nak. Semua yang kamu perlu ketahui..." Berliana mengusap air matanya.
Entah mengapa semuanya masih terasa tidak nyata dan menggantung bagi Sam. Seakan masih ada yang tersisa dari kisah pilu itu, namun Sam tahu persis ibunya tidak mungkin berbohong.
"Jadi, Ma... Siapa namaku sebenarnya ?" Tanya Sam saat ia menoleh ke arah ibunya.
"Samuel Damian Jayanata, nak..." Berliana menangis lagi saat menyebutkan nama lama anak semata wayangnya.
"Namamu Samuel, nak, panggilanmu Sammy..."
Ā **
Ā Sam termenung dengan perasaan kalut di ranjangnya. Dari segumpal kisah masa lalunya, menurutnya masih ada yang mengganjal. Seperti ada keping puzzle yang masih perlu dicari.
Sam membuka laptopnya dan mencoba mencari nama lamanya itu di situs pencarian. Ia mengetikkan namanya di kolom keyword.
Ā SAMUEL DAMIAN JAYANATA. Klik. Sam menekan tombol berbentuk kaca pembesar tersebut.
Situs-situs hasil pencarian bermunculan di hadapannya. Sebuah portal berita yang menampilkan berita lama saat dirinya terkena kasus penembakan muncul di hasil paling atas. Tepat di bawahnya, situs Wikipedia muncul dan Sam tanpa ragu mengklik situs tersebut dan membacanya.
āSammy D., atau yang bernama lengkap Samuel Damian Jayanata adalah seorang penyanyi beraliran pop-jazz berkebangsaan Indonesia yang aktif mulai tahun 1999 hingga tahun 2002. Debutnya dimulai di Singapura dengan single berjudul Soulless[1] dan lagu tersebut merajai tangga musik Asia Tenggara selama tiga minggu berturut-turut. Ia juga dikenal karena sering menyanyikan ulang lagu populer dengan nada khasnya yang merdu dan berbeda. Saat tampil pada konser tunggalnya di Singapura, ia ditembak oleh seseorang tak dikenal[2], diduga adalah orang yang memiliki kelainan psikologis[3]. Sammy D. menghilang tanpa kabar setelah kejadian tersebut, membuat karir musiknya yang sedang bersinar redup dan hilang. Lagu terakhirnya sebelum meredup adalah Something About You[4].ā
Ā Sam segera mencari lagu terakhir yang disebutkan di Wikipedia dan mengunduhnya. Ketika ia memutar lagu tersebut, ia terpaku dalam keterkejutan yang ia rasakan. Melodi yang sama persis dengan melodi di mimpi terakhirnya. Mendadak, Sam merasa ia mengingat liriknya dan tanpa sadar ikut melantunkan lagu itu mengikuti melodi yang mengalun di speaker laptop-nya.
Ketika ia sadar ia sedang bernyanyi, Sam semakin terkejut ketika ia mendadak merasa ingin meneteskan air matanya. Ia tidak pernah menangis semenjak ia sadar dari komanya 12 tahun yang lalu hingga sekarang dan saat ia mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, mendadak ia ingin mengeluarkan seluruh bebannya.
Ā Sam terus memutar ulang lagu terakhir yang menjadi akhir bagi karirnya di dunia musik sambil terus melantunkan liriknya yang tiba-tiba saja seakan terpatri lekat di memori Sam tanpa ia harus berusaha mengingat lagi. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia merasa tidak berdaya dan tidak dapat melakukan apapun lagi selain terus melantunkan lirik lagu tersebut, menyadari bahwa memang dirinya bisa bernyanyi, hingga akhirnya ia tertidur dengan sendirinya, dengan musiknya yang masih mengalun berulang kali.
Ā āMy heart races like a rollercoaster in a full speed when I see you in front of me. That time, I know there is something about youā¦ā
-- Sorry for not posting any post these few weeks, need to get my writing mood back. So this is the third chapter, hope you enjoy this !! Btw follow and ask me anything at my ask.fm : rosieliem_ . Thanks ! --
**
Platonic, adj. : There is a border we shall not cross. True, we are professionals, so please do it that way. Why bother our own feeling ? It's a disturbance.
#3
Ā Pesawat telah mendarat dengan mulus tepat pukul sepuluh waktu Jakarta. Serene dan Marla bangkit berdiri dan melangkah keluar dari pesawat, membawa barang mereka masing-masing, karena ini hari Sabtu sehingga tentunya mereka tidak perlu pergi ke kantor.
Ā "Ren, kamu langsung pulang ?" Tanya Marla sewaktu mereka berjalan mendekati pintu keluar terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta.
"Yup. Aku capek, La, pengin istirahat. Kamu ?" Jawab Serene. Wajahnya memang terlihat letih, karena ia hampir tidak bisa tidur semalam. Matanya seakan masih penuh energi dan pikirannya pun masih siaga. Akibatnya, sekarang ia merasa ingin tumbang.
"Mau refreshing dulu. Paling nongkrong di cafe atau ngopi di Starbucks..."
"Oh well then, I'll go first. Bye, La..." Ujar Serene tak mau panjang-lebar lagi. All she wants and needs right now is a peaceful sleep, all the remaining hours of today.
Serene pun melangkah menuju tempat antri taksi dan ketika gilirannya tiba, ia langsung masuk ke dalam taksi, menyebutkan tujuannya lalu memejamkan matanya.
Ā **
Ā "Sayang, kamu nggak pernah lupa makan kan ?" Suara lembut dan teduh ibu Sam membuat Sam semakin rindu dengan pelukan ibunya. Katakanlah ia manja, karena kasih sayang ibunya tak pernah terbagi.
"Nggak pernah, Ma." Jawab Sam dengan Bahasa Indonesia, sambil tersenyum lebar.
Sam memang bisa dan lancar menggunakan bahasa negeri asal ibunya tersebut. Hanya saja dalam berbisnis, tidak peduli apakah kliennya juga berasal dari Indonesia, ia tidak pernah sekalipun menggunakan Bahasa Indonesia.
"Sudah berapa lama ya, nak, kamu nggak pulang ? Mama kangen kamu lho."
"I miss you too, Ma. Cuma aku lagi sibuk ini, I'm so sorry." Jawab Sam sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya.
"Ah, kamu ini. Selalu bilang sibuk. Can't you find a little time to visit your Mom ?" Ibu Sam merajuk. Ia memang benar-benar merindukan putra tunggalnya itu dan Sam mengerti kerinduan ibunya. Hanya saja, Sam malas bertemu ayahnya.
"If I have a day off, sure I'll make time to visit you. Okay ?" Jawab Sam menenangkan ibunya, walau dengan cara ini mau tidak mau ia harus menepati janjinya meski ia malas bertemu ayahnya yang otoriter.
"Benar ya ?"
"Pasti, Ma. Pasti." Sam menghela napas pelan.
"Sam ?" Panggil ibunya dari seberang telepon setelah hening sesaat.
"Yes, Ma ?"
"Kamu sudah tiga puluh tahun..."
Sam memejamkan matanya. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan ibunya.
"Kamu masih belum punya calon yang mau dikenalkan ke Mama dan Papa ?"
Hening. Sam tidak dapat menjawab pertanyaan ibunya, yang tentunya sudah sekian kali ditanyakan.
Tiba-tiba, wajah Serene terlintas di benak Sam. Sam membuka matanya, terkejut.
'No, not her. Kita juga baru kenal, belum dekat.' Tolak Sam dalam batinnya.
"Sam ?" Panggil ibunya lagi, mendengar tak ada respon dari Sam.
"I'm so sorry, Ma. Untuk saat ini belum. Nanti kalau Sam sudah ada, Sam pasti kenalin ke Mama dan Papa."
"Teman-teman Mama sudah pada gendong cucu, Sam. Kamu anak Mama satu-satunya, Mama dapat cucu juga cuma dari kamu nantinya."
"I understand, Ma. Sam janji, begitu Sam dapat yang cocok, Sam pasti bawa ke Mama dan Papa. Okay ?" Sam memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya.
"Kamu tahu Tante Ah Mei, nak ?"
"Yes."
"Kemarin, dia baru dapat cucu lagi yang kedua dari si Clara, yang dulu kamu tolak waktu mau Mama jodohkan itu."
Sam teringat sosok Clara. Perempuan berwajah oriental, namun menurut Sam, masih lebih cantik Serene jauh. Clara dulu hampir dijodohkan dengannya, karena Sam tak kunjung mempunyai pacar. Setelah Sam tolak, tak lama kemudian Clara malah memutuskan untuk menikah dengan seorang duda beranak satu, ya anak Tante Ah Mei itu.
Ibunya berusaha menjodohkannya dengan berbagai perempuan baik dari teman ibunya, teman tantenya, bahkan anak mitra kerja ayahnya.
Natasha, Elina, Clara, Carissa, Maria, dan masih banyak lagi perempuan-perempuan silih berganti yang ibunya coba jodohkan, namun tidak ada yang bertahan lebih dari satu bulan hingga ibunya lelah dan berhenti menjodoh-jodohkannya, berharap kepada sebuah keajaiban bahwa suatu saat ia akan membawa seorang perempuan yang dapat orang tuanya restui menjadi pendamping hidupnya.
Ia sudah mempunyai segalanya. Karir dan perusahaan, hidup mewah dari kecil, wajah yang kata banyak orang cukup tampan bahkan untuk menggaet artis Hollywood, perawakan yang gagah, apa lagi ? Ia hanya membutuhkan seorang perempuan yang dapat menerima dirinya apa adanya dan tidak melirik ke isi dompet maupun silsilah keluarganya. Sayangnya, hingga kini seluruh nama wanita yang berderet di sejarahnya adalah wanita yang cenderung menggilainya karena harta dan keluarganya.
Oh, ia baru ingat satu hal. Ia juga sama sekali tidak dapat mengingat bagaimana dirinya dan masa lalunya lebih dari 12 tahun dari usianya sekarang, sebuah kekurangan yang absurd. Ia tahu pasti ia mengidap amnesia, hingga satu yang ia ingat, saat ia bangun dari komanya yang katanya sudah berlangsung selama satu bulan, ia tidak mengetahui siapa dirinya sama sekali.
Ā Sam memejamkan matanya dan mengingat saat-saat putih itu.
"Aku... Di mana aku sekarang ?"
Seorang lelaki yang gagah dan berperawakan dingin menatapnya tanpa ekspresi sambil berkata, "Kamu di rumah sakit."
"Kau tahu namaku ? Aku tidak bisa mengingatnya."
"Namamu Sam Darius Jayanata. Ingat itu baik-baik, Sam."
Sam termenung. Mencoba menghafal namanya walau kepalanya terasa berdentam-dentam.
"Aku Sam Darius Jayanata dan siapakah aku ini ?" Sam berusaha mengenali dirinya sendiri.
"Kamu adalah seorang pewaris sebuah perusahaan multinasional terbesar di Asia Tenggara. Saya adalah Papamu, ayah kandungmu. Nama saya Pras Jayanata."
"Kau...Papaku ?"
Pria dingin itu mengangguk. Sam terdiam.
Mulai saat itu ia menuruti segala pelatihan dan persiapan menjadi seorang pewaris perusahaan terbesar.
Dan di sinilah sekarang ia berada. Posisinya memang masih belum CEO, karena ayahnya masih berkuasa dan masih kuat untuk bekerja. Toh menurut Sam, ayah dan ibunya masih cukup muda. Memegang posisi 'hanya' sebagai Marketing Director di salah satu anak perusahaan milik ayahnya di bidang perhotelan dan kontraktor, namun ia telah memiliki segalanya. Wajar, karena ia anak tunggal dan seorang pewaris. Ketika suatu saat ayahnya memutuskan untuk turun dan tidak lagi bekerja, ia lah yang akan langsung menggantikan posisi ayahnya. Namun fakta menggembirakan tersebut entah mengapa tidak membuatnya senang.
Ā Sam mendengar pintu ruangannya diketuk. Ia mengalihkan perhatian ke pintu kayu di depannya.
"Yes ?" Sahutnya pendek dan Mark pun masuk ke dalam ruangannya.
"Tim lapangan sudah menyiapkan lokasi untuk butik Pose, Sam. Kamu mau lihat lokasinya sekarang ?"
"Boleh deh, Mark." Sam berdiri dan mengambil jasnya yang ia sampirkan di sandaran kursinya, kemudian melangkah diikuti oleh Mark di belakangnya.
Ā **
Ā Sam menyipitkan matanya. Lokasi ini menurut Sam masih kalah bagus dibandingkan beberapa yang masih kosong di pusat perbelanjaan The One Hotel & Residences.
"Mengapa lokasi ini yang dipilih ?" Sam bertanya kepada kepala tim lapangan.
Kepala tim lapangan berdiri serba salah dicecar oleh Sam yang adalah atasannya. Tatapannya tidak lagi yakin melihat bahasa tubuhnya yang sedikit gelisah.
"Saya tidak ingin menuduh anda apapun, namun saya hanya ingin bilang bahwa saya tidak setuju dengan pemilihan lokasi anda. Saya bahkan ingat beberapa lokasi yang masih kosong dan lebih baik dari ini. Perlu saya tunjukkan ?" Alis Sam terangkat menatap kepala tim lapangan di depannya yang sudah terlihat benar-benar gelisah. Sam yakin ada yang menyuruh kepala tim lapangan untuk memberikan lokasi ini dan sepertinya Sam tahu siapa pelakunya.
"Eh... Uh, tidak usah Pak. Saya...saya akan melihat lagi lokasi yang baik untuk penempatan butik Pose. Akan saya berikan denah dan laporannya ke Pak Sam."
Sam mengangguk tegas, "Saya tunggu paling lambat sore ini. Saya tidak ingin ada penundaan apapun. You understand ?"
Kepala tim lapangan mengangguk cepat, kemudian langsung pergi dari lokasi bersama beberapa orang timnya yang tadi datang bersamanya.
Sam menghela napas. Bagaimana bisa lokasi tepat di samping pintu masuk dapat dikatakan lokasi yang bagus ? Bagaimanapun juga, saat seorang pengunjung masuk ke pusat perbelanjaan mereka akan cenderung melihat ke depan dahulu baru ke samping kanan-kirinya dan ketika apa yang tersaji di depannya sudah keburu menarik, ia tidak lagi memedulikan ada barang apa di kanan-kirinya, bukan ?
"Mark, temani saya ke divisi lapangan ya."
"Baik, Sam."
Ā **
Ā Lee John, Field Manager, setingkat di bawah Sam namun ia adalah seseorang yang memimpikan posisi Sam sehingga ia begitu culas dan seringkali melawan keputusan Sam.
"Jadi, apa maksudmu memberikan posisi itu kepada Pose ?" Tanya Sam dengan tajam saat ia baru saja melangkah masuk ke ruangan Lee John.
Lee John terlihat terkejut dengan kedatangan Sam yang mendadak namun senyum sinis terpatri seketika, "Wow, santai bos..."
Sam berdiri di depan meja Lee John, ia merasa tidak perlu repot-repot untuk duduk dan menyamakan tingginya dengan Lee John yang sedang duduk saat ini.
