Tentang Ia yang (Sempat) Diragukan
Tidak terasa, ya? Kurang lebih satu bulan lagi, angkatan saya akan melepas kepengurusan ini. Beberapa mulai menata track-nya di kampus, ingin mendedikasikan dirinya di organisasi ini, di organisasi itu. Beberapa bahkan sudah mencicil tagihan SKS mata kuliah pilihan untuk membuka jalan lulus 3,5 tahun.
Masih segar di ingatan saya, pada saat angkatan saya menjadi mahasiswa baru, beberapa bagian di kepengurusan Mabit NF 2016 tidak berjalan sesuai jobdesc-nya (parahnya, mereka menghilang). Pada saat itu mau tidak mau akhirnya angkatan saya pun ikut bantu untuk mengurus (walau tidak sepenuhnya karena beberapa memiliki amanah menjadi kepala departemen). Namun, Ketua Mabit NF 2016 lah sebenarnya yang paling merasakan lelahnya berjalan sendirian, ditinggal angkatannya, seakan-akan ia lah si penanggung dosa.
Banyaknya drama yang terjadi sebenarnya sudah cukup untuk membuat angkatan saya untuk mengikuti jejak angkatan sebelumnya: pergi begitu saja. Bahkan wacana untuk tidak mengadakan Mabit NF 2017 sudah meluap-luap di angkatan saya. Namun, kami sadar: “Lalu apa bedanya kami dengan mereka?”.
Selama kepengurusan tahun sebelumnya (baca: Mabit NF 2016), kami acapkali mengeluh, menggerutu, menyalahkan ketidakhadiran angkatan atas sebagai pihak yang seharusnya mengayomi kami yang masih baru dan belum mengerti apa-apa sampai akhirnya kami menjalani kepengurusan itu dengan langkah terseok-seok. Di akhir, angkatan saya hampir terpecah: pro Mabit NF 2017 dan kontra Mabit NF 2017.
Saya termasuk yang paling vokal untuk berada di bagian kontra Mabit NF 2017. Bukannya saya merasa jengah selama kepengurusan tahun sebelumnya, tetapi saya sempat merasa ragu. Ragu dengan angkatan saya (yang beberapa mulai menghilang) dan angkatan bawah saya (yang tidak kelihatan kalau mereka dapat diajak bekerja sama), ragu dengan masa depan kepengurusan Mabit NF 2017, juga ragu dengan pemilihan Ketua Mabit NF (lebih tepatnya, takut jika nantinya ternyata salah pilih).
Jujur, dulu saya sempat mengandalkan dan mengharapkan Muzza sebagai Ketua Mabit NF 2017. Mungkin karena loyalitasnya sudah terbukti: hampir tiap kegiatan Mabit ia hadiri. Saya seakan tenang jika ketua yang terpilih nantinya adalah dia, padahal kehadirannya pada tiap acara di Mabit pun tidak jauh karena ia merupakan Kadept MTK, salah satu departemen yang running di semua rombongan tak terkecuali, sehingga ia seakan harus selalu datang ke NF Mampang.
Nama-nama calon yang rilis lalu didiskusikan melalui muktamar pertama antara Supernova dan Bigbang. Terdapat lima calon (Muzza, Ghoffar, Faruq, Aslam, dan Ismail), lalu berdasarkan hasil muktamar, nama-nama tersebut diseleksi menjadi hanya tiga calon (Ghoffar, Faruq, dan Aslam). Proses muktamar kedua, di mana kami akhirnya menentukan siapa yang berhak menjadi Ketua Mabit pun tidak kalah alot seperti ketika penyeleksian dari lima calon menjadi tiga calon saja.
Wajah saya dapat dipastikan tidak dapat berbohong waktu itu. Bahkan saya dapat menjamin tiap peserta muktamar dapat melihat keraguan dan kekhawatiran saya dalam forum tersebut. Ditambah pada saat eksplorasi, jawaban-jawaban yang dilontarkan ketiga calon menurut saya kurang memuaskan. Namun, the show must go on, guys, tidak peduli siapapun ketua yang terpilih nantinya, bukan berarti kinerja kami nantinya harus menurun.
Melalui muktamar Ketua Mabit NF 2017, saya belajar untuk menaruh kepercayaan: kepercayaan kepada siapapun ketua yang nanti terpilih, kepada sesama pengurus (khususnya pada Supernova), juga kepada Bigbang yang tentunya akan bekerja sama dan berkoordinasi dengan kami seiring kepengurusan ini berjalan.
Kepercayaan itu mahal. Karena dengan adanya kepercayaan, keraguan perlahan menghilang.
Lalu, barakallah wa innalillah, Ketua Mabit NF 2017 yang terpilih adalah Ghoffar, ia yang pada saat eksplorasi begitu kejamnya mengatakan bahwa ia tidak mempercayai Supernova, angkatannya sendiri, untuk bekerja mengurus Mabit NF 2017 bersama-sama. Lucunya, ia berada di bagian yang sama dengan saya yaitu kontra Mabit NF 2017 walau tidak vokal.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengerti. Ghoffar kerap mengatakan hal-hal yang sebenarnya berseberangan dengan apa yang ingin ia katakan. Bisa dibilang ia mengatakan hal-hal bernada negatif supaya kami terpacu untuk membuktikan kepadanya bahwa kami tidak seperti apa yang ia katakan.
Pada akhirnya, kepengurusan Mabit NF 2017 pun akan berakhir. Hati saya merasa lega walau sebenarnya kepengurusan ini masih memiliki banyak kekurangan yang seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi sehingga hal-hal itu tidak terulang lagi di kepengurusan berikutnya.
Tentang kepengurusan Mabit NF 2018 yang (mungkin sedang) diragukan, percayalah, keraguan itu bersifat sementara. Yang perlu kalian lakukan adalah terus tanamkan kepercayaan kepada sesama pengurus. Jangan lupa untuk membuktikan kepercayaan tersebut lewat kinerja kalian, lewat ukhuwah kalian yang tak terputus, lewat doa-doa dari kalian yang mungkin berhalangan untuk membantu secara langsung.
Singkirkan rasa egois dan terus tanamkan rasa ikhlas di tiap langkah kalian dalam mengurus. Anggaplah kalian sedang berjuang di jalan Allah, lewat mengurus lembaga nonformal ini, di mana mimpi-mimpi adik-adik baru kalian nanti akan terajut dengan benang-benang harapan.
Bismillah, pasti bisa, kok! :)
Dhea Rizki Amalia Jakarta | Kamis, 1 Juni 2017










