Toxic Culture . Ketika menjadi engineer beberapa waktu yang lalu, saya kenal dengan seorang rekan yang juga engineer dan masuk hampir bersamaan. Setiap hari dia menerima omelan dari atasan kami karena dianggap tidak melakukan tugas seperti yang diminta (menghitung jerigen, komtrol kebersihan, menghitung pekerja lepas, dll). Agak konyol memang, seorang engineer dikasih tugas seperti itu, tapi itulah kenyataannya. Sedangkan saya sendiri mendapatkan tugas yang lebih "bergengsi" yang sesuai bidang saya. . Akhirnya setelah beberapa bulan dan hampir setiap hari menerima "bekal" dari atasan, ia pun keluar dari pekerjaan mendahului saya yang keluar setelah 2 tahun bekerja. Teman ini pun pindah dan akhirnya berkembang sebagai seorang "engineer sungguhan" dan merasa fulfill dengan pekerjaannya . Memang toxic culture bisa menjadi alasan utama seseorang keluar dari pekerjaannya. Toxic culture "mengecilkan potensi" dan mengabaikan kemanusiaan para karyawannya. Meskipun bisa berkembang, perusahaan dengan toxic culture sulit menemukan orang-orang potensial yang setia. Biasanya yang bertahan adalah orang-orang yg tidak suka perubahan dan biasanya merupakan para medioker atau orang yang "terlanjur" menikmati suasana yg ada . Is your company culture toxic? Kenali budaya kerja yang menghambat kemajuan perusahaan anda . #toxicculture #change #retention #luxdeiconsulting #luxdeitraining #luxdei #toxicculture #toxicpeople #toxic #company #development #culture https://www.instagram.com/p/B4Kf2nxBQ5l/?igshid=zu8oa8q7ng5h