"Duduk dulu, Marketing Director."
"Tidak perlu. Kakiku masih kuat untuk berdiri. Sekarang jelaskan alasanmu."
"Well...menurutku, Sam, posisi itu cocok untuk Pose karena aku baru saja melihat koleksi-koleksi Pose di situs mereka yang ternyata cukup colourful. Cukuplah, kukira, untuk menarik perhatian pengunjung yang baru masuk dan ingin keluar dari pusat perbelanjaan."
Sam menyipitkan matanya menatap Lee John, kemudian berkata, "Oh ya ? Menurutmu koleksi yang penuh warna dapat begitu mudah menarik perhatian pengunjung meski tokonya terletak di samping pintu masuk dan tidak dalam sudut pandang strategis pengunjung ?"
"Kalau pengunjung memang tertarik dengan koleksi yang ditawarkan Pose, mereka tinggal mampir apalagi kalau menoleh saja sudah kelihatan kok. Benar, bukan ?" Lee John menyahuti argumen Sam dengan nada arogan seakan ia paling benar dan ia sudah menang.
Sam mendengus, kemudian menatap lurus ke manik mata hitam Lee John yang seakan penuh intrik dan kebencian, "Seakan kata-katamu terbukti benar saja. Aku tidak ingin mengingatkanmu kembali, namun kau harus ingat siapa yang lebih berkuasa di sini, Lee John. Aku bisa saja memindahkan lokasi tanpa persetujuanmu bila Pose nanti terbukti penjualannya tidak memuaskan dan pihak mereka menuduh perusahaan kita. Namun untuk mencegah hal itu terjadi, sebaiknya kamu harus sadar sendiri bahwa Pose juga bukan brand sembarangan dan untuk mendapatkan deal ini kita harus menunggu tidak hanya sehari. Kalau hingga sore ini aku tidak melihat adanya laporan denah lokasi dan ketersediaan tempat kosong dengan tanda tanganmu sebagai sebuah persetujuan, jangan harap kamu akan mendapatkan promosi yang kamu inginkan sejak lama."
Lee John menatap Sam menyipit karena ancaman yang dilontarkan Sam. Lee John tidak pernah menyangka seorang Sam yang biasanya terlihat cuek dan selalu dengan santai menangkis segala ulahnya sekarang terlihat begitu emosi. Dan Lee John tahu Sam tidak main-main dengan ancamannya.
Ā Sam berbalik saat kakinya sudah melangkah ke arah pintu keluar ruangan Lee John, "Ingat, sore ini ya, Field Manager. I'll keep my word, This. Is. Not. Just. An. Empty. Threat."
Lalu Sam pun kembali melangkahkan kakinya diikuti Mark yang sejak awal sudah ingin meninju wajah sombong Lee John namun ditahannya demi atasannya yang ingin mengatasi permasalahan ini sendiri.
Ā Sedetik setelah Sam melangkah menjauh dari ruangan Lee John, terdengar suara benda dari kaca berderak pecah menghantam pintu ruang kerja Lee John.
Ā **
Ā Sore itu, akhirnya sebuah laporan denah dan ketersediaan tempat kosong di pusat perbelanjaan The One Hotel & Residences berada di atas meja Sam. Sam tersenyum puas, ternyata seorang Lee John bisa takut juga dengan ancaman seriusnya, karena selama ini seluruh ulahnya hanya ia biarkan atau ia tangkis dengan santai. Entah mengapa, ulah seorang Lee John kali ini membuat Sam begitu emosi dan sempat hampir kehilangan kontrol tadi siang.
Sam membuka laporan tersebut dan melihat beberapa tempat yang masih kosong dan dapat ditempati oleh Pose. Mata Sam tertuju ke satu tempat yang terdapat di denah, di lantai dua yang terletak persis di depan eskalator di tengah-tengah pusat perbelanjaan. Tempat yang sangat strategis, baru saja ditinggalkan oleh penyewa sebelumnya karena masalah keuangan yang dialami penyewa tersebut.
Sam melihat jam tangannya. Jam enam sore waktu Singapore, yang berarti jam lima sore waktu Jakarta, semestinya Serene masih bekerja. Sam segera merogoh ponsel di saku kemejanya dan menelepon ke nomor Serene.
Ā Di seberang sana, Serene yang sedang membereskan pekerjaannya merasa ponselnya berdering dari dalam tas tangannya. Ia menghentikan kegiatan beberesnya dan membuka tas tangannya lalu mengambil ponselnya. Caller ID Sam tertera di ponselnya. Serene langsung mengangkatnya.
"Yes, Sam ?" Ujar Serene sambil melanjutkan acara beberesnya yang tertunda. Ponselnya ia setel dengan mode pengeras suara dan ia letakkan di hadapannya.
"I have a good place for your chain boutique, Serene. Mind if I directly scan it and send it to your e-mail so you can consider it ?"
"Yes, of course, Sam. Thanks for directly calling me to let me know. When will you send it ?"
"Right now." Sam tersenyum di seberang sana.
Serene mengangkat alisnya dan memasukkan barang terakhir yang tersisa ke dalam tas kerjanya, kemudian duduk di kursi kerjanya dan menyalakan kembali laptop-nya yang sudah ia matikan tadi, "Right now ?"
"Yes, and now it's already in your inbox, I guess. I've sent it about...umm...three seconds ago ?" Sam tertawa kecil. Suara tawanya bahkan masih terdengar merdu dan hangat di telinga Serene meski ia mendengarnya via speaker ponsel.
Serene membuka inbox e-mail miliknya setelah laptop-nya siap untuk dipakai. Benar saja, satu e-mail baru dari Sam telah tertera di baris teratas kolom inbox-nya.
"Sudah sampai, Sam."
"See it, then. I'm waiting for your response."
Serene segera mengklik e-mail tersebut dan membuka attachment yang dikirimkan Sam. Gambar sebuah denah yang telah dilingkari dengan pulpen berwarna merah, terletak persis di depan eskalator di lantai dua pusat perbelanjaan. Serene tersenyum senang, ternyata Sam dan timnya memegang janji untuk memberikan Pose tempat terbaik. Menurut Serene, tempat itu sudah lebih dari cukup untuk Pose. Strategis dan kelihatannya cukup luas.
"It's quite roomy, Sam. You're really going to give us this place ?"
"Yeah, of course. You and your team can trust in me, Serene." Suara Sam terdengar meyakinkan di telinga Serene.
"Well then, I'm going to discuss it with my team tomorrow morning. I'll call you as soon as my team agree with this place."
"Okay, Serene. I'll wait for the good news."
"Thanks for the call, Sam."
"You're very welcome, pretty." Sam tersenyum mengingat dirinya bisa mengeluarkan kata-kata itu kepada Serene.
Sementara itu Serene yang mendengar pujian Sam hanya bisa tersenyum. Pipinya bersemu kemerahan, lalu kemudian ia menutup sambungan telepon internasional tersebut.
Serene melihat lagi denah itu. Cukup luas dan strategis, ia sangat yakin tidak perlu banyak berdebat lama dan rapat untuk semua anggota timnya setuju akan lokasi emas ini. Serene mengunduh attachment tersebut dan mencetaknya di selembar kertas, kemudian ia melipat dan simpan di dalam tas kerjanya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya dan beranjak pulang.
Ā **
Ā Pagi itu, sesuai dugaan Serene, seluruh anggota timnya setuju tanpa perdebatan atau usulan lainnya. Ia langsung menelepon ke ponsel Sam. Ia berpikir, di Singapura masih jam tujuh pagi dan ia tidak yakin Sam sudah berada di kantornya.
Dering nada sambung terdengar, namun setelah beberapa kali berdering, sambungan telepon tak kunjung diangkat oleh Sam. Serene mengernyitkan dahinya bingung, mengapa Sam sulit dihubungi ?
Serene mencoba lagi menghubungi Sam beberapa kali, namun tetap tidak dijawab dan teralihkan ke kotak suara. Entah apa yang terjadi dengan Sam hingga ponselnya tidak dapat dihubungi, akhirnya Serene memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat bahwa ia dan timnya menyetujui penempatan butik Pose di lokasi tersebut, kemudian ia kembali mengerjakan pekerjaannya pagi itu.
Ā Terpisah oleh lautan, di Singapura, tepatnya di apartemen Sam, ponsel Sam berdering berulang kali namun tidak dijawabnya. Sam tidak berada di kamarnya, di mana ponselnya yang sedang berdering itu terletak di atas nakas samping tempat tidurnya. Sam tertidur di sofa hitam di ruang tamu apartemennya. Lagi-lagi, gerakannya gelisah dan keningnya berkerut serta berkeringat. Napasnya menderu kencang dan kepalanya bergerak tak beraturan. Sepertinya ia bermimpi buruk lagi.
Mendadak, Sam meraung seakan kesakitan dan tersentak bangun. Ia langsung bangkit dari posisi tidurnya dan duduk sambil menebah dadanya dengan napas terengah-engah. Pandangannya masih berkabut dan pikirannya masih berkelana jauh di alam mimpinya yang misterius. Ia berusaha mengingat sebagian mimpi itu lagi, seakan itu adalah misteri yang tak kunjung terbongkar yang terus menghantui hidupnya, namun kepalanya seperti dihantam palu yang beratnya berton-ton dengan kencang. Pandangannya gelap seketika, kepalanya pusing bukan main. Tangan kanannya mengepal menahan sakit sementara tangan kirinya yang bergemetar hebat terangkat memegang kepalanya yang masih saja pusing.
Tubuhnya bersimbah keringat, bahkan ia belum mengganti pakaian kerjanya semenjak semalam. Ia sama sekali lupa bagaimana bisa ia tertidur di sofa dan bukan di ranjangnya.
Melodi itu kembali terngiang di telinganya, melodi yang menurutnya asing dan tidak pernah ia dengar. Melodi merdu dan bernada sedih. Begitu pula ia seperti mendengar suara penyanyi yang mengiringi melodi itu. Suaranya begitu mirip dengan suaranya, namun sedikit lebih tinggi. Ia benar-benar seperti melihat dirinya bernyanyi di atas panggung yang begitu besar, dirinya yang terlihat begitu muda belia dan sedikit berbeda. Dirinya yang dielu-elukan banyak orang seperti seorang superstar. Lalu kemudian ia kembali melihat dirinya bersimbah darah dan mendengar suara letusan pistol.
Kali ini, ia benar-benar ingin mengetahui apa maksud dari mimpinya ini. Mungkin saja orang terdekatnya mengetahui hal ini, hal mengenai mimpi ini, karena ia mulai ragu tentang identitas dirinya saat ini. Bisa saja ia yang sekarang bukan ia yang dahulu.
Ā Ia benar-benar akan menyelidiki ini. Sudah lama mimpi buruk ini menghantui dirinya dan menurutnya, ini sudah saatnya untuk mengakhiri segala penderitaan yang ia alami. Penderitaan yang membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak beberapa tahun belakangan ini. Rasa sakit dan berdentam di kepalanya yang akhir-akhir ini semakin sering dan parah juga mengganggu konsentrasi bekerjanya.
Dan orang pertama yang akan ditanyanya adalah Mark. Mark sudah menemaninya selama ini, dari ia sadar dari koma hingga sekarang. Sam yakin Mark mengetahui sesuatu.
Ā **
Ā "Mark, kalau aku ambil jatah cuti kira-kira satu bulan, kamu bisa menggantikan posisiku sementara ?" Tanya Sam siang itu di kantornya. Sam sedang luang dan belum ada kegiatan yang membutuhkan perhatiannya.
"Satu bulan ? Lama banget. Ada apa memangnya, Sam ?"
"Kamu keberatan ?" Tanya Sam lagi dengan nada memaksa.
Mark berdeham kecil, kemudian menjawab, "Ya semestinya sih nggak keberatan asal aku juga punya asisten."
"Soal asisten nggak masalah. Aku bisa suruh Ellie jadi asisten kamu sementara."
"Memangnya kenapa sih mau cuti selama itu ?" Mark bertanya, penasaran.
Sam melihat Mark dengan alis terangkat, sepertinya Mark sudah terpancing.
"Aku pengin tahu masa laluku, Mark. Well, I think I'll really do an investigation. Atau...mungkin kamu tahu aku sebenarnya siapa ?"
Mark menjaga jangan sampai ekspresinya berubah sedikitpun. Ia harus berakting seakan ia tidak tahu.
"Kamu ya⦠kamu, Sam. There's no need to do such a wasteful investigation. Buat apa ?"
"Mark, please be honest to me. Aku tahu ada sesuatu yang berusaha ditutup-tutupi. Yet, I'll still do that, Mark. No one can stop me. Aku sudah cukup terganggu dengan semua mimpi buruk dan sakit kepala ini. Dibiarin setahun lagi saja, mungkin aku sudah gila, Mark !"
Mark terdiam. Tidak, ia tidak boleh memberitahu Sam semua yang ia ketahui. Ia sudah berjanji kepada ayah Sam.
"Mark, please help me... If there's anything you know please do tell me the truth. Kamu kan selalu bilang kalau aku dapat berkata apapun dengan jujur, karena aku mempercayaimu dan aku yakin kamu juga percaya sama aku."
Mark menelan ludahnya perlahan. Sekarang, ia termakan kata-katanya sendiri, kata-kata yang selalu ia ucapkan saat ia menginginkan Sam bercerita soal mimpi buruknya.
"Sam, kalau kamu pengin cuti ya ambil cuti saja nggak apa-apa. Aku bersedia kok menggantikan posisimu." Mark berkata dengan nada yang ia buat seolah santai, padahal hatinya gusar tak karuan.
Sam masih menatap Mark tajam, ia yakin Mark menyimpan sebuah rahasia yang harusnya ia ketahui. Buktinya, Mark sekarang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Namun ia melihat keengganan di mata Mark, seakan Mark tidak ingin rahasia apapun itu diketahui olehnya.
'Fine. If he doesn't want to let me know, I'll search the truth on my own.' Sam memutuskan di dalam hatinya, kemudian ia menghela napasnya.
"Aku pulang ke Jakarta besok. Ingat, Mark, aku cuti satu bulan. Sampaikan hal itu ke Uncle Dody." Sam menitipkan pesan kepada Mark agar disampaikan kepada adik ibunya yang masih menjabat sebagai atasannya di kantor ini, kemudian ia menutup laptopnya dan membereskan seluruh barang-barangnya, lalu keluar dari ruangan tanpa berkata apapun lagi, meninggalkan Mark yang termangu sendirian di dalam ruang kerja Sam yang kosong.
Ā **
Ā Sam menelepon Serene, memberitahu bahwa ia akan ke Jakarta. Sam akan mengajak Serene dinner, walau alasannya ini adalah untuk membicarakan bisnis yang sedang terjalin di antara mereka, sebenarnya Sam memang ingin bertemu dan melihat Serene lagi. Terbayang di benaknya senyum Serene yang tipis namun manis seakan tanpa beban, segala di dirinya yang menurut Sam proposional, dan cara bicaranya yang lugas dan profesional saat rapat namun manis dan kalem di luar kantor.
