Hari ini, saat sempat ke kampus untuk suatu keprluan secara tidak sengaja bertemu dengan kelompok anak-anak yang bertenger di teras mushola kampus. Juluki saja mereka anak rohis. Saking cinta dan betahnya, mushola kampus seolah checkpoint atau semacam tempat nge-save dalam suatu game RPG.
Titik transit mereka, bersinggah atau peralihan antar satu aktivitas satu ke yang lain. Bias juga rumah kedua. Maaf, slogan sekolah atau kampus sebagai rumah kedua sudah sedikit bergeser. Sesuai pengalaman, mushola kampus itu penuh cerita.
Sebatas pengajian dan sholat itu aktivitas kuno. Kini jaman sudah berubah, kesibukan semakin kompleks dan berkembang membolehkan yang tak sebatas urusan akhirat agar bisa dibawa masuk ke mushola kampus.
Bisa menjadi markas perang, ketika harus mengadakan pertemuan dadakan urusan dakwah. Siasat dan amunisi dipersiapkan dari sini. Kadang menggantikan fungsi kosan untuk santai-santai, mau leha-leha, tidur-iduran, dan malasan juga oke, sebelum ada larangan untuk hal-hal malas tersebut ditempel. Belum lagi manfaat gratis wifi yang menjangkau sampai ke teras-teras. Dan malam harinya beralih sejenak menjadi semacam posko ronda.
Saat itu, dan lanjut sampai sekarang masih sama-sama polos, pedoman “innamaa ya’muru masaajida allaahi man aamana” hanya bisa dijalankan dengan imbalan kesenangan langsung.
Jika dilagukan mushola kampus pernah sejajar dengan bait “kamu” dalam judul Ingat Kamu -Duo Maia-. Pokoknya apa-apa ingat kamu (mushola kampus). Mau parkir motor pilih tempat yang paling dekat dengan kamu. Saat jeda antara jam kuliah masih menyempatkan untuk menengok kamu. Saat menunggu teman, lantas harus singgah dulu di kamu. Atau pas mau buang isi perut harus yang buru-buru ke WC kamu.
Alhamdulillah sempat menempatkan mushola kampus di hati. Setidaknya mendapat dua bagian secara bersamaan. Kemesraan vertikal dengan Tuhan, dan keselarasan horizontal bersama mereka.
Mungkin mushola kampus kamu juga seperti itu.