dan benar saja katanya, saat orang jatuh cinta maka dia akan menjadi puitis
$LAYYYTER
cherry valley forever

⁂
No title available
DEAR READER
we're not kids anymore.

祝日 / Permanent Vacation
Xuebing Du
Not today Justin
Game of Thrones Daily
h

No title available
Cosimo Galluzzi

izzy's playlists!

@theartofmadeline

Product Placement
Three Goblin Art
hello vonnie
macklin celebrini has autism
NASA
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@jaemjenxx
dan benar saja katanya, saat orang jatuh cinta maka dia akan menjadi puitis
saat kita merasa diri kita sendiri kecil dan bukan apa-apa.
orang lain justru melihat sinar kita paling indah, dan memukau. orang lain yang akan selalu melihat kita hebat
banyak-banyak bersyukur, ya. apa yang kita punya sekarang mungkin itu yang orang lain inginkan. jadi, jaga baik-baik selagi ada. seperti filosofi lampu, “yang paling dekat hanya merasa silaunya, namun orang yang jauh dapat merasakan cahayanya”
A : kenapa? kok liatinnya gitu banget
B : .. aku takut kehilangan kamu
A : kalau takut kehilangan berarti merasa memiliki ya?
B : ...
A : kan kita cuma teman
mereka tidak mengenalku, mereka bahkan tak tau kalau aku hidup. tapi, mereka membuatku hidup di saat aku bahkan sudah lelah dengan dunia dan isinya mereka memberiku harapan, memberiku semangat untuk menjalani hari katanya “kamu saja sudah cukup” mereka bilang aku sudah cukup, tak perlu menjadi orang lain, tak perlu memenuhi ekspektasi orang lain, cukup menjadi aku saja seorang diri tidak apa untuk lelah, tapi jangan menyerah. mereka berkata seperti itu. semua orang mempunyai waktunya sendiri-sendiri, bahkan matahari terbenam dan matahari terbit memiliki warna yang berbeda namun mereka sama cantiknya. kelebihan-kelebihan yang kita punya, tidak akan ada yang punya. Jadilah diri sendiri, diri sendiri yang bersinar. karena dirimu sendiri saja sudah cantik. terima kasih karena sudah menyanyikan lagu yang sangat indah dan menyentuh, terima kasih karena selalu memberi semangat melalui lagu. I love you.
ya, setelah kamu pergi bayang-bayangmu selalu menghatuiku setiap aku melewati jalanan aku mengingat percakapan pendek kita mengenai hal-hal random tentang mengapa banyak pedagang asongan yang menjual hal sama di sepanjang jalan, kita menertawakan pengendara motor yang melakukan hal konyol, kita membagi pikiran kita bersama ya, bagaimana denganmu? apakah kamu juga merasakan kekosongan di dalam dada seperti yang aku rasakan? apakah kamu juga membayangkan tertawa bersamaku? karena, ya. Jika ini bukan rindu lalu apa? jika ini bukan cinta lalu apa? harus kunamakan apa perasaan ini? ya, maukah kamu menjawabnya?
on the phone.
A : kak, kak?
B : iya? kenapa? ngga bisa tidur?
A : engga papa, jangan kemana-mana ya.
B : aku di sini kok.
A : aku takut kamu pergi.
B : aku di sini, ngga kemana-mana. Walaupun aku secara raga ngga di sana bersamamu, namun sejatinya aku selalu di sini menemanimu.
A : hei, jangan sedih terus ya
B : kenapa?
A : senyummu bagus, aku ingin lihat terus
B : ...
A : .. dan aku selalu berharap, aku salah satu sebab kamu tersenyum :)
B : aih, kamu itu selalu saja
Hey, don’t give up okay? Remember rainbow appears after the storm So do you. you don’t need people validation to prove that you are good enough A lion walks alone in the jungle Be smile, because there’s a bunch of people who miss it :)
they said people in the world are 14 million 195 country, 7 continent but why do I feel so lonely in here? I feel like no one can understand me every night in my room screaming, crying, depressed hoping that I didn’t have to wake up in the morning running a boring routine but it’s life sucks
too crowded "shut up!" I yell no one responses Oh right! It was my head speaks too loud
he held my hand like there’s no day for tomorrow like he was about to say “I can’t lose you anymore” he rubbed my hand softly soft, gentle, and warm we were sitting on the balcony in this latest night staring at stars and the moon the lights are hard to be seen yet it’s beautiful we were sharing our warm I hope this would last forever I hope we were always this close I hope there’s no end for us If it was, I hope the death separates us
Tentang dia #11
Masa kini
"Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya?"
