Sumpah atau Janji
ketika sumpah hanya tinggal sebuah ucap tanpa makna pertanggung jawaban. Ini menjadi sangat lucu, negara yang mengakui adanya Tuhan Esa dengan mengakui 5 agama di dalamnya. Tidak menerima segala bentuk alasan ke atheisan pikiran manusia. Yang harusnya ini bisa menjdai modal akal dan pondasi negeri ini bukan?
Lalu bagaimana dengan sumpah? Ini memiliki dua korelasi dekat dengan Tuhan dan manusia. Tapi kenapa aku hanya melihat ini sebagai lelucon tertulis yang hanya menjadi ucap? Bagaimana mereka bisa bersumpah di atas kitab yang mereka yakinin membawa atas nama Tuhan yang mereka yakini pula tapi hanya sebuah ucap?
Ketika mereka bersumpah akan menegakan keadilan dalam peraturan menciptakan keseimbangan, tapi dengan sadar dan warasnya mereka orang pertama yang mengingkari itu. Seperti saat aku masih berada di sekolah kejuruan, di sekolah itu saat upacara senin pagi mewajibkan semua siswanya untuk mengikrarkan sumpah/janji kedisiplinan tapi setalah nya itu hanya menjadi sebuah ucap yang kurasa bualan makanan sehari-hari.
Tak ada penegakan yang jelas dan mendasar, pengawasan yang kongkrit dan tepat guna. Ketika banyak orang melanggar si pembuat atau penegak menyalahkan terdakwa yang memang nyatanya mereka mengetahui dan mengerti atas janji yang mereka ikrarkan. Tapi problema lain, tak ada pengawasan dan ketertiban mengayomi dalam menjalankan struktur sumpah yang dibuat, disepakati dan diucap.
Setelah sekian lama aku memikirkan ini, tak pernah sekalipun semenjak semester dua di kelas 10 aku ikut berucap janji itu. Ini seperti omong kosong yang bahkan hal ini (janji yang selalu diucap di upacara senin) tak tertanam paten dalam hati dan naluriku. Jadi ku pikir percuma aku ikut berucap, salah-salah ini akan menjadi urusan besarku dengan Tuhan. Astaga, itu sangat mengerikan.
Aku hanya berjanji kepada apa yang aku yakini dapat aku jalankan dan aku nikmati, bukan sebuah janji berbentuk doktrin tanpa hulu dan hilir yang jelas. Ku rasa itu pendapat otak ku kali ini tentang sebuah janji dan sumpah.












