Karena gue mau lo kenal gue sebagai seorang Dana. Bukan seorang Galang yang nggak kenal sama sekali sama lo
Dana kepada Rana dalam Sepuluh Ribu dan Segelas Espresso hanya di Kita Menulis :)


#iwtv#interview with the vampire#assad zaman#the vampire armand


seen from United States

seen from Russia

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Spain
seen from Russia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from China
seen from Armenia
seen from Poland
seen from Armenia

seen from T1

seen from Singapore

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from T1

seen from T1
seen from Hong Kong SAR China

seen from United States
Karena gue mau lo kenal gue sebagai seorang Dana. Bukan seorang Galang yang nggak kenal sama sekali sama lo
Dana kepada Rana dalam Sepuluh Ribu dan Segelas Espresso hanya di Kita Menulis :)
Semua dimulai dari meja ini–lagi. Tiga orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Kondisinya mirip dua tahun lalu, hanya kali ini aku tidak datang sebagai sebenar-benar ‘peserta’. Bingung? Akan kujelaskan dari awal. Akan kuawali dengan perkenalan. Kau lihat perempuan dengan jaket jeans yang duduk di pojokan itu? Namanya Kinanthi. Dulu ia seorang desainer grafis yang sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah perusahaan. Semua karyawan di sana tahu, ia ‘kartu as’ perusahaannya. Anak favorit bos besar. Tetapi kemudian ia keluar. Oh, jangan pikir keluarnya dengan semata menyampaikan surat permohonan mengundurkan diri. Ia mengacak-acak perusahaannya dengan membocorkan desainnya sendiri kepada perusahaan rival. Ia juga sengaja mempresentasikan desain yang asal, yang berbeda dengan apa yang ia presentasikan secara internal. Beberapa kali, ia juga sengaja menyalahi aturan desain–membuat perusahaannya dihujat habis-habisan di dunia bisnis–lalu hancur perlahan. Lelaki tampan di sebelahnya adalah seorang lulusan S2 yang selalu berpindah pekerjaan. Baginya bekerja 6 bulan itu terlalu lama. Ia mencintai seni, tapi orang tuanya merupakan pemilik perusahaan raksasa yang lebih banyak memikirkan uang dan keuntungan. Maybe that’s why, they named him: Luke. Lalu apakah kau pikir lelaki ini akan mewarisi usaha keluarganya? Benar, tapi hanya karena kakak lelaki semata wayangnya meninggal dalam kecelakaan aneh setahun lalu. Perempuan yang asik dengan telepon pintarnya di seberang Kinanthi, bernama Janindya. Ia seorang chocolatier di sebuah cafe cokelat ternama di kota. Cokelat buatannya berpenampilan menarik dan memiliki rasa yang sangat lezat. Tapi ia tidak pernah mau memakan cokelat buatannya sendiri. Ia juga tidak pernah mau membuatkan cokelat untuk kerabat atau kekasihnya. Kenapa, kau tanya? Entahlah. Lelaki yang kau lihat sedang sibuk mengabadikan aktivitas kami dalam foto–adalah seorang fotografer– Yang menolak memotret benda berbentuk lingkaran. Fobia? Bukan. Makan dari piring ia biasa saja. Ia bahkan seorang pemain tenis yang cukup lihai. Lelaki bernama Ferdi ini hanya benci setengah mati melihat bentuk lingkaran (dan kerabatnya: ellips, tabung, bulat, setengah lingkaran, dsb.) dalam hasil fotonya. Berhenti bertanya kenapa. jangan menyela ceritaku. Kita sampai pada lelaki bersetelan rapi yang seperti ‘salah kostum’ itu. Namanya Ilyas. Ia adalah alasan berkumpulnya orang-orang dengan latar belakang berbeda di meja ini. Ia seorang ahli hipnotis. Berhenti membayangkan Deddy Corbuzier atau Romy Rafael. Kenapa? Karena aku tidak suka saja. Ilyas sudah lama membuat suatu situs semacam forum curhat. Lalu setiap akhir tahun, ia akan menawarkan suatu solusi bagi orang-orang yang membenci masa lalunya: Manipulasi memori. Iya, mengganti ingatan yang tidak menyenangkan. Memodifikasinya hingga dapat diterima. Empat orang yang ada di sini adalah orang-orang