Gus Evid melirik jam tangannya, pukul 16.45. Sinar matahari mulai redup hangatnya. Lebah-lebah hilir mudik membawa polen dan nektar ke sarang. Wajah Gus Evid tampak bersahaja mengamati peternakan #lebah #madu.
"Aku ingin pensiun dini di umur 40 tahun, Wo."
"Memang kamu mau ngapain kok pensiun dini," tanyaku.
"Mau fokus ibadah, mendekat kepada-Nya."
Aku mendadak terdiam seratus kata, mendengar jawaban teman akrabku itu.
"Masa muda, harus diisi dengan berjuang, bekerja, bekerja, kalau bisa menghasilkan 8 atau 9 angka rupiahnya. Setelah itu fokus investasi."
"Lalu segera purnamakan separuh agamamu, Wo."
Bagai tersengat arus listrik Pikachu 1 juta volt. Bergetar hebat diri ini mendengar nasihat Gus Evid.
Iyaa.. temanku satu ini kalau memberi wejangan tidak pernah main-main, selalu ada hikmah di balik deret lisannya.
"Iyyakuunuu fuqorooo ayughnihi mullaahu min fadhlih."
"Jika mereka miskin, Allaah akan memampukan mereka dengan karuniaNya." (Q.S. An-Nuur: 32).
"Yakin seyakin-yakinnya bahwa kelak kamu akan sukses Wo. Do'a, tekad dan ikhtiarmu telah berbicara padaku," pungkas Gus Evid.
Speechless. Tak bisa berkata-kata, hanya bisa diam sambil mencerna, merenungi maksud dari teman baikku tadi.
Meskipun bukan keturunan Pak Kyai, namun cara pandang Gus Evid menunjukkan bahwa dia orang yang suka belajar dan paham agama. Meskipun terkadang suka ceplas-ceplos ngajak debat hehe.
Sayub-sayub adzan magrib menutup petualangan kami bulan Mei 2020, dengan mie ayam khas Gembong dan teh panas-dingin lelah seharian terobati.
Kota Halaman, 9 Syawal 1441H