Entah mengapa, ia merasa lebih dari sekadar ingin bertemu. Entah mengapa ia merasakan rasa mirip kerinduan di relung hatinya yang terdalam...
Ā **
Ā Suasana Skye di Menara BCA lantai 56 malam itu cukup ramai. Kalau saja Sam tidak melakukan reservasi terlebih dahulu siang tadi, mungkin ia tidak akan mendapatkan meja di tempat yang strategis. Meja yang ditempatinya saat ini begitu sempurna, menghadap ke luar restoran dan memperlihatkan kerlipan cahaya khas Jakarta saat malam hari yang begitu indah dari atas gedung yang tinggi seperti ini.
Sam menunggu Serene, ia telah membuat janji dan Serene mengiyakan ajakannya. Masih sepuluh menit sebelum jam tujuh, sepertinya Sam datang terlalu cepat, karena red wine di hadapannya sudah tinggal setengahnya.
Tak lama kemudian, setelah menunggu dan beratus kali melihat ke arah pintu masuk, Serene pun datang. Sam tersenyum dan berdiri dari kursinya saat ia melihat Serene melangkah ke arahnya. Baginya, Serene begitu cantik malam ini. Terusan selutut merah marun berpotongan halter dengan rok mengembang lembut yang berayun tiap Serene melangkahkan kakinya yang dibalut white pump shoes melekat sempurna di dirinya. Dandanannya yang simpel, seakan membuat wajahnya terlihat semakin natural dan belia.
"Good evening, lady. You look gorgeous tonight." Ujar Sam sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Ia menarik kursi yang akan Serene duduki.
"Thanks, Sam. You look fine too." Serene tersenyum anggun, namun pipinya terlihat bersemu merah dalam keremangan lampu restoran karena ia dipuji cantik oleh Sam. Tak sia-sia usahanya membongkar lemarinya demi bisa tampil cantik malam ini. Entah mengapa, mencari pakaian untuk makan malam biasa ini terasa begitu sulit baginya.
"Only fine ?" Sam merengut, mencoba mencairkan kekakuan akibat sudah beberapa minggu tidak bertatap muka secara langsung.
Serene tertawa kecil. Sebenarnya ia sendiri juga bingung, apakah ia harus mengatakan Sam tampan walau memang sebenarnya ia tampan, namun itu akan terkesan terlalu flirty.
"Well yeah, you look fine. Umm...okay, you look gorgeous too." Akhirnya Serene mengeluarkan satu kata yang sudah ia pilah dan pilih di dalam benaknya. Sepertinya āgorgeousā cocok untuk segala jenis kelamin dan tidak terdengar menggoda.
Giliran Sam yang tertawa kecil. Sebenarnya ia mengharapkan Serene membalas dengan mengatakan ia tampan malam ini, bukan untuk memuji dirinya namun untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah kostum. Ya...walau sebenarnya motif lainnya adalah ia ingin Serene mengatakan ia tampan karena ia pasti akan sangat senang dipuji oleh perempuan secantik Serene yang sudah membuatnya merasakan suatu hal yang berbeda.
"Aku sudah pesan menu untuk dinner kita malam ini. Aku harap kamu suka, Serene. Kalau memang kamu tidak suka, kamu bisa minta gantinya kok." Sam membuka pembicaraan di antara mereka.
Serene mengangguk sambil tersenyum.
"Ah, bagaimana perkembangan lokasi yang telah kita setujui itu ?" Serene bertanya sambil menyesap white wine yang disediakan. Serene pun bingung mengapa Sam mengetahui salah satu minuman favoritnya, karena ia tidak pernah mengatakan apapun soal ini.
Sam diam-diam menyesali keputusannya menggunakan alasan bisnis untuk bertemu Serene malam ini, karena ternyata Serene begitu profesional dan serius membahas perihal ikatan bisnis di antara mereka.
"Sejauh ini baik dan tidak ada masalah. Sekarang dalam tahap perbaikan sedikit, sebelum nanti tim kamu harus ke sana untuk menyerahkan desain butikmu. Atau, kamu ingin memakai interior designer dari kantorku ? Aku bisa urus sih...umm...walau aku sekarang lagi cuti."
Serene mengangkat sebelah alisnya mendengar Sam mengatakan bahwa ia sedang mengambil cuti, "Kamu cuti ? Berapa lama, Sam ?"
"Satu bulan. Quite a lot, eh ?" Sam tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Serene. Serene dapat melihat sesuatu telah terjadi terhadap Sam, namun ia menahan dirinya untuk bertanya lebih detail.
"It's quite a lot, Sam. Personal matter ?" Tebak Serene asal-asalan.
"Yep. Sayangnya persoalan ini tidak bisa ditangani tanpa aku tidak mengambil cuti." Jawab Sam dengan tatapan sendu.
Merasa bersimpati terhadap Sam, Serene mengulurkan tangannya dan mengusap bahu Sam perlahan. Berharap dengan usapan ringan itu setidaknya Sam tahu ada yang mendukungnya sebagai teman.
Sam menyadari usapan hangat itu dan menatap Serene lekat-lekat kemudian tersenyum. Ditatap lekat seperti itu, Serene merasa salah tingkah dan menarik tangannya dari bahu Sam, namun tangannya ditahan oleh Sam dan ditarik perlahan ke tengah meja kemudian digenggam erat. Serene semakin merasa jengah.
"Serene, kamu keberatan kalau aku memintamu jadi teman dekatku ? Tempat aku bisa berbagi cerita ?" Sam menatap Serene dengan mata sendu.
Serene mengerjapkan matanya dan sedikit merasa lega karena setidaknya Sam bukan memintanya jadi pacarnya atau bahkan lebih parah, istrinya.
'Kebagusan deh, Ren. Kenal juga belum lama, terus kamu berharap dia bakalan minta kamu jadi pacarnya ?' Serene merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.
Serene mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum untuk menenangkan Sam. Perasaan Serene berkata bahwa Sam memang sedang dilanda masalah berat.
Ā Dinner malam itupun berjalan hangat, dengan topik pembicaraan kebanyakan bisnis. Sam belum ingin menceritakan bebannya kepada Serene meski ia sudah meminta Serene menjadi teman dekatnya. Namun satu yang pasti, hubungan mereka sudah melewati batas 'hanya rekan bisnis' semata.
-- Despite Argentina's lost in the 2014 World Cup Final this morning and despite my heartbroken feeling, especially when I saw Messi's devastated expression *cry a river*, here's my promise to post the #2 ! Enjoy :D--
*****
Focus, n. : All of a sudden, it's all about you. No, I don't fall that quick, it's just even my subconscious betray me.
#2:
Ā Sam mengerjapkan matanya sekali ketika Serene menyebutkan namanya sebagai perkenalan. Ia sadar, bahwa ia juga tidak bisa diam saja. Ini seharusnya meeting antar perusahaan secara profesional, bukan pertemuan antar dua orang yang pernah saling melihat sebelumnya.
"Ah, yes. I'm Sam Darius Jayanata, Marketing Director of The One Hotel & Residences. May two of you sit down and let us start our meeting." Sam berusaha menguasai kondisi seperti biasanya saat ia memimpin sebuah meeting dengan mitra maupun calon mitra usahanya.
Atas perintah Sam, makan siang mulai dihidangkan saat meeting berjalan sekitar lima menit. Sambil menikmati hidangan yang disajikan, Sam memperhatikan paparan Serene mengenai kondisi Pose saat ini, tingkat penjualan, margin keuntungan, dan total peluang bila Pose memutuskan untuk menjalani kontrak kerjasama dengan pihak The One Hotel & Residences.
Gaya bicara Serene yang lugas, padat, mencerminkan ketegasan sikap di balik kelembutannya. Intonasi suaranya yang entah mengapa Sam sangat sukai, cara bersikap dan berdiri saat presentasi juga benar-benar profesional.
Matanya yang dibingkai kacamata berbingkai tipis bersinar saat membicarakan koleksi terbaru Pose, betapa mereka benar-benar mengerjakan segala detailnya dengan rapi dan halus menggunakan bahan terbaik yang dapat mereka temui. Postur tubuhnya yang tinggi namun tidak ceking, cukup berisi di tempat-tempat yang tepat. Kakinya yang jenjang..........
"Jadi, Bapak Sam... Sepertinya kami akan memutuskan untuk menjalin kontrak kerjasama dengan pihak Bapak, namun kami ingin pihak Bapak memaparkan kondisi terkini perusahaan Bapak dan..." Serene berhenti saat memperhatikan mata dan pikiran Sam sepertinya sedang tidak fokus ke arah segala ucapanannya.
"Pak Sam ?" Panggil Serene bingung.
"Ehem...Pak Sam ?" Panggil Serene lagi sambil berdeham pelan. Jarang ia mendapati seorang atasan kehilangan fokus saat rapat, karena biasanya seorang yang telah dipercaya memegang jabatan yang cukup tinggi mempunyai tingkat fokus yang baik dan kemampuan berpikir yang cukup kritis serta seorang pendengar yang cukup baik.
Mark yang berdiri di ujung ruangan mengulum senyumnya, tim perusahaan Sam juga ada beberapa yang menahan senyumnya.
Kerutan di kening Serene makin dalam. Ia berdeham sekali lagi, kali ini sengaja lebih keras dari yang sebelumnya. Sam tersadar, matanya membesar dengan ekspresi seperti tertangkap basah melamun. Menahan malu dan panas yang mulai menjalar di pipinya, ia memperbaiki ekspresinya dan segera menjawab, "Ya, Miss Serene. Maaf sekali saya kurang fokus, bisa tolong anda ulang sedikit ?"
Serene menghela napas sangat pelan, berusaha agar jangan sampai terdengar oleh Sam bahwa ia sedikit-banyak mengeluh akibat Sam yang melamun. Serene pun mengulang kalimatnya tentang keinginan Pose untuk bekerjasama dan mengambil peluang kontrak perluasan cabang usaha di The One Hotel & Residences.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Sam pendek, kemudian Sam melirik salah satu bawahannya.
"Ah, ya. Jika memang pihak anda telah setuju, akan tim kami urus, kemudian bila kira-kira tempatnya telah siap, tim kami akan menghubungi pihak anda untuk survei lokasi penempatan butik anda." Salah satu orang dalam tim yang Sam pimpin bersuara.
"Okay, I think we have our decision set, so our meeting this afternoon is finished and let's enjoy our lunch." Sam menutup meeting yang dimulainya itu dan kembali menikmati makanan di depannya sambil menyingkirkan segala pikiran aneh yang bermunculan di benaknya.
Ā Menurutnya, kehilangan fokus dalam sebuah rapat adalah hal terburuk dan ini merupakan rapat terburuk yang pernah dipimpinnya setelah dulu ia memimpin rapat saat kondisi perusahaan sedang tidak stabil dengan pikiran yang terbagi.
Ā **
Ā "Eh, Ren, tadi si Sam kok bisa ya kehilangan fokus ? Melamun apa coba dia ?" Marla mengoceh saat ia dan Serene berkeliling pusat perbelanjaan di The One Hotel & Residences, sekaligus melihat apakah beberapa spot kosong ditutupi poster promosi ala shopping center yang mereka lewati itu adalah tempat dimana butik mereka akan tempati.
"Nggak tahu deh. Aku juga bingung tadi, well, kesal juga sebenarnya. Aku ngoceh panjang dia bengong. Sampai ada pikiran sih, jujur, kok orang macam dia bisa jadi Marketing Director." Serene menjawab ocehan Marla.
"Dari cara bicaranya, dia kelihatan profesional dan berwibawa lho, Ren. Hmmm...mungkin dia lagi banyak masalah kali. By the way, tampangnya boleh juga tuh. Cocok jadi eksekutif muda, pakai jas dan kemeja, body-nya juga lumayan." Marla mengomentari penampilan Sam.
Serene terdiam. Menurutnya, wajah Sam sedikit familiar di matanya. Apa mungkin orang keturunan yang memiliki darah Kaukasia memiliki mata coklat yang sedikit menyipit ketika tersenyum, seperti mata ibunya ? Masalahnya ibunya murni orang Asia, berdarah campuran suku Tionghoa dari kakek dan neneknya.
Sebenarnya hal itu memungkinkan bila Sam keturunan orang asli Singapura dengan orang Eropa, misalnya. Namun wajah Sam terlalu 'bule' untuk bisa dibilang campuran, hanya matanya yang membuat dia tampak sedikit ācatat, sedikit sekaliā terlihat ada darah Asia di tubuhnya. Entahlah, namun menurut Serene, wajah Sam cukup unik.
'Ah, ngapain juga aku memikirkan dia ?' Batin Serene bingung.
Serene melirik Marla yang tampak menikmati kegiatan window-shopping. Serene melihat suasana sekitar pusat perbelanjaan yang cukup ramai akan berbagai jenis pengunjung, mulai dari yang terlihat seperti turis ādari tentengan belanjaan yang mereka bawa, tentunyaā hingga remaja-remaja berpakaian seragam sekolah, sepertinya mereka baru saja pulang sekolah. Jika Pose mendapatkan tempat strategis seperti janji pihak The One Hotel & Residences, tentunya tidak membutuhkan waktu lama bagi Pose untuk dapat menjaring pembeli perempuan dari berbagai usia. Serene dapat melihat kesuksesan outlet pertama Pose di Singapura.
"Ren, aku lapar lagi nih. Makan yuk ?" Tiba-tiba Marla mengeluarkan celetukannya dengan nada memelas.
Serene melihat ekspresi wajah Marla yang memang sepertinya kelaparan, kemudian ia menahan geli sambil berkata, "Tapi jangan di sini lah, La. Pasti mahal-mahal makanannya. Kita keluar saja, makan di food court. Mau ?"
Marla mengangguk senang. Mereka pun akhirnya melangkahkan kaki keluar dari pusat perbelanjaan tersebut dan berdiskusi kira-kira di tempat seperti apa mereka ingin mengisi perut sambil terus berjalan, hingga akhirnya mereka memutuskan ingin makan di Clarke Quay dan mengambil trek MRT menuju tujuan mereka.
Ā **
Ā Matahari beranjak turun dari singgasananya. Langit yang tadinya biru mulai berubah menjadi jingga, sebelum kemudian menggelap.
Suasana di kantor Sam sudah sepi. Hari Jumat, ditambah lagi sudah lewat jam pulang kantor, sehingga hanya tersisa sekuriti yang menjaga di lantai dasar. Namun, ruangan Sam masih terang benderang walau tidak terdengar ada suara apapun di dalam ruangan besar itu. Setelah selesai rapat, Sam dan Mark beserta tim mereka kembali ke kantor dan melanjutkan kegiatan mereka masing-masing hingga satu per satu dari mereka menyelesaikan kegiatan mereka lalu pulang, sementara setelah mereka sampai di kantor tadi, Mark meminta izin ke Sam untuk keluar kantor karena ingin mencari angin.