"Uhm, dia menjadi sangat perhatian padaku. Aku bingung, apakah dia melakukannya karena merasa tidak enak padaku?"
"Dia .. Kenapa aku speechless mendengarnya"
"Apalagi aku yang mengalaminya"
"Kalian sekarang bagaimana?"
"Masih berteman baik. Sebenarnya masih banyak cerita tentang dia sampai aku sekarang. Sudah 2 tahun aku mengenalnya, rasanya menyenangkan bisa mengenal dia, apaa ya? Banyak sekali kejutan-kejutan darinya rasanya seperti bermain roller coaster"
"Apa nih? Mendebarkan, menegangkan, apa menyenangkan?"
"Yah, campur aduk hahaha"
"Lalu? Kamu nangis ngga? Waktu pulang dari pantai?"
"Daripada nangis, aku malah jadi bingung. Dia membingungkan ya?"
"Iya si. Jujur aku speechless, maaf ya aku ngga bisa berkomentar apa-apa"
"Iyaa ngga apa-apa kali"
"Udah selesai ceritanya?"
"Belum si, sepertinya sudah sangat larut. Aku ceritakan singkat saja bagaimana?" ucapku sembari melihat jam tangan.
"sure thing"
"Setelah dari pantai, dia menjadi sangat perhatian. Aku berniat melupakannya selama liburan, namun dia mengirimku pesan, mengkhawatirkanku, di situ aku menikmati berteman dengannya. Hingga suatu hari dia mengirimku pesan, saat liburan. Pesan singkat mengatakan dia ingin cerita, dia dulu tidak pernah mau cerita padaku, harusnya aku sudah curiga dan dia mengatakan dia takut membuatku sedih. Aku menanggung resiko tersebut dan mendengarkannya bercerita. Dia mengirim sebuah pesan, entah pesan dari siapa. Dia menanyakan pendapatku. Saat itu pikiranku kalut, aku tidak mendengar penjelasannya secara utuh, karena aku takut sakit saat mendengarnya. Aku tutup telinga, dan membuat kesimpulan sendiri. Harusnya aku mendengarkan dia. Setelah itu aku menangis sejadi-jadinya. Sakit sekali rasanya, padahal aku belum begitu paham perasaanku saat itu, namun entah kenapa rasanya sakit, sangat sakit sampai rasanya mati rasa. Aku membisukan semua tentangnya, statusnya, aku benci dengar namanya. Beberapa hari berselang, aku menjadi ragu, apakah apa yang aku lakukan itu benar? Tapi, mengapa rasanya tidak mengenakan? Kenapa rasanya tidak lega. Aku menghubunginya lagi, aku memaafkannya. Hingga sekarang kami masih berhubungan baik.
Kamu tahu NCTHI kan?" tanyaku
"Film itu?"
"Yup! Dia seperti Kale, dia menutup luka lamaku tapi dia juga memberiku luka baru. Dia memberiku luka sekaligus obat" ucapku
"Seriously? Bagaimana bisa dia memberi kamu luka dan obat sekaligus? Kamu luka tertusuk pedang misalnya, masa iya obatnya ditusuk pedang juga?" tanyamu terheran-heran.
"Well, aku menyukainya. Jatuh cinta memang tidak pernah masuk akal kan?" ucapku sambil tersenyum tipis.
"Hey! Kamu bilang kamu menyukainya! And Right! Fallin in love indeed never make sense."
"Well, konsep cintaku sepertinya seperti pepatah jawa. Suka karena terbiasa bersama. Apa sih bahasa jawanya? Ah, aku lupa"
"Hahaha aku bukan orang Jawa, aku tidak tahu! ANW Seru juga ya, tapi kita harus pulang hahaha sudah pagi ini. Terima kasih sudah mau cerita"
"Hahaha, dasar! Sama-sama! Yuk pulang!" Kami membereskan barang-barang, memasukkanya ke dalam tas dan berjalan keluar caffe. Caffenya sudah sangat sepi, sepertinya hanya kami berdua yang tersisa. Lampu depan caffe dimatikan. Saatnya pulang dan tidur.
Tentang dia #10
Esoknya aku bangun dengan perasaan yang sangat aneh, aku masih saja memikirkan telepon semalam. Kami janjian ke pantai hari ini. Aku mengirim pesan padanya akan berangkat pukul berapa, dia membalasnya dan mengatakan nanti siang lepas sholat dhuhur. Aku bingung, kupikir kami akan berangkat pagi hari, dia bilang nanti sampai di pantai panas kalau berangkat pagi, makanya dia menawarkan berangkat siang agar sampai di pantai sore hari dan kami dapat melihat matahari terbenam.
