Apa artinya keluarga? Kenapa kita harus membangun keluarga? Apa pentingnya membangun keluarga? Karena keluarga itu merupakan unit terkecil dalam suatu tatanan masyarakat, namun memiliki peran yang paling central. Dengan unit terkecil tersebut ini bisa memberikan efek luar biasa kepada berkembangnya dan berjalannya suatu negara.
Kalau kata ustadz saya ya, ketika seseorang itu mampu maksimal minimal saja, di keluarganya sama di tempat kerjanya, insyaAllah negara ini akan menjadi negara yang sangat luar biasa. Apalagi kalau kita melihat tantangan-tantangan keluarga untuk zaman sekarang kalau dalam penelitiannya Dr. Dawun Tauhidi, ada 3 tantangan besar sekularism, materialism, konumenism
dalam ilmu statistika, ketika kita ingin menegakkam suatu hipotesis atau dugaan terhadap populasi maka kita dapat mengambil sampel dari populasi tersebut, rumusnya adalah; "semakin besar sampel yang diambil maka penilaiannya akan semakin valid" dari rumus tersebut menunjukan bahwa representatif hipotesis itu bisa dilihat dari banyaknya sampel, jadi ketika populsinya besar dan sampel yang diambil kecil, data tersebut bisa dikatakan kurang memenuhi standar bahkan ekstriemnya bisa dikatakan bahwa data tersebut tidak valid. dalam ilmu statitiska ada beberapa madzab untuk menentukan seberapa banyak sampel yang diambil agar dapat mewakili suatu populasi, seperti slovin, 10% presentase dan sebagainya.
contoh, saya punya hipotesis "anak sekolah A yang tinggal bersama kedua orang tuanya akan memiliki kesehatan mental yang baik", nah dari hipotesis tersebut misal jumlah siswa sekolah A 1000 orang, lalu saya hanya mengambil sampe 10 orang dan setelahnya saya menyimpulkan bahwa ternyata hipotesis saya benar, maka data tersebut kurang valid, karena 10 orang tersebut belom memenuhi syarat untuk menjadi representatif dari populasi. maka seharusnya ditambah, atau kalau bisa semua hehe
intinya, sampel itu sangat penting untuk menengakan suatu hipotesis. sama kayak kehidupan, kan banyak sekali orang-orang yang menyimpulkan perihal kehidupan jika, "hidup ini tidak adil", "orang tua saya toxic sekali", apa lah, itu lah, dan sebagaimana lainnya padahal, dia hanya melihat secuil dari banyaknya rentetan kehidupan yang telah dia jalani ataupun orang tuanya jalani. sama seperti data tadi, semakin banyak data yang diambil, maka semakin valid. jika kehidupan ini, semakin banyak hikmah suatu kehidupan yang bisa kita lihat maka penilain kita terhadap suatu kehidupan akan valid. sampai-sampai ibn qoyyim mengatakan, "jika engkau tau bagaimana Allah ﷻ mengatur hidupmu, maka kamu akan begitu sangat terharu".
Ngomongin soal Toxic Parenting istilah ini itu pernah mencuat sangat tinggi sekali di tahun 2020an kemaren, istilah Toxic Parenting itu semacam pola pengasuhan yang keliru sehingga melukai sisi psikologis anak. Kenapa istilihah itu mencuat waktu itu karena banyak sekali anak-anak yang ngerasi playing victim bahkan ekstreamnya anak tersebut ngerasa paling menderita. Saya melihat banyak sekali bibit-bibit seperti ini, dilingkungan saya, saya sering banget ngeliat anak kecil 3 tahun 4 tahun, itu marah sama ibunya sambil bilang, “ibuk i endak sayang sama aku! Yaudah aku tak pergi aja!” dia jalan bawa tas kosong sambil menjauh dari rumah walaupun cuma beberapa meter aja. Mungkin beberapa orang menganggap ini menggemaskan ya, tapi bagi kami yang belajar di psikologi sangat terheran-heran. Kok ada, anak sekecil itu, yang bisa ngomong seperti itu?
Belum lagi, banyak sekali ya konten-konten di FYP kalau anak itu merasa sedih, terus merasa sengsara hanya karena disuruh cuci piring. Kan aneh ya? Padahal waktu saya kecil sering banget disuruh ibuk cuci piring, walaupun agak malas-malasan, ya tetep berangkat wkwk, sekarang lo, ada yang sampai mengira kalau dirinya seperti menjadi makhluk paling sengsara di dunia karena disuruh cuci piring :( Allahu akbar
Banyak ibu, endak cuma itu. Banyak kejadian-kejadian yang mungkin dianggap sebagian orang adalah sebuah lelucon atau anaknya lucu tapi tidak sadar jika sebenarnya itu nanti akan membentuk karakter anak sebagaimana adanya. Nah, letak masalahnya ada dimana? Banyak!
Nah, toxic parenting ini ternyata bahaya sekali kalau digunakan secara sembarangan, saya merasakan sekali apalagi waktu ngeliat interaksi orang tua dan anak zaman sekarang yang kurang bisa menemukan titik temu. Orang tuanya sudah minta tolong baik-baik, anaknya merasa terbebani. Orang tuanya marah sedikit, anak malah merasa tersiksa. Giliran anak sudah bisa sabar, orang tuanya yang enggak melihat perjuangan anaknya. Jadi terkadang itu masalahnya sangat kompleks.