Sunyi terasa menyesakkan di sekitar Sam yang ternyata sedang terlelap di mejanya, dengan laptop masih menyala di hadapannya. Di layar laptop itu, gambar-gambar silih berganti menayangkan foto keluarga Sam, terutama potret wajah ibunya yang masih begitu ayu di usia setengah abadnya. Wajah wanita anggun khas Jawa dengan sepasang mata yang begitu mirip dengan mata milik Sam. Mata yang memberikan keteduhan bagi siapapun yang menatapnya.
Namun sepertinya foto-foto penuh kebahagiaan itu tidak selaras dengan keadaan Sam saat ini. Dalam tidurnya, ia terlihat begitu gelisah. Beberapa bulir keringat muncul dan mengalir pelan dari kening Sam. Napasnya tidak teratur, seakan tersengal. Kedua tangannya mengepal kencang. Ponsel di sampingnya bergetar tanpa suara, menampilkan caller ID Mark yang kemudian kembali hening setelah beberapa detik, meninggalkan jejak missed calls yang ternyata sudah berjumlah sepuluh.
Pintu ruangan Sam terbuka sedikit kasar. Sosok Mark berlari masuk dengan raut wajah cemas. Seakan sudah tahu apa yang terjadi pada atasannya, Mark mengguncang-guncangkan bahu Sam kencang, bertujuan untuk membangunkannya. Pipi Sam ditepuk perlahan sambil namanya dipanggil untuk mengembalikan kesadarannya.
"Sam, Sam ! Wake up !" Panggil Mark sambil terus menepuk pipi Sam. Kening dan leher Sam sudah bersimbah keringat.
"SAM !!" Mark membentak Sam, karena Sam tak kunjung sadar dari mimpi buruknya. Sudah beberapa kali dalam kurang-lebih setahun belakangan hal ini terjadi, dan semakin hari, intensitasnya makin sering dan makin parah.
Sam terlonjak bangun dengan ekspresi ketakutan yang nyata. Pandangan matanya masih kosong, seakan ia belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
"God ! Nightmare, again ? Sepertinya aku memang tidak bisa meninggalkan kamu sendirian ya ?" Desah Mark gusar, ia mendengus kasar. Mark memejamkan matanya dan menelan ludahnya pahit.
Ā Ia tahu, lama-kelamaan masalah ini akan semakin parah bila kenyataan yang ada terus dipendam...
Ā **
Ā Serene sedang berjalan sendiri di bilangan Orchard, tanpa Marla. Marla sedang malas keluar, karena ia ingin beristirahat. Pesawat mereka menuju Jakarta dijadwalkan berangkat esok pagi jam sembilan. Angin menerbangkan helai rambut sepunggungnya yang sedang terurai setengah lembab, karena Serene malas mengeringkannya dengan pengering rambut sebelum keluar dari hotel dan akhirnya memutuskan untuk berkeliling Orchard.
Perutnya masih terasa penuh karena nasi hainan yang ia santap di Clarke Quay tadi porsinya besar, sehingga ia merasa tidak ingin lagi makan malam. Kaus santai yang dikenakannya terlihat begitu pas di dirinya, walau tidak cocok dengan kondisi sekelilingnya. Orchard begitu gemerlap, apalagi saat malam menjelang. Wanita maupun pria berpakaian penuh gaya, mencerminkan betapa malam di Orchard bisa menjadi begitu mewah, apalagi ini hari Jumat malam. Serene melihat dan melewati beberapa pasang muda-mudi bahkan pasangan dewasa yang gaya berpakaiannya jauh di atasnya, sepetinya mereka ingin menikmati santap malam mereka di restoran mewah yang bertebaran di sekitar Orchard.
Bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang fashion memang selalu menuntutnya untuk tampil penuh gaya, baik saat menemui klien seperti tadi siang ataupun hanya sekadar bekerja di kantor seperti biasa, karena itu Serene terkadang lelah dan memakai setelan kaus kasual yang biasa membuatnya merasa lebih hidup.
Takashimaya. ION. Atria. Masih banyak lagi gedung-gedung yang Serene lewati dan ia sama sekali tidak berniat untuk masuk dan merasakan hawa mall yang sering ia rasakan di Jakarta, baik ketika berjalan sendiri bersama keluarga atau untuk keperluan meninjau cabang-cabang Pose.
Serene menatap ke langit Orchard yang gelap tak berbintang dan merasa bosan begitu saja. Ia sudah berkali-kali menginjak negara ini, dari sekadar pelesir juga urusan bisnis. Ia bahkan sudah hafal trek MRT yang sering ia lalui berkali-kali.
Tiba-tiba, Serene terpikirkan akan satu tempat. Tempat yang belum lama ini ia kunjungi, tempat dimana ia bertemu Sam. Kasino di Marina Bay Sands. Entah mengapa, ia jadi ingin sekali pergi ke sana. Bukan untuk mempertaruhkan uangnya, ia sedang tidak membawa uang banyak untuk itu. Ia hanya ingin sekadar melihat-lihat dan memainkan peluang-peluang di benaknya. Well, who knows she will, maybe, spot a big fish again ?
Ia pun segera masuk ke dalam ION Orchard, menuju ke stasiun MRT dan membeli tiket ke tujuannya, stasiun Marina Bay.
Ā **
Ā Sam meneguk air putih di gelas yang ia pegang untuk kesekian kalinya, menenangkan detak jantungnya yang melonjak tak beraturan. Mark duduk tak jauh di sampingnya di sofa empuk berwarna hitam.
"Got a nightmare again ?" Tanya Mark, berusaha agar suaranya tidak terdengar lelah.
"Yeah." Jawab Sam pendek. Sekarang kepalanya mulai berdenyut pelan, entah mengapa denyutan ini makin sering terjadi beberapa bulan belakangan.
"Apa kali ini ? Same old story ?" Tanya Mark lagi. Ia ingin mengetahui kejadian apa yang dialami Sam dalam mimpinya.
"Ada tambahan."
Punggung Mark menegak pelan, dengan ekspresi terkejut yang ia berusaha sembunyikan ia menoleh ke arah Sam, "Apa ?"
Sam terdiam. Kengerian perlahan merambati pancaran di matanya.
"Sam ? Kamu tahu, kamu dapat menceritakan apapun itu kepadaku bukan ?" Desak Mark perlahan.
Sam menghela napas. Ia ragu, apakah untuk bagian ini juga harus ia ceritakan ke asistennya itu ? Buatnya, bagian yang baru saja ia dapatkan di mimpinya itu terlalu mengerikan untuk ia ceritakan.
Sam pun berdiri dari kursi kerjanya dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Mark. Untuk yang ini, aku masih belum bisa menceritakannya kepadamu." Ujar Sam sambil menghela napasnya perlahan, mengusir segala suara mengerikan itu dari benaknya. Ia pun segera meninggalkan ruangannya, meninggalkan Mark yang termangu.
Satu hal yang Mark tahu, masalah ini semakin serius saja. Dan satu hal yang Sam belum sanggup ceritakan, adalah ia seakan melihat dirinya sendiri tertembak tiga kali dan bersimbah darah. Suara letusan pistolnya pun seakan masih terngiang jelas di gendang telinganya.
Ā **
Ā Sam menyetir mobilnya, bermaksud ingin pulang ke apartemen pribadinya di daerah Woodlands, jauh di bagian utara, namun entah mengapa ia tidak merasa ingin pulang. Ia pun memutar dan menyusuri jalanan malam Singapura yang ramai namun teratur. Ia tidak tahu harus ke mana, sehingga ia hanya berkeliling tanpa tujuan. Ia menekan tombol sunroof di dekat kemudinya, membuat atap mobil SUV-nya terbuka. Ia mematikan AC dan udara sejuk Singapura yang bebas polusi menyapanya. Rambut cepaknya yang sudah tak beraturan makin berantakan tersapu angin. Tangan kirinya mengendurkan dasi yang terasa mencekik lehernya, kemudian melepas dasi tersebut dan memasukkannya ke dalam dashboard, sementara tangan kanannya tetap berada di atas kemudi.
Sam terus menyusuri jalan Singapura, melewati jalan luas yang dihimpit Singapore River di kedua sisinya, yang lalu tanpa sadar membawanya ke Marina Bay Sands.
Ā Serene memasuki kasino yang gemerlap itu, makin gemerlap lagi saat malam seperti saat ini. Semakin sesak dan semakin ramai. Untung saja ia diizinkan masuk ke dalam kasino mewah ini dengan pakaian seadanya yang ia pakai. Ia membeli beberapa keping token dengan jumlah yang tak terlalu besar, hanya sebagai pegangan agar ia tidak terlihat aneh berkeliling kasino tanpa menggenggam token dan mengamati para petaruh keping token di atas mesin judi.
Ia melewati mesin Big Six Wheels tempat ia mendapat jackpot beberapa waktu lalu dan memutuskan untuk duduk di kursi panjang tak jauh dari mesin tersebut. Ia menatap putaran demi putaran mesin itu dan mencoba menghitung peluang walau hanya keisengan semata. Melihat jumlah petaruh yang lebih banyak dari saat ia bermain waktu itu dan putaran mesin yang menurutnya tidak akan menghasilkan sesuatu yang besar malam hari ini, membuatnya berdiri dari kursi yang ia duduki dan meninggalkan tempat itu untuk berkeliling melihat mesin lain.
Sesampainya di sebuah mesin judi yang kerap dinamai Craps, ia menengok dadu yang jatuh ke slot-slot yang sudah diberi keterangan tersebut. Craps termasuk salah satu tipe permainan yang sedikit lebih sulit untuk diprediksi, karena jatuhnya dadu belum tentu persis seperti yang telah dihitung. Gerutuan orang yang kalah dan seringai penuh kemenangan terjadi saat dadu jatuh di slot yang mereka pertaruhkan.
Serene tersenyum perlahan, kemudian ia menoleh ke belakang dan menemukan kursi panjang lagi. Ia memutuskan untuk duduk dan mengamati jalannya permainan itu. Serene melihat beberapa token di tangan kanannya dan mulai berpikir untuk bergabung walau ia tidak sedang menghitung peluang menang yang ia inginkan.
"Kamu mau main lagi ?" Suara rendah pria dalam Bahasa Inggris yang terdengar sedikit familiar menyapa telinganya. Serene menoleh dan mendapati sosok Sam yang sedang tersenyum tipis berada di dekatnya.
"You ?" Serene mengerjapkan matanya, seakan ia tidak percaya bahwa ia kembali bertemu Sam di tempat yang sama. Klise, entah mengapa.
Sam duduk di samping Serene di kursi panjang yang menghadap ke mesin Craps tersebut. Mereka sama-sama terdiam. Serene merasa keinginannya untuk bermain hilang begitu saja. Bukan karena ketidaknyamanan menghadapi sosok yang baru dikenalnya hari itu, justru karena keberadaan Sam membuatnya merasa tidak ingin beranjak berdiri dari tempat yang ia duduki saat ini.
"Don't wanna play ?" Tanya Sam dengan bahasa kasual kepada Serene.
Serene otomatis menggelengkan kepalanya. Sam mengerutkan keningnya melihat reaksi Serene, padahal perempuan itu menggenggam beberapa token walau nominalnya tidak sebesar saat itu.
"Lalu buat apa token di tanganmu itu ?" Tanya Sam lagi, mengedikkan kepalanya ke arah token di tangan Serene.
"Entah. Tiba-tiba saja aku tidak ingin bermain, padahal tadi sempat ingin..." Jawab Serene, matanya masih melihat orang-orang yang bertaruh di atas mesin Craps.
"Karena aku ?" Tanya Sam untuk ketiga kalinya, kali ini membuat Serene menoleh menatap Sam kemudian tersenyum menahan geli.
"Bukan. Sudah kubilang, entah tiba-tiba mood aku hilang begitu saja."
Sam mengulum senyumnya. Setidaknya bukan ia penyebab keengganan Serene bermain.
"So what you're gonna do ? Just watching in silence ?"
Serene mengedikkan bahunya sambil tersenyum tipis. Sam memperhatikan mata indah besar Serene yang dibingkai kacamata. Bola matanya yang diterpa refleksi sinar lampu sorot di dalam kasino mewah ini terlihat begitu memukau. Bahkan kacamata yang ia pakai tidak dapat menghilangkan pesona itu.
"It's already eleven, Serene. You don't want to get rest ? Bukankah kamu pulang besok ?"
"Kamu tahu aku pulang besok ?" Tanya Serene sedikit heran, mengetahui Sam tahu bahwa ia pulang ke Jakarta keesokan harinya.
Sam tertawa kecil, suara tawanya begitu enak didengar. Begitu merdu, walau cukup rendah dan sedikit serak.
"Memangnya ada business trip lama-lama, kecuali urusanmu belum selesai di sini."
Serene merutuki kebodohannya dalam hati sambil membenarkan ucapan Sam.
"C'mon, I'll take you back to your hotel."
Serene menoleh lagi ke arah Sam, tatapannya seolah menanyakan keseriusan kata-kata Sam dan sedikit waspada. Tentu saja, ia baru mengenal Sam hari ini walau sudah melihatnya dari beberapa waktu yang lalu.
"Why ?" Sam menatap Serene balik dengan bingung.
"Kamu mau mengantarku pulang ? Really ?"
"Yeah, of course, why not ? Kamu takut ya ?" Sam tersenyum lebar. Bahkan dalam penerangan kasino yang sedikit remang, Sam masih terlihat tampan.
Serene terdiam ragu.
"Hotelmu di mana sih ?"
"Fullerton."
"Dekat dari sini, ayo kuantar. Easy, girl. As a gentleman, when there is a woman in the middle of the night, he should take her home. Itās an important manner." Sam mengedipkan matanya. Ekspresinya terlihat santai.
Serene akhirnya mengangguk pelan. Mereka berdua pun berjalan bersama, Serene menuju konter refund untuk mengembalikan token yang tidak ia pakai untuk ditukarkan kembali dengan uang sementara Sam mengikuti di belakangnya.
Ā Ketika mobil Sam akhirnya berhenti di depan lobi The Fullerton Hotel yang megah, Serene turun dan melambaikan tangannya sembari mengucapkan terima kasih telah mengantarkannya sampai ke hotelnya. Sam balas melambaikan tangannya dan menunggu hingga Serene tak lagi tertangkap pandangannya, kemudian ia menggerakkan perselingnya dan melajukan mobilnya menjauh dari hotel tempat Serene menginap.
Akan Sam pastikan ia dan Serene sering bertemu. Kalau perlu sesering mungkin.
Ā **
Ā Mark tidak bisa berhenti bergerak. Dari saat ia kembali ke apartemennya di daerah Raffles Place dan memasuki kamar tidurnya, iaĀ hanya berjalan bolak-balik tanpa arah yang jelas. Ia bahkan belum mengganti pakaiannya.Ā Wajahnya kusut seakan menyimpan sesuatu.
Tiba-tiba ia kembali ke kamar tidurnya, membuka sebuah laci di dalam lemari dan menarik sebuah amplop besar dari dasar laci. Ia buka amplop tersebut dan mengeluarkan semua isinya.
