Bukan Aku Pelakunya!
keadilan merupakan satu element yang harus diperjuangkan dalam kehidupan, maka banyak dari kita yang merasa marah ketika ketidakadilan itu merayap di atas muka bumi, terlebih jika ada yang bertindak semena-mena lalu bersembunyi dibalik jubah keadilan. banyak orang bersaksi di depan hakim agar dapat diringankannya tertuduh, yang lain bersaksi di depan hakim agar makin beratnya hukuman tertuduh. semua itu dapat diatur dengan ketamakan. maka, tirani seperti inilah yang seharusnya diwaspadai.
banyak sekali kasus di bumi ini yang ada karena diada-adakan, tersangka merupakan target dari ketiranian salah satu oknum yang bersembunyi dibalik layar. mereka mengawalinya dengan asas praduga tak bersalah, di mana mereka dibawa di depan hakim pengadilan untuk diadili dengan dakwaan yang belum pasti kepastiannya. setelah itu, persidangan dimulai.
terlapor, lalu memberikan kesaksiannya, didatangkannya bukti yang entah dari mana kebenarannya, sehingga dijadikannya dia tersangka, lalu didakwa dan akhirnya dipidana. memilukan. sekeras apapun dia mengucapkan “bukan aku pelakunya!”, tetap saja, tirani itu akan memakanmu! peradilan itu seperti dibuat untuk menciptakan ketidakadilan yang terstruktur, sistematis, dan terstruktur. peradilan itu ada karena agar dapat membuang orang-orang yang tidak sepaham dengan sang tirani dibalik jeruji besi. peradilan itu ada, untuk menguasai dunia dan menuntaskan nafsu sang tirani.
keadilan tetaplah keadilan, walaupun ketika orang melakukan tindakan menyimpang dengan mengatas namakan keadilan tetap saja, keadilan tidak akan melekat kepada yang batil.
bukankah sudah ada ketetapan yang mengatur dan membedakan mana yang harus dibela dan mana yang harus dibenci, sementara tirani yang mengikuti nafsu biadabnya justru malah sebagai juru kunci. kemana orang-orang yang meneriakkan keadilan? mereka malah diam ketika ada kebiadaban di depan matanya. hilanglah keadilan itu, larut dalam ketidakadilan, melebur menjadi satu, teranggap sudahlah dunia ini bersama kebohongan.



















