Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad wa'ala ali sayyidina Muhammad
seen from Netherlands
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from France

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China
seen from Russia

seen from Belarus
seen from Germany

seen from Germany

seen from India

seen from Brazil

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad wa'ala ali sayyidina Muhammad
Day 3
Karena untuk berada di level ini, saya tidak mendapatkannya secara instan. Tidak semudah membalik telapak tangan. Ada proses, tahapan yang bertingkat-tingkat. Dari bawah ke tengah menuju atas. Dari sederhana hingga terlalu rumit. Dari kosong, berisi, penuh kemudian seperti tak lagi cukup ruang. Dari yang paling masuk akal, hingga diluar nalar. Hingga tersudut dengan sebuah pertanyaan, "Mengapa saya terlalu mencintaimu?". Atau mungkin ada kata yang bisa mewakili kata keterlaluan, teramat, tak terbatas, tak punya hingga.
Proses ini teramat indah. Saat jantung saya seperti dipanah oleh seseorang tepat di tengahnya. Tertancap. Adalah cinta kepada satu manusia yang Sang Maha Pencipta pun teramat mencintanya. Pertanyaan logikanya, "Jika Tuhan saja mencintainya, lalu bagaimana bisa saya tidak mencintanya juga?".
Maka, proses pengenalan ini kelak saya abadikan entah lewat apa saja; tulisan, dan kisah sebelum tidur anak-anak kelak, misalnya.
Pada sebuah kesempatan mengelola sebuah program radio 'ceramah interaktif' yang tentu saja menghadirkan seorang ustadz/kyai/orang salih nan berilmu - sebagai narasumber - saya bersyukur karenanya. Ya, saya pernah berprofesi sebagai penyiar radio beberapa tahun lalu. Dan memutuskan berhenti kemudian. Saya ditakdirkan untuk mengenal beliau, Kyai Sobri. Pada segmennya, kami membahas sebuah kitab (yang saya baru tahu, ikut belajar dan mendengar bermacam-macam kitab) Al Insanul Kamil, karangan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki. Tahukah kalian, bahwa dulu menghafal nama seorang alim dengan gelar dan nasab bin ini bin itu, adalah suatu hal yang tidak penting sekali menurut saya. Maka, setelah tahu dan mengenal siapa beliau, akhlak, nasab dll, dsb, entahlah... menghafal sekaligus menyebutkan lengkap namanya saja saya bahagia.
Kitab Insan Kamil ini dibacakan oleh Kyai Sobri sebanyak satu halaman saja per minggu selama 30 menit. Dari halaman awal, Kyai mulai menjabarkan. Saya yang awalnya hanya mendengarkannya berbicara, menyimak, lantas menyerap dan memahami, mulai merasakan kegundahan sejak halaman pertama. Tentang tanda-tanda kelahiran seorang Nabi terakhir, katanya. Nubuat itu. Tanda kedatangan yang sudah bisa membikin saya merinding. Kisah ia yang belum hadir di dunia saja sudah membuat saya menangis. Sejenak mata saya perlahan basah, menderas kemudian berubah jadi isak yang tak tertahan.
Maka, disinilah awal saya ingin mengenalmu lebiiih jauh, lebiiih dalam. Semuamu tak ada yang ingin saya lewatkan. (2014)
Assalamu'alayka Ya Habiballah... ❤
(bersambung)
Pict source : ig @madinah_photos
Day 3
Karena untuk berada di level ini, saya tidak mendapatkannya secara instan. Tidak semudah membalik telapak tangan. Ada proses, tahapan yang bertingkat-tingkat. Dari bawah ke tengah menuju atas. Dari sederhana hingga terlalu rumit. Dari kosong, berisi, penuh kemudian seperti tak lagi cukup ruang. Dari yang paling masuk akal, hingga diluar nalar. Hingga tersudut dengan sebuah pertanyaan, "Mengapa saya terlalu mencintaimu?". Atau mungkin ada kata yang bisa mewakili kata keterlaluan, teramat, tak terbatas, tak punya hingga.