Selembar hasil rontgen bergambar tempurung kepala dan kertas hasil diagnosa dokter kembali mengingatkan Mark atas kejadian belasan tahun lalu itu.
Ā "Bagaimana dokter ?" Tanya seorang laki-laki berwajah kaku.
"Sebenarnya ini tidak bisa bersifat permanen. Jika teori yang disebut oleh banyak ahli sebagai alam bawah sadar itu benar, maka lima tahun saja sudah cukup untuk kembali membuat ingatan aslinya mengambang ke permukaan."
"Ada jaminan berapa lama dia bisa bertahan dalam keadaan seperti sekarang ?"
"Apabila kita lihat dari kondisi saat ini, mungkin...lima belas tahun. Namun tentu saja, berapa lama tepatnya tidak bisa saya jamin dengan angka pasti. Itu semua tergantung dari kondisi pasien."
Ā Mark mengintip dari balik dinding pembicaraan antara kedua lelaki itu. Ia bergidik, bulu kuduknya meremang. Itu sebabnya ia tidak berani melawan kehendak pria kejam yang sekarang sedang ia intip pembicaraannya.
Ā Beberapa hari kemudian, pria dingin itu memberikan sebuah amplop berisi hasil diagnosa beserta hasil rontgen terakhir pada Mark.
"Mark, ingat baik-baik. Sekarang kau adalah asisten pribadinya, namun jangan sekali-kali kau memberitahu apa yang telah terjadi."
Mark mengangguk perlahan. Rasa takut masih menyelimutinya.
"Kau kupercaya, jangan sekali-kali kau menggagalkan rencana ini. Berapapun lamanya kau menjadi asisten pribadi dia, bahkan kalau perlu sampai mati, kau harus tetap memegang rahasia ini."
Ā Mark tersentak kembali ke dunia nyata.
Bulu kuduknya kembali meremang, ia menelan ludahnya sekali lagi. Sudah dua belas tahun sampai saat ini.
Ā '......bahkan kalau perlu sampai mati, kau harus tetap memegang rahasia ini......'
-- Sorry for not posting this story so long, here is the first chapter of Sage, #2 following in a few days (this time I will really post it) :D--
*****
Meeting, n. : do destiny took a play within us ? Those memories that suddenly flashing in my mind proved that we (maybe) meant to found each other.
#1
Ā Jakarta yang macet. Ah, pemandangan yang biasa dengan sejuta perasaan kesal yang menguar di jalanan panas dan berdebu ini. Terbukti, suara klakson berlomba-lomba menyahut, padahal ini masih pagi.
Ā Seorang wanita muda berparas oriental yang manis duduk gelisah di kursi kemudi mobilnya. Sudah hampir jam sembilan dan ia bahkan belum memasuki kawasan Rasuna Said, dimana kantornya terletak. Kantornya memang menetapkan sistem jam hadir yang fleksibel, asal harus tahu diri juga. Bila masuknya siang, tentunya tidak boleh pulang on-time sore harinya, kecuali ditugaskan atau memiliki halangan sesuatu yang memaksa karyawan harus pulang lebih cepat.
Ia tidak ingin pulang terlalu sore, tentu saja. Semakin malam, semakin parah jalur macet yang harus ia hadapi, kecuali ia bersedia pulang di atas jam sepuluh malam.
Ā Ponsel wanita itu berdering dan bergetar di dalam dashboard. Sebelah tangan wanita itu menarik dashboard dan mengeluarkan ponselnya yang berdering itu.
A call from her boss. Of all the people in her contact, why must her boss calling at these times on this effin' hectic traffic ?
Wanita itu menghela napas kemudian menggeser caller di layar ponselnya.
"Morning, Ma'am ?"
"Yes. Good morning, Serene darla. Where are you right now ?" Sahut atasannya dari seberang sana.
"Masih baru saja masuk Rasuna, Ma'am. Maaf saya terlambat. Jalanan pagi ini sangat macet..." Wanita yang dipanggil Serene itu berbicara dengan Bahasa Inggris yang fasih.
"Ah, Jakarta's traffic always sucks. I understand your trouble, darla... Just remember that I need to see you as soon as you arrive, okay ?" Suara atasannya yang sedikit melengking itu memberi perintah kepada Serene untuk segera datang menghadap kepadanya sesegera mungkin setelah Serene sampai di kantor.
"Yes, Ma'am. Will do it." Serene tanpa sadar menganggukkan kepalanya, merekam perintah sang atasan di memorinya.
Atasannya sang Head Of Marketing memang bukan orang Indonesia. Ma'am Paris, begitu ia biasa dipanggil, adalah orang asli Inggris. Seorang diplomat di perusahaannya.
Serene kembali menatap jalanan di depannya yang masih macet parah. Jakarta sudah berganti pemimpin, namun kemacetan masih belum berkurang juga. Kapan ya monorail dibangun jadi seenggaknya ia tidak perlu menyetir mobilnya ini ? Kakinya mulai pegal menyetir apalagi dengan kondisi jalan yang tidak mendukung sama sekali ini.
Serene menelungkupkan kepalanya di atas kemudi mobilnya dan memejamkan matanya. Pagi-pagi dan ia merasa energinya sudah terkuras setengahnya. Beberapa menit setelah macet, bahu Serene mulai bergerak dengan teratur. Sunyi terasa di dalam mobil hingga jeritan demi jeritan klakson bersahutan lantang dari arah belakang mobil Serene.
Serene terlonjak bangun, kaget, dan langsung menjalankan persneling-nya kemudian menginjak pedal gas. Ternyata Serene tertidur tanpa menyadari bahwa kemacetan di depan moncong mobilnya telah bergerak maju sedikit demi sedikit dan menyisakan jarak yang panjang, sementara mobilnya tetap diam di tempat.
Ā Ah, what a morning...
Ā **
Ā Serene melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka dan langsung menekan lantai tujuh, tempat ruangannya juga ruangan atasannya terletak.
Tak lama kemudian, suara dentingan menandakan Serene telah sampai di lantai tujuh. Serene langsung keluar dan berjalan dengan tempo cepat menuju ruangan atasannya. Sesampainya di depan pintu yang tertutup itu, ia mengetuk dan membukanya perlahan.
Ma'am Paris duduk di kursi merah marun kesayangannya dan ia mengangguk begitu melihat Serene melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Ah, you look tired, my darla... Come on, sit here. Traffic sucks, right ?" Nada bersimpati dikeluarkan oleh Ma'am Paris melihat kondisi Serene yang kusut.
"Yes, kinda' sucks Ma'am." Serene berusaha melengkungkan bibirnya ke atas walau mood-nya sudah hancur karena macet yang keterlaluan padahal masih pagi. Ia kemudian bertanya perihal hal yang ingin dibicarakan Ma'am Paris kepadanya.
Ma'am Paris berdiri dari kursinya dan membuka filing cabinet di belakang kursinya, mengeluarkan satu map tebal yang terlihat seperti portfolio perusahaan, kemudian memberikannya kepada Serene. Serene menatap atasannya itu bingung, yang mendapat respon sebuah tatapan seakan berkata 'buka map tersebut'. Ia pun membuka map tebal itu dan mengetahui bahwa map itu berisi data-data portfolio The One Hotel & Residences yang bertempat di Singapura. Sebuah hotel megah nan mewah yang baru saja berdiri belum genap tiga tahun, salah satu hasil kerja dari anak perusahaan sebuah jaringan perusahaan terbesar di Asia Tenggara, Sol Golden Enterprise, yang membawahi beberapa cabang usaha mulai dari perhotelan, kontraktor, developer, perkapalan, hingga perminyakan.
Jaringan perusahaan ini berkembang pesat sepuluh tahun belakangan ini hingga memiliki banyak anak perusahaan di berbagai cabang usaha. The One Hotel & Residences adalah salah satu hotel dan kompleks apartemen mewah dipaketkan dengan pusat perbelanjaan yang sama mewahnya, yang bahkan untuk sehari menginap di sana, Serene bisa menghabiskan setengah bagian gaji bulanannya. Herannya, dengan harga per malam hotelnya yang dipatok tinggi dan harga per unit apartemennya yang cukup menguras deposito, belum tiga tahun semenjak dibuka, tiga tower apartemennya telah terjual habis dan hampir setiap hari -terutama akhir pekan dan liburan- kamar-kamar hotelnya selalu terisi penuh.
Ā Dan sekarang, manajemen The One Hotel & Residences menawarkan sebuah penawaran yang secara tidak kasat mata saja sudah tidak mungkin dilewatkan oleh perusahaan chain boutique sekelas Pose, tempat Serene bekerja.
Serene masih membolak-balik portfolio itu cepat, membaca sekilas isinya. Ma'am Paris, atasannya, menatap bawahan kesayangannya itu kemudian berkata, "Serene darla, kita diberi kesempatan bagus untuk memperluas jaringan butik kita. Mereka bahkan bersedia untuk memberikan tempat strategis bila kita menerima tawaran mereka. Bukankah ini sangat bagus ?" Ma'am Paris tersenyum. Ia sangat mengetahui kemampuan memprediksi Serene yang di atas rata-rata. Hampir seluruh prediksi yang telah Serene sebutkan terbukti. Maka itu, ia memutuskan untuk menyerahkan peluang perluasan cabang ini kepada bawahan kesayangannya, Marketing Manager Pose.
Serene menatap atasannya sambil tersenyum, sebenarnya kalau ia tipe oportunis, bisa saja ia langsung mengiyakan pendapat atasannya tanpa dipikir matang-matang. Toh, ini istilahnya ada peluang emas disodorkan mentah-mentah di depan mata. Namun, inilah salah satu kelebihan Serene, segala sesuatunya selalu diperhitungkan dengan cermat terlebih dahulu.
Serene memfokuskan lagi tatapannya pada portfolio tebal di depannya dan ketika jari lentiknya membuka halaman selanjutnya, atasannya berdiri dari kursinya dan menepuk bahunya seraya berkata, "Darla, you are free from any job today. Saya minta secara pribadi kamu pelajari portfolio ini di rumah, kamu tidak perlu masuk hari ini. Soalnya pihak The One Hotel & Residences ini sepertinya menawarkan peluang ini tidak hanya ke kita namun ke beberapa fashion brand lainnya dan kita harus berlomba kalau mau merebut peluang emas ini."
Ā Serene menatap atasannya kemudian mengangguk mengerti. Ma'am Paris menepuk bahunya dua kali sebelum berlalu dari ruangan pribadinya. Serene masih menatap portfolio di depannya sebelum beberapa detik kemudian menutupnya dan beranjak pergi dari ruangan atasannya.
Setidaknya hari ini Serene bisa beristirahat lebih banyak sambil mempelajari peluang emas ini...
Ā **
Ā Seorang pria duduk menghadap ke jendela besar di depannya, membelakangi asistennya yang sedang berdiri di depan mejanya memberitahukan jadwalnya.
Ā "Oh ya, Mark... Bagaimana kabar Pose ?" Tanya pria itu.
"Belum ada kabar, Pak...-" kata-kata Mark, asisten pribadinya terputus karena telepon di atas meja kerjanya berbunyi. Ia memutar kursi yang ia duduki kembali ke posisi semula dan mengangkat telepon yang berdering itu.
"Ya, Sarah ?" Pria itu berbicara dengan sekretarisnya.
"Pak Sam, ini ada telepon dari Mrs. Paris, Pose Jakarta. Perlu saya hubungkan ke bapak ?" Sarah bertanya kepada Sam, begitu pria itu dipanggil.
"Yes, please to the line two, Sarah."
"Okay." Kemudian terdengar nada sambung sejenak sebelum suara tinggi Ma'am Paris terdengar di seberang telepon.
"Good afternoon Mr. Sam, how do you do ?"
"Been good, thanks." Sam tersenyum tipis, kemudian melanjutkan kata-katanya, "So, I do hope I'm hearing a good news today, Mrs. Paris. Bagaimana keputusan anda terhadap tawaran kami ?"
"Our company's representatives will come to you this Friday. Do you have time for a short meeting ? Mungkin dari situ kami akan menyetujui kerjasama yang perusahaan anda tawarkan..." Ujar Ma'am Paris dengan nada ramah.
Sam terdiam sejenak, kemudian berkata sambil melirik Mark di depannya, memberikan kode agar melihat jadwal yang telah disusun minggu ini, "This Friday ? Hmm..."
Sam melihat Mark yang mengangguk, memberikan catatan jadwal Sam dalam ponsel layar sentuhnya. Ia kosong saat makan siang hingga dua jam setelah itu.
"How about lunch meeting ?" Tanya Sam setelah melihat jadwalnya.
"Excellent. Akan saya atur dengan perwakilan kami ya."
"Okay then, see you on Friday." Tak lama, Sam pun menutup teleponnya.
Sam memberi kode agar Mark meninggalkannya. Ia pun memutar kursinya ke arah jendela lagi. Pemandangan kota Singapura yang semakin padat saja, walau tidak semacet Jakarta yang beberapa kali ia kunjungi saat melakukan perjalanan bisnis.
Dari ruangannya di lantai 25, ia dapat melihat betapa Singapura sesungguhnya hanya terdiri dari baja. Maksudnya, hampir tidak ada taman yang terlihat sepanjang jarak pandangnya. Ia dapat melihat pesisir laut Singapura, karena kantornya yang terletak di Raffles Place dekat dengan Marina Bay.
Tiba-tiba, kilasan ingatan momen akhir minggu lalu terlintas di benaknya. Seorang perempuan dengan wajah oriental yang cantik, memenangkan jackpot di kasino di Marina Bay Sands.
Sebenarnya ia datang juga karena keisengannya. Awalnya ia tidak berniat mampir dan menghabiskan uangnya di kasino, namun kebosanan yang melanda sehabis menghadiri pemberkatan pernikahan rekan kerjanya membuatnya memutuskan hal yang bahkan tadinya tidak ia pikirkan.
Ia membeli token dan memutuskan untuk bertaruh di salah satu mesin judi. Setelah beberapa kali kalah dan dua kali menang, ketika ia memutuskan untuk pindah ke mesin judi lainnya, ia melihat seorang perempuan duduk diam tidak jauh dari mesin judi tersebut. Perempuan cantik berwajah oriental, berambut panjang yang diikat satu ke belakang. Tatapan perempuan itu terfokus pada mesin judi tempat ia bermain. Sambil akhirnya memutuskan untuk bertaruh beberapa kali lagi, ia mengamati ekspresi wajah perempuan itu yang berubah ketika mesin judi selesai berputar dan menunjukkan hasil yang bahkan ia tidak prediksi.
Ah, ia kalah lagi. Entah sudah berapa banyak uang yang ia habiskan.
Ā Perempuan itu kemudian menunduk, menimbang-nimbang tumpukan token yang ia genggam di tangan kanannya. Di wajahnya tersirat keraguan -atau itu yang setidaknya Sam artikan dari ekspresinya, lalu perempuan itu berdiri dan menuju mesin judi tempat Sam bermain. Berdiri persis di depannya, perempuan itu menaruh semua tumpukan token yang tadi digenggamnya. Sam membulatkan matanya, tumpukan token-token itu total nominalnya tidaklah kecil.
