#Archive #mai2011 #sonyerricson #k800i #algeria (at ActivSport d'Alger) https://www.instagram.com/p/CAbN5hcBng4/?igshid=v8rgdv86ldvp
seen from China

seen from United States
seen from Puerto Rico
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from France
seen from China

seen from Finland
seen from China
seen from France

seen from Ireland
seen from United States
seen from Australia

seen from Türkiye
#Archive #mai2011 #sonyerricson #k800i #algeria (at ActivSport d'Alger) https://www.instagram.com/p/CAbN5hcBng4/?igshid=v8rgdv86ldvp
terminal putih
kisah ini terjadi 2011 silam, ketika masih unyu dan betapa indahnya dunia kampus, eaaaaa
“Alhamdulillah, acara Mentoring Gabungan yang dimulai kemarin sore sudah ada dipenghujung acara. Semoga ilmu yang kita peroleh dapat diaplikasikan dan memberikan dalam kehidupan kita sehari-hari.........”
Terdengar sepenggal kalimat yang diucapkan oleh pembina dalam apel penutupan Mentoring Gabungan jauh di lapangan. Sedangkan kami di sini, sibuk membereskan ruangan peserta akhwat (perempuan). Selain mengamankan barang bawaan masing-masing, kami juga bertugas merapihkan tempat yang sehari semalam kami pinjami menjadi sebersih dan serapi seperti sebelum kami menempatinya.
“sebelum peserta dibubarkan, pokoknya kita sudah harus selesai ya. Dan jangan lupa, cek kembali barang-barang bawaannya khawatir ada yang ketinggalan”. Ucap Teh Ema (beliau adalah leader kami dalam acara Mentoring gabungan ini).
Kami hanya seraya mengangguk.
“eh, ini terminal putih siapa?” tanyaku sambil memperlihatkan terminal putih itu.
“itu punya Nisa”. Jawab Teh ema
“oh, iya Teh, tas punya aku penuh nih, ada yg mau membawakan terminal ini?”. Pintaku pada semua orang
“sini Os, tas aku masih muat”. Tawar Teh Ayi, salah satu rekanku. Aku pun menyerahkannya.
“Alhamdulillah, semua barang sudah dipak dan beres-beres sudah selesai. Ayo kita menuju angkot. jika semua barang ini tak muat di angkot panitia, boleh dititipkan di angkot peserta ya”. Suruh Teh Ema.
“oke Teh”. Sahut kami setuju.
---di dalam angkot---
Menit-menit awal angkot diiringi kehebohan mengenang agenda yg telah kami laksakanan. Terutama acara ngeguyur ketua tim harian kami yang kebetulan sedang milad. Namun, suasana heningpun terjadi, hampir setengah dari kami sudah masuk ke alam mimpi, dan hanya beberapa saja yg masih terjaga, meskipun di wajah mereka masih nampak jelas lelah terukir.
“waaaah.., kayaknya semuanya udah pada tidur ya, hheheh”. kata teh lulu, memecahkan keheningan.
“heueuh, aku juga ngantuk nih. Btw kamu lagi nyari apaan sih Nis, gerasak-gerusuk”. Tanya Yenni kepada Nisa.
“aku lagi nyari terminal putih punya aku, ada yang lihat gak?” jawab Nisa.
Yenni dan Teh Lulu menggeleng tanda mereka tak tahu.
“itu tadi ada di Oos, iya kan Os?. Todong Teh Ema padaku.
Aku yang tadi hampir terlelap tidur ngedadak kebangun.
“euh? Apa Teh?” keluhku.
“tadi kamu kan yang ngebawain terminal putih punya Nisa?” jelas Teh Ema
“ouh...., iyaa...” jawabku agak lemes
“sekarang ada di mana Os?” tanya Nisa padaku.
“di Teh Ayi. Teh, Teh, Teh, terminal putih dimana?”. Tanyaku langsung keTeh Ayi.
Ternyata Teh Ayi sudah tertidur, dia pun terbangun atas pertanyaanku.
“hah? Apaan Os?. Jawab dia sambil setengah tidur.
“terminal putih mana teh? Pintaku lagi.
“hah?, bentar. Pak, pak, kalau terminal putih dimana?”. Jawabnya sambil bertanya kepada pak sopir. Kebetulan dia duduk tepat sekali di belakang pak sopir.
“apa neng? Terminal? Masih jauh. Paling nanti ada terminang tanjung Sari, sejam kurang lagilah nyampe”. Jawab bapak sopir.
Hahahhahahah...... sontak aku, teh lulu, teh ema, yenni, dan Nisa tertawa.
“kenapa?” tanya Teh Ayi kebingungan.
Dan yang tertidurpun terbangun karena kegaduhan kami.
“ada apa emang neng?”. Tanya bapak sopir heran.
Selama perjalanan hampir sampai Jatinangor, angkot ramai dengan cerita terminal putih. pun dengan bapak sopir ikut meramaikan. :D
Yang singkat itu - "waktu" Yang menipu itu - "dunia" Yang dekat itu - "kematian" Yang besar itu - "hawa nafsu" Yang berat itu - "amanah" Yang sulit itu - "ikhlas" Yang mudah itu - "berbuat dosa" Yang susah itu - "sabar" Yang lupa itu - "bersyukur" Yang membakar amal itu - "megumpat" Yang ke neraka itu - "lidah" Yang berharga itu - "iman" Yang mententeramkan hati itu - "teman sejati" Yang ditunggu Allah S.w.t itu - "taubat" (Imam Al Ghazali) #mai2011 #mentoring #exploregarut
liar!
Tearing up my mind, grinding my dirty heart; you are the whore and I am the whored.
If only I was blind… Use that freaking dart, burst my eyes and I won’t realize
You are the whore, like an endless horde of pain and blood; fake balloons and lying colors. Where are my moons?
Your smile is an endless pit, your love, a bloody trap. Fuck it. All I need is a deadly nap. Where are my queens?
Kill me, please kill me. You are the hunter I’m the haunted hunted. Eat me, please, swallow me. No more flesh now, Only bones left. Grind and leave. Swallow, all that’s left, and live. Leave and live.
You, the whore. The love’s dirty sore.
Entre deux
En équilibre au bord du gouffre, Mon âme danse et chante. Quand elle chancelle un rien la hante ; Elle chante et danse, l’air macabre de ce qui souffre.
De là, la vue est la plus belle, Le vent souffle fort ; Saccadé, soudain comme la mort. Parfois portant, parfois glaçant, et l’on s’emmêle.
Quand on la boit jusqu’à la lie, Enfin se révèle Sa beauté et son profond zèle, Le bonheur insaisissable et fou de la vie.
Et alors que faire maintenant, Perdre, ne plus goûter, Ou se sauver et reculer? En équilibre, au moins on jouit, même qu’un instant.
Dans la mort je vois, Goûte au bonheur vain Que leurre la vie parfois en moi, Dans la vie je meurs de n’en toucher que l’écrin.
Qu’il est bon ce mal D’avoir mal du temps, Qui ne donne rien, lui, le vénal. Mangeur d’âmes, mangeur de rêves, assassin violent.
Qu’il est bon ce mal De voir la vie vaine, Attirante et tout aussi sale Que la mort, son rien et sa haine tout autant malsaine.
Reste entre les deux, Ni l’un et ni l’autre ; Tous deux mentent et ne trompent que ceux Qui inlassablement, cherchent ce qui est ailleurs, l’autre.