Proses ini teramat indah. Saat jantung saya seperti dipanah oleh seseorang tepat di tengahnya. Tertancap. Adalah cinta kepada satu manusia yang Sang Maha Pencipta pun teramat mencintanya. Pertanyaan logikanya, "Jika Tuhan saja mencintainya, lalu bagaimana bisa aku tidak mencintanya juga?".
Maka, proses pengenalan ini kelak kuabadikan entah lewat apa saja.
Pada sebuah kesempatan mengelola sebuah program radio 'ceramah interaktif' yang tentu saja menghadirkan seorang ustadz/kyai/orang salih nan berilmu - sebagai narasumber - saya bersyukur karenanya. Ya, saya pernah berprofesi sebagai penyiar radio beberapa tahun lalu. Dan memutuskan berhenti kemudian. Saya ditakdirkan untuk mengenal beliau, Kyai Sobri. Pada segmennya, kami membahas sebuah kitab (yang saya baru tahu, ikut belajar dan mendengar macam-macam kitab) Al Insanul Kamil, karangan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki. Tahukah kalian, bahwa dulu menghafal nama seorang alim dengan gelar dan nasab bin ini bin itu, adalah suatu hal yang tidak penting sekali menurut saya. Maka, setelah tahu dan mengenal siapa beliau, akhlak, nasab dll, dsb, entahlah... menghafal sekaligus menyebutkan lengkap namanya saja saya bahagia.
Kitab Insan Kamil ini dibacakan oleh Kyai Sobri, satu halaman saja per minggu selama 30 menit. Dari halaman awal, Kyai mulai menjabarkan. Saya yang hanya mendengarkannya berbicara, menyimak, menyerap dan memahami, mulai merasakan kegundahan sejak halaman pertama. Tentang tanda-tanda kelahiran seorang Nabi terakhir, katanya. Tanda kedatangan yang sudah bisa membuat saya merinding. Kisah ia yang belum hadir di dunia saja sudah membuat saya menangis. Sejak mata saya perlahan basah, menderas kemudian berubah jadi isak yang tak tertahankan.
Maka, disinilah awal saya ingin mengenalmu lebiiih jauh, lebiiih dalam. Semuamu tak ada yang ingin saya lewatkan. (2014)
Assalamu'alayka Ya Habiballah... ❤
(bersambung)
Pict source : ig @madinah_photos
MuhammadarrasululLah
Biar kuceritakan, bagaimana kuterjebak didalammu. Biar kujelaskan, mengapa inginku terkurung dihatimu. Biar pula kukatakan, betapa citaku; menua dalam kisah cinta indah seluruh sirahmu.
Cinta bisa saja palsu. Sayang bisa saja abal-abal. Tapi dada yang begitu menyesakkan bila disebut-sebut namamu, air mata yang tak ingin henti berderai menginginkan perjumpaan denganmu, adalah rindu yang tak bisa siapapun pungkiri.
Allahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad ❤❤❤
We Thank you Allah For All the things we have today; for all our friends we love so much for home, for food for work and play, we thank you, Oh Allah. #loveAllah #loverasulullah #islamituindah #islampoem #rap #hiphop #brothers #muslim #islam #dakwah #dakwahmaksudhidup #hijrahdakwah #streetdakwah #picoftheday #photooftheday #dakwahdantabligh #karkun #followforfollow #like4like #followus #onenationemcees (at Putra Mosque)
Setiap catatan, tulisan atau postingan gambar maupun video kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Tidak ada yang luput dalam penilaian Allah kelak. Dan setiap amal perbuatan sekecil apapun, baik ataupun buruk menurut penilaian Allah akan diberikan balasan yang setimpal. (Catatan secangkir kopi) . Original picture credited to @pena_tarim #noteforself #tausiyahdiri #love #loveAllah #loverasulullah #loveulama #instaquote (at Goeboex Coffee)
#loving u #loverasulullah #rasulullahmuhammad #cintarasulullah #mondaynight
Alhamdulillah, Engkau Sang Maha Sutradara Terhebatku.. Terima Kasih untuk hari ini, beri kami nikmat iman dan kesehatan({}) =-)< Selamat Malam=-)
Everything Okay :), because Allah always with me.