Nih ya, kalau dalam islam, saya mau mengambil secuil ayat yang mungkin sangat berat kalau direnungkan, “wahai orang-orang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” dalam ayat ini, Allah itu meminta “orang-orang beriman” bukan hanya ayah, ibu, adek, kayak. Tapi orang-orang yang beriman, yang berarti kalau kita tarik ke dalam keluarga, berarti semua elemen keluarga disitu (1) harus beriman, (2) saling menjaga satu sama lain. Nah, ini yang menjadi pegangan untuk kita semua.
Jadi sebenarnya kalau mau membicarakan keutuhan keluarga, kita bisa melihat dari aspek mana saja karena itu sangat erat berkaitan satu sama lain. Nah karena kebetulan ini saya diamanahi oleh panitia untuk menyampaikan pengalaman hidup terkait parenting dan pengasuhan, mungkin saya akan menjabarkan tentang apa yang saya rasakan sebagai seorang anak, dan bagaimana saya merefleksikan tentang cara mendidik orang tua saya.
Yang saya ketahui ketika saya sudah sedewasa ini, pendidikan orang tua itu sangat melekat sekali baik itu adalah hal-baik maupun hal-buruk, secara tidak sadar ya memang melekat. Jadi bapak saya itu orang yang sangat irit sekali, sampai-sampai beli baju baru aja jarang sekali, hape beliau yang dipakai beliau sekarang saja rasanya sudah enggak layak buat dipakai, uang mah kalau bapak pasti ada, tapi memang karena merasa “masih bisa dipakai” yasudah pakai lah apa yang ada.
disini saya akan berbicara mengenai pemaknaan saya terhadap pola asuh dari orang tua saya sendiri yang saya rasakan, dimana tentu "mungkin" ini akan sedikit banyak relate dengan teman-teman semua, insyaAllah. mungkin akan saya mulai dengan pertanyaan sederhana "disini siapa yang bisa nongkrong sama orang tuanya? sama halnya nongkrong sama temen sohib, yang bisa ngobrol panjang lebar minimal terkait hal apapun?”, ada? jika ada, alhamdulillah berarti pola komunikasi yang terbangun antara orang tua dan anak sudah lumayan bagus. Nah, masalahnya banyak sekali pada zaman sekarang, anak itu justru semacam tidak punya topik pembicaraan kalau sudah duduk bareng orang tua, paling menthok paling nanyaan “gimana sekolahnya? Mau kuliah dimana? Mau makan apa?” tapi, tidak pernah membicarakan hal-hal yang lebih mendalam, bukan sekedarnya saja. Memang banyak faktor untuk melihat kedekatan orang tua, tapi kita coba mulai dari komunikasi terlebih dahulu, ya.
Komunikasi itu adalah hal yang penting, bapak ibuk sekalian. Dalam komunikasi seseorang itu dapat mentransferkan segala hal, baik berupa pengalaman, cerita, lelucon, bahkan sampai ideologi pun dapat disampaikan dengan melalui komunikasi. Nah, ini kadang sering jadi lelucon kalau saya sekarag memaknai komunikasi saya dan bapak saya sendiri. Pernah, suatu saat ketika ayah saya pulang dari kantor, waktu itu matahari sedang panas-panasnya, tanaman di depan rumah belum sempat disiram jadi agak sedikit layu. Pulang-pulang, beliau langsung dengan pembawaannya yang keras, beliau bilang, “kok pada belum disiram itu gimana, pada layu, apa ngurus tanaman aja gak bisa!?”, nah, lucunya adek yang waktu itu sedang sama saya itu malah ikutan marah nimpali bapak, “lha ayah lo, pulang-pulang langsung marah-marah! Lha yang nanem ayah sendiri, ayah yo ndak nitip, yowes no?” nah waktu itu adek marahnya sambil sedikit membentak juga, aku yang duduk disitu juga cuma nahan sakit ati, “yaAllah kok kata-kata ayahku kasar banget, ya” sering, sekali kalau diingat-ingat bapak itu ngomong, tapi omongan yang keluar itu sangat pedas. Ada yang pernah ngerasain?
Bukan hanya satu atau dua kali, tapi berkali-kali mungkin. Memang karakternya bapak saya itu keras, jadi berkali-kali juga saya itu ngerasa sakit hati sama kalimat-kalimat yang keluar dari bapak. Sampai pada akhirnya, ketika saya sudah besar, mulai paham bagaimana cara dari mengelola emosi-emosi ini. Saya sampai pada titik, jika semua yang bapak katakan itu semata-mata memang bukan atas dasar sadar dan ingin marah, karena memang beliau seperti itu pembawaannya.
Dan secara tidak sadar, hal itu seperti menjadi mata rantai. Saya sekarang jadi sangat rigid banget terhadap sesuatu, kalau mikirin sesuatu itu bisa sampai keujung-ujungnya karena memang dari kecil itu selalu dikritisi. Nah, masalahnya adalah, kadang otak kita itu menerima stimulus secara tidak langsung dan mempresentasikannya secara otomatis terhadap keseharian kita. Maka genetika yang diturunkan orang tua itu bukan hanya sekedar genetika biologis pak-buk tapi secara psikologis itu juga diturunkan.
Nah, secara bertahun-tahun kalau seorang anak hidup dilingkungan yang penuh dengan problematika, dan ketika anak itu tidak mampu untuk memproses problematika itu kearah yang lebih baik, bahayanya apa? Hal ini akan menimbulkan kesehatan mental yang buruk, ngerinya itu pakai sekali.
Nah, tulisan ini sebenernya mau jadi naskah, tapi karena sudah selesai yang ngisi materi dan capek kalau dituangkan ke kata-kata semua ya sudah. Cukup sekian saja. Pesan saya biar bisa berakhir dengan “ada” adalah mari kita putus mata rantai itu.