Penistaan diAbad 21 KUCING Dituntut meski:"mmmbeeeeeee............." Dan KAMBING meski:"mmmeonggggggg......."
Oleh:AjadSPK Sebenarnya perlu kita sadari bersama dan tentunya jangan bersedihh bersama juga.Dewasa ini kita semua mengenyam pendidikan dengan modal suatu paradigma bahwa kehidupan itu adalah kotak-kotak.Analogikan dengan ada suatu gedung besar dan disana terdapat suatu kamar-kamar(kelas-kelas,fakultas-fakultas,jurusan-jurusan dan seterusnya).Dewasa ini pendidikan Indonesia menjadikan suatu sistem pendidikannya dengan demikian fakultatif dan sangat cenderung menyamaratakan semua tingkat kemampuan siswa ataupun mahsiswanya dengan cara bermacam-macam kurikulum diukur berdasarkan suatu nilai kualitatif yaitu seperti rannking atau IPK tidak pernah diukur dari sisi bagaimana misalnya:ada seorang anak yang nakal lalu berusaha menjadi baik. Justru malah terlebih dibuktikkan dengan kulturisasi sosial yang berupa pertanyaan dikala dewasa:suaminya kerja apa?mobilnya merk apa? Dan seterusnya.Yang dimana menurut saya pribadi dapat dianalogikan juga bagaimana manusia ataupun siwa-siswa,mahasiswa-mahasiswa esensi etimologi kadarnya disamaratakan. Didunia pendidikan indonesia tidak pernah menjadikan fadilah(hobi)/kecenderungan manusia untuk terus ditinjau secara serius,terlebih kalah melambung statistik peninjauannya terhadap materi:biaya administrasi-administrasi,registrasi-registrasi.Daripada manusianya itu sendiri ataupun siswa mahasiswa yang memasuki dunia pendidikan itu tersendiri dan seterusnya. Terlebih kita lebih presisi dengan analogi bahwa diIndonesia itu adalah KUCING semua(SISWA,MAHASISWA).Sedangkan dalam dunia hewan itu ANJING dan KUCING tidak akan pernah sama:KAMBING akan bersuara mmmmbeeeeeeee.KUCING mmmmmeonggggggg.......... Lalu,kita hanya terus sibuk dengan kesibukkan yang terkadang harus melatih kita menjadi sekor ikan yang memanjat pohon kelapa. Mari renungkan dengan konsep bahwa bumi adalah suatu materi yang bulat dan mari kita renungkan pula dengan konsep bagaimana suatu gelembung yang maha besar(TUHAN ESA).Sampai kapanpun kita harus tetap ada dalam gelembung. Variabelnya tidak menutup kemungkinan kita akan terlatih untuk hidup berkubu-kubu(kotak-kotak) seperti halnya sekarang ini kita begitu banyak sekali konflik demi konflik antara manusia dengan manusia oleh bermacam aspek duniawi.Bahkan yang lebih menyedihkan konflik ini terjadi begitu saja dengan asas terkadang apayang dinamakan kebenaran menjadi suatu pemantik daripada manusia-manusia yang belum sadar bahwasannya kebenaran adalah datang dari tuhan dan adalah milik Tuhan Esa semata. Kita hanya berhak untuk bersama-sama terus dalam berkehidupan ini sessungguhnya karena bagaimanapun dengan cintalah(keindahan,kelembutan,kearifan,kebijaksanaan,kebersamaan,dan seterusnya).Yang titik sempurnanya kita kembali untuk bersama menuju Maha Cinta.