yang menerima tawaran itu. Kau bertanya tujuanku ada di sini? Aku hanya perempuan yang punya dendam pada lelaki ini. Dua tahun lalu, aku juga duduk di meja yang sama dengannya. Bersama empat orang lainnya. Dalam kondisi yang sama. Hanya saja, dulu aku juga salah satu orang yang ingin mengubah memori. Ada hal mengerikan yang membuatku trauma. Aku ingin ingatan itu diubah, maka aku datang padanya. Aku sendiri sebenarnya adalah ahli hipnotis. Tapi meski aku berulang kali menerapkan self-hypnosis untuk relaksasi, aku tidak sebegitu ahlinya hingga bisa mengubah memori sendiri. Semua awalnya berjalan lancar. aku dan Ilyas akrab dengan mudahnya. Program manipulasi memorinya ini berjalan selama satu minggu. Katanya, butuh keakraban dan rasa percaya antara subjek dan terapis agar semua proses berhasil. Masalahnya, ketika praktik dijalankan, terapis akan memiliki akses terhadap seluruh memori subjek. Aku dan Ilyas menjadi teman dekat–sampai praktik terhadapku dilakukan, dan Ilyas ceroboh. Ada satu kepingan memori yang ia acak-acak semaunya–bukan atas permintaanku. Kepingan itu begitu penting hingga ada salah satu fragmen hidupku yang setelahnya berantakan. Aku ingin tahu mengapa ia perlu melakukannya. Dan hal itu akan terjawab sebentar lagi. Ya, hari ini giliranku. Aku memang sengaja minta didahulukan. Setelah perkumpulan ini dibubarkan, aku dan Ilyas menuju ruang pribadinya di lantai atas. Ya, cafe ini memang milik Ilyas. Kami duduk berhadapan di atas kursi yang nyaman dan terlihat mahal. Tapi aku tidak merasa nyaman sama sekali. Ilyas menatapku seraya tersenyum. “Kau tahu, Marya? Aku senang sekali kita bertemu lagi setelah dua tahun berlalu.” “Maksudmu setelah kau mengacakacak memoriku hingga karirku hancur?” Balasku geram. Ada hening yang menjedakan. Tatapan Ilyas lurus ke arah mataku. Aku membalas tatapannya dengan nyalang. Kemudian senyum Ilyas merekah dan meledaklah tawanya. Aku memandangnya dengan amarah. Tawanya masih menggema dalam ruangan. “KAU PIKIR INI LUCU?!” Teriakku. Tawanya berhenti. Ia kemudian menepuk tangannya tiga kali. “Luar biasa. Aku tidak percaya ini akan berhasil. Tapi… ah luar biasa!” “A… apa maksudmu?” Tanyaku terbata. “Maryani Uttari, kita memang pernah bertemu dua tahun lalu, tetapi itu dalam seminar nasional hipnoterapi. Obrolan kita cocok dan kita cepat akrab.” Memori seminar nasional berkelebat dalam ingatanku. Materi apa yang ada, lokasinya, hingga wajah Ilyas yang memperkenalkan diri padaku. Apa artinya ini? “Pertemanan kita berlanjut. Kita bertemu beberapa kali. Aku jatuh cinta padamu. Tapi kau menolakku. Kau menjauhiku. Tapi aku tidak bisa melupakanmu. Dua tahun kemudian kita tak sengaja bertemu di cafe ini. Cafe milikku. Kita mengobrol. Lalu pikiran gila merasukiku. Bagaimana kalau aku membuatmu menjadi milikku dengan manipulasi memori?” Aku menatapnya tidak percaya. Mungkinkah…? “Tapi aku tidak benar-benar yakin ini akan berhasil. Jadi aku menciptakan simulasi ini. Lengkap dengan detilnya. Jika manipulasi memori serumit ini berhasil kulakukan–maka membuatmu memiliki ingatan menyenangkan tentang aku yang membuatmu jatuh cinta akan mudah. Daaaan…. voila! Ini berhasil.” “T-t… tapi… bagaimana dengan peserta lainnya? Bukannya kau sudah lama mempraktekkan manipulasi memori?” “Siapa? Kinanthi si desainer grafis yang menghancurkan perusahaan yang menyayanginya? Atau Janindya si chocolatier? Pfft. Marya, mereka hanyalah kawan-kawan dekatku. Semua yang kau tahu itu hanya fiksi yang kumasukkan dalam memorimu seperti virus.” Aku menatapnya ketakutan. Manusia macam apa yang tega-teganya mempermainkan memori orang lain? Lututku lemas. Ilyas menatapku sembari tersenyum teduh. Tapi tidak meneduhkan. Suara-suara di kepalaku hilang. Lalu gelap. —- Aku terbangun di atas