Aku dan dia berada di satu organisasi yang sama, aku berada di divisi humas, aku tidak tahu divisi dia, karena sebelumnya aku tak pernah memperhatikan dia. Bulan Desember organisasi kami mengadakan mubes, mubes singkatan dari musyawarah besar. Aku tidak begitu paham bagaimana mereka bermusyawarah, karena selama 2 hari diadakan mubes aku sedang jatuh sakit. Yang aku tahu dalam mubes ini angkatan atas akan demisioner dan digantikan oleh angkatan bawah, dan mubes juga melantik ketua baru untuk jabatan periode selanjutnya. Hari pertama mubes aku sakit, tidak bisa datang. Dia masih mengirim pesan padaku, menanyakan bagaimana kabarku yang kujawab dengan tidak baik-baik saja.
Hari kedua mubes, aku tidak datang lagi. Sakitku masih terasa. Parah sekali, aku semester 3 sakit-sakitan dan berakhir dengan merepotkan teman kelasku, selama bersama dia aku tak perlu membeli banyak obat, dia sudah seperti apotek berjalan, obat apapun pasti dia punya hahahaha.
Walaupun aku tidak mengikuti mubes, namun aku tetap memantau jalannya mubes melalui temanku dan media sosial organisasi kami. Aku mendapatkan info bahwa dia ternyata menjadi ketua umum untuk periode selanjutnya. Aku merenung melihat berita itu, apakah itu artinya kami tidak bisa sedekat dulu? Kenapa si dari dulu aku selalu punya teman cowo yang asik namun selalu berakhir seperti ini? Aku hanya ingin mempunyai teman cowo, apakah salah?
Aku mendapatkan pesan darinya waktu maghrib, hanya pesan singkat mengatakan dia ingin berbicara denganku. Perasaanku tidak enak, apakah pesannya ada kaitannya dengan berita yang tadi aku lihat? Aku tidak dapat berhenti memikirkan pesannya. Pikiranku tidak tenang. Akhirnya pada pukul 8 malam aku bertanya lagi padanya, apa yang ingin dia bicarakan padaku. Dia langsung membalas pesanku, dia bilang tunggu sebentar lagi, dia ingin bicara lewat telepon. Sepertinya sangat serius. Aku masih saja memikirkan apa yang ingin dia sampaikan. Dan akhirnya pukul 11 malam dia menelponku.
"Assalamu'alaikum, Ya"
"Wa'alaikumussalam, mau ngobrol apa?"
"uhm, gimana ya. Aku takut kamu kecewa"
Jleb. Apa lagi ini? Pikiranku semakin kemana-mana.
"ada apa si?"
"Ya, kayaknya kita ngga bisa main berdua lagi. Janjiku ke pantai kita batalin ya?"
JEDER! Seperti dugaanku, dia memberiku kejutan yang tidak mengenakan. Apakah begini ya sakitnya saat kita sudah berharap? Ya, aku tahu itu hanya jalan-jalan biasa, namun dia sudah janji padaku. Aku tipe orang yang akan menepati janji yang sudah aku buat sendiri, dan dia seenaknya membatalkan janji itu. Menyebalkan.
Aku merasakan air mataku tumpah ke pipiku, aku tidak bisa menahannya lagi dan sepertinya dia mendengarku menangis.
Ya kamu pikir saja sendiri, masa aku ngga nangis?!
"Ya, jangan nangis. Aku ngga tega dengernya"
Dih, kamu yang bikin aku nangis ya!
"Ak-aku ngga mau batal" ucapku.
"Ya, aku ngga bisa pergi"
"Ya terus kenapa kamu malah janji si sama aku? Kenapa kamu nawarin ke pantai kalau kamu ngga bisa akhirnya?"
"Dulu beda, Ya situasinya"
Aku sudah tidak bisa menjawab lagi, aku hanya menangis. Dia mematikan telepon.
"Besok lagi aja, Ya bahasnya. Aku ngga tega denger kamu nangis"
Aku menelpon dia lagi, aku tidak suka tidak jelas seperti ini. Lebih baik selesaikan langsung saja. Dia mengangkatnya.
"Aku ngga mau batal. Kamu udah janji sama aku" ucapku
Aku mendengarnya menghembuskan nafas dengan kasar, sepertinya dia sedang mikir berat.
"Iya udah ke pantainya jadi, Ya" ucapnya.
"Iya bener, kita ke pantai ya"
Kami menutup telepon. Aku masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kami jadi ke pantai, tapi kenapa rasanya tidak menyenangkan saat pertama kali dia mengajak? Rasanya banyak yang berkecambuk di pikiranku. Malam itu aku tidak bisa tidur dengan tenang, pikiranku masih saja memikirkan telepon tadi hingga aku tertidur.