Lepas dhuhur aku bertemu dengannya di depan masjid universitas. Dia tersenyum padaku yang tidak kubalas senyumnya, karena dia menyebalkan sudah membuatku kelimpungan seperti semalam.
Selama perjalanan menuju ke pantai, kami tidak berbicara sedikitpun. Aku memang tidak minat memulai pembicaraan, sedangkan dia mungkin juga merasa tidak enak padaku. Obrolan kami hanya aku mengarahkan jalan padanya.
Kami sampai di pantai saat ashar, karena lelah kami duduk terlebih dahulu di tempat yang disediakan. Pantainya bagus, pasirnya putih, airnya biru, dan pemandangannya sangat mengesankan karena matahari terlihat sangat jelas di pantai ini, dan sepertinya cuma kami pendatang di pantai ini, sejauh mata memandang aku tak melihat pengunjung lain yang datang. Kenapa jadi seperti berkunjung ke pantai pribadi?
Kami duduk bersisian, aku membuka tas yang kubawa, mengambil makanan yang aku sudah beli sebelum ke sini. Dua onigiri, karena aku sangat lapar. Aku membagi onigiri yang satu padanya. Dia menerimanya dengan senang, dia polos sekali belum pernah makan onogiri sebelumnya, sehingga aku harus mengajarkannya cara membuka onigiri agar dapat dinikmati dengan benar. Dia takjub, dan mulai memakannya dengan lahap.
Selesai makan, waktunya bermain air! Dia lebih suka memotret ketimbang bermain air denganku, aku lebih suka menikmati apa yang ada di depanku dan merekamnya dengan mataku sendiri. Memotret memang dapat mengabadikan kenangan dengan baik, namun ingatan lebih baik lagi. Foto tidak dapat merasakan bagaimana suhu, udara, dan keadaan pada saat itu, namun ingatan akan mengingat dengan jelas. Keren ya, tubuh manusia itu.
Puas dengan air, dia mengajakku untuk duduk di pasir memandang matahari terbenam. Matahari terbenam sangat cantik saat itu, warna kuningnya sangat menyilaukan mata namun juga sangat memukauku. Pemandangan matahari terbenam paling indah yang pernah kulihat seumur hidup.
Kami duduk bersebelahan, setelah diam cukup lama dengan urusan pikiran masing-masing, dia mulai membuka obrolan.
"Ya, sebenarnya kamu anggap aku apa si?"
Shoot! Kenapa pertanyaan itu? Jujur ditembak dengan pertanyaan seperti itu aku tidak tahu harus menjawab apa, pikiranku blank, memang apa si kita sebenarnya? Aku juga tidak tahu apa.
"Kamu sudah tahu" ucapku.
Jujur aku tidak tahu kenapa malah kata-kata itu yang terlontar dari mulutku ini! Pintar sekali memang!
"Aku ngga tau, Ya" balasnya.
Arrggghhh! Rasanya kalau ada pintu kemana saja doraemon, aku akan meminjamnya. Aku ingin menceburkan diriku ke pantai.
"Kamu sudah tahu" Pintar! Ini ngeles versi tidak niat, karena aku tidak tahu jawaban apa yang harus aku lontarkan, karena aku sendiri juga tidak tahu!
Aku menoleh ke arahnya, melihat wajahnya yang seperti mengharapkan jawaban lebih menyakinkan dariku.
"someone special kah, Ya?"
Aku kaget namun tetap stay cool, jujur nih aku juga tidak tahu. Apakah aku suka sama kamu, soalnya kami baru saja mengenal dalam waktu yang sangat singkat, makanya aku menjawab dengan
"maybe(?)" jawaban ragu-ragu kan?
"Aku suka sama kamu, Ya" ucapnya.
Aku kaget, iya KAGET BANGET! Namun, mukaku sepertinya tidak terlihat kaget sama sekali, dan aku menghadap ke bawah ke arah pasir-pasir, aku memainkan pasir di tanganku.
Pintarnya aku tidak menanyakannya dia menyukaiku seperti apa, apakah sebagai sesama teman? apakah sebagai perempuan? dan aku malah menyimpulkan sendiri di kepalaku. Kalau sebagai sesama teman, aku juga menyukainya. Dia ini menyenangkan, dia mendengarkanku saat yang lain hanya menjadikanku tempat curhat mereka, dia membalas semua pesanku yang kadang terdengar tidak penting, aku menyukainya.