sebuah sofa empuk yang nyaman. Sebuah selimut hangat menutupi tubuhku. Seorang lelaki bersetelan rapi tersenyum ke arahku. “Sudah bangun, Sayang?” “Kepalaku sakit. Jam berapa sekarang?” Tanyaku. “Masih jam 7. Kau mau kubuatkan teh?” Aku mengangguk sembari tersenyum. Kekasihku itu selalu tahu apa yang kusuka. — Kisah ini hanya fiktif belaka. Foto hanya bersifat ilustratif. Photo by: @hiperbolakata a.k.a (Bang) Haryanto Ini cerita dari sudutku, cerita @kitajabar lainnya apa? Bus Lampung-Bandung yang unexpectedly rame sama anak Unpad, 13 Februari 2016| 23:06
This is yours @sendingfailed
Lengkapnya di sini
Langit kota kembang hari ini begitu cerah, aku benci semua yang duduk disana, mereka sekumpulan pembuat onar, terlalu berisik. Tak sadarkah aku sedang ingin menyediri. Lihat bapak berkemeja itu, seperti om genit yang menggoda seorang wanita, dari postur tubuhnya masih SMA, iya itu yang berbaju belang, uh om itu tertawa dengan genit, menyeramkan. Lalu coba tengok seorang wanita yang memegang handphone, aku yakin dia sedang memandangi pria berkaos di depannya, huh pecundang, lihat senyumnya terlalu munafik. Lihat wanita lainnya, sibuk menulis, entah apa yang dia tulis, mungkin menulis diari, ah aku tak tahu, tak bisa kutebak, sebab wajahnya menunduk. Aku foto saja mereka sebagai dokumentasi orang yang tertawa bahagia di atas penderitaanku, para perusak suasana galauku, kehadiran mereka malah menganggu konsentrasiku, aku jadi lupa kalau baru putus.
ini cerita dari sudutku, cerita @kitajabar lainnya apa?
Bandung, 13 Februari 2016
Sumber gambar @hiperbolakata
This is yours @miadwis
Lengkapnya di sini
JATUH
Makanan kami perlahan habis, namun banyaknya asa tidak lekas membuat kami cepat-cepat berhenti bercerita. Entah alasan pasti apa yang membuat kami tiba-tiba berada di sini, pastinya berbeda.
Ya seperti biasa kami kumpul mendadak, hanya dengan chit-chat beberapa kali maka yang terjadi, terjadilah. Kun fayakun!
Ada yang akibat sering di rumah sehingga ingin menghirup udara luar, ada yang sehabis kerja dan melihat langit belum gelap sehingga malas beranjak pulang, ada yang merasa di kosan sepi bermaksud mencari keramaian dengan berbagai pribadi mengasyikan, ada yang “ingin nongkrong aja”, dan alasan-alasan memungkinkan lainnya.
Sayangnya aku tidak butuh tahu alasan mereka kenapa datang kemari, karena aku percaya satu alasan mereka versiku; karena mereka mau.
“Aku malu banget tadi sumpahnyaaaa! Kenapa kamu malah ketawa dulu baru nolongin aku sih, Bri?” kata Nyta.
“Dalam pertemanan itu harus jujur kan, Nyt? Waktu temen kita jatuh dan itu lucu banget, aku sebagai temen yang baik ngakak enak dulu sampai kenyang baru ngulurin tangan aku buat ngangkat badan kamu yang gak bisa bergerak gara-gara sebelah kakinya nyangkut di lubang selokan depan tempat parkir tadi hahaha,” jawab Brian sekenanya, ngeles sana sini dengan bijaksana khas Brian Khrisna.
“Kamu mah jahat ih.”
Nyta yang sebenarnya merasa kakinya masih sedikit sakit dan banyak malunya ketika datang tadi tetap saja tidak kuasa menahan air mata. Bukan, bukan dia sedih karena kesakitan atau terlalu malu, namun tidak sanggup juga menahan tawa ketika Brian bercerita di depan semua mengenai kejadian itu. Ditambah segala pernak-pernik dalam setiap kalimat sehingga cerita tentang Nyta menjadi lebih lucu. Nyta mengusap air matanya berkali-kali, bergantian dengan memegangi perut yang hampir kram karena banyak tertawa.
Dewi yang diam-diam masih cekikikan mendengar cerita Brian dengan sigap membuat quotes sebelum dia kehilangan ide. Entah quotes seperti apa yang terlintas di kepalanya setelah mendengar cerita konyol itu, mungkin pikirannya mendadak absurd.
“Kalian gak haus udah ketawa-ketawa dari tadi? Mau pesen lagi gak? Aku malah laper lagi loh, hmm apa ya?” tanya seorang Dini yang dengan khusyu melihat rentetan menu.
