Allah Ridha Kepada Mereka, dan Merekapun Ridha Kepada Allah
Jadi ceritanya kemarin, saya dan @novnovya kedatangan tamu istimewa di kontrakan. Temen-temen kampus pertama yang datang ke rumah sederhana kami. Ada satu yang menarik dari kunjungan sore hari itu; kebingungan agenda. Entahlah, biasanya kami rapat bersama, tapi sekarang agendanya jadi kultural sekali. Hehe. Dan akhirnya, terjadi diskusi yang diawali dari tausyah sederhana. Sampailah masuk bahasan tentang "Ridha Allah".
Tentang "ridha Allah" ini adalah kalimat yang paling saya suka dari "diskusi sehat" kemarin. Ya, ada semacam dua syarat yang keduanya perlu dipenuhi. Disebutkan semalam, manusia seringkali terlalu fokus pada yang pertama. Tentang bagaimana cara membuat Allah ridha kepada mereka. Dilakukannya ragam aktivitas yang tujuannya, supaya Allah ridha kepada mereka.
Kita sebagai muslim kemudian melaksanakan shalat, misalkan. Sebagai bentuk ikhtiar kita agar Allah meridhai aktivitas kita mengikuti setiap perintahNya. Kita menolak untuk memakan babi, minum khamr, dan hal-hal yang haram lainnya. Sebagai bentuk agar Allah ridha menyaksikan penolakan kita terhadap yang dilarangNya. Kita melakukan ini dan itu, agar Allah menyaksikan kita dan Dia ridha terhadap apa-apa yang kita lakukan.
Tapi mungkin kadang kita juga luput untuk yang kedua. Bahwa yang disyaratkan bukan hanya keridhaan Allah kepada kita, tapi keridhaan kita kepada Allah. Radhiyallahu 'anhum wa radhuu 'anh. Saya pribadi sempat berpikir lama ketika mendapatkan kalimat tersebut. Bagaimana ya bentuk keridhaan saya sebagai seorang hamba kepada Tuhannya? Lebih jauh lagi saya jadi lebih berpikir lagi, bagaimana cara memastikan sebetulnya Allah ridha kepada saya?
Kalau tentang "apakah Allah ridha kepada kita?", saya pernah mendengar nasihatnya Aa Gym. Katanya, "kalau mau tau yang kalian lakukan itu diridhai Allah atau tidak, adukan saja dengan kematian!". Maksudnya bagaimana? Jadi misalkan, anda sedang melakukan maksiat, lalu tiba2 anda mati. Apakah anda siap? Bandingkan dengan ketika anda sedang shalat dengan sangat khusyuk, lalu tiba2 anda mati. Mana yang kira-kira Allah ridhai kematiannya?
tapi yang kedua, bagaimana ya? Bagaimana kita ridha kepada Allah?
Tadzkirah yang saya dapatkan, mungkin jawabannya adalah tentang ketulusan hati. Perasaan. Ya, mungkin sesederhana itu. Ah, tidak sederhana nampaknya.
Begini, anda dimintakan tolong oleh ibu anda untuk membeli makanan di warung sedangkan anda sangat letih karena baru saja sampai dari perjalanan jauh. Tapi karena anda paham bahwa ridha Allah ada bersama ridha orangtua, maka anda melawan rasa letih anda dan mengikuti perintah ibu anda. Jika anda menolak dan bahkan mengatakan "ah" saja, maka anda akan mendapatkan murkaNya. Itu yang pertama. Kita berharap ibu kita ridha terhadap apa yang kita lakukan.
Tapi cerita kedua, dalam kasus yang sama. Anda letih, baru saja datang dari perjalanan jauh. Lalu ibu anda meminta tolong untuk membelikan makanan di warung. Anda bangkit dengan antusias. Anda teringat lagi, sudah lama sekali anda tidak berjumpa dengan ibu anda. Padahal sejak kecil ibu anda menyayangi anda dengan sangat luar biasa. Ya, bahkan sejak dalam perjalanan anda sudah terbayang-bayang, apa yang bisa anda berikan untuk melayani ibu anda dengan sebaik-baik layanan. Maka bahkan anda tidak perlu menghampiri ibu anda untuk meminta uang belanja, tapi anda menggunakan uang anda sendiri untuk makan siang hari itu.
Radhiyallahu 'Anhum wa Radhuu 'Anh
Ya betul, shalat bisa menghindarkan kita dari dosa; dari murka Allah. Ya benar, berpuasa pada bulan Ramadhan adalah sebuah kewajiban. Jika dilakukan mendapat pahala, jika diabaikan mendapat dosa. Juga tidak salah, bahwa yang tujuan utama kita tidak berzina, minum khamr, makan babi, adalah ridha Allah kepada kita.
Tapi indah sekali nampaknya, jika kita tidak hanya bekerja sesuai dengan perintahNya. Tapi bekerja, dengan memahami apa maksud dari perintahNya, menerimanya dengan penuh cinta dan antusiasme, lalu tetap mengerjakannya bahkan dengan ahsanu amala. Dengan kualitas terbaik yang bisa kita tampakkan. Karena kita berharap Allah ridha kepada kita; dan kita ridha kepadaNya. :)
- Muhammad Fathan Mubina
p.s. : Jazaakumullahu khayr teman-teman semuanya.. Luar biasa bisa bertemu kalian lagi! :)












