aku pernah menulis tentang sebuah ruang tunggu. kala kita berdoa, lalu kita merasa tenang dalam menunggu pengabulan doa itu. maka sejatinya doa itu akan terwujud. salah satu bentuk terkabulnya sebuah doa ialah ketika kita tidak lagi merasa menggebu-gebu untuk dikabulkan, kita memahami bahwasanya doapun membutuhkan waktu.
maka salah satu terkabulnya doa kita ialah Allaah hadirkan perasaan tenang dalam proses menunggunya. tenang, tidak lagi memiliki harapan sedikitpun kepada makhluk, tenang pada tempatnya dan melakukan sebagaimana ikhtiar yang memang seharusnya dilakukan. semua harapan terputus dari makhluk.
aku menyadari hal ini, kala aku meminta dengan menggebu-gebu suatu urusan yang menurutku baik, doa itu terkabul dalam kurun waktu yang cukup lama. dan hampir rasanya aku menyerah dan benar-benar di tahap kehilangan harapan. kalaupun terkabul rasanya seperti terlambat. padahal tidak demikian. ukuranku saja yang salah dalam menakar semua hal ini yang sedikit sekali aku memiliki pengetahuan akan hal tersebut.
kala aku meminta sesuatu dengan tenang, tidak menggebu-gebu, dengan perasaan sangat putus asa dari makhluk, menangis hanya Allaah yang sanggup kabulkan dan bahkan dalam kondisi yang sangat terdesak. doaku terkabul.
memutuskan semua harap pada makhluk terlihat mudah secara teori dan mudah sekali untuk diucapkan. namun kenyataannya Allaah lebih mengetahui apa yang tertinggal dalam hatiku. sekalipun sepandai apapun aku menyembunyikannya, Allaah lebih tahu apa yang ada dihatiku, siapa yang tinggal, siapa yang aku harapkan, siapa harapan terakhirku. itulah mengapa aku masih dalam ruang tunggu dalam pengabulan doaku.
doa itu butuh waktu,. iya, benar. dalam pengabulannya doa itu memang butuh waktu. jangankan diri ini, sekelas para Nabi saja dalam pengabulannya butuh waktu yang tidak sebentar, bahkan bertahun-tahun lamanya.
tapi ya Allaah, hatiku tidak sekuat itu untuk terus menunggu. pengetahuanku tak cukup luas untuk memahami perihal sabar, sabar dalam sebuah pengabulan doa. aku tak cukup mengerti untuk mendidik diriku agar terus berbaik sangka kepadaMu. maka ya Allaah, jangan uji aku, jangan uji doaku. aku takut sekali. sungguh.
aku menyerahkan semuanya kepadaMu, namun aku tak cukup punya banyak keberanian, kepemahaman, dan waktu. semuanya berjalan begitu cepat untukku. aku begitu tertatih-tatih dalam menjalani semua ini. setiap hari aku begitu merasa takut sekali, bagaimana jika nanti begini, bagaimana jika nanti begitu, dan hal yang tidak bisa aku mengerti.
maka, ya Allaah, jangan tinggalkan aku dalam ketidaktahuanku, jangan tinggalkan aku untuk berjalan sendiri, jangan tinggalkan aku berjalan dengan diriku, jangan biarkan aku memutuskan hal-hal yang tidak aku mengerti, jangan buat aku menunggu pada hal-hal yang aku sendiri tidak cukup sabar untuk menunggu hal tersebut.
sefruit catatan kecil Januari || 10.19