Ā "Jackpot." Satu kata yang keluar dari bibir tipis perempuan itu membuat Sam melihat dia terang-terangan, seperti yang Sam yakin semua orang yang berdiri dan bertaruh di mesin judi itu juga lakukan. Sam melirik ke operator mesin yang menyipitkan matanya samar, seakan meremehkan akan taruhan perempuan itu yang memang langka. Jackpot belum tentu muncul dalam beberapa jam permainan, bahkan seharian pun seringkali tidak muncul. Bagaimana mungkin perempuan itu berani bertaruh kepada hal yang belum tentu ada kesempatan menang ? Like an idiom that said, 'Once In A Blue Moon', how could she bet on a very rare chance that will never likely to happen on a normal spin ?
Mesin berputar. Sam ingat bagaimana ketika akhirnya mesin itu benar-benar berhenti di kolom jackpot.
Ā Area sekitar mesin itu hening.
Dan sedetik kemudian, tepuk tangan membahana diselingi dengan gumaman kagum -bahkan umpatan para penjudi yang lagi-lagi kalah. Sam menatap kagum perempuan di depannya dan ikut menyumbangkan tepukan tangan. Sam bahkan menyangka perempuan itu mempunyai indera keenam atau kalau tidak, ia pasti memiliki otak yang luar biasa jenius.
Ā Perempuan cantik itu tersenyum, Sam melihat pancaran rasa senang di mata perempuan itu.
Dan baru kali ini, Sam merasa pancaran rasa senang dari mata indah itu ikut membuatnya merasa senang sekaligus takjub.
Ā **
Ā Serene melangkahkan kakinya menuju check-in counter di dalam terminal dua Bandara Soekarno-Hatta bersama dengan asistennya, Marla. Langkah kakinya santai dan anggun. Tubuhnya yang tinggi semampai -172 cm, ditambah balutan pump shoes setinggi 5 cm membuat sosoknya terlihat sedikit lebih menonjol dibandingkan pengunjung yang bertebaran di berbagai sudut bandara.
Marla berjalan terlebih dahulu untuk membantu Serene melakukan proses check-in, sementara Serene menyusul di belakang asistennya itu. Pakaian yang dikenakan Serene terlihat manis di dirinya, namun juga berkesan tegas dan tidak berlebihan. Setelan blazer berwarna hijau pastel dipadukan dengan chiffon tank top abu-abu dan celana bahan pas tubuh yang juga berwarna abu-abu. Untaian spiky necklace berwarna emas menghiasi leher jenjangnya. Tas tangan berukuran sedang berwarna hijau pastel ditambah dengan tas kerja berisi laptop dijinjingnya, sementara dokumen-dokumen untuk rapat dipegang oleh Marla.
Serene membuka tas tangannya dan mengambil ponselnya. Ibu jarinya menyentuh tombol kecil di tengah bawah layar ponsel untuk membuka ponsel yang terkunci, kemudian jemarinya secara lincah membalas beberapa pesan yang masuk ke beberapa akun media sosialnya.
Proses check-in telah selesai dilakukan oleh Marla. Serene dan Marla berjalan menuju gate yang tertera di boarding pass mereka. Sesampainya mereka di ruang tunggu keberangkatan, Serene duduk di kursi kosong di dekatnya, masih sambil membalas beberapa pesan sambil tersenyum tipis. Kacamata minus yang membingkai wajahnya membuatnya semakin terlihat manis.
Saat membuka salah satu aplikasi media sosial yang sering ia pakai, tiba-tiba ia tersenyum kemudian menepuk bahu Marla pelan.
"Ya, Ren ?" Marla mendongak menatapnya.
Serene langsung menarik ujung lengan kemeja Marla pelan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya diulurkannya ke atas. Layar ponselnya menunjukkan aplikasi kamera yang menampilkan wajah mereka berdua. Serene tersenyum manis, sementara Marla sibuk merapikan rambutnya sebelum akhirnya ikut tersenyum.
Ā Klik. Suara shutter kamera terdengar pelan dari ponsel Serene.
"Ya ampun, Ren... Masih saja sempat selfie ?" Tanya Marla setengah tertawa melihat tingkah atasannya itu setelah melihat hasil foto mereka. Umurnya tidak lagi muda, namun tingkahnya masih penuh gaya.
"Ya dong, sekali-kali gaya sedikit nggak masalah..." Serene tersenyum lebar. Jemarinya langsung menyentuh beberapa elemen di layar ponselnya yang membuat hasil foto mereka terlihat semakin halus dan apik.
Serene lalu menulis beberapa kata di kolom caption untuk melengkapi post-nya, 'Call this how a businesswoman do a selfie. I'm wearing this sweet #Pose mint green asymmetrical cut blazer, will be on web and our store by next week !'
Serene membaca ulang caption yang ia tulis, kemudian setelah ia merasa yakin, ia menyentuh tombol post. Selang tiga menit, beberapa like dan satu komentar muncul di kolom notifikasi.
Ā 'JanetStefany Promosi, Bu Manager ? *wink*'
Serene langsung membalas komentar sahabatnya itu sambil ikut-ikutan tersenyum. Ia memang sedikit-banyak promosi tadi, toh tidak ada salahnya kan ?
'SereneLElysia Biasa, marketing perks. Slh satu tugas non-resmiku jg kan ? *wink back*'
Ā Serene mengalihkan pandangannya ke beberapa titik di ruang tunggu bandara, rasa bosan mulai melandanya. Ia melirik ke jam tangannya, semestinya sekarang ia sudah dipanggil untuk boarding, namun ia belum mendengar adanya passenger call. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya dan kembali melirik jam tangannya. Kalau sampai pesawat yang ia tumpangi ini tertunda, bisa-bisa janji lunch meeting yang telah diatur berantakan. Ah, Indonesia. Kapan sih kebiasaan jam karet bisa hilang ? Bahkan hingga hal sepenting jadwal penerbangan saja bisa mundur tanpa pemberitahuan pasti.
Serene ingin merogoh tas tangannya, mengambil novel yang dibawanya, ketika pengumuman berbunyi memberitahukan bahwa pesawat telah siap dan penumpang telah diizinkan untuk memasuki pesawat. Serene menutup tas tangannya dan mengangkat beberapa barang bawaannya, begitupun Marla yang telah berdiri sambil merapikan pakaiannya dan membawa berkas-berkas dan dokumen untuk rapat, kemudian mereka melangkah ke arah pintu keluar gate yang dihubungkan dengan garbarata menuju pesawat.
Ā "Ladies and gentleman, welcome to Singapore Airlines flight number SQ678 leaving for Singapore......"
Serene memasang sabuk pengaman dan menyatukan kedua belah tangannya untuk berdoa, sebuah kebiasaan yang selalu diajarkan oleh ibunya. Kemana pun dan dimana pun, bersyukur adalah hal yang paling utama sebelum melakukan suatu hal.
Ketika pesawat telah lepas landas, Serene mengalihkan pandangannya dari awan putih berarak di luar jendela ke kursi sebelahnya. Marla, asistennya, telah tertidur lelap sejak pesawat bergerak naik. Serene menghela napas dan melepas kacamata minusnya, merogoh ponselnya yang telah ia atur dalam keadaan flight mode, memasang perangkat earphone lalu mendengarkan lagu. Suatu kebiasaan pula bagi Serene untuk mendengarkan musik kala sedang dalam perjalanan, entah di mobil saat pergi dan pulang kantor maupun saat perjalanan antar negara seperti saat ini.
Saat Serene kembali mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela, sebuah lagu lama favoritnya mengalun di telinganya.
Ā I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away and dreaming
I could spend my life in this sweet surrender........
Ā Serene tersenyum samar. Lagu ini begitu romantis namun tidak cengeng, sangat dicintai banyak orang hingga banyak yang menyanyikan ulang lagu ini dengan melodi-melodi yang terkadang mereka improvisasi sendiri. Seperti yang ia dengarkan sekarang, bukan versi aslinya, namun merupakan versi cover dari penyanyi solo favoritnya, Sammy D. Sammy D. menghilang dari peredaran dan dunia musik khususnya di wilayah Asia Tenggara kurang-lebih 12 tahun yang lalu setelah insiden penembakan dirinya oleh orang tidak dikenal di konser solonya di Singapura. Hingga sekarang, misteri menghilangnya penyanyi remaja berparas tampan itu bahkan belum terkuak membuat banyak spekulasi bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa Sammy sudah meninggal, bahkan ada yang masih percaya bahwa sebenarnya Sammy masih hidup namun memutuskan untuk mengundurkan diri dari jagat hiburan kemudian mengubah namanya sehingga tidak ada yang mengenalinya. Entah apa yang terjadi padanya, Serene saja menyesali menghilangnya Sammy. Apalagi ia tidak sempat menghadiri konser terakhirnya, konser yang dijuluki banyak orang 'konser berdarah' itu, karena ia saat itu masih 15 tahun dan tidak diperbolehkan pergi lintas negara hanya untuk sebuah konser penyanyi favoritnya.
Ā Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you, baby
And I don't wanna miss a thing......
Ā Serene menyandarkan kepalanya di sandaran kursi pesawat dan memejamkan matanya menikmati alunan musik Aerosmith yang diolah kembali dengan nada akustik oleh Sammy D.. Tak lama kemudian, ia pun jatuh tertidur.
Ā **
Ā Sam melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Rapat akan dimulai satu jam lagi dan kalau pesawat representatif Pose itu tidak mengalami penundaan, semestinya ia sudah mendarat sekarang.
Dalam waktu yang sama, Serene sedang meregangkan tubuhnya yang terasa pegal di dalam pesawat yang baru saja mendarat. Ia memakai kembali kacamatanya dan berdiri dari kursinya, kemudian beranjak keluar dari pesawat diikuti oleh Marla.
Serene melangkah masuk ke dalam gedung kedatangan Bandar Udara Internasional Changi dan langsung menuju bagian imigrasi. Sembari mengantri, Serene dan Marla mengisi formulir kedatangan turis yang diberikan saat di pesawat tadi. Seusai melewati proses imigrasi, Serene langsung melangkah menuju pintu keluar. Ia melihat jam tangannya, waktunya tinggal 45 menit lagi menuju dimulainya rapat. Ia telah diberitahu bahwa ia dan Marla akan dijemput oleh supir yang diutus pihak The One Hotel & Residences bernama Mr. Lao.
Di depan pintu keluar, Serene melihat seorang lelaki tua sekitar umur 60 tahun berdiri sambil memegang kertas bertuliskan 'Pose Jakarta'. Ia menghampiri lelaki yang ia yakini adalah utusan yang bertugas menjemputnya.
"Mr. Lao ?" Tanya Serene.
"Yes. You from Pose ?" Tanya Mr. Lao dengan Bahasa Inggris berdialek Singapura yang kental. Nadanya datar dan kaku.
"Yes. I'm Serene and this is Marla, my assistant. So shall we go now ?" Serene tersenyum sopan.
Mr. Lao hanya mengangguk kaku kemudian berbalik sambil mengangkat tangannya mempersilahkan Serene dan Marla untuk ikut bersamanya menuju mobil yang ia parkir. Cuaca Singapura yang cerah tak berawan juga cukup panas membuat Serene ingin segera duduk di ruangan ber-AC dan menenggak segelas penuh air dingin.
Serene melewati jalan tol Singapura yang bersih, mulus, dan lengang. Ia teringat dengan jalan bebas hambatan itu di Jakarta yang tentu saja penuh hambatan, berdebu, dan sesak. Inilah satu hal mengapa ia semakin malas tinggal di Jakarta, namun ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya juga. Situasi yang dilematis membuatnya mengambil keputusan untuk terus menetap di Jakarta, toh ibu dan adiknya masih menetap di kota tersebut.
Suasana mobil terasa hening sepanjang perjalanan menuju The One Hotel & Residences yang terletak di kawasan Marina Bay. Mr. Lao tidak berbicara apapun dan Serene juga Marla tidak saling berbicara maupun mengajak Mr. Lao bicara.
Marla melirik Serene yang sibuk menatap jalan lengang yang mereka lewati dan mencolek bahu atasannya itu. Serene yang merasa bahunya disentuh, menoleh, dan memberikan tatapan yang seolah berkata, 'Ada apa ?'.
"Itu supir apa robot sih, Ren ? Sumpah, aku merinding, ini mobil sepi amat..." Marla berbisik. Serene meringis menahan tawa.
"Orangnya cuma kaku kali, La. Biarkan saja, mungkin dia sukanya diam sunyi begini."
Dan tidak ada percakapan lagi hingga mereka sampai di lobby The One Hotel & Residences.
Ā **
Ā The One Hotel & Residences, sebuah hotel yang gedungnya sendiri tingginya 40 lantai dengan fasilitas yang konon terlengkap di seluruh Asia Tenggara. Fitness center, kolam renang standar olimpiade, spa dan sauna, salon, pusat perbelanjaan, berbagai macam restoran, dan masih banyak lagi fasilitas pelengkap lainnya ada di dalam gedung mewah ini. Tak heran, harga sewa per malam kamarnya termasuk yang tertinggi juga tidak hanya di Singapura, namun di seluruh Asia Tenggara. Harga sewa atau jual apartemen dan penthouse-nya pun juga selangit, namun banyak sekali peminat yang ingin memiliki satu blok atau merasakan sensasi menginap di hotel mewah sekelas The One Hotel & Residences.
Delapan lantai dimulai dari yang paling dasar adalah pusat perbelanjaan kelas atas yang menyediakan berbagai butik, restoran, dan bahkan bioskop. Kemudian, tingkat ke-9 hingga 11 adalah ballroom untuk pesta dan acara lainnya, juga ruang meeting yang disewakan. Tingkat 12 hingga 30 adalah hotelnya, dengan lantai 15 sebagai indoor garden. Sementara 31 hingga 38 adalah apartemen, dan lantai 39 dan 40 adalah penthouse pribadi.
Serene dan Marla melangkahkan kaki mereka menginjak lantai dasar pusat perbelanjaan di dalam tower The One Hotel & Residences. Begitu mewah dan elegan, Serene sepertinya tidak salah langkah mengambil kesempatan untuk memperluas jaringan butik perusahaannya di tempat berkelas ini. Semoga meeting ini dapat memperlancar semuanya, sehingga jalinan kerjasama dapat terbentuk. Jika ini semua lancar, bukan tak mungkin Serene akan mendapatkan promosi.
Wang Cheng Restaurant, tempat lunch meeting ini diadakan. Serene dan Marla sampai di depan pintu restoran yang dilihat dari namanya saja sudah tahu bahwa menu utamanya adalah masakan ala negeri Tiongkok. Seorang pelayan wanita berpakaian ala putri kaisar menyambut mereka.
"Good afternoon, Miss. Already reserved ?"
"Yes. I'm from Pose Jakarta, maybe there are tables reserved from...-" kata-kata Serene terputus saat seorang pria dengan perawakan tinggi berpakaian serba hitam menghampiri meja resepsionis restoran tersebut.