Dia orang pertama yang berhenti tertawa dan seperti Dewi yang sigap mengambil handphone-nya untuk menuliskan quotes, Dini mengambil buku menu dan memesan kembali yang dia inginkan.
Menyimak sepenuh jiwa raga, Syahid terpikir untuk membuatkan cerpen bertema “jatuh” yang terinspirasi dari pengalaman Nyta. Sepertinya akan menjadi genre komedi jika dibuat based on true story yang diceritakan Brian, mungkin Syahid ingin keluar dari image dewasa-romantis-misterius miliknya dengan menceritakan hal-hal lucu. Dia berpikir itu akan berhasil, aku tahu dia selalu berpikiran positif dan membuat gebrakan luar biasa.
Aku? Alasan aku datang ke sini adalah mereka, karena aku mau berbagi. Bukan bagi-bagi uang ya, but see… jika aku berada di rumah sore ini aku merasa rugi. Aku tidak akan sebahagia ini menertawakan jatuhnya Nyta, aku tidak akan mendengar ide aneh Syahid yang ingin membuat cerpen komedi, dan aku tidak akan bisa mengabadikan moment ini.
Aku memang out of the frame. Tapi aku berhasil mendapatkan sebuah sore menyenangkan. Menertawakan sebuah jatuh, mengapa jatuh bisa sebahagia ini? Karena aku jatuh hati kepada setiap moment bersama mereka, dan aku hanyalah tukang foto yang jarang ada di frame bersama-sama–kecuali ada yang bawa tongsis.
*ceilaaaahh~
Ini cerita dari sudutku, cerita @kitajabar lainnya apa?
This is yours @athaisatha
Lengkapnya di sini
Menarik, bukan? Mereka membiarkanku sendiri setelah dengan riang mereka melahap rekan-rekanku tanpa ampun. Mereka menyisakanku–seakan mengejekku dan membiarkanku menjadi saksi bisu rekan-rekanku yang telah hancur menjadi fragmen-fragmen senyawa tanpa ikatan. Aku menyaksikan kehancuran rekan-rekanku. Dan kini mereka tertawa–menertawakan sebangsaku yang begitu tak berdaya. Aku menderita. Didiamkan–dibiarkan penasaran menanti kematianku yang pasti. Aku pasrah.
Tertanda, Kentang goreng.
Ini cerita dari sudutku, cerita @kitajabar lainnya apa?
Bandung, 13 Februari 2016.
This is yours @truegrey
Lengkapnya di sini
Bertemu Orang Baru
Jika saya disuruh mengurutkan hal apa saja yang menyenangkan selama hidup, bertemu dengan orang baru akan selalu masuk di dalamnya. Walau saya pribadi adalah seorang yang sulit membiasakan diri. Walau saya tidak pandai berbasa-basi menanyai berbagai hal untuk membangun suasana yang hangat, ya saya lebih pasif dari yang kalian kira, saya akan aktif jika dibawa aktif. Bagaimana pun, saya tetap menyukai bertemu dengan orang baru, walau tidak pandai bersikap manis yang bisa membentuk kesan pertama yang baik di ingatan mereka yang baru saja saya kenal.
Perlu berkali-kali bertemu, berkali-kali berbagi cerita agar saya terbiasa nyaman dengan lingkungan baru, dengan orang-orang baru. Tapi tak mengapa, saya tetap mencintai diri saya yang sulit berbaur ini. Dan tentu, bertemu orang baru menghadirkan rasa yang saya candu. Cerita-cerita baru, sisi-sisi pribadi baru, keunikan-keunikan baru, kesamaan-kesamaan baru, sampai pemikiran-pemikiran baru -- yang sebelum bertemu dengan mereka, saya tak pernah menyentuh sudut pikir seperti itu.
Gambar ini satu dari berpuluh pertemuan yang pernah saya lakukan beberapa bulan lalu. Bertemu dengan mereka yang selama ini hanya saya kenali tulisannya saja, bukan parasnya, bukan lengkung senyumnya, bukan binar matanya, bukan pula kerut dahinya. Dan ini, cukup mengesankan.
Untuk teman-teman lainnya, mari bertemu, lain kali. Kita ciptakan cerita-cerita baru dengan secangkir canda tawa atau sepiring senyum ramah. Kali pertama, barangkali kau yang akan banyak bercerita. Pertemuan berikutnya, bisa jadi saya. Dan kau harus siapkan telinga.
Ini cerita dari sudutku, cerita @kitajabar lainnya apa?
cr pict by Haryanto a.k.a Sogi a.k.a @hiperbolakata