"Tapi, Ya. Aku mencintai orang lain"
JEDER!! Tuhan, kejutan apalagi ini?! Dia ini maksudnya apa si? Dia menerbangkanku ke atas lalu menjatuhkanku sejatuh-jatuhnya? Kenapa dia mengatakan menyukaiku? Kenapa tidak langsung saja bilang dia mencintai orang lain?!
___
"WHAT?!!!" kagetmu memotong ceritaku
"Heh! Ngagetin aja si!" ucapku
"HA?! Yang benar aja?? Kenapa dia plin-plan sekali? Dia beneran bilang seperti itu?"
"Ya masa aku ngarang si? Buat apa juga" ucapku jengah.
"Eh iya juga, ya. Oke lanjutkan. Sepertinya memang berat ya"
___
"Tuh, wajahmu langsung jutek gitu" keluhnya.
Lalu aku harus memasang wajah bahagia begitu?! AKU HARUS BAGAIMANA?!
"Kamu tahu kan, Ya apa bedanya suka sama cinta?"
Ya Allah, dia mau main tebak-tebakan denganku perkara seperti ini.
"Suka itu kalau kamu suka sama bunga lalu bunga itu kamu petik. Tapi, kalau cinta kamu ngga akan memetiknya melainkan menyiramnya" ucapku, aku mengingat kutipan itu dari sebuah buku kalau tidak salah. Terima kasih buku setidaknya aku terlihat pintar di depannya.
Dia mengangguk mendengarkan penjelasanku.
"Terus kita bagaimana?" tanyaku
"Aku pengin kita masih temanan, Ya. Aku janji deh janjiku sama kamu bakal aku penuhin satu-satu"
Huh! dasar! Sejujurnya aku bingung sama perasaanku sendiri, aku juga tidak tahu apakah aku waktu itu menyukainya. Namun, entah mengapa rasanya sakit. Apa mungkin karena dia mengatakan menyukaiku? Apakah kalau dia tidak mengatakan menyukaiku, aku tidak akan sesakit ini? Aku bimbang.
Obrolan kami selesai bersamaan dengan matahari terbenam, keadaan sekitar sudah sangat gelap. Kami memutuskan untuk beranjak dan sholat maghrib. Kami pulang dan kepalaku rasanya dipenuhi dengan ucapannya yang membuatku kebingungan.
Tentang dia #9
Aku dan dia berada di satu organisasi yang sama, aku berada di divisi humas, aku tidak tahu divisi dia, karena sebelumnya aku tak pernah memperhatikan dia. Bulan Desember organisasi kami mengadakan mubes, mubes singkatan dari musyawarah besar. Aku tidak begitu paham bagaimana mereka bermusyawarah, karena selama 2 hari diadakan mubes aku sedang jatuh sakit. Yang aku tahu dalam mubes ini angkatan atas akan demisioner dan digantikan oleh angkatan bawah, dan mubes juga melantik ketua baru untuk jabatan periode selanjutnya. Hari pertama mubes aku sakit, tidak bisa datang. Dia masih mengirim pesan padaku, menanyakan bagaimana kabarku yang kujawab dengan tidak baik-baik saja.
Hari kedua mubes, aku tidak datang lagi. Sakitku masih terasa. Parah sekali, aku semester 3 sakit-sakitan dan berakhir dengan merepotkan teman kelasku, selama bersama dia aku tak perlu membeli banyak obat, dia sudah seperti apotek berjalan, obat apapun pasti dia punya hahahaha.
Walaupun aku tidak mengikuti mubes, namun aku tetap memantau jalannya mubes melalui temanku dan media sosial organisasi kami. Aku mendapatkan info bahwa dia ternyata menjadi ketua umum untuk periode selanjutnya. Aku merenung melihat berita itu, apakah itu artinya kami tidak bisa sedekat dulu? Kenapa si dari dulu aku selalu punya teman cowo yang asik namun selalu berakhir seperti ini? Aku hanya ingin mempunyai teman cowo, apakah salah?
Aku mendapatkan pesan darinya waktu maghrib, hanya pesan singkat mengatakan dia ingin berbicara denganku. Perasaanku tidak enak, apakah pesannya ada kaitannya dengan berita yang tadi aku lihat? Aku tidak dapat berhenti memikirkan pesannya. Pikiranku tidak tenang. Akhirnya pada pukul 8 malam aku bertanya lagi padanya, apa yang ingin dia bicarakan padaku. Dia langsung membalas pesanku, dia bilang tunggu sebentar lagi, dia ingin bicara lewat telepon. Sepertinya sangat serius. Aku masih saja memikirkan apa yang ingin dia sampaikan. Dan akhirnya pukul 11 malam dia menelponku.
