Nah.. Harusnya ni ada foto si lontong mienya. Biar mantep! Yah, apalah daya gegara lapar tak tertahan langsung nyelonong aja nyamperin rombong lontong mie.
Terkisahlah pada suatu pagi yang rada siang, seorang Weni (aku) yang bangun kesiangan karena tanpa alasan. Selepas bangun tidur, aku langsung melakukan rutinitas yang paling ‘kusukai’ yakni, mencuci, ‘Miss Cuci-Cuci’. Actually, my hobby isn’t washing many clothes, some clothes, or a cloth. No, not! Ini berawal dari janji pada diri sendiri bahwa “tidak akan aku mencuci bajuku ke tempat laundry selain dengan upayaku sendiri! Sesibuk apapun. Sesibuk apapun, sepulang malam apapun!” Yah, alasan simplenya karena aku belum dapat menghasilkan uang sendiri. Jadi, rasakan tuh tumpukan baju yang menggunung tiap hari. Ditambah, di kosku, pemilik kos mempunyai usaha strategis yaitu, usaha laundry. Dasar kucyiing! I am sure, I used to be ‘tergiur terkuyur-kuyur’ dong. Tapi sejauh empat tahun lebih kos disini, belum lah sama sekali aku memanjakan ketergiuranku akan laundry.
Last but not least. Hahaha belum ‘last’ lah yaah..
Dalam kondisi perut yang kosong dan tetap ber-tandang gawe, pastinya badan semakin lemas karena perut semakin keroncongan. Nah, berteriaklah seorang ibu-ibu di luar sana:
“Lontoooong mieee….!” I am not sure about the number of harakat.
Seperti melihat oase di padang pasir. Aku langsung lari menuju balkon dan berteriak:
“Buk, lontong buk, lontong mienya satu”
Sang ibuk bak model iklan (entah apa), menoleh sambil menganggukan dagu sekali dengan ekspresi super cool. Dalam hati, yaelah kalah gaya eike!
Tanpa panjang-panjang, secepatnya aku ganti baju dan langsung menuruni tangga. Setelah berdiskusi mengenai ‘tetek-bengek’ or win-win solution untuk seperti apa lontong mie dan bagaimana aku memakannya, dibuatkanlah aku satu-setengah porsi lontong mie. Ibu tetangga yang juga mengantri lontong mie pun mengundang momen bercengkerama denganku. Kita berdiskusi sejenak mengenai ada-tidaknya event-event bazaar di kampus. Bla bla bla..
Lontong mie siap saji. Aku membawa sepiring lontong mie ke dalam area teras kos untuk memakannya. The lontong mie contains of lontong, tauge, mie, tahu, lentung (right?), kuah, petis, cabe, bawang putih, dan udah..
Sebagai layaknya manusia biasa, aku memakannya dengan lahap. Sepanjang lahapnya aku memakan si lontong mie, aku berpikir panjang. Nah, ini yang penting! Selama aku ngekos disini, dan yang hampir tiap hari aku mendengar nyaringnya ibu lontong mie berteriak, baru kali ini aku merasakan cukup-lumayan-enaknya lontong mie si ibuk. Manusia seperti apakah aku ini? Semakin tua, energiku semakin berkurang sehingga aku mampunya hanya makan di depan kos. Mobilitasku sangat tinggi. Dulunya, aku selalu makan di tempat berbeda yang berjarak sangat jauh dari kos-kosan. Sampai-sampai ketika ditanya teman-teman luar kota yang numpang kos tentang tempat makan langganan dekat kos, aku pun tidak bisa menjawab entah karena tempat makanku berubah-ubah atau aku yang sudah bosan dengan aroma warung dekat kos. Jadi aku makannya ya sesuai kemana langkah kaki berpijak.
Sama-sama menu penyetan, aku lebih sering membeli penyetan di tempat jauh daripada di dekat kos. Sama-sama menu makanan rumahan atau warkopan, aku lebih sering membeli yang jaraknya lebih jauh. Sama-sama menunya sate maupun bakso, aku lebih sering membeli di kantin kampus C yang jaraknya sekitar 15 km dari kos (aku kuliah di kampus B). Padahal, seorang penjual makanan apalagi penjual keliling, mereka mencari tempat berjualan yang lebih dekat dengan calon pembelinya. Aku jadi terpikir, seharusnya aku membeli makanan yang dekat-dekat saja, membeli berarti mengapresiasi apa yang kita jual sehingga kita memperoleh penghasilan. Toh, bukankah kita dianjurkan untuk menolong orang terdekat? Duh, aku mengacuhkan mereka selama ini. Lagi pula, aku anak Unair Kampus B, suka makannya di Kampus C atau di ITS. Sedangkan, mungkin anak Kampus C juga kadang makan di ITS atau Kampus B. Begitu pula anak ITS. Haahhh.. perpindahannya (yang hanya untuk makan) bikin polusi udara semakin banyak. Energi panas dalam tubuhpun (karena bergerak) juga mungkin berpotensi menyumbang pemanasan global (#eaakkk).
Hmm. Apapun itu, lebih baik makanlah di tempat terdekat, mengurangi kemubadziran dan kesia-siaan. Kalau bosan boleh sekali-kali lah ya, Weni.
Hohoho.. panjangnya tulisan ini dalam rangka merayakan ulang tahun ke-3 pindah kamar di kamar nomor 13 kos Bu Darso (dulu kamar nomor 15).