"Good afternoon, Miss. Are you from Pose Jakarta ?" Suara dalam pria tersebut menyapa telinga Serene dan Marla.
"Ah yes. I'm Serene and this is Marla, my personal assistant. Who are you, by the way ?" Serene tersenyum manis, berusaha profesional.
"I'm Mark. He is already waiting inside, please follow me." Mark merujuk kepada atasannya yang telah menunggu di dalam, kemudian ia tersenyum tipis lalu mengantar Serene dan Marla mengikutinya ke dalam.
Harum masakan ala Tiongkok menyapa indera penciuman Serene. Sungguh sarat akan wangi wijen dan arak hitam China, Serene merasa seperti ibunya yang sedang memasak di rumah.
Mark menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan yang tertutup. Ruang VIP yang telah disewa oleh perusahaannya untuk meeting hari ini. Ia menoleh ke arah Serene dan Marla, "Ini ruangannya, nona-nona. Silahkan masuk, meeting akan segera dimulai."
Kemudian ia membuka pintu kayu ruang VIP dan mempersilahkan Serene dan Marla untuk masuk.
Ā **
Sam mendengar langkah-langkah kaki yang semakin mendekat ke arah ruang VIP yang ia dan tim perusahaannya tempati untuk lunch meeting kali ini. Beberapa detik kemudian, suara Mark yang mempersilahkan utusan dari Pose Jakarta untuk masuk ke dalam ruangan terdengar, lalu pintu terbuka.
Dua orang wanita melangkah masuk ke dalam ruangan, namun hanya wanita yang berdiri di sebelah kanan di hadapannya lah yang menarik perhatiannya.
Perempuan yang paras manisnya tak mudah ia lupakan...
Perempuan yang entah saat itu beruntung atau ia memang jenius...
Perempuan yang ia temui di kasino !
Mata Sam menyipit melihat sosok itu sekarang kembali berdiri di hadapannya. Lebih tidak percaya lagi melihat dialah yang datang sebagai utusan dari Pose Jakarta.
Ā 'Is this what people called as destiny ?' Batin Sam masih dengan perasaan takjub.
Ā **
Ā Serene menatap sosok pria di hadapannya dengan perasaan yang juga campuran antara terkejut dan heran. Itu pria yang satu tempat judi dengannya di kasino beberapa waktu yang lalu !
Serene melihat mata pria itu yang menyipit seakan pria itu sadar akan sosok Serene yang pernah ia lihat di kasino.
Keheningan menyelimuti ruangan pertemuan yang sejuk itu. Perwakilan dari masing-masing pihak bukannya saling memperkenalkan diri malah terdiam menatap satu sama lain seakan ada sesuatu di antara mereka.
Serene yang lebih dahulu menguasai dirinya. Ia menghela napas perlahan dan memasang senyum penuh profesionalitas-nya, kemudian mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya.
"Hi, nice to meet you again. I'm Serene. Serene London Elysia, Marketing Manager of Pose Jakarta..."
A Wishing Draft -- Mister Potato #InggrisGratis Competition
"That autumn, that man left me alone with doubts in my heart. He left me with a reason that Oxford called him, as he qualified a test to be their students."
Ah, seandainya aku bisa seperti anak tersebut. Usil tanpa beban pikiran apapun. Bermain seakan tak ada habisnya. Mataku kembali terpusat ke layar laptop, ketika ponselku berdering singkat tanda sebuah pesan BBM baru masuk. Aku mengambil ponselku dan membuka sebuah pesan dari temanku tersebut.
"Eh Ros, ada lomba blogging loh dr mister potato."
āLiat d twitter deh. Km kan suka nulis, hadiahnya ke englandĀ !ā
āBs kali plgā km dpt inspirasi nulisā¦ā
Mataku membulat melihat pesan singkat dari temanku itu dan aku langsung membuka linimasa twitter-ku.
Beberapa tweet dari salah satu penulis dan blogger favoritku, @aMrazing, menangkap mataku saat jariku sibuk menggeser track pad ponselku ke bawah. Kubaca tiap tweet itu dan aku mulai menciptakan berbagai imajinasi seandainya aku memenangkan trip ke Inggris Raya. Aku tersenyum senang membayangkan bagaimana karyaku yang memang mengambil latar negara tersebut nantinya akan mendapatkan feel yang tepat.
Aku menekan tombol kembali di ponselku dan menggeser track pad ke arah aplikasi memo pad di ponselku, kemudian mengetikkan rangkaian kata demi kata, membuat sebuah draft baru untuk pengisi blog aku yang kebetulan sudah lama tak terisi. Sembari mengetik dengan semangat ā45, aku menyesap kopiku yang hampir habis dan mengunyah keripik kentang favoritku itu.
Aku menekan tombol kembali di ponselku dan menggeser track pad ke arah aplikasi memo pad di ponselku, kemudian mengetikkan rangkaian kata demi kata, membuat sebuah draft baru untuk pengisi blog aku yang kebetulan sudah lama tak terisi. Sembari mengetik dengan semangat ā45, aku menyesap kopiku yang hampir habis dan mengunyah keripik kentang favoritku itu.
Akhirnya setelah beberapa jam duduk, aku berdiri, meregangkan tubuhku, mematikan laptop sambil terus membayangkan bagaimana jika aku menjadi salah satu pemenang walau karyaku ini sangat sederhana. Trip ini akan berdampak besar pada karya-karya tulisanku selanjutnya dan tentunya akan mewujudkan mimpiku sebagai penulis kenamaan Indonesia.
Aku membereskan seluruh barangku dan melenggang keluar dari restoran cepat saji tersebut, meninggalkan gelas kopiku dan bungkus keripik kentang kesayanganku yang juga sudah tandas.
Joyeux Anniversaire, Lovely Readers Hangout ! :) co
So, this afternoon I made this simple picture using my android phone and a little apps here and there. A simple yet meaningful picture. Some people just thinks this picture as a good picture with quite perfect photography technique, but for me --and for all of us, Readers Hangout's members, this is a very meaningful and valuable picture.
Wednesday, March 26th 2014 --which is today, is a very meaningful day for Readers Hangout. Exactly one year ago, our founder we called Mbak Ika Natassa (or called her as "Kak" too), she thought of a simple idea of making a group for her novel readers to mingle, discuss, and share a simple thought of her writings and VOILA ! *sfx : tringgg*
Readers Hangout born as a LINE group. Many people join that group and share everything they thought of. Not only Mbak Ika's writings (and our delusion of imagining her novel's characters being alive) but also anything that they could speak about. From newest novel, book reviews, even until love matters, family matters, own problems, friends, andddd.... 17+++++ matters *say oopssss* :$ :))
And...*cough* we've got one real couple --it's really REAL, by the way. Currently in a LDR and of course, they didn't know each other before joining this mighty group ;;)
Back to the picture above, it's just a simple but valuable picture. Some woods joining together, forming a kind of parquet. What makes it different is the woods are abstractly colored and what makes this picture so meaningful is because each of all the members inside Readers Hangout is different but we are all united together as strong as parquet floor AND I REALY HOPE WE'RE ALWAYS TOGETHER AS ONE :'')
Bang (vb,n) : When that sound echoed in my ear, all I saw was red and dark...
Ā Prologue #1:
Ā 12 tahun yang lalu...
"Pokoknya Papa tidak setuju kamu bekerja seperti itu, Sam!"
"Tapi Papa tahu persis aku suka menyanyi dan tidak suka berbisnis! Aku tidak ingin dipaksa untuk terus mengikuti keinginan Papa," Seorang remaja laki-laki berumur 18 tahun yang dipanggil Sam tersebut menatap balik ayahnya yang sedang marah besar kepadanya. Tatapannya tajam sekaligus memancarkan kekeraskepalaan. tanda orang yang berpendirian teguh.
"Samuel!" Bentak sang ayah lagi. Ayah Sam adalah seorang pengusaha tambang minyak yang sangat sukses, meski Indonesia masih dalam periode ekonomi yang cukup sulit akibat belum bisa memulihkan kondisi sepenuhnya karena kerusuhan empat tahun yang lalu. Saking suksesnya hingga banyak pihak yang berusaha menjalin kerjasama bahkan mengincar posisi di perusahaannya, siapa tahu dapat memiliki secuil saham yang dapat memperbaiki taraf hidup mereka.
Sam masih terdiam dengan gaya angkuhnya, berbeda saat ia tampil di panggung gemerlap dan menyapa Faith, sebutan untuk para penggemarnya. Sebagai seorang rising star, Sam benar-benar serius berkarir dan tidak memiliki niat apapun untuk berhenti dari dunia penuh kegemerlapan tersebut. Dalam usianya yang masih begitu belia, ia telah memperoleh segalanya dari hasil keringatnya sendiri dan sama sekali tidak membebani orang tuanya, meski dari sisi ekonomi, keluarganya pasti sama sekali tidak merasa terbebani.
Dan ketika untuk kesekian kalinya, ayahnya menuntutnya untuk berhenti dan mulai belajar seluk-beluk kerajaan usaha ayahnya yang suatu saat akan jatuh ke tangannya, Sam tetap teguh pada pendiriannya.
Ā Ayahnya menatap Sam tajam, penuh kemarahan, nada suaranya berat dan geram, "Jangan sampai Papa terpaksa menarikmu turun dari panggungmu itu, Sam."
Sam mendengus keras dan membuang muka, kemudian menghentakkan kaki keluar dari ruang kerja ayahnya. Pintu dibanting menutup dengan kencang, meninggalkan gema di dalam maupun di luar ruangan.
Sam pun segera kembali ke kamarnya, sarang pribadinya yang tak boleh disentuh siapapun, bahkan ibunya sendiri. Hanya pembantu yang diizinkan membereskan kamar itu tiga hari sekali tanpa mengubah letak barang milik Sam.
Sam membanting tubuhnya ke ranjang dan matanya nanar menatap langit-langit kamarnya. Di saat puncak karir menyapa, masalah datang silih berganti dan bagi Sam yang baru akan beranjak dewasa, semuanya terasa rumit seperti benang kusut. Sam memejamkan matanya dan berusaha melupakan tiap kecaman yang dilontarkan ayahnya setiap pembicaraan seperti ini terjadi.
Ā ***
Ā Langit siang itu berangsur mendung perlahan, seakan berarti dua hal. Ada yang menganggap langit mendung di musim panas seperti ini biasanya membawa rasa teduh di hati dan pikiran yang mendidih, namun di sisi lain, ada yang berkata bahwa langit yang tiba-tiba mendung setelah sebelumnya cerah itu berarti akan ada berita buruk atau ada banyak orang yang sedang bersedih.
Suasana di balik panggung konser Sam di Esplanade Hall terasa sesak. Konser akan segera dimulai dalam lima menit ke depan dan Sam sudah bersiap tampil dengan kostum panggung yang khusus dirancang untuk konser ini. Di dalam Esplanade Hall sendiri, para Faith sudah berteriak histeris meminta Sam untuk tampil sesegera mungkin.
Ketika cue bagi Sam untuk tampil sudah diberikan, manajer Sam datang tergopoh-gopoh menghampiri project manager konser Sam dan berkata ada berita yang sangat penting bagi Sam.
Ā Sam menghampiri manajernya dengan wajah bingung bercampur kesal.
"Ada apa, Prissy?"
Priscilla yang biasa dipanggil Prissy, manajer Sam, mengatakan sebuah kalimat yang membekukan Sam.
"Papamu terkena serangan jantung, Sam. Sekarang sedang dalam perjalanan ke General Hospital. Kamu bagaimana?" Prissy menggantungkan pertanyaannya. Ia tahu, Sam masih sering kesal dengan ayahnya hingga puluhan missed call dan SMS dari ayahnya sering tidak dibalas satupun oleh Sam. Namun, ini soal hidup dan mati ayahnya, Prissy tidak berani mengeluarkan pertanyaan yamg sedari tadi ditahannya. Apakah Sam ingin melanjutkan konsernya demi memuaskan dahaga para Faith, atau ia lebih memilih membatalkannya demi sang ayah?
Prissy melihat keraguan terpeta di wajah Sam. Ia tahu sedikit-banyak Sam mencemaskan ayahnya, namun ia juga tidak dapat membatalkan konser ini begitu saja. Selain mengecewakan para penggemarnya, ia dan perusahaan rekaman yang mempekerjakannya pun akan menanggung rugi yang tidak sedikit.
Ā "Sam?" Prissy ragu-ragu mencoba bertanya.
Sam mendengus perlahan, kemudian meninggalkan Prissy yang bingung. Ia segera menegakkan bahunya dan mengatur napasnya, kemudian menoleh ke Prissy dengan tatapan cuek. Tatapan cuek yang diselubungi rasa cemas, walau hanya sedetik.
"I can't delay this anymore, Prissy. Let me do this first, then my dad after."
Prissy hanya dapat menghela napasnya gusar. Sam berpendirian teguh, ditambah lagi ia tidak begitu menyukai ayahnya, ahā¦tentu saja ia lebih mendahulukan Faith daripada ayahnya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Terdengar seperti anak durhaka, memang, tetapi Prissy sudah lebih dari sekadar tahu seringnya Sam berselisih pendapat dengan ayahnya.
Ā Lampu sorot berwarna-warni menyinari sosok Sam yang perlahan terangkat dari backstage ke atas panggung menggunakan piston. Jeritan memuja para Faith berdengung kencang dan semakin kencang saat intro musik pertama yang akan dinyanyikan Sam mengalun.
"You're the one I choose to love..." Sam mulai melantunkan bait pertama lagunya saat terdengar desingan kencang disertai letusan senjata api.
Ā Sekali.
Ā Sam terdiam mematung. Jeritan para Faith membisu seketika.
Sam menjatuhkan mikrofon yang dipegangnya seketika. Pakaian konser putihnya mulai kemerahan. Sam maju tertatih-tatih menahan nyeri hebat di tulang selangkanya. Esplanade Hall masih hening dengan sebagian Faith terkesiap.
Ā BAM! Dua kali. Kali ini tepat menyasar dada Sam. Sam terkesiap dan menghentikan langkahnya tepat di ujung panggung, kemudian ia jatuh tersungkur. Sam menebah dadanya, mencoba berdiri lagi dengan sisa tenaga yang ia miliki, seakan ingin melihat siapa yang menembaknya. Namun Faith yg jumlahnya sangat banyak membuat Sam tidak dapat melihat dengan jelas. Sam terbatuk dan memuntahkan darah segar.
Sedetik setelah itu, jeritan panik para Faith menggaung memenuhi Esplanade Hall. Mereka berdesak-desakkan mencari pintu keluar yang terdekat.
Ā Pandangan Sam berkunang-kunang, ia memuntahkan darah segar lagi dan napasnya semakin terengah. Prissy yang mendengar kekacauan di atas panggung berlari naik dan terkesiap melihat Sam yang sudah setengah terkapar.
Sam berusaha berdiri lagi untuk yang terakhir kalinya. Prissy langsung berlari ke arah Sam, namun terlambat.