"Assalamu'alaikum, Ya" "Wa'alaikumussalam, mau ngobrol apa?" "uhm, gimana ya. Aku takut kamu kecewa"
Jleb. Apa lagi ini? Pikiranku semakin kemana-mana.
"ada apa si?" "Ya, kayaknya kita ngga bisa main berdua lagi. Janjiku ke pantai kita batalin ya?"
JEDER! Seperti dugaanku, dia memberiku kejutan yang tidak mengenakan. Apakah begini ya sakitnya saat kita sudah berharap? Ya, aku tahu itu hanya jalan-jalan biasa, namun dia sudah janji padaku. Aku tipe orang yang akan menepati janji yang sudah aku buat sendiri, dan dia seenaknya membatalkan janji itu. Menyebalkan.
Aku merasakan air mataku tumpah ke pipiku, aku tidak bisa menahannya lagi dan sepertinya dia mendengarku menangis.
"Ya, kamu nangis?"
Ya kamu pikir saja sendiri, masa aku ngga nangis?!
"Ya, jangan nangis. Aku ngga tega dengernya"
Dih, kamu yang bikin aku nangis ya! "Ak-aku ngga mau batal" ucapku.
"Ya, aku ngga bisa pergi"
"Ya terus kenapa kamu malah janji si sama aku? Kenapa kamu nawarin ke pantai kalau kamu ngga bisa akhirnya?"
"Dulu beda, Ya situasinya"
Aku sudah tidak bisa menjawab lagi, aku hanya menangis. Dia mematikan telepon.
"Besok lagi aja, Ya bahasnya. Aku ngga tega denger kamu nangis"
Aku menelpon dia lagi, aku tidak suka tidak jelas seperti ini. Lebih baik selesaikan langsung saja. Dia mengangkatnya.
"Ya?"
"Aku ngga mau batal. Kamu udah janji sama aku" ucapku
Aku mendengarnya menghembuskan nafas dengan kasar, sepertinya dia sedang mikir berat.
"Iya udah ke pantainya jadi, Ya" ucapnya.
"bener?" tanyaku.
"Iya bener, kita ke pantai ya"
"iya" balasku pelan.
Kami menutup telepon. Aku masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kami jadi ke pantai, tapi kenapa rasanya tidak menyenangkan saat pertama kali dia mengajak? Rasanya banyak yang berkecambuk di pikiranku. Malam itu aku tidak bisa tidur dengan tenang, pikiranku masih saja memikirkan telepon tadi hingga aku tertidur.
The Letter
Buat Eneng yang sudah bertambah usia atau bisa disebut berkurang usianya
aku mencari tanpa pernah tahu apa yang telah hilang aku menemukan tanpa pernah tahu apa yang aku cari, dan aku kehilangan tanpa pernah tahu apa yang sedang aku cari. -R
surat ini bukan ucapan, neng tetapi sekadar terima kasih karena eneng sudah memberi warna baru ke hidupku yang sebelumnya hitam putih
maaf kalau aku belum bisa jadi teman yang baik buat eneng dan terima kasih juga sudah mau berteman sama aku yang tidak sekeren teman-teman eneng yang lain :’)
sehat terus ya, neng senyummu bagus aku ingin lihat terus dan selalu berharap aku jadi salah satu sebabmu tersenyum
ini semua baru bagiku mengenal perasaan yang sangat membingungkan ucapan selamat tidur saat mengakhiri percakapan menjadi satu-satunya yang tau kabarmu saat kamu sedih, kecewa, lelah dengan keadaan dan saat kamu merasa terbang ke langit karena senangnya semuanya baru untukku khawatir saat aku sakit sedih saat aku sedih senang hanya karena aku tertawa sebagian diriku menyukaimu sebagian yang lain meragukanmu karena ini baru bagiku maukah kamu meyakinkanku? bahwa seluruh diriku yang kamu mau
Es Teh Manis
segelas es teh manis dia sangat menyukai minuman itu entah itu pagi hari, siang, sore, mungkin bahkan tengah malam tak ada yang bisa menandingi manisnya teh manis untuknya katanya es teh manis pereda segala lara aku pikir dia hanya bercanda namun, dia mengamini ucapannya dalam segala keadaan akan ada selalu dia dan segenggam es teh manis dalam plastik putih lihatlah dia sekarang! tersenyum cerah seraya meminum es teh manis dia dan es teh manis rasanya tak akan pernah dipisahkan