Menitipkan Diri Kepada Allah
Pagi yang terang tak terasa sudah berganti malam.
Ia berlari tanpa berhenti walau sejenak.
Sementara amanah masih terus ada.
Memanggil-manggil untuk diselesaikan.
Sementara raga telah tua.
Tak sanggup lagi ia untuk diajak berlari hari itu.
*
Namun, di gelapnya malam, tak jua mampu membuat raga terlelap.
Suara-suara diri masih bersahutan, nyaring.
Mereka saling bernostalgia akan kenangan pahit masa lalu.
Mereka pun mengingat-ingat kegagalan hari itu.
Lalu saling membuat reka cerita suram akan kisah masa depan.
Bersikukuh akan kisah yang mereka duga.
Tanpa sadar, jiwa dibuatnya berlari ketakutkan.
Dikejar-kejar sesuatu yang tidak jelas wujudnya.
*
Jiwa dan raga semakin tak mampu terlelap
Kala mengetahui pencapaian orang lain
Ikut bahagia akan tawa sekitar
Namun, satu sisi, terasa getir di hati
karena berharap mendapat hal yang sama
Lalu merasa diri terlalu lambat melangkah
Tertinggal jauh di belakang
Jiwa diajak berlari, tapi raga tetap tinggal
Semua membuat raga lelah dan jiwa pun lelah.
*
Wahai jiwa yang berlarian
Rehatkanlah jiwa dan raga
Kita memang perlu berusaha
Kita memang perlu memiliki rencana
Kita memang perlu menyelesaikan amanah
Sebagai wujud ikhtiar
*
Namun, jika kita menemui kegagalan ataupun keberhasilan masa depan yang masih tertutup awan gelap, tak mengapa merasa sesak dan menangis sejenak.
Lalu, hamparkanlah sajadah.
Rehatkanlah diri dengan salat dan doa.
Curahkan semua isi hati, keinginan, dan kegelisahanmu pada-Nya.
Titipkanlah diri dan semua urusanmu kepada-Nya.
Yakinlah bahwa tidak ada yang akan pernah tersia-siakan sesuatu yang dititipkan kepada Allah.