Ā Suara desingan peluru ketiga beserta letusan senjata api terdengar lagi, kali ini menyasar kaki kiri Sam. Tak ayal, Sam yang bersimbah darah langsung ambruk dari panggung yang tinggi dan megah itu. Kepalanya terantuk kencang di undakan menyerupai tangga di bawah panggung, kemudian tubuhnya yang lunglai merosot ke dasar panggung.
Prissy berteriak, sementara kru-kru yang bertugas sama paniknya dan berusaha menghubungi polisi dan rumah sakit terdekat.
Ā Sam masih membuka matanya. Kini hanya gelap yang dilihatnya. Darah segar hangat mengalir dari kepalanya yang terantuk kencang, menimbulkan bau anyir darah di sekitar tubuh Sam. Sam membuka bibirnya perlahan, berusaha berbicara, namun ia memuntahkan darah segar lebih banyak lagi dan sebelum ia bisa mengatakan kata-kata terakhirnya, aliran merah hangat menutup matanya dan tarikan napas terakhirnya berembus pelan sebelum akhirnya tubuhnya tak berdaya lagi.
Casino (n) : Dozens of coin shines and sounds, dices fall into a spot, and when my counting happen to be right, I didn't predict that you already stole my prim mind.
Ā Prologue #2:
Perempuan itu duduk di sebuah kursi panjang di dekat sebuah mesin yang seringkali dinamai Big Six Wheels tersebut. Piringan bulat tipis dengan berbagai warna berbeda berputar kencang dan meja kecil di dekat mesin tersebut dikelilingi beberapa orang yang menanti nasib kemenangan -atau kekalahan mereka.
Perempuan itu terus mengamati piringan tersebut dengan tatapan menimbang-nimbang. Jemari tangan kirinya bergerak perlahan seakan sedang menghitung.
"Dua kali lagi cukup. Lima detik lagi Big Six Wheels berhenti di warna merah..." Batin perempuan itu menghitung peluang.
Ā Benar saja, kurang-lebih lima detik kemudian mesin Big Six Wheels berhenti di warna merah. Teriakan euforia dan gerutuan kekalahan bersahut-sahutan di meja kecil itu. Perempuan tersebut tersenyum simpul. Hitung-hitungan peluangnya jarang meleset.
Dan seperti yang telah ia perkirakan sebelumnya, Big Six Wheels cukup diputar dua kali lagi dengan tempo biasa agar tepat berhenti di titik jackpot. Itu berarti saatnya untuk maju dan menguji peluang kemenangannya tinggal menunggu sekali putaran lagi. Ia telah duduk dan menunggu di kursi panjang tempatnya duduk saat ini selama tiga jam.
Ā "Hitam." Perempuan itu membatin lagi, memprediksi peluang putaran terakhir sebelum ia maju dan ikut bermain.
Tanpa ia sadari, ada sesosok pria yang mengamatinya dari tadi. Pria yang memakai setelan jas hitam dan kemeja biru muda, yang berdiri di meja kecil itu dan ikut bermain dengan petaruh nasib lainnya di meja kecil itu. Perempuan itu tidak sadar bahwa pria itu mengamati ekspresi dan gerak-gerik kecilnya.
Ā Mesin Big Six Wheels berhenti berputar perlahan. Pekikan penuh harapan serta ketakutan memenuhi meja kecil itu......dan piringan tepat berhenti di warna hitam. Seketika beberapa pria tua yang kalah membanting token judinya sambil misuh-misuh dalam Bahasa Mandarin berdialek Singapura, kemudian meninggalkan tempat sambil membawa sisa token judinya. Perempuan itu kembali tersenyum simpul, kemudian perlahan berdiri dan berjalan ke arah meja kecil mesin Big Six Wheels sambil menimbang-nimbang token judinya yang bernominal besar. Sepercik rasa ragu dan takut melintasi perasaannya. Bagaimana kalau peluang jackpot yang ia hitung kali ini meleset?
Ā Pria itu kembali menatap perempuan itu diam-diam, mengamati ekspresi ragu yang melintas di wajah perempuan itu. Perempuan itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dan melihat jam saat ini. Jam 15.18, waktu Singapura. Pesawatnya ke Jakarta akan berangkat kurang-lebih dua jam lagi dari Changi.
Ā "Sekali cukup. Jackpot. Aku yakin ini pasti jackpot." Batin perempuan itu lagi sambil menarik napas perlahan dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana jeans yang ia pakai. Ia kemudian menaruh setumpuk token judi yang ia genggam di meja kecil sambil menatap pria berjas abu yang menjadi operator mesin Big Six Wheels dan berkata, "Jackpot," kemudian menggeser koinnya sedikit ke arah dalam meja kecil.
Semua mata di meja kecil itu memandangnya, tak terkecuali pria yang menatapnya secara diam-diam ākali ini langsung frontal menatapnya dengan mata membulat. Ekspresi yang rata-rata dijumpai perempuan itu tiap ia mencoba peruntungannya saat hitungan peluangnya mengatakan saatnya mesin mencetak jackpot.
Ā Saat itulah perempuan itu menatap pria yang berada di seberang kirinya. Pria yang memakai jas hitam, penampilannya sedikit berbeda dari pemain lainnya karena setelannya sedikit terlalu formal. Perempuan itu mengernyitkan keningnya samar, merasa familiar dengan sosok pria itu namun akhirnya ia fokus dengan mesin yang mulai berputar.
Ā "Jackpot, please... I can't be wrong at this time." Batin perempuan itu lagi.
Semua pemain di meja kecil itu menatap piringan yang berputar itu dengan tegang, seakan ingin membuktikan apakah prediksi perempuan itu seorang atau prediksi masing-masing mereka yang benar.
Ā Pria itu menatap tumpukan token milik perempuan itu, diam-diam mengagumi keberanian perempuan itu mengambil peluang jackpot yang belum tentu terjadi sekali dalam sehari, ditambah lagi token judinya bernominal besar.
"If she misses the jackpot hit, it will be a quite great loss..." Batin pria itu dalam hati.
Ā Perempuan itu menahan napasnya sambil menggigit bibirnya perlahan menunggu mesin Big Six Wheels berhenti berputar. Setiap detik terasa begitu lama baginya dan ketika laju piringan warna-warni itu mulai melambat, mata perempuan itu semakin melebar. Menunggu peluang jackpot yang telah ia prediksikan.
Pria itu menyipitkan matanya, dan berbagai ekspresi tegang tercetak di wajah para pemain saat laju mesin semakin melambat.
Ā TIK. Bunyi mesin Big Six Wheels yang berhenti berputar. Suasana di sekitar meja kecil hening seketika. Lampu jackpot menyala berkedip-kedip ramai seakan menyoraki ketepatan perhitungan peluang perempuan itu. Sedetik kemudian, suara terkesiap dari pemain dan beberapa pemain lainnya yang menggeleng-gelengkan kepala mereka tidak percaya sambil bertepuk tangan riuh terdengar.
Pria itu menatap perempuan itu tidak percaya dengan mata membulat tak berkedip sambil tertawa perlahan dan ikut bertepuk tangan.
Ā Perempuan itu tersenyum simpul lagi dan menyoraki dirinya sendiri di dalam hati. Operator mesin ikut bertepuk tangan atas ketepatan peluang yang diambilnya. Perempuan itu menatap pria di seberangnya yang sedang bertepuk tangan untuknya, juga beberapa pemain di sekitarnya.
"Yes! Tepat lagi. Hitunganku memang tidak pernah meleset..." Batin perempuan itu lagi sambil menarik napas lega dan menggumamkan ucapan terima kasih atas tepukan tangan dan tatapan kagum yang ditujukan kepadanya sambil mengambil tokennya dan token lainnya yang disodorkan operator mesin, kemudian ia menatap pria di seberang kirinya itu lagi.
Ā "Seems familiar, ah...quite a handsome one. Lumayan, sudah menang dapat pemandangan segar." Batinnya lagi dan lagi, kemudian ia berbalik meninggalkan meja kecil dan mesin Big Six Wheels yang telah memberikannya kemenangan terbesar hari ini. Ia melangkah santai menuju loket penukaran token judi dengan uang tunai sambil tersenyum lebar. Ponsel di sakunya bergetar, ia merogohnya dan melihat caller id di layarnya.
Ā 'Jane calling'
Ia mengangkat panggilan di ponselnya.
"Halo, Jane?"
"Jangan lupa coklat sama wine ya, Ren!" Todong sahabat karibnya itu.
"Lo telepon gue diangkat bukannya halo dulu kek, langsung nodong aja." Perempuan yang dipanggil Ren tersebut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh by the way, lo menang kan? Kalau lo gak menang weekend getaway lo sia-sia, Ren. Balik modal?" Cerocos Jane bawel.
"Iya gue hit that button. Got it?" Perempuan itu nyengir kuda mengingat kemenangan besarnya.
Ā Sementara itu masih di depan mesin Big Six Wheels, pria itu menatap sosok yang melangkah menuju loket itu masih dengan segumpal rasa kagum dan sejuta pertanyaan di hatinya.
Ā "Does she has a sixth-sense? Or she sits for hours counting the spins and probabilities? How genius, she struck it lucky..." Batin pria itu tidak habis pikir.
Suara brangkar ranjang rumah sakit terdengar ramai, rupanya hari ini banyak orang yang mengambil jatah sakitnya. Brangkar terlihat bolak-balik lewat dan menghilang dari pandangan gue, sementara gue sibuk menganalisa ada apa gerangan orang-orang yang berbaring di atas brangkar-brangkar tersebut. Oh, tentu saja gue tetap berusaha fokus dengan kerjaan gue yang tentunya lo semua tidak ingin tahu.
Kemudian entah mengapa, gue seperti mendengar ada yang berteriak-teriak dari seberang lorong tempat kantor gue 'bernaung'. Sudah pusing dengan suara brangkar maju-mundur, sekarang gue harus mendengar teriakan yang persis seperti istri ditinggal mati selingkuhan tercintanya karena dihajar suaminya. Gue terpaksa menjulurkan kepala gue keluar dari jendela tepat di belakang layar komputer gue dan gue melihat...
OH TUHAN. GUE PASTI SALAH LIHAT.
Gue mengedipkan mata gue lagi, namun pemandangan yang tersaji di mata gue tetap sama. Gue tahu persis gue bukan anak indigo, jadi gue nggak bakalan bisa lihat makhluk yang aneh-aneh (baca : kuntilanak, sundel bolong, dan kawan-kawan mereka dari dimensi lain tersebut). Namun, makhluk di balik tubuh wanita yang menjerit-jerit itu menatap gue dengan sangar. Mata hijau ingusnya yang menjijikkan itu seakan melotot keluar, menantang gue untuk melotot balik dan berkata, 'Apa mau lo nyakitin wanita tak bersalah itu ?'. Tubuhnya yang persis mikroba benyek ala tiga sekawan kuman di serial The Powerpuff Girls bergelombang semakin besar seakan dia bisa terus membelah diri, menekan dada wanita yang menjerit-jerit itu hingga jeritannya melengking kecil seperti tercekik. Anehnya, suster-suster dan dokter yang mencoba mendorong brangkar itu terlihat kesulitan mengatasi hal ini, mendorong brangkarnya saja setengah mati seakan sangat berat. Sampai-sampai ada suster yang harus berlari membawa obat penenang keluar dari ruang tindakan dan menyuntikkan obat tersebut ke tubuh wanita malang itu yang lama-kelamaan wajahnya membiru, kehabisan napas, dan...tamat begitu saja. Di depan dokter-dokter dan suster-suster yang berusaha menyelamatkannya.
Makhluk apa itu ? Apakah dia malaikat pencabut nyawa ? Sepertinya malaikat pencabut nyawa masih berwujud lebih jelas dibandingkan mikroba nggak jelas satu ini. Dokter-dokter dan suster-suster tidak dapat melihat wujud makhluk ini, sepertinya...
Makhluk itu berjalan...ehm, ralat, merayap mendekat ke arah gue yang tiba-tiba paranoid. Gue berlari keluar dari ruang kerja gue menuju ruang farmasi. Entah apa yang melintas di pikiran gue, yang jelas gue butuh obat. Ini antara gue yang gila (karena sepertinya hanya gue yang bisa melihat wujud makhluk pembunuh berwujud mikroba itu) atau makhluk itu yang memang 'bertugas' membunuh satu per satu manusia di rumah sakit ini secara misterius. Sepertinya entah obat apa yang gue ambil, harus dapat membunuh makhluk tersebut.
Gue masuk dengan lagak super koboi ke ruang farmasi, gue tidak peduli dengan pandangan aneh rekan-rekan kerja yang gue kenal maupun tidak akibat gue yang masuk tanpa permisi lalu menggasak lemari isi ratusan macam obat tersebut. Ketika makhluk itu menyelinap, iya, dia tidak perlu membuka pintu dengan gaya koboi untuk masuk ke dalam ruangan farmasi seperti gue, dia hanya perlu menyelinap dari balik celah pintu. Mata hijau ingusnya kembali melotot menantang gue sambil tubuh benyeknya itu ngesot ke arah gue.
Gue nggak peduli dikata-katai orang gila habis ini, yang penting gue nggak mati hari ini. Gue lempar segala kapsul, bubuk, puyer, tablet, bahkan obat sirup sebotol-botol kacanya ke arah makhluk mikroba menyeramkan tersebut.
Tiba-tiba makhluk itu menyeringai ke arah gue, kemudian dia mencair bagaikan air dan menghilang melalui sela-sela keramik seakan semen di sela keramik tersebut dapat menyerap tubuhnya.
Lalu kemudian, gue mendengar sebuah suara aneh yang serak, "May you have a very H.A.P.P.Y day, human, because we won't stop interfering your life since today."
Kemudian sunyi. Ruang farmasi pun ikutan sunyi, hanya dengung halus AC yang terdengar di kuping gue. Gue menoleh dan mendapati tim farmasi memandang gue dengan cara yang berbeda. Ada yang seakan marah, karena gue mengacaukan ruangannya. Ada yang heran dan menatap gue seakan berkata, "Lo udah gila ye ?". Ada yang malah...gue nggak menyangka, menatap gue seakan mengerti apa yang gue temui dan hadapi barusan ini.
Satu dari dua orang yang menatap gue dengan tatapan paling beda sendiri itu menghampiri gue dalam diam, merangkul bahu gue dan berbisik, "Gue tahu barusan lo ngelempari obat-obat stok kita ke siapa. Yuk, kita beresin semua ini."
Gue menatap dia penuh terima kasih dan membereskan kekacauan yang gue buat. Tanpa sadar, mata gue menatap kalender di depan gue. Besok gue ulang tahun dan hari terakhir gue berumur sekarang ini, gue melihat makhluk lain dimensi, dianggap sinting, menghabiskan stok obat rumah sakit (bisa-bisa gue kena sanksi sama Mbos gue), dan tentu saja tidak boleh ketinggalan yaitu melihat orang mati perlahan dengan mata kepala gue sendiri.
Hidup gue emang beda, kan ? Mungkin sebagian lo yang membaca ini menganggap gue juga sinting. Entahlah, gue nggak peduli...